
Suara gaduh dipagi hari berhasil membangunkan Raka dari tidur ternyamannya pagi ini. Terdengar seperti gelas atau piring pecah dari bawah sana. Juga suara istri cantiknya yang berteriak hingga terdengar sampai kamar. Ada apa sebenarnya?, di rumah ini tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua. Lalu kepada siapa Ellia berteriak. Atau jangan-jangan ada pencuri yang masuk.
Raka langsung menghempaskan selimut yang melilit tubuhnya asal dan buru buru bangkit keluar kamar memastikan tidak ada sesuatu buruk terjadi, tanpa memastikan apakah dirinya sudah memakai baju atau tidak sebelum keluar kamar.
Setibanya Raka diujung tangga, terlihat didapur sana Ellia mengomel pada seorang gadis yang menunduk dihadapan Ellia.
"Kenapa Na?" Tanya Raka berjalan menghampiri Ellia yang wajahnya memerah karena marah.
Raka melirik gadis yang duduk sambil menunduk disebuah kursi.
"Kamu liat itu!, dia pecahin piring sama gelas aku. Ngeyel banget jadi orang, dibilang suruh diem ajah tunggu di sana, masih ajah mau bantuin aku masak. Udah tau dari dulu bakat dia di dapur itu cuma bisa ngancurin dapur," omel Ellia menunjuk pecahan piring di lantai.
Aca menunduk sambil terkekeh pelan. Ellianya kembali. Gadis itu sudah kembali bisa mengomelinya seperti dulu lagi. Semua ini bisa terjadi karena Raka. Lelaki itu berhasil mengembalikan Ellianya.
"Gak usah ketawa, lo beresin sekarang atau gak akan gue kasih makan!" Omel Ellia lagi.
Aca pun bangkit dan berjalan ke arah pecahan piring itu masih dengan kepala menunduk. Karena itu Aca malah menabrak meja.
"Kalo jalan tuh jangan nunduk!" Ucap Raka menggelengkan kepala.
"Kalo gak nunduk, gue berdosa banget karena udah liat aset pribadi punya El," jawab Aca. Ellia menatap Aca bingung kemudian mata birunya beralih menatap Raka. Seketika mata Ellia melebar.
"SASA, KE KAMAR SEKARANG!, KENAPA GAK PAKE BAJU DULU," bentak Ellia.
Seketika Raka berlari meninggalkan tempat itu, menaiki tangga dengan cepat sampai ke kamarnya.
Dalam hati Raka merasa bingung kenapa bisa Ellia berubah ubah seperti itu. Selama beberapa hari yang lalu Gadis itu bersikap sangat dingin, sedingin es. Begitupun yang dikatakan orang-orang tentang sikap dingin Ellia lima tahun terakhir.
Dan pagi ini setelah sekian lama. Gadis itu berubah menjadi sangat garang seketika.
Raka merasa ngeri melihat perubahan Ellia.
Raka kembali ke ruang makan setelah membersihkan diri dan tidak lupa memakai baju tentunya. Mereka bertiga sarapan bersama dengan nikmat, masakan buatan Ellia sangat enak sama seperti masakan Nandini. Karena gadis itu sering membantu Nandini ketika masak.
Setelah selesai sarapan. Raka dan Ellia mendengarkan cerita Aca. Tentang dirinya yang dijodohkan dengan Alan. Sungguh ini tidak pernah terpikirkan oleh Aca, dirinya dan Alan?. Aca lihat dulu Alan terlihat sangat menyukai Ellia, begitupun kemarin saat pernikahan Ellia. Aca melihat wajah Alan yang nampak tidak bersemangat di pesta kemarin. Lalu bagaimana hubungan Aca dengan Alan nantinya kalau Alan masih terus memendam rasa pada Ellia. Aca tidak mengatakan perasaan Alan pada Ellia kepada mereka. Aca hanya bercerita kalau dirinya dijodohkan dan Aca tidak sekalipun terpikirkan bahwa dirinya akan dijodohkan. Dengan Alan.
Aca merasa sangat bingung, gadis itu tidak tahu apa yang akan dilakukan nya. Aca seketika merasa sangat kebingungan dan seperti orang tersesat.
"Jadi lo mau apa abis ini?"tanya Ellia.
"Gue mau kabur!" Jawab Aca enteng.
