RaLia

RaLia
Berbeda.



"ITUU..."tunjuk Anan heboh ke arah pintu kantin.


Melihat arah telunjuk Anan, Aca dan Alan pun bergegas menghampiri Ellia yang berjalan semakin jauh.


Aca menepuk pundak Ellia membuat gadis itu berhenti dan menoleh, "lo kemana ajah sih,dari tadi gue cariin tau,di mana mana gak ada, lo abis dari mana hah!" Ellia mengusap telinga nya yang terasa pengang karena suara cempreng sepupu nya itu juga kalimat panjang nya tanpa henti.


Ellia tidak memperdulikan nya dan kembali melangkah meninggalkan kedua sahabat nya itu.


"EL," teriak Aca kembali mengejar gadis itu.


"Tunggu El," langkah Ellia terhenti karena sebuah tangan besar yang mencekal tangannya.


Ellia terdiam tidak menoleh dan tidak mengatakan apapun menunggu apa yang akan Alan ucapkan.


Beberapa detik kemudian Alan tidak juga membuka suara nya, Ellia tau betul Alan akan bertanya sama seperti Aca atau berusaha menenangkannya. Cowok itu tau pasti apa yang di rasakan dirinya saat ini.


"Gue usaha in kalung itu ketemu, tenangin diri lo, dan ..." Alan melangkah ke hadapan Ellia menatap wajah Ellia yang terlihat pucat.


Tangan Alan terangkat mengusap kelopak mata Ellia yang membengkak dan masih tersisa bekas Air mata di sana. Ellia memejamkan mata menikmati usapan lembut Alan di matanya.


"Jangan nangis, jangan sedih!" lanjut Alan, kemudian tangan nya beralih mengusap puncak kepala Ellia.


Gadis itu tetap bertahan dalam kebungkaman nya, perasaan bersalah menggerogoti hati Ellia. Bagaimana bisa dia lalai menjaga benda paling berharga itu. Kenangan yang begitu indah bersama orang spesial nya tersimpan apik bersama kalung itu.


Tak menghiraukan Alan, Ellia sedikit menubruk lengan Alan pergi meninggalkan sahabat kecil nya itu.


BRUKK!


Alan dan Aca menoleh ke asal suara. Di sana Ellia diam berdiri dengan wajah datar nya tanpa respon sedikitpun dengan cewek cupu berkaca mata tebal dan rambut yang di kepang dua sedang berjongkok di hadapan kaki nya memunguti buku-buku tebal di lantai.


Ketika tangan cewek itu hendak mengambil sebuah novel yang tergeletak tepat di depan kaki Ellia, gadis bermata biru itu lebih dulu menginjak nya membuat cewek cupu itu mendongak menatap wajah datar kakak kelasnya.


"Maaf kak, aku gak sengaja nabrak kakak, permisi aku mau ambil buku aku," cewek cupu itu bangkit dan menunduk, dia tau kakak kelas nya itu terkenal ramah. Tapi dia merasa bersalah meski bukan diri nya lah yang menabrak Ellia, tapi Ellia yang menabraknya.


Kaki Ellia terangkat dari buku cewek itu. Cewek itu pun tersenyum dan kembali membungkuk untuk meraih bukunya, tapi..


TUUK..


buku itu di tendang hingga terlempar jauh oleh Ellia. "Ngehalangin jalan gue ajah lo, MINGGIR!" bentak Ellia menatap tajam cewek di hadapannya itu.


Ellia berdecak kesal kemudian mendorong cewek itu menyingkir dari hadapan nya hingga terjatuh kasar ke lantai.


Cewek itu meringis merasakan perih di kaki nya. Tapi Ellia tidak peduli dan melanjutkan langkah nya semakin menjauh.


Alan, Aca dan dua cowok kembar dari kejauhan menatap perubahan Ellia yang sangat mengejutkan, tidak menyangka gadis manis dan lembut itu berlaku sekasar itu.


Gadis manis yang begitu ramah dan menggemaskan yang selalu tersenyum kini berubah drastis, Alan pun tercengang gadis manja nya yang biasa selalu menjawab sapaan orang lain dengan ramah kini bembentak bahkan menendang buku orang dengan kasar.


Alan semakin merendahkan diri nya sendiri, cinta Ellia pada Sky begitu besar meski sudah dua tahun berlalu sejak kematian Sky.


Apa bisa dirinya menggantikan posisi Sky di hati Ellia. Bahkan dirinya sudah bersama Ellia sejak kecil. Apakah bisa Ellia melihatnya bukan sekedar sebagai sahabat.


Bahkan Alan sendiri tidak begitu kenal dengan Sky,siapa Sky, bagaimana Sky, seperti apa cowok itu yang membuat ellia terjatuh begitu dalam ke jurang cinta Sky..


...🌹🌹🌹...


PRAANG!!


DUK...DUK...DUK...


TAR...CTAR...


Penghuni sekolah di hebohkan dengan kehadiran segerombol siswa siswa berpenampilan amburadul dengan senjata di tangan mereka.


Dari mulai batu-batu yang dilemparkan mengenai kaca kaca hingga pecah, balok kayu besar yang mereka pukulkan ke pintu gerbang juga batang besi menimbulkan kegaduhan dari dalam sekolah, siswa siswi SMA Mandala berlarian menuju aula utama mengikuti arahan para guru.


Satpam penjaga sekolah itu pun menyingkir setelah terkena lemparan batu saat mencoba menghentikan gerombolan itu.


"Ellia di mana?," kepala Aca menoleh ke kanan kiri mencari sosok bermanik biru di dalam keramaian aula utama sekolah.


