
Hari sudah hampir malam. Teman-teman Ellia sudah mulai pulang ke rumah masing-masing. Tersisa Esther dan Rafa yang akan pulang sekarang. Raka membisikkan pada Rafa untuk mengantar dan menjaga Esther sampai ke rumahnya dengan selamat. Malvin menghubungi Rafa tadi tapi tidak bisa, jadi Malvin menghubungi Raka untuk memperhatikan dan menjaga Esther selama Esther berada di luar rumahnya. Orang-orang itu sudah mulai menunjukkan dirinya kembali, dengan menjadikan Ellia sebagai pembuka.
Rafa berjalan di samping Esther yang menggerakkan sendiri kursi roda nya.
"Gue bisa balik sendiri, gue gak selemah itu," ujar Esther membuat langkah Rafa terhenti.
"Siapa yang bilang lo lemah?, gak ada," balas Rafa kembali melanjutkan langkahnya.
Esther tak menjawab. Cowok itu menggerakkan kursi rodanya berlainan arah dengan Rafa. Esther bergerak menuju depan rumah sakit mendekati halte di sana. Rafa menoleh ke belakang mendapati Esther dengan sebuah mobil hitam yang baru berhenti di depan Esther. Rafa melihat seseorang berpakaian seperti sopir keluar dari mobil itu dan membungkuk memberi salam pada Esther. Kemudian orang itu membantu Esther memasuki mobil itu. Rafa buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil yang di masuki Esther tadi.
Mobil di depan Rafa memasuki halaman sebuah rumah besar setelah menempuh perjalanan beberapa saat. Rafa pun menghentikan mobil nya tidak jauh dari gerbang rumah itu, terlihat ada sebuah motor tak nauh darinya yang di yakini nya milik salah satu anggota Lucifer dan orang yang nampak tak asing di motor itu sama sama sedang memperhatikan Esther, hingga Esther di bantu turun kemudian memasuki rumah itu.
Rafa mengambil ponsel nya dan dan mengambil gambar rumah itu. Mengirimnya pada Anan.
^^^Mengirim gambar.^^^
^^^Ini rumah Esther?^^^
Anan
Iya, Malvin juga lagi ngirim
Anggotanya buat jagain Esther.
^^^Yaudah gue balik.^^^
Setelah tahu kalau Malvin sudah mengirim anggota nya untuk mengawasi Esther, Rafa memilih untuk pulang saja. Dia juga butuh istirahat, Rafa rasanya sudah mengantuk sekarang. Cowok itu menjalankan mobilnya kembali membelah jalan raya menuju rumahnya.
...🍃🍃🍃...
Raka merasa bersalah sekarang ini, karena kejadian tadi membuat dirinya tidak jadi tampil dan menemani Ellia di rumah sakit. Salah seorang temannya di ekstra musik sudah mau menggantikan nya. Raka merasa tidak enak meninggalkan kewajiban nya begitu saja. Hari sudah malam, dan Raka masih enggan beranjak dari ruangan Ellia di rawat. Nandini sudah pulang di jemput Reynand karena wanita itu sudah kelelahan, dan Reynand bilang dia akan kembali lagi setelah mengantar Nandini.
Walaupun dalam keadaan sakit seperti ini, Ellia masih bisa bisa nya mengambil kesempatan. Karena Nandini akan sangat memanjakan Ellia saat sakit, maka Ellia meminta agar puasa makanan manisnya selesai, dan benar, Nandini langsung menuruti kemauan Ellia itu. Ellia meminta coklat pada Raka, dan tidak tanggung-tanggung. Raka yang tau kesukaan gadis itu langsung pergi membelikan satu kotak berukuran besar coklat untuk Ellia. Dan sekarang mata Raka tidak juga bosan sedari tadi melihat Ellia dengan wajah bersinar nya menerima suapan demi suapan coklat dari tangan Raka.
