RaLia

RaLia
Orang itu.



Took...tok...tok...


Suara ketukan pintu menganggu tidur seorang gadis yang sudah tertidur beberapa jam lamanya sejak sore tadi.


"Arrgh males," gumam Ellia kembali menutup mata nya, bodo amat dengan orang yang mengetuk pintu di luar.


Tak kunjung ada jawaban, orang di luar pintu itu langsung masuk saja, dan di temukannya lah gadis yang masih terlelap. Kata Nandini Ellia sudah tidur sejak sore tadi dan belum makan. Pasti dia masih kepikiran tentang kalung itu.


Alan mengguncang lengan Ellia pelan.


Gadis itu berdecak dan berbalik badan membelakangi Alan.


"Wake up!" ucap Alan masih berusaha membangunkan Ellia.


"Apa sih, ah elah!" dengus Ellia belum bangun juga.


"Makan yuk!" ajak Alan. Tangan nya beralih mengelus kepala Ellia lembut yang membuat Ellia semakin terlelap.


"Gak bangun juga Cupcake buatan Mama gue bawa pulang lagi!" sontak seketika mata Ellia terbuka lebar.


"Hah!" Ellia langsung bangkit dan meluncur ke lantai bawah. Pasti Mama dan Papa nya sedang menikmati Cupcake buatan Mama Alan. Cupcake itu sangat nikmat, sering kali Alan membawakan nya jika ke rumah Ellia.


"Iihh mamaaa itu cupcake aku, jangan di habisiin," suara nyaring dari arah tangga menggelegar menghentikan sepasang suami istri yang sedang asik nonton tv sambil makan cupcake.


"Suruh siapa kamu tidur terus, biarin ajah papa yang habisin," kata Reynand kembali melahap Cupcake nya.


"Papa mah gitu, yaudah ini aku bawa semua ya dadaah," Ellia melambaikan tangan nya membawa kabur piring berisi beberapa cupcake yang tersisah.


Reynand menggeleng geleng.


"El kenapa Lan?" tanya Reynand melihat ada yang berbeda dari Ellia.


"Iya, dari pulang sekolah tidur terus, gak mau keluar, gak mau makan, mata nya juga bengkak gitu," kata Nandini.


"Untung kamu bawa Cupcake jadi El langsung keluar kamar dan makan," lanjut Nandini.


"Kalung nya ilang tan," jawab Alan ragu ragu.


"Kalung itu..." Alan mengangguk.


"Belum ketemu? udah di cari?" kata Reynand.


"Udah, tapi belum ketemu,"


Reynand menghela nafas nya pelan. "Tolong ya Lan, jaga El, Om minta sama kamu!" Reynan tau Ellia pura pura ceria tadi. Terlihat dari mata nya yang bengkak sangat aneh rasanya.


"Iya Om, Alan pasti selalu jaga El."


****


"Mau liat gak lo pada!" ujar Robi yang sudah bersiap dengan jaket Bharta kebanggannya.


"Yok berangkat!" kata Anan lalu mereka bergerak menuju sirkuit Virgo, menyaksikan kegiatan ekslusif leader Cakrawala melawan musuh nya. Para leader Cakrawala dari dulu memang selalu tertutup, tapi lalu mereka membuka identitas mereka selang beberapa bulan. Tapi leader yang sekarang sudah hampir setahun lama nya dia menjabat tapi tidak ada tanda-tanda dia membuka identitasnya. Jika seperti ini terus maka posisi Bharta akan tetap seperti ini, dan dengan terpaksa Anan harus melakukan perintah seniornya.


Lima cowok dengan beberapa anggota Bharta lainnya sudah sampai dan tengah berkumpul di pinggir jalan tidak jauh dengan kumpulan orang lain. Dilihat lah seseliling nya, ternyata masih belum mulai.


"Mana sih dah lama amat!" gerutu Robi tak sabaran. Dia benar benar penasaran dengan keahlian pembalap si sosok misterius itu.


"Gak sabaran amat lo," kata Raka yang sedang santai mengemut permen bergagang.


"Penasaran gue," kata Robi.


BRUUM...BRUM...


Datang lah berbondong bondong motor besar dengan di pimpin satu orang yang mereka tunggu tunggu. Semua orang bersiap siap di pinggir garis start juga termasuk Geng Bharta.


"Siap kalah lo!" tantang cowok yang menyerang SMA Mandala tadi siang, diketahui nama nya adalah viko


"Apa taruhan lo!" jawab Janu mewakili ketua nya.


"Lo mau nya apa?" tanya balik cowok itu.


Saat Janu akan menjawab, cowok itu mengangkat tangannya menyuruh Janu untuk diam.


"Gue tanya ketua lo! kenapa lo yang jawab!" sebal cowok itu. Sama hal nya dengan yang lain, dia pun sangat penasaran pada sosok di balik masker dan topi hitam itu.


"Gue mau itu semua!" jawab orang misterius itu menunjuk deretan mobil sport yang berjejer rapih di tepi jalan.


"Hmm!" dehem cowok itu menoleh ke arah teman-temannya. Sedangkan mereka semua yang di tatap ketua nya ada yang mengangguk dan ada yang menggeleng.


"Aelah, tibang mobil gini doang, lo bisa beli lagi nanti!" ucap salah satu mereka menepuk pundak orang yang sempat menggeleng tadi.


"Terserah bos!" jawab nya. Lalu cowok itu menoleh lagi ke arah orang misterius itu dan mengangguk lalu mengulurkan tangannya, deal.


"Oke guys, taruhan udah di tentukan, mari kita mulai sekarang!" ucap keras seorang perempuan berpakaian terbuka mempersiapkan dirinya di depan dua motor sport itu dengan berdera nya.