Kaki nya terus melangkah menerobos orang orang di sana. Tidak di temukan nya juga.


"ALAAN!" orang yang di panggil pun menoleh lalu menghampiri gadis bersuara cempreng yang memanggil nya.


"Kenapa,?"


"Ellia gak ada, dia di mana, jangan jangan dia masih di luar Lan! cepet cari Ellia, gue takut dia kenapa napa!"


Tanpa basa basi lagi Alan langsung berlari mencari Ellia di setiap sudut aula kemudian dirinya nekat keluar mencari gadis itu.


Beberapa kali tubuh nya terkena timpukan batu yang berhasil memecahkan kaca.


Sementara itu keadaan di gerbang sekolah, orang orang yang membuat kekacauan itu tiba-tiba berhenti saat ketua dari mereka memerintahkan berhenti.


"Ada keperluan apa kalian ke sini?" tanya Anan dengan raut wajah datar nya.


'Gak cocok muka lo di serem seremin gitu,' cibir Raka yang memperhatikan teman teman nya dari jauh.


Sebenarnya Raka sangat ingin bergabung ketika saat saat seru seperti ini.


"Dimana leader Cakrawala?" ucap ketua dari orang orang pembuat onar itu.


Tim inti Bharta saling tatap kebingungan, setau mereka di SMA Mandala tidak ada anggota Cakrawala satupun, dan orang itu malah datang mencari Ketua Cakrawala.


"Gak ada Cakrawala di sini," jawab Anan.


"GAK USAH BOHONG LO!"


Anan dan teman-temannya pun semakin bingung.


"Ada urusan apa lo sama dia?" kata Anan masih bersikap tenang.


"Gak usah banyak bacot, cepet panggil dia!" cowok itu semakin kesal saat ke empat cowok di hadapannya berusaha menyembunyikan orang yang di carinya.


"Gue udah bilang gak ada Cakrawala di sini!" mana mungkin. Dia tidak akan salah liat saat orang berpakaian tertutup itu memasuki SMA Mandala di pagi buta ketika murid belum berdatangan.


Yang lebih meyakinkan bahwa Ketua Cakrawala itu bersekolah disini adalah dasi seragam SMA Cakrawala yang berwarna hitam campur abu terikat di pergelangan tangan orang tertutup itu.


"Gue di sini!" orang orang itu menoleh ke arah belakang Anan dkk, dua orang yang salah satunya berpakaian tertutup serba hitam hanya memperlihatkan matanya, dan satu nya adalah seorang cowok berseragam SMA Mandala di lapasi jaket kebanggaan Cakrawala juga topi hitam di kepala nya.


Seluruh anggota Bharta yang berada di sana tercengang saat sosok misterius itu benar benar satu sekolah dengan mereka.


Lebih lagi Anan sudah mengecek SMA Mandala dan tidak ada satupun anggota Cakrawala, hanya ada anggota Bharta saja.


'Yaelah, yang di cari ternyata ada di sini, kemana aje tuh orang kemaren kemaren di cariin juga,' batin Anan.


Ternyata orang yang selama ini dia cari tau kebenarannya berada satu sekolah dengan nya. Kalau tau begini dia tidak akan pusing untuk mencari orang itu hingga ke sekolah lain.


Mata bulat orang itu terlihat sangat tajam menatap orang-orang di sekelilingnya namun dari gerak tubuhnya terlihat sangat santai. Karena wajah nya yang tertutup membuat orang lain tidak bisa melihat ekspresi nya. Berbeda dengan cowok di sebelah nya yang terlihat menampilkan wajah menyeramkan, juga seragam nya yang acak acakan di balik jaket nya.


"Mereka yang waktu itu di rooftop bukan sih," bisik Dirga pada Rafa yang berada di sebelahnya.


"Ternyata!"


"Apa urusan lo?" tanya cowok bername tag Janu yang notabane nya adalah wakil ketua Cakrawala. Dan Janu ini selama di sekolah selalu menyendiri dan penampilannya yang menggunakan kaca mata.


Jadi Anan tidak bisa mengenali cowok yang pernah di lihatnya di layar laptop.


"Kalian kalo ada masalah sama kita langsung maju di hadapan gue, gak usah jadi pengecut dengan nyerang anggota gue dengan kroyokan,"


"Itu salah anggota lo sendiri. Udah tau lemah gak usah sok sok an nantangin Cakrawala, kekuatan gak seberapa berani ngehina Cakrawala heh!" ketua Cakrawala itu berdecih. Menatap sinis musuhnya di balik gerbang.


"Lo berani ngehina kita!" dijawab deheman oleh Ketua Cakrawala itu.


"Terus lo bisa apa?" ucap Janu.


"Nanti malem di sirkuit virgo, telat sedetik , gue hancurin nih sekolah ," tantang cowok di balik pagar itu.


"Gue selalu tepat waktu!" jawab orang misterius itu.


Kemudian orang orang itu pergi meninggalkan Mandala. Orang misterius itupun menyuruh Janu mengambil kan motor nya dan mulai menghidupkan motor sport hitam itu siap tancap gas.


Sebelum orang itu pergi Anan terlebih dahulu memanggil orang itu.


"Sejak kapan lo ada di sini?"


"Cari tau sendiri!, bukan nya lo mau mata-matain gue, gak seru kalo langsung gue kasih tau,"


Bruummm....


Orang itupun menancap gas nya meninggalkan Cakrawala setelah Janu membuka kan pintu gerbang.


.


.


.


.


.


Bersambung...