Raka merasa sangat bahagia melihat Ellia yang terlihat senang bersama nya. Cowok itu mengidik melihat Ellia yang sangat semangat melahap coklat hingga tersisa separuh. Apakah gadis itu tidak juga merasa mual karena terlalu banyak memakan makan manis itu. Pipi tembam yang mengembung itu sangat menggemaskan, Raka tidak tahan lagi untuk mencubit pipi itu. Kedua tangan Raka menarik kedua pipi Ellia gemas. Membuat gadis itu memekik.
"Gila lo!, ganggu ajah lagi enak juga," gerutu Ellia tak terima acara makan coklat nya di ganggu.
"Ya... maaf, lo nya juga sih, gemessin!"
"Aa... gue udah kenyang!" Mau tak mau Raka membuka mulut nya menerima coklat terakhir yang Ellia suapi.
"Gimana gak kenyang, segitu banyak nya di habisin sendirian, gendut tau rasa lo!"
Ellia melotot "mana ada?, gue tuh ya mau makan sebanyak apa gak bakal gendut tau!"
Raka terkekeh menatap dua pipi gembul Ellia. Cowok itu membawa tangan nya mengapit kedua pipi Ellia dengan ibu jari dan jari lainnya, hingga membuat bibir Ellia memaju.
"Gak gendut dari mana nya?, ini pipi perasaan udah gede banget kaya balon!" Ucap Raka sambil menggoyangkan kepala Ellia ke kanan ke kiri pelan. Sangat lucu.
"Udoh oh, lopposen!" Ujar Ellia dengan mulut yang memonyong. Sumpah demi apapun, Raka sangat gemas dengan Ellia sekarang ini. Tidak ingin rasa nya melepaskan gadis ini. Merasa cukup, Raka melepaskan pipi Ellia dari tangannya.
"Ngomong-ngomong, kita gak jadi manggung di cafe, biar anak-anak yang lainnya ajah yang pergi." Ucap Raka teringat kegiatan yang di tinggalkannya.
"Emang gapapa?, kan lo ketua nya!" Raka menggeleng. Ini bukan acara sekolah, jadi ada atau tidak nya ketua itu tidak masalah.
"Gapapa, penampilan gue juga tadi di gantiin sama yang lain. Acara nya sempet berhenti sebentar selama kepala sekolah nyari pelaku penembakan lo, terus di lanjut lagi abis itu," kata Raka menceritakan kejadian tadi. Raka yang harus nya tampil setelah Ellia, harus di gantikan karena Raka yang ikut mengantar Ellia ke rumah sakit.
"Pelaku nya ketangkep?" Tanya Ellia.
"Enggak, padahal jalan masuk dan keluar sekolah udah di tutup dan di cekat," Ellia terdiam beberapa saat. Entah kenapa seperti ada yang aneh.
"Berarti dia itu salah satu bagian dari sekolah, entah itu guru, murid, wali murid, tamu dari sekolah lain, atau tamu terhormat sekalipun. Kalo ada acara sekolah kaya gini pasti semua orang di cek dulu kan?, terus gimana bisa dia bawa pistol dengan bebas ke sekolah?" Kata Ellia berpikir.
"CCTV juga udah di rusak pas kejadian itu," lanjut Raka seolah olah tidak mengetahui apa pun. Raka tidak ingin Ellia terlibat di dalam masalah ini. Raka sudah tahu siapa sebenarnya pelaku itu, Malvin yang memberi tahunya. Hanya saja, Raka masih bingung, kenapa orang itu memulai nya dari Ellia. Padahal gadis itu tidak tahu apa-apa, dan lihatlah sekarang Ellia sedang berpikir keras menebak nebak siapa dan kenapa hal itu terjadi.
"Udah El!, gak usah di pikirin terus, dia pasti ketemu kok!" Ellia mengangguk dan mulai melupakan tentang kejadian itu.
"Nanti tolong beliin gue choki choki ya!" Pinta Ellia dengan suara manja di buat buat nya.
.
.
.
BERSAMBUNG