"3..." perempuan itu mulai berhitung.


"2..." lanjutnya.


"1, GOOO!" dua motor itu melaju kencang sedetik perempuan itu mengangkat benderanya. Orang-orang di sana tidak percaya dengan yang di lihatnya sekarang, motor orang misterius itu melesat bagai angin, sedetik langsung berada jauh dari musuh nya yang berada di belakang.


Cowok yang menantang orang itu pun berusaha menambah kecepatannya tapi masih tidak bisa mencapai orang itu. Cowok itu berdecak sebal, bagaimana bisa. Atau dia sudah lupa motor macam apa yang di gunakan orang itu!.


"Serahin semua kunci nya!" orang itu mengadahkan tangan kehadapan wajah Viko yang baru tiba di garis finish.


Dengan berat hati cowok itu menghela nafas, lalu menyuruh teman teman nya datang memberikan apa yang di minta orang itu.


"Janu, nih ambil! suruh yang lainnya juga bawa semua ini ke markas!" titah orang itu pada wakil nya dan langsung di angguki.


Tiba tiba dari samping seseorang datang dan...


BUGH!


Orang itu sedikit oleng dan hampir terjatuh ke aspal, tapi untunglah orang itu memiliki kekuatan yang cukup besar untuk tidak terjatuh.


Orang itu menatap tajam orang yang memukulnya. Janu maju langsung balik menonjok orang yang memukul ketua nya.


Janu terus menghajar Viko brutal, Viko pun berusaha melawan hingga kepalan tangan Janu tertahan oleh tangan seseorang dari belakang. Janu menoleh dan langsung menurunkan tangan nya.


"Minggir, biar gue yang habisin!" Janu mengangguk dan mengusap lengan ketua nya sebelum minggir.


Orang itu pun mengambil ancang-ancang menyerang Viko, menunggu Viko bangkit dari jatuh nya. Orang itu memasang kuda-kuda dan langsung menyerang Viko lebih brutal dari Janu tadi.


Viko tidak di beri kesempatan melawan sedikitpun. Orang itu membabi buta menonjok, memelintir tangan Viko lalu menendang nya dengan kuat membuat Viko terhempas begitu kasar ke aspal. Orang itu tak ingin membuang waktu, terus saja menghajar Viko, menonjok ke dua pipi Viko bergantian, dan yang terakhir orang itu menyatukan kedua kepalan tangan nya dan menghantam wajah Viko dengan keras membuat cowok itu tak sadar diri.


Luka di seluruh wajah, darah segar memenuhi wajah yang tidak terlalu tampan itu.


Orang orang yang menyaksikan itu mengidik ngeri, setelah ini mereka tidak akan pernah mau yang nama nya berurusan dengan leader Cakrawala itu, tidak akan pernah.


Raka, Anan, juga Dirga melongo melihat kekuatan orang itu, di tambah pancaran mata nya yang sangat tajam menusuk sangat menyeramkan. Sama seperti yang mereka lihat di laptop saat tawuran Cakrawala dan Lucifer. Kilatan emosi begitu kentara di mata orang itu.


Orang itu menatap tajam semua anggota Viko "Urus ketua kalian yang gak berguna ini, bilangin jangan pernah cari masalah sekecil apapun sama Cakrawala, atau bukan cuma dia yang kaya gitu, kalian bakal gue buat lebih parah!!" kemudian dia pergi dari tempat itu si kawal oleh para anggota nya dan di tambah beberapa mobil sport yang baru di menangkannya.


"Serem banget gila mata nya!" Robi mengidik ngeri. Baru mata nya saja yang kelihatan, bagaimana jika seluruh wajah nya terbuka.


"Takut lo!" ujar Anan dengan tekanan.


"Bharta gak takut sama siapapun!" jawab Robi. Dia tidak mengatakan kalau dirinya takut, Robi hanya bilang mata itu menyeramkan.


"Balik!" kata Anan dan mereka pun mengikuti ucapan Anan.


Setiba nya di markas mereka langsung menempatkan diri di sofa dengan tidak beraturan nya. Anan yang tiduran dengan kaki selonjoran di atas meja dan kaki satunya berada di atas paha Raka yang duduk di samping Anan bersender lemas memejamkan matanya. Robi yang tiduran di karpet dengan kedua kaki di angkat ke sofa yang di tiduri Dirga yang terngkurap.


Sedang Rafa duduk tenang di sofa single dengan gaya cool nya.


"Minggu depan balapan sama tuh orang yok!" ajak Dirga.


"Lo ajah udah! gue mau liat kemampuan balap dia sekali lagi," semua orang pun tahu kemampuan balapan Dirga dan Anan. Mereka tidak pernah sekalipun kalah, melihat saingan yang baru muncul dengan keahlian cukup hebat. Mereka harus mengetes diri sendiri.


"Lo enggak?" tanya Dirga.


Anan menggeleng "Gue mau mastiin sesuatu, "Dirga mengangguk. Kemudian tidak ada suara lagi, yang ada dengkuran dengkuran halus dari tidur para lelaki tampan itu.


'Rafa nginep di rumah temen, Raka juga ada di sini'


Rafa menaruh kembali ponsel nya setelah membalas pesan dari ayah nya.


'Jangan jauh-jauh dari Raka!, juga jaga diri kamu sendiri!'


Pesan baru dari ayahnya muncul, dengan berat hati Rafa harus merogoh ponselnya lagi.


Rafa berdecak dan melempar asal ponsel itu ke atas meja.


"Raka!" gumam Rafa menatap kakak kembarnya yang tertidur pulas.


.


.


.


.


.


bersambung.