
...-Happy Reading⭐-...
.......
.......
.......
"Jangan-jangan mereka di culik?" Duga seorang wanita yang sudah sangat cemas karena tidak juga menemukan dua anak yang menghilang sejak tiga jam yang lalu. Bahkan ke seluruh komplek perumahan sudah mereka cari, namun tidak juga menemukan dua anak nakal itu.
"Hush!, jangan ngomong sembarangan!. Paling juga mereka lagi sembunyi!" Balas seorang pria yang adalah suaminya.
"Sembunyi apaan?, masa iya mereka bisa kuat sembunyi selama tiga jam. Mereka masih kecil!" Sahut seorang wanita lain yang adalah ibu salah satu anak itu.
"Justru mereka masih kecil, anak kecil gak bisa kita duga tingkah nya. Gak ingat, anak kamu kemarin sembunyi di kandang anjing rumah sebelah,"
Wanita itu menggigit ujung jari telunjuk nya sambil melompat kecil. Kemanakah gerangan anak berusia lima tahun itu menghilang. Selama ini?, kemana lagi kalau bukan di culik. Itulah fikir nya. Tapi anak-anak itu sangat suka bersembunyi, kemungkinan juga mereka sedang sembunyi. Tapi, putri gembulnya itu tidaklah bisa tahan lapar, jika sedang bersembunyi pasti anak itu akan keluar sendirinya karena kelaparan, ini sudah tiga jam. Apa anak itu tidak lapar.
Wanita itu melangkah meninggalkan suami dan kedua sahabatnya di ruang tengah menuju dapur. Keadaan cemas dan khawatir membuatnya cepat haus. Setelah selesai dengan urusannya, dia berbalik hendak kembali berkumpul di ruang tengah. Sebuah rak kue yang terbuka di pojok dapur sama mengalihkan fokusnya. Wanita itu mendekat dan akan kembali menutup rak yang berisi beberapa toples kue kering yang akan dia bawa ke acara arisan besok. Dia terkejut melihat rak kue nya menjadi lega karena empat toples kue lainnya menghilang.
"Loh, ini kok tinggal dua. Siapa yang mindahin,"
"Nandini!" Panggil Reynand yang menyusulnya.
"Kamu mindahin kue-kue aku?" Tunjuk Nandini ke arah rak kue nya.
Reynand mengernyit bingung. "Gak ada yang mindahin kue kamu, lupa naruh nya kali,"
"Ih engga. Aku emang taruh di sini kok,"
keributan pun terjadi membuat sepasang suami istri di ruang tengah penasaran, dan akhirnya menyusul sahabat mereka di dapur.
Kedua nya menggeleng-geleng heran. Sebelumnya mereka ribut karena anak mereka hilang, dan sekarang permasalahannya berganti dengan kasus hilangnya kue milik Nandini.
Lea mengalihkan pandangan nya menghindari keributan Reynand dan Nandini. Seutas kain nampak menyembul dari salah satu lemari piring Nandini, dengan keadaan tidak rapat memperlihatkan sedikit bulu yang terlihat lebat berwarna hitam.
Lea memekik. " Nandi!, itu ada tikus di dalem lemari piring kamu. Kok bisa ada tikus sih, pasti tikus nya lagi gigitin kain. Atau tikus itu yang curi kue kamu," tunjuk Lea kearah lemari itu.
"Kok bisa ada tikus, gak mungkinlah. Rumahku tuh bebas tikus. Yaudah biar aku rapetin lagi pintu nya,"
Nandini pun menghampiri lemari itu mengecek apa benar ada tikus di sana. Dari kejauhan memang terlihat seperti rambut hitam dari sela sela pintu lemari yang tidak rapat itu. Lemari itu terlalu besar, jadi Nandini membiarkan lemari itu kosong tidak menyimpan perabotan dapur nya di sana. Bagaimana bisa lemari itu terbuka dan terdapat seutas kain yang tidak asing menyembul keluar.
Dugaan nya semakin kuat. "Oh, itu bukan tikus biasa. Itu tikus besar yang sedang kita cari, liat saja ini!" Ucap Nandini membuka pintu lemari itu dan benar tebakan nya. Begitu pintu itu dibuka, tampaklah dua bocah yang sejak tiga jam mereka cari-cari.
