
Sebuah mobil hitam berhenti di pekarangan sekolah. Nampak tidak asing, tapi karena sudah beberapa minggu ini tidak terlihat membuat beberapa orang memfokuskan matanya ke arah mobil itu.
Dibantu oleh sopir nya, seorang gadis cantik turun dan membantu seseorang lagi untuk turun dari mobil. Setelah posisi nya nyaman di kursi roda, gadis itu mendorong kursi roda itu memasuki gedung sekolah. Dia nampak berbeda, gadis itu berubah. Tidak ada sapaan akrab dan senyuman. Ellia berjalan dengan wajah dan tatapan dingin lurus kedepan, tidak memperdulikan keadaan sekitar yang mulai heran dengan nya.
Tiga cowok yang sedang duduk dikursi dekat pintu masuk juga terheran. Aura Ellia terasa berbeda. Mereka masih sama dengan pikiran bingung yang masih berputar dikepala mereka. Ellia, Raka dan Rafa. Ketiga manusia itu, pasti ada sesuatu diantara mereka. Anan, Robi dan Dirga juga sudah mengetahui hubungan Raka Dan Rafa yang sebenarnya saudara kembar. Ketika Raka tidak menggunakan kaca mata dan rambut poni nya, mereka sangatlah mirip. Ada rasa kecewa sebenarnya sebagai sahabat tapi tidak pernah mengetahui itu. Tapi setelah kejadian itu, mereka bertiga menyadari bahwa hubungan kedua nya tidak lah baik baik saja dan itu sudah jelas karena gadis itu.
Ellia menapaki kaki di kelasnya. Begitu gadis itu masuk, Aca langsung menyambutnya sengan senyum lebar dan hangat. Semua nya berjalan seperti biasa. Sekolah, belajar, istirahat, ekskul lalu pulang. Tidak ada yang istimewa, hanya saja perubahan Ellia yang menjadi sangat diam dan tanpa ekspresi membuat sekelas bingung. Aca pun sudah lelah mengoceh mengajak gadis itu berbicara, tapi yang didapatnya sebagai balasan hanyalah kesunyian.
Setelah pulang terlebih dahulu dan mengganti pakaian. Ellia langsung keluar lagi dari rumah, mengambil motor sport hitam kesayangan nya dari garasi. Kemudian gadis itu menarik gas meninggalkan pekarangan rumah menuju suatu tempat.
Beberapa saat kemudian motor itu terparkir rapi di markas Cakrawala. Ellia menenteng helm nya memasuki markas yang terlihat masih sepi. Karena ia sengaja datang lebih dahulu. Pandangannya perlahan lahan menyapu seluruh bangunan markas, mengingat rumah hangat dengan keluarga yang sempurna. Tapi itu dulu, sebelum kekacauan itu terjadi. Pertama kali dirinya memasuki bangunan ini dengan penuh sambutan hangat, bersama seorang perempuan yang seperti saudara baginya. Jena. Semua kehancuran ini dimulai oleh Janu dan seluruh emosi nya. Karena Lelaki itu, Ellia harus merasakan kehilangan berkali kali. Jena dan Sky, lalu kecelakaan Esther dan kemudian salah pahamnya membuat ia kehilangan Malvin. Dan akhirnya ia kembali kehilangan Sasa.
Bangunan ini memang tidak berubah, tapi semua nya sudah sangat berbeda sekarang. Rumah yang ia besarkan hingga menjadi nomor satu, tiba tiba hancur karena penghianatan dan kebohongan. Ini tidaklah mudah, tapi untuk terus dilanjutkan apakah ini akan sama seperti dulu. Sudah tidak ada yang tersisa sekarang, apa lagi yang harus dipertahankan.
Figura besar dengan lambang kebanggaan Cakrawala terpajang indah di aula utama. Pusat Cakrawala. Ellia terdiam memandangi lambang itu, melihatnya membuat ia teringat akan Jiro. Lelaki itu sudah seperti ayah nya sendiri. Lelaki itu sangatlah mencintai Cakrawala, tapi sekarang Jiro sudah sangat sibuk dengan pekerjaan dan dunia nya. Mungkin Jiro akan menerima keputusan yang akan diambilnya bersama Esther ini.
"Semua nya udah datang!" Ujar seorang cowok menyadarkan Ellia. Gadis itu berbalik badan dan benar. Aula yang tadi masih sepi sekarang sudah dipenuhi oleh seluruh anggota Cakrawala. Mereka semua menunduk diam. Gadis itu tau mereka semua adalah bagian dari penghianatan ini juga.
