
"Udah sana masuk!" Titah Rafa.
Ellia merengut tidak mendapat apa yang di inginkan nya. Bukannya Rafa harusnya tahu apa yang harus dia lakukan. Rafa tetap saja, kenapa cowok ini tidak bisa menjadi Sasa sepenuhnya yang sama seperti waktu kecil. Ellia menyadari suatu hal, bahwa Sasa kecilnya telah berubah menjadi Rafa yang cuek. Ellia kira laki-laki ini tidak akan pernah berubah.
"Hey, kenapa masih diem ajah?," Rafa melambaikan tangannya di depan wajah Ellia.
Gadis itu berdecak kesal lalu berbalik dan memasuki pekarangan rumah nya tanpa mengatakan apapun.
"Na!" Panggil Rafa. Ellia berhenti melangkah, Ellia diam saja tanpa berbalik badan menunggu apa yang akan Rafa katakan.
"Selamat malam!" Ellia tersenyum senang, akhirnya cowok itu mengerti. Ellia berbalik badan, dengan senyum lebar tangan Ellia melambai.
"Selamat malam Sasa," jawab Ellia.
"Abis bersih-bersih langsung tidur!" Ellia mengagguk lalu kembali meneruskan langkahnya memasuki rumah.
Ternyata Sasa nya tidak banyak berubah.
Rafa tidak langsung pulang, cowok itu masih diam di tempat nya berdiri dan memperhatikan jendela kamar Ellia.
Beberapa saat kemudian lampu kamar itu mati dan Rafa memasuki mobil nya untuk pulang.
Cowok itu mengangkat kepala nya setelah menutup rapat pintu besar rumah nya. Di hadapannya seorang pria paruh baya berdiri menyambut kedatangannya dengan senyuman.
Dengan wajah datar nya, Rafa melangkah maju dan menyalimi tangan Ayahnya.
"Bagaimana hari ini?, kamu bersenang-senang bersama El?" Tanya Alvino menepuk pelan pundak putra nya.
Rafa hanya mengangguk lalu melenggang pergi dari hadapan Alvino.
"Sudah makan?" Tanya Alvino lagi menghentikan langkah Rafa.
"Sudah, Rafa mau pergi mandi," Alvino mengangguk. Rafa menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai ke lantai atas.
Rafa berhenti di depan pintu kamar Raka, cowok itu membuka pintu itu melihat isi kamar bernuansa abu-abu yang kosong tak berpenghuni itu. Pasti Raka sedang ada di markas.
Rafa kembali menutup pintu kamar itu dan melanjutkan langkah nya ke kamar yang bersebelahan dengan kamar itu.
Cowok itu melempar asal jaket dan sepatunya, lalu meletakkan dompet, kunci mobil dan ponsel nya di atas ranjang. Kemudian Rafa memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Tidak sampai setengah jam Rafa telah rapih dengan pakaian santainya. Dia duduk di atas ranjang mengambil ponsel nya membuka kontak Raka dan mengiriminya pesan.
'Jangan pulang terlalu malem!, jaga diri baik -baik!'
^^^Gue udah mau jalan, lo mau ^^^
^^^Nitip apa?^^^
Susu pisang sama kebab.
^^^Oke, gue jalan.^^^
Read!
Rafa menaruh kembali ponsel nya. Di buka lah laci nakas paling bawah, tangannya mencari sebuah benda kecil yang di simpannya di sana. Setelah ketemu, Rafa merebahkan tubuh nya di ranjang. Tangannya di angkat dengan benda kecil itu yang melingkar di jari telunjuk, tengah dan manisnya. Sebab benda kecil itu hanya mampu masuk tiga jari nya saja.
Sebuah gelang manik manik warna warni yang cantik. Gelang itu dulu adalah buatan Ellia yang di bagikan pada sahabat sahabat nya. Berarti bukan hanya Rafa yang memiliki nya, tapi Raka dan Lalang pun juga punya.
"Sasa, Rara dan Lalang halus pake ini!, liat deh, Nana habis di ajarin buat gelang sama Mama, terus Nana buatin juga buat kalian dong, biar samaan sama Nana," gadis kecil itu menunjukkan tiga buah gelang manik manik dan memakaikan nya pada tangan ketiga anak laki laki itu.
Dengan antusias ketiga anak laki-laki itu langsung meninggalkan mainan robot-robotan mereka dan memperhatikan apa yang gadis kecil itu lakukan.
"Waah keren, jangan sampe ilang ya!" Kata Nana dengan senyum indah nya.
"Punya Rara samaan kaya punya Lalang warna ijo, terus punya Sasa samaan sama Nana warnanya, warna biru," gadis kecil itu memekik kegirangan menatap pergelangan tangan mereka.
Nana menguap lebar, namun tangan Sasa langsung menutupi nya. "Kalo nguap itu di tutup pintu goa nya!" Tegur Sasa.
"Ih masa mulut Nana di bilang goa, orang gak ada lelelawar nya kok,"
"Kelelawar Na bukan lelelawar!" Tegur Sasa lagi membenarkan ucapan Nana.
"Ah, iya iya kekelelawar," merasa geram sekaligus gemas dengan gadis kecil itu, Rara dan Lalang dengan kompak menepuk dahi Nana pelan secara bersamaan hingga membuat Nana terjungkang kebelakang.
"HUAA SASA! RARA SAMA LALANG NYUNSEPIN NANA!"
Rafa reflek terkekeh kecil mengingat itu.