Kedua anak itu terlelap dengan kepala yang bersandar di dinding lemari. Rambut anak gadis itulah yang terlihat dari luar. Para orang tua itu terkejut. Putra dan putrinya tertidur dengan tenang memangku toples kue kering milik Nandini yang hilang, yang isinya sudah hampir habis. Bersama kue-kue kering itu, juga terdapat beberapa kotak susu coklat yang sudah kosong isinya.
"Pantes ajah nggak keluar-keluar, anak kamu tuh. Cape aku!" Pasrah Nandini pun pergi meninggalkan tempat itu. Rasa nya sudah lega putrinya ditemukan bersama toples kue nya yang hilang. Tapi...
Tiga jam yang lalu...
Dua orang anak kecil nampak bersembunyi di balik tembok dapur. Gadis kecil itu beberapa kali menelan saliva nya melihat sang ibu memasukkan kue-kue kering yang terlihat lezat ke dalam toples. Beberapa saat lalu ia meminta pada Nandini untuk memberikannya sedikit kue. Tapi Nandini tidak memberikan nya, kata nya kue itu milik orang lain.
"Nana masih mau kue itu?, Sasa minta Mami nya Sasa buatin untuk Nana ya," bisik Raka kecil yang tidak tega melihat Ellia dengan mata berbinar sangat menginginkan kue itu.
"Jangan!, kalo nunggu Mami Sasa buat dulu lama. Nana tau cara yang cepet, Nana udah gak tahan laper!" Gadis kecil itu menarik tubuh Raka untuk mundur beberapa langkah ketika Nandini melewati mereka saat keluar dari dapur.
Ellia bertepuk tangan pelan kemudian menarik tangan Raka untuk mengikutinya. Ellia mendongak menatap rak tempat Nandini menyimpan kue-kue yang sangat tinggi itu.
"Nana mau ambil kue nya?, itu tinggi tau. Gak sampe," kata Raka.
"Tunggu sebentar!" Ellia pun berlari ke meja makan dan dengan sekuat tenanganya gadis kecil itu menyeret kursi yang besar dan berat itu.
"Sasa pegangin kursi nya ya, Nana mau naik. Nanti kalo Nana udah dapet, Sasa ambil dari bawah oke!" Raka kecil mengangguk memegangi kursi itu, Ellia pun mulai naik dan menjalankan misi nya.
"Yey dapet, Sasa ambil susu di kulkas sana!. Nana mau cari tempat aman dulu!" Raka yang memang penurut pada Ellia pun buru buru berlari menuju kulkas dan mengambil beberapa kotak susu coklat.
"Nana!, Nana di mana?," panggil Raka tidak menemukan gadis kecil itu ketika berbalik.
"Bwa!, ayo Sasa sini. Di sini pasti aman, Mama gak bakal temuin kita," salah satu pintu lemari piring disana terbuka menampilkan Ellia kecil yang sudah nyaman dengab posisi duduk nya di dalam sana sambil memangku satu toples.
Serasa keadaan sudah aman, mereka pun mulai melahap satu persatu kue itu.
"Enak banget!" Kata Raka di tengah tengah kunyahannya.
"Iya kan enak, mana tahan Nana tungguin Mami Sasa buat dulu,"
"Pelan pelan Nana makannya!," tegur Raka.
Ellia tidak mendengarkan dan terus makan dengan lahap hingga mulutnya penuh. Raka yang sudah tidak tahan dengan pipi bulat Ellia akhirnya menyandarkan dirinya ke dinding lemari sambil meminum susu coklat, menutup mata nya menahan diri supaya tidak sampai mancabik cabik pipi bulat itu. Kelama lamaan Raka pun terlelap dan susu nya terjatuh dari genggaman tangannya.
Melihat Raka tertidur, membuat gadis kecil itu juga menjadi mengantuk.
...⚘⚘⚘...
"Es krim datang!" Pekik Raka kecil berlari ke arah Ellia dengan membawa dua buah es krim di tangannya.
Sontak melihat itu Ellia kecil langsung bangun dari bangku yang didudukinya dan melompat lompat senang, menyambut kedatangan Sasa nya. Kedua nya duduk di bangku taman sambil menjilati eskrim masing-masing sambil menikmati sejuknya taman komplek di sore hari.