"Pembunuhan, adu domba, rencana pembunuhan, dendam, penggelapan kas, penghianatan, bertindak tanpa perintah dan masih banyak lagi hal yang buruk yang udah terjadi didalam markas Cakrawala. Kalian udah menodai Cakrawala yang sangat diagungkan oleh para senior. Cakrawala yang dibangun dengan rasa cinta kekeluargaan. Kalian hancurkan sia-sia,"
"Sangat bagus!. Kalian melupakan tujuan asli Cakrawala dibangun. Hancur!. Cuma itu yang ada sekarang. Kalo kalian sendiri sudah mulai saling membunuh dan menghancurkan, terus gimana sama tugas kalian untuk melindungi orang banyak. Kalian hanya akan merusak semua nya."
"Dan ini udah gak bisa dilanjutkan lagi,"
Esther terdiam sebentar sebelum kambali melanjutkan ucapannya.
Cowok itu mengambil sebuah benda dari saku nya, kemudian menerima sebuah kotak yang diberikan Ellia.
Pin lambang Cakrawala. Esther memasukkan pin yang menjadi simbol bahwa dirinya adalah seorang leader ke dalam kotak itu lalu meletakkan nya di atas meja yang ada di sampingnya. Semua anggota Cakrawala sudah tau apa yang terjadi bila Pin itu kembali diletakkan ke kotak nya.
"Untuk menghindari kehancuran yang lebih lagi. Gue Esther Merqio, melepas jabatan sebagai ketua yang ada didiri gue. Dan menyatakan bahwa semenjak hari ini, hari Kamis duapuluh enam Agustus. Cakrawala dinyatakan bubar!" Semua orang melotot kaget. Mereka semua tau kalau mereka telah melakukan kesalahan dengan berhianat. Tapi dalam jangka waktu yang lama mereka telah menghabiskan waktu untuk Cakrawala, bersama Cakrawala.
Mereka memang salah, tapi untuk membubarkan Cakrawala. Masih ada rasa tidak rela didalam diri semua orang. Cakrawala sudah melenceng dari tujuan asli nya. Dan itu karena diri mereka sendiri.
"BERHENTI!" Teriak seseorang menghentikan tangan Esther yang hendak akan menggoreskan tandatangan nya di surat resmi Cakrawala.
"INI BUKAN SATU-SATUNYA JALAN KELUAR!" Murka orang itu.
Malvin datang bersama Vian dan seluruh anggota Lucifer. Seluruh Lucifer adalah bagian dari Cakrawala juga dulu. Namun sekarang juga banyak anggota baru, tapi tugas utama mereka semua bukan lain untuk melindungi Cakrawala dan orang banyak. Lucifer adalah bagian Cakrawala yang paling setia, Malvin tidak pernah meninggalkan Cakrawala sejak dulu.
"LO PIKIR CARA INI UDAH BENAR?," teriak Malvin lagi sambil berjalan mendekat ke tempat Esther dan Ellia.
"Malvin!. Lo baik baik ajah?" Kata Ellia parau melihat keadaan Malvin yang baik baik saja.
Malvin melirik gadis itu sebentar lalu kembali menatap tajam Esther.
"Maafin gue, " cicit Esther menunduk dihadapan Malvin.
Malvin menghela nafas nya lalu membalikkan tubuh nya menghadap seluruh anggota Cakrawala.
"Yogi, Fandy, Faisal, Ian, Felix dan Andre maju!. Selain nama yang disebutkan tetap ditempat!" Perintah Malvin mengambil alih segalanya.
"Sekarang gue pasrahin nasib seluruh Cakrawala ke lo!" Ucap Esther. Malvin adalah orang yang sangat layak untuk memimpin Cakrawala. Tapi Esther tidak paham, kenapa dulu Kakak nya malah menunjuk dirinya sebagai pemimpin. Kenapa tidak Malvin saja.
"Buat semua anggota Cakrawala selain orang-orang didepan ini, gue nyatakan kalian semua dikeluarkan dan gak berhak lagi atas Cakrawala. Dengan itu, gue pinta dengan tidak hormat buat kalian semua menyerahkan jaket, liontin dan slayer kebesaran Cakrawala kedepan dan langsung meninggalkan tempat ini sekarang!" Putus Malvin. Lalu cowok itu menunjuk Vian untuk maju dan mengumpulkan seluruh benda itu.
"Gue ingatkan kalian untuk mencopot stiker dan logo Cakrawala dimotor masing-masing sebelum pergi!" Lalu kegiatan itu kembali berlangsung.
Ellia diam saja mengikuti alur yang terjadi tidak memutus atau menolak apa yang terjadi.
