RaLia

RaLia
Cincin.



...-HAPPY READING-...


.......


.......


.......


Waktu telah berlalu. Lima tahun terakhir gadis manis ceria yang dikenal orang-orang itu semakin hari semakin dingin dan tidak berekspresi. Pewaris tunggal Mahardika itu semakin terlihat dewasa dan ber karismatik. Didampingi Aca sebagai sekretaris nya, Ellia berjalan memasuki gedung besar Mahardika's Company. Menuju ruang meeting yang sudah pasti sudah ramai, karena gadis itu tidak menerima keterlambatan, dan bahkan orang-orang akan datang satu jam sebelum rapat dimulai. Karena gadis itu selalu datang ke kantor lebih cepat dari pada banyak orang yang memilih untuk datang tepat waktu.


Ellia mengetuk-ngetukkan penanya ke dagu memperhatikan presentasi orang yang berdiri didepan sana. Sesekali gadis itu mengangguk. Beberapa jam kemudian meeting selesai dan bertepatan dengan jam makan siang. Rekan kerja terpenting Ellia mengajaknya makan siang bersama, dan diiya kan oleh gadis itu.


"Saya pastikan seratus persen proyek besar kita kali ini akan menghasilkan kesuksesan jauh lebih besar dari proyek kita sebelum nya. Saya akan meninjau sendiri kelancaran proses nya, anda tinggal mendapatkan hasil nya saja nanti," ucap laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya itu.


"Hmm," balas Ellia mengangguk dan menyuapkan makanan kedalam mulutnya sendiri.


"Saya selesai, saya pamit tuan Vian," gadis itu bangkit dari kursinya.


"Oke, tapi boleh gue ingatin. Jadwal kerja kita udah selesai, dan ini diluar kantor. Bisa kan panggil gue Vian, kak atau bang kek gitu, sumpah gue risih banget lo panggil tuan mulu" sudah berpuluh-puluh kali Vian mengingatkan gadis itu, tapi tetap saja. Mereka satu keluarga kan, di Cakrawala. Kakak atau abang justru terasa lebih akrab. Tuan?, ia merasa seperti orang asing jika seperti itu.


Tanpa membalas perkataan Vian, Ellia pergi begitu saja. Vian berdecak sebal, lalu mengalihkan matanya ke arah Aca yang masih belum menyelesaikan makannya.


"Tuh anak emang bener-bener gak bisa balik lagi?. Dingin nya udah permanen?" Ucap Vian.


Aca mengangkat bahunya. "Entahlah. Dia itu sekarang bukan Ellia lagi, tapi nyonya Mahardika. Apa kalo Raka kembali Ellia bakal balik lagi?, gimana keadaan cowok itu sekarang,"


Vian menghela nafas lelah. "Gue gak tau, tapi terakhir kali, keadaan Raka itu parah banget. Dia dibawa pergi dari sini karena keadaannya itu udah kritis banget, hampir sekarat." Jawab Vian. Lelaki itu pun ingin tahu, apakah Raka baik-baik saja sekarang?. Jika iya, kenapa cowok itu tidak kembali?.


"Gue harap Raka kembali, gue gak mau liat Ellia kayak gini terus. Gue gak kenal sama dia," harap Aca. Dalam setiap doa nya, gadis itu selalu mendoakan Ellia. Berdoa Raka akan kembali dan Ellia nya bisa tersenyum lagi.


"Kalo Raka kembali emangnya ngaruh?. Bukannya Ellia tunangan sama Rafa?,"


"Selama ini mereka gak ada kontak apapun, Rafa sama keluarga nya kayak hilang ditelan bumi, gak ada yang tau mereka pergi kemana. Gue juga gak ngerti, mereka itu masih berstatus tunangan atau udah selesai. Yang gue tau Ellia gak terima sama perjodohan itu," jelas Aca. Sungguh membingungkan. Ellia bahkan sudah tidak pernah mengenakan cincin tunangannya lagi. Apakah hubungan keduanya sudah berakhir atau tidak, Aca tidak mengerti. Ditambah dengan sikap Ellia sekarang yang sudah tidak ingin lagi membuka diri.


...⚘⚘⚘...


Seorang laki-laki tampan berdiri menghadap jendela besar didepan nya yang menghadap ke arah jalanan yang renggang kendaraan itu. Ditangan nya ia menggenggam sebuah gelang manik yang sangat berharga baginya. Tidak ada ekspresi apapun diwajah lelaki itu.


Lima tahun sudah berlalu. Perasaan didalam hatinya sudah sangat menumpuk tinggi. Tidak ada satupun di sekelilingnya yang bisa meruntuhkan tumpukan itu. Hanya ada satu orang dan dia sangatlah jauh. Suatu hari nanti, satu orang itu tidak akan bisa jauh darinya lagi. Tidak akan ada seorangpun yang mampu untuk kembali memisahkan mereka kecuali takdir.


Sumuanya bisa ia lakukan. Lihat saja, siapa yang akan mencoba memisahkan mereka Nanti. Orang itu tidak akan ia lepaskan dalam keadaan hidup.


