
Beberapa minggu setelah malam itu. Hari hari pasangan itu disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki waktu bersama. Tiap jam makan siang mereka keluar bersama dan makan di resto favorit mereka. Malamnya pun setelah lelah bekerja seharian mereka tidur dengan posisi saling berpelukan. Karena pekerjaan mereka yang padat itulah yang membuat mereka tidak memiliki waktu yang pas untuk berlibur bulan madu.
Pagi-pagi sekali Ellia sudah berkutat di dapur memasak sarapan untuknya dan Raka. Sepasang tangan kekar melingkar diperutnya membuat Ellia terkejut. Untung saja masakan diwajannya tidak melompat kemana-mana.
"Udah selesai belum?, wangi masakan kamu nyebar ke seluruh rumah bikin aku gak sabar pengen makan," tanya Raka masih bergelayut pada Ellia.
"Minggir dulu, ini udah selesai." Rakapun dengan berat hati melepas tangannya dari tubuh Ellia dan sedikit menjauh memberi celah untuk Ellia menuangkan masakannya ke piring.
Mereka menikmati sarapan bersama dengan khidmat. Setelah itu keduanya bersiap untuk pergi ke kantor masing-masing. Mobil Raka berhenti didepan gedung besar perusahaan Mahardika. Ellia mengecup kedua pipi Raka dan mencium tangan suaminya itu sebelum keluar dari mobil. Begitupun Raka mengecup kening Ellia.
"Nanti makan siang aku jemput, kita makan di resto yang baru buka disana." Ellia mengangguk dan keluar dari mobil.
Perempuan itu melambaikan tangan pada Raka seiring mobil lelaki itu pergi meninggalkan area gedung itu.
Memasuki gedung, banyak pekerja berlalu lalang yang menyapa bos mereka. Melihat balasan Ellia yang tersenyum pada mereka, semua orang merasa kantor itu terasa lebih hidup. Karena semenjak Ellia mengambil alih posisi pimpinan seakan suasana kantor menjadi terasa suram dan serius sebab tidak pernah sekalipun bos mereka menyapa atau tersenyum. Yang ada hanya tatapan datar dan tatapan tajam mengintimidasi. Semenjak Ellia menikah seakan semuanya berubah, orang-orang di kantor itu sudah mulai berani untuk saling bercanda satu sama lain, tidak seperti sebelumnya yang bahkan tidak ada yang berani untuk bercanda.
Bos cantik itu berdiri tegak menunggu lift yang ia naiki sampai ke lantai tempat ruangannya berada.
Tubuh Ellia tiba-tiba goyah. Perempuan itu menatap kanan kirinya memastikan lift itu tidak bermasalah. Ternyata bukanlah liftnya yang bermasalah, tapi Ellia sendiri yang merasa kepala nya pusing. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing itu, dan berhasil.
Memasuki ruangan pribadinya, Ellia disambut Aca yang duduk disofa dengan menelungkupkan kepalanya di meja hadapannya. Ada apa dengan gadis itu?. Ellia memanggil gadis itu tapi tidak mendapat sahutan dari Aca.
Sekali lagi Ellia memanggilnya.
"Aca!. Lo kenapa?, gak jadi kabur?"
Aca mendongakkan kepala menunjukkan wajah kusutnya. Sepertinya Aca stres.
"Gue gak bisa kabur, dan pertungannya minggu depan," gadis itu sangat lesu.
"Kalo lo beneran keberatan sama pertunangan ini, biar gue bantu lo kabur. Gue punya tempat," Aca menggeleng membuat Ellia semakin bingung.
"Gue gak akan kabur,"
Menghela nafasnya, akhirnya Ellia menuruti saja apa yang diinginkan Aca.
Setelah memeriksa beberapa berkas penting Ellia meminta jadwalnya hari ini pada Aca. Dengan profesional karena sudah jam kerja, Aca melakukan tugasnya dengan baik seperti sebelumnya seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan wajah kusutnya langsung menghilang berubah menjadi wajah serius. Gadis itu memang sangat pandai mengubah-ubah raut wajahnya sesuai keadaan.