Setelah semua orang itu pergi, aula markas terasa sedikit lebih lega. Yang tersisa hanyalah para anggota Lucifer yang kira-kira berjumlah tiga ratus orang laki-laki.
"Gue sebagai pemimpin Lucifer, memerintahkan Lucifer untuk kembali ke tubuh asli nya!. Yaitu Cakrawala. Karena pada dasar nya, Lucifer adalah bagian tubuh dari Cakrawala yang terpisah. Maka dari itu, nama Lucifer sudah gak ada mulai sekarang. Yang Ada hanyalah Cakrawala, karena gue gak akan ngebiarin Cakrawala bubar gitu ajah tanpa adanya penyelesaian." Tegas Malvin diangguki seluruh anggota nya.
Setelah itu suasana menjadi lebih hangat. Semua orang saling berbincang ringan disertai candaan. Malvin melangkah mendekati Ellia yang masih diam dengan pikiran kosong nya.
Sebuah belaian halus dikepala Ellia membuat gadis itu tersadar. Ia menoleh kearah Malvin yang tersenyum kearah nya dengan tatapan lembut.
"Gue baik-baik ajah, yang gue takutin selama ini adalah lo. Apa lo baik-baik ajah selama ini?, gue selalu berada dibelakang lo El. Gak akan gue biarin sahabat gue kenapa-napa," ucap Malvin lembut.
"Maaf, selama ini.."
"Stt... gue paham. Gue paling kenal sama lo, wajar lo bersikap kayak gitu sama gue. Lo itu sahabat, adik dan keluarga gue," potong Mavin menghentikan ucapan Ellia.
Seketika itu Ellia langsung menubruk tubuh Malvin dan menangis didada lelaki itu. Malvin pun mengeratkan Ellia kedalam dekapannya sambil mengusap kepala gadis itu.
Sungguh Ellia sangat merasa bersalah pada Malvin. Tidak mudah bertahan dengan banyak nya tuduhan pada lelaki itu. Malvin sangat kuat, Malvin adalah pelindung nya. Malaikat nya.
Sementara itu Esther ditempatnya mengeluarkan sebuah kertas dari laci meja. Menggoreskan tandatangan diatas nya. Setelahnya Esther memukul meja itu dengan keras memusatkan perhatian semua orang kearah nya.
"Faisal Aditya. Berdiri dihadapan gue!" Perintah Esther.
Orang yang dipanggil pun dengan perasaan bingung berdiri tegap menghadap Esther.
"Secara gue udah ngelepas jabatan gue. Hari ini dengan kepercayaan sepenuhnya. Gue serahin posisi itu ketangan lo. udah lama gue perhatiin gerak gerik dan karakter lo. Dan apa yang lo lakuin beberapa hari lalu dengan membantu orang orang dijalan sampe senja. Memperkuat keyakinan gue terhadap lo." Ucap Esther meletakkan Pin Cakrawala ketangan Faisal.
"Yang gak setuju bilang sekarang!"
Mereka semua sudah lama mengenal Faisal. Orang termuda yang bergabung ke Cakrawala. Tapi keberanian dan kesetiaan nya sudah sangat terlihat sejak awal. Dalam penghianatan Cakrawala, Faisal bersikap seakan akan menjadi bagian dari penghianatan Janu. Tapi nyata nya Faisal diam-diam mencari tau dimana Janu menyimpan semua bukti kejahatannya. Dan Faisal lah yang memberitahu Dodit tempat tersembunyi itu dan menyuruh Dodit untuk membawa benda-benda itu pergi.
"Gue setuju banget, tapi buat wakil nya tolong kasih gue yang nunjuk." Balas Malvin sangat setuju dengan pilihan Esther.
Semua orang pun setuju, tidak ada yang membantah.
"Roni!" Seru Malvin menyebut nama seorang cowok dingin yang sangat mencolok didalam Lucifer. Manusia kulkas yang dimiliki Lucifer tapi satu kali ucapannya langsung dapat membuka pintu besar yang menuntun Lucifer kepada jalan keluar disetiap permasalahan Lucifer.
Ellia pun menyerahkan liontin khusus Cakrawala kepada Roni. Semua orang senang dan gembira dengan keputusan ini. Cakrawala memulai segala nya dari awal, dengan awal yang damai dan awal kembalinya keluarga yang hangat.
"Ayo El. Hari ini gue mau ngabisin waktu sama sahabat gue. Kita lakuin lagi apa yang pernah kita lakuin dulu," ajak Malvin ingin mengulang kejadian menyenangkan yang pernah terjadi dulu. Bermain di danau, menikmati es krim dibawah sinar senja dan masih banyak lagi.
...-BERSAMBUNG-...
.......
.......
.......