
Matahari baru saja terbit menebarkan kehangatan bagi seluruh alam semesta. Menyingkirkan kedinginan malam, menyingkirkan kegelapan dunia.
Orang lain mungkin masih menguap lebar menghilangkan rasa kantuk mereka setelah bangkit dari tempat tidur masing-masing.
Tapi lima cowok tampan sudah dengan penampilan bersihnya dan wajah yang fres sedang berjalan menyusuri koridor sekolah yang sepi sebab tidak ada siswa lain yang akan datang sepagi ini.
Dengan santai nya mereka melewati setiap koridor hingga berhenti di pintu kantin. Di setiap stand nya para penjual sedang menyiapkan segala kebutuhan dagangan mereka. Ada yang sudah siap, sedang membersihkan meja dan lantai kantin.
Dengan cepat Anan dan Robi langsung menempati salah satu meja yang sudah di bersihkan.
Dengan semangatnya mereka memperhatikan setiap stand menentukan yang mana dulu makanan yang akan mengisi ruang kosong di perutnya.
"NASI GORENG!, GORENGAN!, TEH ANGET!" pekik dua cowok itu bersamaan. Kenapa bisa kompak banget sih?.
Sedangkan tiga cowok lainnya menggeleng kan kepalanya, dua orang itu tadi sudah menghabiskan sarapan mereka yang harus nya cukup untuk berlima dan hanya menyisahkan satu porsi saja, hingga Raka, Rafa dan Dirga harus puas dengan roti dan selai saja.
Dengan semangat pula para pemilik stand makanan yang di sebut Anan dan Robi tadi menjawab dengan pekikan kompak juga"SIAP NDAN!"
Raka ikut menyusul duduk di meja itu setelah membeli dua susu kotak dan menyedotnya santai. Rafa dan Dirga masih diam saja di pintu kantin, mereka hendak akan berkeliling sekolah dulu, itung-itung jalan-jalan sambil olahraga berkeliling, naik lalu turun tangga.
"Kita cabut" ucap Dirga lalu pergi tanpa mendengar jawaban tiga sahabatnya. Di ikuti oleh Rafa yang berjalan di belakang Dirga.
"Kira-kira ketua Cakrawala itu cowok atau cewek?" sebuah pertanyaan keluar dari mulut Dirga sembari memperhatikan setiap sudut tempat yang mereka lewati. "Cowok!" jawab Rafa santai.
"Kalo kata gue dia itu cewek, gak mungkin kalo ketua Cakrawala itu cowok dia sepengecut itu dan bersembunyi," Cowok pengecut yang hanya bisa bersembunyi itu tidak pantas di sebut cowok.
"Apa ada cewek sekuat itu, kita bahkan belum berhadapan sama dia waktu tempur delapan bulan lalu dan kita udah harus mundur menghindari kekalahan,"
"Formasi perang mereka itu hebat, gue yakin dia itu cowok, gak ada cewek seberani itu mimpin sebuah geng yang terkuat dan berbahaya itu!" Dirga menimang nimang, benar kata Rafa tidak ada cewek seberani itu menghadapi tawuran antar gang kuat, bahkan ketua Cakrawala itu belum menampakkan dirinya Bharta sudah hampir mengalami kekalahan.
Dirga terkekeh pelan "iya yah, cewek sekarang kan pada alay manja semua, gak mungkin ada cewek jadi ketua gang, lagian iseng gue nebak," sebenarnya Dirga hanya iseng saja bertanya seperti itu.
Baru saja mereka akan mencapai rooftop tapi langkah mereka terhenti di pintu rooftop setelah mendengar sesuatu, seperti orang yang sedang berbicara.
Rafa menarik Dirga ke samping pintu yang terbuka itu.
Dilihatnya di sana ada dua orang dengan penampilan tertutup, mereka memakai jaket hitam panjang, topi dan masker hitam. Dan satunya menambah sebuah kain hitam yang dililitkan di leher dan menutupi seluruh kepalanya juga melapisi topi dan maskernya, menyisahkan sepasang mata yang terlihat. Terlihat sangat aneh.
Rafa dan Dirga memperhatikan dua orang misterius itu mencoba mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Lo akan tetap seperti ini?" tanya salah satu orang itu yang masih terdengar walau tak terlalu jelas.
"Orang lain gak boleh liat gue!" jawab satunya.
"Kapan perang itu?" lanjut orang itu bertanya.