"Do you miss me, baby?"


"I will be back!"


...⚘⚘⚘...


Setiap hari salalu melelahkan. Tapi memang itu lah yang ingin dilakukan nya. Menyibukkan diri, bekerja siang malam, mengabaikan rasa lelah. Dengan rasa lelah itu sendiri, ia dapat mengalihkan pikiran dan hatinya. Pukul tiga dinihari, gadis itu baru pulang, menyalakan lampu ruang kerja dan mendudukkan dirinya disofa.


...



...


Berbeda dengan biasa nya, kali ini Ellia hanya diam duduk, tidak menghiraukan mejanya yang dipenuhi kertas. Ia melamun menatap jarum jam yang berdetak di dinding. Terus seperti itu hingga Ellia jatuh tertidur di sofa masih dengan pakaian yang belum berganti.


Hari ini, seperti biasa. Yang dilakukan gadis itu hanyalah bekerja. Duduk di kursi kebesarannya, juga laptop yang menyala didepannya. Kertas-kertas itu tidak kunjung juga ada habisnya. Tiap hari malah semakin bertambah. Ellia tidaklah mengerjakan semua itu sendirian, Reynand masih terus bekerja meringankan pekerjaan Ellia. Gadis itu terus bekerja hingga tidak mendengarkan Aca yang mengajaknya makan siang. Dengan terpaksa Aca pun membawakan makan siang Ellia ke ruangan gadis itu dan menemaninya makan.


"Pelan-pelan makannya!. Nanti gue bantuin kerjaan lo. Lo harus pulang sore hari ini,"


"Kenapa?"


"Gak tau, tanya ajah papa lo!"


Ellia tak peduli dan melanjutkan makan nya lagi. Selagi Ellia makan, Aca sembari membantu pekerjaan Ellia sambil menyeruput teh nya.


Jam pulang kantor pun tiba. Semua pekerja di kantor itu beriringan keluar dari gedung itu menuju pulang. Di ruangan sang bos, Ellia masih duduk tenang di kursi nya memperhatikan Aca yang sedang membereskan barang-barang Ellia. Ini masih siang untuk ia pulang, apa yang akan ia lakukan dirumah nanti


"Nih udah selesai, kerjaan hari ini udah selesai. Lo harus pulang sekarang, gue gak tau Om Reynand mau ngapain nyuruh lo pulang masih sore gini. Sebaik nya lo turutin ajah ya," ujar Aca menyerahkan tas Ellia pada pemiliknya.


"Hm,"


Ellia berdiri di pintu lobby menunggu sopir nya datang menjemput. Beberapa menit kemudian mobil sedan berhenti dihadapannya. Tanpa menunggu sang sopir membukakan pintu, Ellia masuk begitu saja ke bangku belakang. Perjalanan terasa sangat lama, karena keadaan jalan raya yang sangat padat. Gadis itu menghela nafas, jika seperti ini tadi ia tidak usah pulang saja. Lebih nyaman di kantor daripada bermacet-macetan seperti ini. Gadis itu tidak sadar bahwa mobil yang ditumpanginya berlainan arah dengan arah pulang.


Beberapa saat kemudian mobil berhenti di suatu tempat. Ellia menengok keluar, dahinya mengernyit bingung dirinya berada diparkiran sebuah toko perhiasan.


"Kenapa ke sini?" Tak ada jawaban apapun dari sang sopir.


Ellia semakin merasa aneh, sopir yang biasanya akan banyak bicara itu ketika dirinya pulang kerja. Kenapa hari ini dia sangat diam dan malah tidak membalas ucapannya.


"Pak!, saya tanya ngapain ke sini?. Saya cape mau pulang." Lagi-lagi tidak da jawaban.


"Kita ke sini untuk mengganti cincin tunangan yang kamu buang itu. Kali ini kamu gak akan bisa melepaskannya lagi, karena cincin yang kali ini adalah cincin pernikahan, Ellia." Lelaki yang berada di bangku kemudi itu menengok ke belakang. Terlihatlah wajah sang sopir yang sedari tadi menyupiri mobilnya. Gadis itu sangat terkejut. Bagaimana bisa dia disini.


"Rafa!"


"Ayo keluar El, kata nya kamu cape. Kita harus cepat biar kamu bisa pulang!" Tanpa memperdulikan Ellia yang terus menolak. Rafa menarik pergelangan tangan gadis itu memasuki toko perhiasan.


...



...


"Gue bakal bikin pernikahan yang lo idamkan itu batal. Lo bisa lakuin apa ajah, tapi gue jamin kita gak akan pernah menikah!" Rafa tersenyum miring mendengarnya. Sambil terus menahan tangan kiri Ellia untuk mencoba beberapa cincin yang sudah dipesannya.


"Benarkah?, kakek kamu ajah belum dengerin kata kamu. Kamu bisa apa Ellia?,"


..."Kamu akan menyesal kalau membatalkan pernikahan ini Ellia,"...


...-BERSAMBUNG-...


..........