Ellia menghentikan sejenak menjilati es krim nya dan menolehkan kepalanya ke arah Raka.
"Sasa!" Panggil Ellia kecil.
"Apa," jawab Raka tanpa menoleh.
Ellia berdecak kesal, "Liat sini dulu dong, Sasa liat apa sih,"
"Liat itu, cantik kaya Nana," tunjuk Raka kearah langit senja yang berwarna jingga.
"Tapi Nana suka nya bintang, bukan matahari. Matahari bikin mata Nana sakit liat nya," balas Ellia.
"Matahari, bintang, bulan atau apa ajah yang cantik. Tapi Sasa gak bisa ambil itu buat Sasa peluk. Kalo Nana udah cantik, embul, pipinya kaya balon bisa Sasa peluk. Mereka semua kalah sama Nana," Ellia kecil semakin merengut.
Ellia menekan nekan pipinya sendiri dengan jari telunjuk.
"Enggak kok, gak kaya balon. Gak embul, Nana cantik. Sasa yang embul!" Ellia mencubit pipi Raka gemas.
"Aduh Na sakit, aduh!" Karena Ellia tidak mendengarkan keluhannya. Raka lalu menempelkan eskrim di tangannya ke wajah Ellia hingga gadis kecil itu berhenti menyubiti pipi Raka.
Seketika Raka panik melihat Ellia yang mulai menekuk wajah nya siap mengeluarkan tangisan super merdunya.
"Eh iya iya maafin Sasa. Jangan nangis dong, cantik. Sini Sasa bersihin. Jangan nangis ya!" Bujuk Raka mengusap noda di wajah Ellia dan membuat gadis kecil itu mengurungkan tangisan nya, berganti dengan wajah ceria dan senyum lebar.
"Nana kan udah besar, jangan cengeng lagi ya. Nanti kalo Sasa pergi siapa yang mau ngelapin air mata nya. Nana harus jadi anak hebat, gak nangis, gak cengeng," pesan Raka kecil sambil mengusap kepala Ellia dengan lembut.
Nyaman. Hanya itu yang Ellia rasakan jika berada di samping Raka. Bahkan dengan Rara atau Lalang, Ellia tidak pernah merasakan senyaman ini.
"Sasa mau pergi ke mana emang nya?, kan Nana disini, jadi Sasa juga harus disini dong. Sasa nya Nana gak boleh pergi kemana-mana!. Pokok nya gak boleh ninggalin Nana," Raka tersenyum mendengar itu. Dengan wajah menekuk seperti itu Ellia kecil sangatlah menggemaskan dan juga pipi bulatnya.
"Sasa kan punya Nana, jadi meskipun Sasa pergi jauh nanti pasti ketemu lagi,"
...⚘⚘⚘...
Air mata mengalir dengan deras dari sepasang mata indah gadis kecil itu. Sudah lebih dari lima jam sejak ia mengantar Sasa ke bandara. Sasa nya pergi bersama orang tua nya. Ellia tidak tau, ia tidak mengerti kenapa Sasa pergi. Kemana mereka pergi Ellia tidak tau. Gadis itu mendengar dari orang tua nya kalau Raka dan keluarganya pergi ke korea. Ia tidak mengerti korea itu dimana, yang Ellia kecil pikirkan waktu itu korea adalah tempat yang dekat, besok pasti Sasa nya akan pulang.
Gadis itu mengamuk pada Nandini, ia ingin ikut dengan Raka. Ellia ingin menyusul Raka.
"Udah dong sayang, tadi kata Sasa apa?. Nana nya Sasa gak boleh cengeng lagi, gak boleh nangis. Nanti Sasa nya sedih di sana kalau El nangis terus. Besok Sasa pulang kok," bujuk Nandini memangku putri kecilnya yang tidak berhenti menangis dari tadi.
Ellia teringat dengan pesawat yang ditumpangi Raka lepas landas tadi. Pesawat yang membawa sahabat dan juga bagian dari hidupnya terbang meninggalkan dirinya. Ellia kecil terdiam, apakah benar kalau dirinya menangis Sasa nya juga akan sedih. Apakah kalau ia tidak menangis besok Sasa akan pulang?.
Ellia mengusap wajah nya yang basah dengan telapak tangan nya.
"El udah gak nangis. Sasa besok pulang kan ma?"