"Lusa, lo akan ada di barisan depan!" jawab orang yang lebih tinggi itu.
"Cakrawala udah siap semua?"
"Cakrawala selalu siap!!"
Seketika Rafa dan Dirga terkejut, ternyata dua orang itu anggota Cakrawala, dan setahu mereka di SMA Mandala tidak ada seorangpun yang menjadi anggota Cakrawala. Dan kabar perang Cakrawala dengan Lucifer sudah jelas akan terjadi lusa. Perang itu akan menjadi kesempatan bagi Bharta untuk mengetahui siapa ketua Cakrawala yang kali ini akan ada di barisan terdepan, karena sebelumnya ketua Cakrawala itu selalu bersembunyi di barisan tengah atau belakang.
Dengan cepat Rafa dan Dirga langsung meninggalkan tempat itu dengan hati-hati agar dua orang tadi tidak melihat mereka.
****
Orang itu mengeluarkan ponsel nya dan memperhatikan wajah seseorang yang menjadi wallpaper nya begitu di hidupkan.
"Lo tenang ajah, gue akan membalas penghianat itu!" gumamnya menatap tajam ponselnya.
Kemudian dia mengetikkan pesan untuk seseorang. Dan kembali menyimpan ponselnya dalam saku seragam.
Kembali orang itu berjalan mengubah raut wajahnya menjadi setenang tenangnya.
Beberapa adik kelas pun menyapanya dan di balasnya dengan senyuman ramah.
****
Di kelas XI B sudah ada beberapa siswa yang datang dan mereka langsung menggosip ria dengan temannya, sedang yang laki-laki langsung keluar lagi entah kemana.
Di sebuah meja paling depan Ellia dengan santainya mengunyah jatah roti coklat dari Aca. tak lupa juga susu coklat dingin di wadah gelas plastik.
Gadis bermata biru itu tidak akan pernah melewatkan untuk makan roti dan susu coklat setelah sarapan, entah dua hal itu sangat nikmat di makan setelah sarapan.
Juga Aca yang duduk di samping Ellia sedang memainkan game memasak di ponsel nya.
Terkadang gadis itu mengaduh kesal membuat Ellia menoleh ke arah Aca yang sedang serius mencampur-campur bahan masak di ponselnya.
"Aduh!, kan gosong lagi, pelanggannya jadi marah kan, sebel deh Aca!" gerutu gadis itu lalu menaruh ponselnya dengan kasar di atas meja. "Lo masak di hp ajah gosong, apalagi kalo masak beneran ya Ca!" Ellia tertawa melihat wajah kesal sahabatnya itu.
"Maka dari itu El, gue mulai dari game dulu, abis itu baru masak beneran, kan lo tau sendiri gue mau jadi chef internasional berbakat, terkenal di seluruh dunia," Aca mendongak ke atas melihat impiannya yang mengambang di udara.
"Lo gak inget kejadian waktu lo bantuin mama masak minggu lalu, dari awalnya itu masakan rapih warna warni, gara-gara lo jadi hitam!" Aca mencebikkan bibirnya kesal. "itukan masih awalan El!, lo liat ajah nanti lo sendiri yang bakal terus ngemis-ngemis minta gue masakin buat lo!" Aca sangat menyukai acara pagi setiap minggu yang menyiarkan para chef hebat sedang memasak makanan yang begitu indah di mata. Dari cara masaknya terlihat begitu mudah, tapi saat itu Aca pernah sekali mencoba mempraktekkan masak makanan seperti yang chef itu masak. Tapi yang ada, dapur rumahnya menjadi licin oleh minyak yang tumpah di mana-mana, juga beberapa alat dapur yang berantakan menimbulkan teriakan maut dari ibunya.
"Oke. gue liatin," Ellia melebarkan matanya ke arah Aca.
"Eh El, bagi rotinya dong!" Aca mengadahkan tangan ke arah Ellia. Dengan cepat Ellia langsung menjauhkan roti kesayangannya supaya tidak bisa di gapai oleh Aca.
"Beli sendiri!"
"Itu kan gue yang beli El!"
"Tapi ini udah jadi punya gue, lo gak boleh ngambil apa yang udah lo kasih,"
"Serah deh!" kembali Aca menunjukkan wajah kesal nya.
Beberapa lama kemudian para siswa sudah lengkap di kelas itu dan bel pun berbunyi.
.
.
.
BERSAMBUNG