Jadwalnya sekarang adalah meeting berempat bersama Vian dan sekretarisnya. Proyek mereka sudah hampir setengan jadi. Sesuai dengan rencana awal, kawasan elite dengan nuansa eropa yang mereka kerjakan bahkan lebih indah dan lebih bagus dari apa yang Vian dan sekretarisnya presentasikan. Ellia merasa sangat puas.
"Ini sempurna. Tapi apa bisa dibagian sini ditambah sesuatu yang menarik?. Coba anda lihat ini!" Ellia menyodorkan sebuah sketsa yang ia tambahkan didenah rancangan Vian.
Sesuai keinginan Ellia. Vian menyetujui itu menuruti keinginan perempuan itu. Lagi pula yang Ellia tambahkan disana membuat kekosongan yang Vian rasakan sebelumnya menjadi jelas. Vian sudah memikirkan bahwa sepertinya ada sesuatu yang kosong dan kurang. Tapi permintaan Ellia membuat Vian jadi tau bagian mana yang terasa janggal.
Dibagian taman yang sudah bagus itu Ellia tambahkan dibagian kecilnya taman bunga lavender dan mawar. Tidak terbayang akan sewangi apa nanti.
Rapatpun selesai. Waktu untuk makan siang masih duapuluh menit lagi, mereka memutuskan untuk berpindah ke ruangan Ellia untuk berbincang santai. Baru saja sampai didaun pintu, tubuh Ellia tiba-tiba tidak terkendali dan rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Untung saja Vian yang berdiri dibelakang nya langsung menangkap tubuh Ellia yang sudah kehilangan kesadaran, jika tidak tubuh itu akan membentur lantai.
Mereka merasa panik. Apalagi Aca, gadis itu sangat panik melihat wajah Ellia yang sangat pucat itu.
"Cepetan bawa ke rumah sakit!" Mereka langsung berlari membawa Ellia ke rumah sakit secepatnya.
"Lo hubungin lakinya!" Suruh Vian yang sedang mengendarai mobilnya pada Aca yang duduk dibangku belakang bersama Ellia.
Di tempat yang berbeda. Raka baru saja selesai merapihkan meja kerjanya dan hendak pergi keluar menjemput istrinya untuk makan siang, handphone dari saku celananya bergetar. Kening Raka mengernyit, kenapa Aca menelponnya.
"Halo!"
"Ke rumah sakit sekarang!, Ellia mendadak pingsan,"
Seketika Raka memutus sambungan telepon itu dan langsung berlari menuju tempat istrinya dilarikan. Seakan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri, lelaki itu membawa mobilnya dengan ngebut. Menyalip kendaraan-kendaraan yang ada didepannya. Untung saja jalan raya tidak begitu padat hingga ia bisa sampai dengan cepat.
Setelah menanyakan keberadaan Ellia pada seorang resepsionis, Raka langsung mengambil langkah seribu hingga menemukan Aca bersama Vian yang berdiri gelisah didepan sebuah ruangan.
"Dimana istri gue?" Raka langsung menyerang Aca dengan pertanyaan.
"Masih diperiksa dokter," jari telunjuk Aca mengarah pada pintu ruangan itu.
"Gue gak tau, tadi kita abis rapat mau pindah ke ruangan dia. Baru sampai pintu El tiba-tiba pingsan gitu ajah," jelas Aca.
"Yaudah, kalian balik ajah sekarang!" Aca dan Vianpun menurut dan pergi dari tempat itu meninggalkan Raka sendiri.
Dengan perasaan gelisah, Raka mondar mandir didepan pintu itu menunggu dokter yang tak juga kunjung keluar.
Pintupun terbuka, lelaki itu langsung saja menyerang dokter perempuan itu dengan pertanyaan.
"Istri saya kenapa?"
"Gak ada apa-apa kan?"
Dokter itu malah terkekeh melihat wajah panik Raka yang memerah. Dokter itu pun mengajak Raka untuk masuk terlebih dahulu.
"Tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan kok pak. Semua nya baik-baik saja. Istri anda hanya kelelahan dan saya minta bapak harus memperhatikan pola makannya. Dalam keadaan istri bapak sekarang, pemilihan makanan sehat harus lebih diperhatikan. Perbanyak minum air putih dan susu ibu hamil juga jangan lupa. Saya akan meresepkan vitamin untuk istrinya," jelas dokter itu membuat Raka bingung dan lemot seketika.
Susu ibu hamil?. Kenapa Ellia harus minum susu ibu hamil?.
"Sebentar dok!, kenapa istri saya harus minum susu ibu hamil?" Tanya Raka menghentikan dokter yang sedang menulis resep.
"Loh, jadi anda belum tau. Kalau istri anda sedang mengandung, dan kandungannya sudah berusia lima minggu," penjelasan dokter itu membuat Raka mematung seketika. Ini sangat mengejutkan, ada sesuatu dalam diri Raka yang rasanya ingin melompat.
Jika tidak mengingat dimana dirinya berada sekarang, Raka pasti akan berteriak heboh hingga seluruh dunia tau kebahagiaannya.
Setelah dokter itu pergi, Raka langsung menghampiri Ellia yang terbaring masih belum sadarkan diri. Mengusap lembut kepala istrinya dan mengecup kening Ellia berkali kali.
Mata indah itu perlahan terbuka, mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Perempuan itu merasa bingung suaminya yang terus menerus mengecupi wajahnya.
"Stop!, kenapa sih?" Raka menjauhkan wajahnya dari Ellia menatap perempuan itu dengan penuh cinta.
"Kenapa sih?" Ellia mengulang pertanyaannya.
"Terima kasih sayang, terima kasih!" Ellia semakin dibuat bingung.
"Aku akan jadi Papa, kamu hamil."
Setelah mengatakan itu seketika Raka terdiam. Melihat reaksi wajah Ellia yang terlihat terkejut namun tidak ada raut bahagia disana. Raka jadi ingat perkataan Ellia saat itu bahwa dia belum siap untuk mempunyai anak. Perempuan itu masih ingin menikmati karirnya. Pikiran buruk menyerang kepala Raka.
"Kamu gak akan ngegugurin dia kan?, kalau kamu memang gak siap buat punya anak, biar aku ajah nanti yang urus dia. Kamu bisa nikmatin karir kamu seperti biasa. Kamu cuma harus bersabar sembilan bulan ajah, setelah itu biar aku yang mengurus dia," sungguh Raka tidak marah pada Ellia jika istrinya itu tidak menerima anak mereka. Raka mewajarkan itu.
"Kamu ngomong apa sih?. Dia udah hadir disini, apalagi yang harus aku lakuin selain menerima dan bersyukur. Aku yang mengandung, melahirkan dan yang akan menyusuinya. Dia bagian dari diri aku, mana mungkin aku tega ngegugurin dia dan menelantarkan dia dan ngebiarin kamu mengurus dia sendiri. Aku akan menikmati karir aku, bersama-sama dengan kamu dan dia. Aku gak akan menikmatinya sendirian."
Memang benar Ellia terkejut, namun jika sudah seperti ini jalannya harus bagaimana lagi. Anak adalah anugerah dan kepercayaan yang Tuhan berikan pada hambanya. Sebagai hamba tidak pantas rasanya jika merasa terganggu dan tidak menerima apalagi menghilangkan pemberian dari Tuhan. Ellia tidak akan sekejam itu untuk menghilangkan anaknya sendiri.
"Terima kasih sayang. Maaf udah berpikir buruk. Aku belum bisa mengerti kamu, seharusnya aku tau kamu gak akan pernah ngelakuin itu," Ellia tersenyum.
Perempuan itu membawa tangan Raka untuk menyentuh perut ratanya. Terasa sangat hangat.
"Aku akan membuat dia jadi anak yang hebat, aku akan berusaha menjadi Papa yang baik buat dia seperti Papa Alvino yang sudah menjadi Papa terbaik buatku,"
Raka mengecup singkat perut rata Ellia.
..."Ya, kamu akan jadi Papa terbaik,"...
.......
.......
.......
.......
.......
...-BERSAMBUNG-...