Nandini mengangguk mengusap kepala Ellia. "Iya, kalo El gak cengeng lagi, pasti besok Sasa pulang,"
"Yeey besok Sasa pulang!" Pekik gadis kecil itu melompat dari pangkuan ibunya.
Hari-hari berikutnya pun Ellia terus mencoba menahan tangisan nya. Ketika Lalang atau teman sekolah mengganggunya, gadis kecil itu bertahan untuk tidak meneteskan air mata.
..."Nana udah gak cengeng loh, Sasa kapan pulang nya?"...
...⚘⚘⚘...
Gadis itu terdiam. Waktu seakan berhenti. Ellia enggan bergerak, hanya kelopak mata nya saja yang berkedip. Semua nya terasa kosong.
"Ellia!" Panggil Reynand pelan mencoba menyadarkan Ellia.
"Kamu gapapa kan sayang?" Tanya Nandini juga merasa khawatir, putri nya tidak bergerak atau pun bicara.
Seketika dunia Ellia kembali, merasakan sentuhan di kepalanya. Mata gadis itu menjelajah menatap satu per satu orang-orang yang ada di sekitar nya. Kedua orang tua nya, Aca, Alan dan Esther.
"Ma!" Seru Ellia pelan.
"Iya sayang, ada yang sakit?. Pa cepet panggil dokter!" Ellia menggenggam tangan Nandini erat menahan supaya tidak memanggil dokter.
"Sasa udah pulang belum Ma?, El kan udah gak cengeng," ucap Ellia dengan raut wajah tanpa ekspresi nya.
Nandini terdiam. Sudah lama sejak terakhir kali Ellia menanyakan kepulangan Sasa. Dan keadaan yang sekarang, apa yang harus Nandini katakan.
"Sasa udah pulang kan?. El mau ketemu sekarang!" Ellia beranjak dari posisi tidur nya. Nandini langsung menahan Ellia agar tidak bangun dari tempat tidur nya.
"Tadi El liat Sasa berdarah. Di mana Sasa?"
Alan mendengar itu mengepalkan tangan nya. Dari dulu hanya nama itu terus yang ada di dalam pikiran Ellia. Alan tidak pernah meninggalkan gadis itu. Tapi kenapa harus selalu orang itu yang disebut Ellia.
Tatapan Ellia beralih pada Alan, Aca dan Esther.
"Dimana Raka?" Tanya Ellia dingin.
"Raka... " Alan menjawab ragu pertanyaan sahabat kecilnya. Bagaimana caranya ia memberi tahu Ellia tentang keadaan Raka.
"JAWAB GUE!, DIMANA RAKA?" Ellia geram tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan nya.
"Kalian gak mau kasih tau gue, gue bakal cari Raka sendiri!" Ellia nekat mencabut selang infus nya dan turun dari tempat tidur dengan keadaan lemas.
"Raka kritis, dia ada di ruangan khusus," ujar Aca pelan menghentikan langkah Ellia di ambang pintu.
Jadi apa yang dilihatnya tadi bukan bagian dari mimpinya. Dimana dengan penglihatan buram nya, ia melihat Raka yang melepaskan pelukannya dalam keadaan sudah berdarah. Cowok itu memegangi dada nya dengan kesakitan luar biasa yang sedikit masih bisa Ellia lihat dari wajah itu. Dihadapan nya. Sky, Malvin dan Raka terluka dengan genangan darah yang berceceran. Tunggu!, ini hari apa?.
Ellia menoleh ke sebuah kalender disudut kamar rawat nya. Ini lima hari setelah kekacauan itu terjadi. Malvin dan Janu, bagaimana dengan dua lelaki itu. Tapi Raka sangat lah penting baginya. Ellia berlari keluar dari kamar nya mencari kemanapun matanya melihat keberadaan Raka.
"Dimana kamar khusus?" Tanya Ellia pada seorang resepsionis.
"Ya, di lantai tiga..." belum sampai resepsionis itu menyebutkan, Ellia langsung berlari begitu saja menuju sebuah lift yang tak jauh dari keberadaan nya.
Gadis itu terus berlari dengan sempoyongan mengabaikan rasa sakit yang menusuk dikepala nya dan semakin mendekat ke arah beberapa laki-laki yang dikenalnya yang berkumpul di depan sebuah ruangan.