"Oke, gue bantu," mata Raka terbelalak mendengar itu.
"Apa-apaan kamu ini. Malah mau ngajarin dia jadi kaya kamu. Ayo Aca, lo pulang ajah sana," kata Raka menarik tangan Aca mengantarkan gadis itu keluar rumah.
Setelah Aca duduk didalam mobilnya. Raka menutupkan pintu mobil itu, sebelum itu Raka mengatakan sesuatu pada Aca.
"Lo harus pulang, jangan melawan kemauan orang tua lo Aca. Lo terima ajah apa yang mereka tentuin buat lo!"
Setelah mobil Aca meninggalkan pekarangan rumahnya, Raka kembali masuk.
Sorenya sepasang suami istri itu berjalan-jalan menikmati suasana sore hari di taman kota. Tangan mereka saling menggenggam tidak ingin terpisah. Tempat itu sangat ramai dengan anak-anak muda dan beberapa keluarga kecil yang terlihat bahagia karena ini adalah malam minggu.
Raka terpaku pada sebuah keluarga kecil yang sedang bercanda bersama anak mereka yang masih kecil. Gadis kecil itu tertawa terbahak bahak ketika ayah nya bermain ciluk ba dan menunjukkan wajah konyol. Raka merasa gemas pada gadis kecil itu. Ellia menyadari Raka yang diam saja, gadis itu melihat ke arah yang dilihat Raka.
"Kenapa?" Tanya Ellia sambil mengguncang tangan Raka.
"Ah, itu. Anak nya gemes banget kan Na?. Nanti aku mau anak aku lebih gemesin dari dia. Jadi pengen cepet-cepet punya anak," mata Ellia melotot mendengar keinginan Raka. Bukan hanya Raka, dirinya pun juga ingin punya anak yang lucu. Tapi tidak cepat-cepat juga. Ellia masih belum siap dan masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama Raka.
"Kebayang gak Na, nanti pas aku berangkat kerja anak aku lari-lari gak bolehin aku kerja. Pas aku pulang, dia lari keluar dari kamarnya sambil teriak Papa," Raka mengungkapkan hayalan didalam kepalanya.
"Baru juga nikah kemarin Sa, udah buru-buru mau punya anak ajah. Belum juga kita ngabisin waktu berdua, seneng-seneng. Juga kerjaan kita yang super sibuk tiap harinya," balas Ellia menentang keinginan Raka.
Senyum diwajah Raka seketika memudar.
Ellia berdecak. Memangnya ia bilang dirinya tidak ingin mempunyai anak, setiap pasangan suami istri pasti ingin memiliki anak.
"Aku gak bilang gak mau punya anak. Aku mau punya anak, tapi kalo cepet-cepet aku gak mau. Pernikahan bukan hanya untuk mempunyai anak, karir aku lagi ada dipuncak. Aku sedang menikmati keberhasilan dari impian aku. Kamu ngerti kan Sa?" Jelas Ellia.
Raka mengangguk singkat, kemudian lelaki itu kembali melangkah dan melepas genggaman tangan nya dari tangan Ellia. Ellia menatap sendu punggung Raka yang semakin jauh meninggalkannya. Ia menatap tangannya yang tadi digenggam Raka. Apakah Raka kecewa?, tapi Raka juga harus paham dengan keadaannya sekarang.
...⚘⚘⚘...
Ellia duduk diam menyaksikan siaran televisi yang menampilkan kehidupan keluarga selebriti. Sesekali ia menoleh ke sampingnya dimana Raka duduk ikut menonton acara tv itu. Sejak pulang dari taman kota tadi, Raka tidak lagi berbicara padanya. Raka tidak memulai pembicaraan dan mendiaminya. Apakah lelaki itu marah padanya.
Raka tersenyum melihat tingkah lucu bayi selebriti didalam televisi. Ellia menghela nafas menyadari itu, apakah dirinya merasa bersalah?. Gadis itu beranjak meninggalkan Raka menuju kamar mereka.
Merebahkan tubuhnya miring menghadap dinding kamar. Ini bukan jamnya tidur, biasanya jam segini ia masih bekerja. Tapi karena hari ini masih hari cutinya, Ellia pun merasa tidak bersemangat untuk bekerja. Gadis itu menatapi dinding dengan pikiran kosong. Tiba-tiba ranjang di belakangnya terasa bergerak, Ellia merasa ada seseorang yang menaiki tempat tidurnya. Yang pastinya itu adalah Raka.