Rafa tersentak saat gelang kecil di tangannya di renggut paksa oleh seseorang.
"Ternyata lo masih nyimpen, gue kira udah di buang," ucap Raka memperhatikan gelang itu.
"Enggak jadi, pengen gue pajang di bingkai juga itu," jawab Rafa, lalu membuka bungkusan yang di bawa Raka dan mulai melahapnya.
"Ngikutin ae lo, eh... Jangan di habisin semua nya ya, gue juga mau. Tungguin!, sisahin punya gue!, gue mau mandi dulu," kata Raka. Rafa mengangguk kemudian setelah merasa percaya pada Rafa, Raka melenggang pergi menuju kamarnya sendiri.
...🌼🌼🌼 ...
Mata seorang gadis membelalak seketika melihat apa yang terjadi di hadapannya sekarang. Tubuh nya melemas seketika. Ini tidak mungkin...
Air mata nya meluncur begitu saja. Seluruh tubuh nya mati rasa. Orang yang sangat di cintai nya terkulai lemah dengan banyak darah yang keluar dari tubuh kokoh yang selalu melindunginya itu. Terlebih lagi seseorang yang sangat di sayangi nya juga ada di sana menatap tubuh yang sudah tidak bernyawa yang berada di dekat nya.
Gadis itu tidak percaya dengan apa yang dilihat nya sekarang, air mata yang terus mengalir deras membasahi wajah cantik nya. Gadis itu menatap tajam orang yang masih diam menatapi jasad itu tanpa mau melakukan apapun. Tubuh nya lemas tak bertenaga, tidak mampu bergerak.
"TIDAAK!" Teriak gadis itu histeris lalu kesadaran nya hilang begitu saja.
"SKY!"
Nafas Ellia memburu, gadis itu tersentak dan seketika bangun dari tidur nya. Keringat bercucuran membasahi kening nya. Air mata pun ikut mengalir dengan deras nya, gadis itu menangis sesegukan membuat diri nya sulit bernafas.
Tragedi itu menghampiri mimpi nya lagi, kejadian satu tahun lalu yang merenggut nafas nya begitu sangat menyakitkan. Seluruh hatinya hancur tak tersisa.
Raka yang sedang membereskan alat-alat musik di sudut ruangan pun langsung berlari kearah Ellia begitu teriakan gadis itu mengejutkannya.
"Kenapa?, lo gapapa, minum dulu!" Raka mengeluarkan sebotol air mineral yang masih tersegel dari dalam tas nya dan memberikan nya pada Ellia.
Ellia menerima nya dan meneguk nya hingga sisah setenggah.
"Lo kenapa?" Tanya Raka.
Ellia menggeleng pelan "gapapa, cuma mimpi buruk,"
"Masih mau latihan lagi?" Tanya Raka.
Mereka tadi sedang latihan setelah kegiatan ekskul musik selesai. Para anggota ekskul sudah kembali pulang dan menyisah kan Raka dan Ellia. Setelah dua kali latihan, Ellia merasa mengantuk dan tertidur dan mengantarkan nya pada mimpi menyakitkan itu.
"Gue rasa cukup buat hari ini, gue mau pulang," jawab Ellia sembari mengambil tas nya dan menyampirkan ke salah satu bahunya.
"Yaudah, ayo gue anter," Raka pun mengambil tas nya juga dan berjalan keluar bersama Ellia.
"Gak usah deh Rak, gue di jemput," Raka mengangguk dam mereka pun berjalan beriringan melewati koridor sekolah yang sudah sepi.
Ellia duduk di halte menunggu sopir nya yang masih berada di perjalanan.
Hari yang mulai gelap dan angin yang berhembus mengenai kulit nya membuat Ellia merinding sendiri. Apa lagi ia sedang duduk sendirian dan keadaan sekitarnya yang sepi. Ellia yakin jika dirinya memiliki kemampuan melihat hal ghaib, pasti di sekitar nya sudah banyak hantu hantu yang berlalu lalang. Membayangkan hal itu, Ellia mengidik ngeri dan semakin merinding.
TIIN!
"MAMA!" Pekik Ellia terkejut mendengar suara kelakson mobil yang tiba-tiba.
Ellia mengusap dadanya lalu menatap seseorang yang menyembulkan kepalanya dari jendela mobil.
"Hehe kaget ya, udah mau senja dan lo duduk sendirian sambil melamun di situ, awas nanti di sebelahnya ada yang nemenin," Raka terkekeh melihat raut wajah Ellia yang lucu saat terkejut.
Mendengar itu, Ellia langsung berdiri dari duduk nya dan buru buru membuka pintu mobil Raka lalu masuk menduduki kursi samping kemudi.
"Anter gue pulang ya, ngeri juga ngebayangin nya," ujar Ellia.
"Terus jemputan lo," kata Raka.
"Oh iya, pasti kena macet deh, gue telfon ajah suruh balik," setelah menelfon sopir nya Ellia pun memasang sabuk pengaman nya dan memejamkan mata nya.
Raka tersenyum melihat wajah cantik Ellia yang sedang tertidur itu. Setelah Ellia menutup mata nya, terdengarlah suara dengkuran halus. Raka menggeleng heran, bukannya tadi di ruang musik gadis itu sudah tidur. Bagaimana bisa gadis itu langsung terlelap dengan begitu mudah nya.
Raka mengalihkan pandangannya dari Ellia dan mulai melajukan mobil nya.
.
.
.
bersambung