Ellia sampai di hadapan mereka, tubuhnya hendak luruh namun langsung ditangkap oleh salah satu cowok disana.
"Lo gapapa?, lo udah bangun. Kenapa disini?" Ucap Rafa menatap Ellia dari atas ke bawah. Gadis itu masih lemah, dan dia berlari kesini.
Ellia melepas pegangan Rafa dari kedua bahu nya. Tidak, didepan nya ini adalah Rafa yang bersandiwara sebagai Sasa si hadapannya. Dia Rara bukan Sasa yang dicarinya.
"Dimana Sasa?, dia baik-baik ajah kan?"
Ellia mendekatkan dirinya ke sebuah pintu yang terdapat sedikit kaca tembus pandang. Ellia berjinjit berusaha menggapai sesuatu di dalam sana dengan mata nya.
Mata nya berkaca-kaca melihat pemandangan menyakitkan itu. Sasa nya terbaring dengan banyak nya alat rumah sakit yang menempel di tubuh cowok itu. Bagaimana bisa, apa yang terjadi.
Alvino menahan gadis itu yang hendak membuka pintu ruangan Raka.
"Jangan!, gak ada yang boleh masuk. Dia akan baik baik saja," ucap Alvino dengan wajah datar nya.
Bohong, bagaimana bisa tubuh yang dipenuhi alat rumah sakit seperti itu bisa dikatakan baik baik saja.
Dari kejauhan kedua orang tua Ellia berlari bersama Alan dan Aca yang mengikuti mereka mendekat ke tempat Ellia berada.
"Kamu baru bangun sayang. Istirahat dulu yuk," kata Nandini.
Ellia menggeleng. "Sasa udah pulang. El mau ketemu Sasa, Sasa sendirian di sana. El mau nemenin Sasa,"
"Jangan nakal El!," peringat Reynand tegas.
"Ayo kembali!"Reynand membawa Ellia pergi bersama nya. Gadis bermata biru itu pun dengan tubuh lemas nya tidak bisa memberontak dari dekapan Reynand.
"Tapi Sasa sendirian!" Ellia pun menghilang dari sana.
Anan, Robi dan Dirga menatap bingung Ellia yang menjauh, lalu mereka menatap Rafa. Apa maksudnya, kenapa mereka tidak mengerti apa-apa.
...⚘⚘⚘...
Luka dikepala Ellia yang lumayan besar membuat gadis itu harus merasakan sakit yang terangat sangat, hingga gadis itu harus benar benar dirawat dengan ketat. Karena keadaan luka dan didukung pikiran nya tentang Raka dan keadaan Cakrawala yang bergentayangan didalam kepalanya akan bisa membuat dia mengalami pendarahan kapan saja. Dan pendarahan di kepala sangatlah berbahaya.
Sudah seminggu Ellia terkurung di ruangan rumah sakit dengan rasa sakitnya. Ingin rasa nya dia bangkit dan berlari menemui Sasa nya. Reynand belum juga mengizinkan Ellia untuk keluar dari ruangan pengap ini.
Dini hari pukul satu. Netra biru nya menjelajah keseluruh ruang rawat nya. Sepi dan gelap. Nandini dan Reynand tidur di kamar yang dikhusus kan untuk keluarga pasien yang menemani, pintu kamar itu tepat berada di samping ranjang Ellia. Penjaga yang dibayar Reynand untuk berjaga di luar juga pasti sudah tidur.
Ellia perlahan bangkit dan menapaki kaki telanjang nya ke lantai yang dingin. Melihat keadaan di luar ruang rawat nya, benar benar sepi. Seperti lorong rumah sakit yang ada difilm horor yang sangat menyeramkan. Hanya ada dua laki-laki berbadan besar yang tertidur sambil saling bersandar di kursi depan ruangan nya.
Langkah Ellia membawa gadis itu menaiki lift untuk mencapai tempat yang ditujunya. Semoga saja Raka baik-baik saja. Lorong tempat kamar khusus tepatnya lantai tiga lebih sepi dan gelap lagi. Perlahan lahan Ellia menuju sebuah ruangan yang mana pintu nya terbuka dan sinar lampu dari dalam terlihat keluar.
Ellia berdiri tepat dipintu biru itu bertepatan dengan seorang cowok yang menenteng sebuah tas hendak keluar hingga mereka diam saling pandang.