Merasa aneh mendengar Raka yang sesekali terkekeh, Ellia menoleh kebelakangnya. Ia menemukan Raka menatap gemas ke arah ponselnya sambil terkekeh. Ellia mengintip sedikit, mengetahui Raka tertawa karena melihat vidio bayi lucu semakin menambah rasa bersalah Ellia.
"Kamu pengen banget punya anak ya Sa?" Raka tidak menjawab, lelaki itu hanya melirik sedikit lalu melanjutkan menscrol layar ponselnya.
"Kamu kenapa diemin aku dari tadi?, aku ada salah sama kamu?" Tanya Ellia lagi.
"Baru kemarin kita nikah, aku bahkan belum minta hak aku dimalam pertama pernikahan seperti orang lain pada umumnya. Dan ketika aku menyinggung tentang bayi, kamu langsung menolak gitu ajah," ujar Raka setelah beberapa saat terdiam.
"Tapi gapapa kalo kamu belum siap. Wajar kok, karir kamu lagi ada diatas sekarang ini. Kamu masih mau menikmati kesuksesan dari hasil kerja keras kamu. Punya anak sekarang atau nanti sama ajah. Udah malam, waktunya tidur!" Lanjut Raka mematikan lampu kamar dan tidur memiringkan tubuh nya membelakangi Ellia.
Seketika Ellia teringat ucapan Nandini sebelum ia pindah ke rumah ini.
"Sekarang kamu udah jadi seorang istri. Selain bertugas menjaga keluarga, kamu juga punya tugas khusus yang berhak kamu kasih ke suami kamu. Jangan pernah kecewain suami kamu. Kalaupun masih belum siap, kasih tahu dia dengan cara lembut. Kamu ngerti kan,"
Ellia menghela nafas gusar. Ia tahu dari mata Raka lelaki itu sangat menginginkan hal itu. Tapi Raka masih menghormatinya mengetahui ia belum siap. Jujur Ellia merasa takut, itu nampak mengerikan. Melirik ke arah Raka, Ellia tahu suaminya itu belum tidur. Ia menggigit bibir bawahnya dengan nafas memburu, bagaimana memulainya?. Ia tidak boleh mengecewakan suaminya seperti kata Nandini. Hal itu adalah dosa.
"Sasa!" Panggil Ellia gugup.
"Hm," balas Raka tanpa menoleh.
"Hadap sini dulu!" Raka masih bergeming ditempatnya.
Ellia berdecak kemudian menarik lengan Raka hingga lelaki itu berbalik menghadap Ellia. Mata Raka membulat lebar ketika mendapatkan serangan mendadak seketika ia berbalik Ellia langsung menaiki tubuhnya dan menempelkan bibir tipisnya keatas bibir Raka.
"En... Na!"
"Aku ini istri kamu Sa, ka... kamu bisa ambil hak kamu,"
"Kamu gapapa?" Tanya Raka.
Ellia mengangguk mantap. Lelaki itu tersenyum gemas lalu menggigit pipi Ellia dan menukar posisi mereka menjadi Ellia dibawah dan Raka diatas.
Pipi Ellia memerah ditatap seperti itu dari atas oleh Raka.
"Uh gemes banget sama istri aku yang merah pipinya ini," Raka terkekeh gemas pada kedua pipi Ellia.
Wajah Raka semakin mendekat, matanya fokus pada bibir tipis merah muda yang sangat menggiurkan dibawahnya itu. Mata Ellia terpejam lalu saat itulah Raka melahap bibir manis itu tidak meninggalkan sedikitpun yang tertinggal.
"Kamu gak akan bisa lepas setelah ini, sayang," gumam Raka kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Benar apa yang dikatakan Raka, Ellia tidak bisa lepas. Malam itu Ellia memberikan harta berharga miliknya yang selama ini ia jaga untuk suaminya. Gadis itu terhanyut dengan arus yang Raka bawa. Suara geraman dan lenguhan keduanya menghiasi kamar itu dimalam yang cerah ini. Raka berubah menjadi hewan buas yang tidak membiarkan mangsanya kabur seakan tidak ada hari esok.
.......
.......
.......
...-BERSAMBUNG-...