Ellia menengok ke arah tempat tidur didalam sana yang sudah kosong dan rapih. Semua alat-alat menyeramkan yang dilihatnya waktu juga menghilang dari sana.
"Rafa!"
"Lo disini?" Kata Rafa.
"Sasa kemana?. Dia dimana?" Tanya Ellia tidak menjawab ucapan Rafa.
"Sasa..." Rafa kini tau kalau kebohongannya sudah diketahui oleh Ellia. Gadis itu sangat kecewa.
"Gue udah tau semua nya Rafa. Lo bukan Sasa gue, lo bohong. Tapi gapapa, gue maafin. Sekarang gue mau Sasa gue, dimana dia?, dimana Raka?" Ellia tersenyum.
"Ikut gue," Rafa menuntun Ellia ke sebuah kursi di depan ruangan itu untuk duduk berdua.
"Gue tau gue salah, gue bohong. Tapi gue malah nyaman sama kebohongan itu, gue gak mau lo ataupun Raka tau soal yang sebenarnya. Gue pengen ngerasain gimana rasa nya menjadi Sasa nya Nana. Gue mau Nana cuma jadi punya gue,"
Ellia terdiam.
"Gue minta maaf Na." Lanjut Rafa.
Ellia menghembuskan nafas nya.
"Dimana Sasa?" Tangan Rafa mengepal kuat. Sasa lagi, selalu Sasa. Kali ini Rafa sangat ingin bersikap egois. Meskipun dirinya sudah menerima beberapa pukulan dari saudara kembarnya sebelum keributan waktu itu terjadi.
Rafa berdiri menatap datar gadis yang masih duduk itu.
"Dia pergi. Papa bawa Raka pergi jauh dari Indonesia," mata Ellia membulat, seketika gadis itu bangkit dari duduknya. Berdiri tepat berhadapan dengan Rafa. Menatap mata cowok itu.
"Enggak, dia gak mungkin pergi lagi kan. Gue udah nunggu dia selama ini, kenapa dia harus pergi lagi. Dulu Sasa bilang dia bakal kembali kalo gue jadi anak yang kuat. Sekarang gue adalah cewek kuat, gue bahkan ketua Cakrawala. Kenapa dia bohong!" Ucap Ellia menggebu gebu. Mata nya mulai memburam karena air mata yang masih tertahan di mata indah itu.
"Kemana?. Sasa pergi kemana?. Gue bakal nyusul dia sekarang!" Gadis itu mengguncang guncang tubuh Rafa.
Lagi. Kenapa Ellia kembali yang ditinggalkan. Dulu ketika Sasa nya pergi, datang lah sosok malaikat lainnya yang menemani dirinya, tidak pernah meninggalkannya. Tapi kenapa sosok malaikat bernama Langit itu juga harus pergi meninggalkan nya begitu saja. Kemudian orang yang dia nanti kembali tanpa disadari. Saat Ellia tau hal itu, lagi lagi dia pergi meninggalkan nya.
"Lo nggak bisa. Dia harus pergi kalau lo masih mau bisa melihat nya lagi suatu hari. Lo bisa nunggu dan berharap lagi,"
"Tapi lo harus inget ini dengan baik Ellia Alsyana Mahardika!" Rafa mengambil tangan kiri Gadis itu dan mengangkat nya.
"Ikatan ini. Gue nggak akan melepas ikatan ini sampai kapan pun. Lo sudah terikat sama gue, lo nggak bisa lepas karena gue nggak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milik gue." Jelas Rafa dengan wajah serius nya menunjukkan benda yang melingkar di jari Ellia.
"Cari Sasa lo itu ke mana pun!. Sampai jumpa di hari pernikahan, Nana."
Rafa pun melepas tangan Ellia dari pegangannya, kemudian cowok itu berbalik badan dan melangkahkan kaki nya lebar meninggalkan Ellia di lorong rumah sakit yang sepi dan remang remang itu.
Setetes cairan bening meluncur jatuh menatap punggung lebar yang makin menjauh. Apa ini?, Rafa tidak ingin melepaskan ikatan pertunangan ini dan ingin melanjutkan nya dengan serius. Tapi Ellia menginginkan Raka, Sasa nya. Hanya dia.
...-BERSAMBUNG-...