RaLia

RaLia
Wajahnya.



Pagi pagi sekali sebelum berangkat ke sekolah, Ellia di temani oleh Alan untuk mampir ke suatu tempat yang sudah lama tidak di datanginya, sebab jika ia mengunjungi tempat itu segala hal di masa lalu yang indah namun menyakitkan untuk di ingat langsung tiba tiba singgah di benak nya, dan membuat gadis itu langsung lemah seketika.


Ellia memegang buket bunga yang sangat indah di tangan nya, di iringi Alan di belakang nya, mereka berjalan memasuki area pemakaman hingga langkah mereka terhenti di dekat sebuah gundukan tanah.


Alan tersenyum kepada Ellia memberikan sebuah pesan agar gadis itu menenangkan diri nya supaya tidak menjadi lemah setelah mengadukan isi hati nya pada seseorang yang sudah tertimbun tanah itu.


Ellia menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan, kemudian dia mendudukkan diri nya di samping makam itu dan mulai membersihkan rumput-rumput liar dan daun kering yang ada di atas nya.


Setelah bersih Ellia meletakkan bunga bawaan nya di sana.


Alan pun ikut mendudukkan dirinya di samping Ellia. Beberapa saat keadaan di isi dengan lantunan doa dari kedua nya.


Ellia mengusap wajahnya setelah selesai berdoa. Menormalkan nafas nya terlebih dahulu sebelum mengatakan apa yang ingin di katakannya.


"Sky, aku di sini, aku datang," ucap Ellia.


"Kemarin aku mimpiin kejadian itu, aku ngerti maksud nya apa, aku udah kangen banget sama kamu. Dan kamu pengen aku ngunjungin kamu. Maaf, udah lama aku gak dateng ke sini, aku selalu lemah saat ada di hadapan kamu. Aku gak bisa menjadi perempuan kuat seperti yang selalu kamu bilang. Aku gak sekuat itu, saat menghadapi kenyataan kamu pergi jauh dari aku. Aku ... huuuh ... huuh..." perkataan Ellia terputus saat lagi-lagi hal ini terjadi.


Ellia kesulitan bernafas, nafas nya tersendat dan dada nya terasa sesak dan sempit. Alan langsung membawa Ellia keluar dari area pemakaman menuju ke dekat mobil Alan.


Cowok yang berada di sisi Ellia sejak kecil itu menarik tubuh gadis itu kedalam dekapannya. Mengelus punggung Ellia lembut menenangkan.


"Atur nafas lo!, lo gak bisa kan terus-terusan kaya gini," ucap Alan beralih membelai kepala Ellia. Lalu Alan melepas dekapannya. Alan membuka pintu mobil nya mengambil sebotol air mineral.


Alan membukakan air mineral yang masih tersegel itu lalu memberikan nya pada Ellia. Alan sudah yakin jika hal ini pasti akan terjadi.


Alan heran, apa yang telah terjadi di antara Ellia dan Sky di hari itu. Di hari sebelum kematian Sky, semua nya baik-baik saja. Dan tiba-tiba di hari itu, mendadak Ellia datang pada nya dengan keadaan sangat kacau dan meminta bantuan nya. Ellia bilang Sky mengalami kecelakaan dan karena Ellia merasa syok, dirinya pingsan di tempat itu dan saat membuka mata diri nya sudah berada di ruangan rumah sakit dan tidak tau bagaimana keadaan Sky. Ellia meminta bantuan nya untuk datang dan mencari keberadaan Sky.


Alan menemukan keberadaan Sky yang sudah berada di kamar mayat. Dengan berat hati Alan memberitahukan hal itu dan membuat Ellia semakin histeris tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Alan merasa aneh dengan kematian Sky yang di dapati beberapa luka tusukan di badannya, dan luka yang cukup besar di kepala. Alan tidak tahu apakah Sky benar benar mengalami kecelakaan, Alan tidak tahu apakah Ellia menyadari keanehan itu juga.


Selama Ellia menjalin hubungan dengan Sky, Alan tidak terlalu tahu keseluruhan tentang lelaki itu. Yang di tahu nya, Sky hanyalah seorang ketua Osis di sekolah nya, memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia. Juga bisa membuat Ellia merasa bahagia saat berada bersama lelaki itu.


Hati Alan merasa sakit melihat keadaan Ellia yang selalu seperti itu saat mengingat Sky. Sebesar itukah cinta Ellia pada Sky. Apakah kehadirannya selama ini tidak mampu menyembuhkan sedih Ellia. Alan sudah ada di sisi Ellia sejak kecil, dan Sky yang hadir ketika mereka beranjak menaiki jenjang SMP, mampu mengubah hari Ellia.


Sesekali Alan berpikir, apa yang ada di dalam diri Sky yang tidak ada di dalam dirinya.


"Gue udah gapapa, ayo berangkat, nanti telat." Ucap Ellia.


Mereka pun beranjak dan meninggalkan area itu menuju sekolah karena matahari sudah mulai naik membuat keadaan panas.


...⚘⚘⚘...


"HOLLA ELLIA TERSAYANG," pekik Aca mengagetkan Ellia yang sedang tenang menggoreskan pensil warna pada sketchbook nya. Teriakan Aca itu mengakibatkan warna yang di goreskan Ellia di gambar buatannya itu menjadi coretan berantakan.


Ellia menatap tajam gadis yang kini cengengesan itu.


"******!" Umpat Ellia.


"Heh, anak manis gak boleh ngomong kasar!" Ucap Aca mengelus kepala Ellia dan langsung di hempaskan begitu saja oleh Ellia tangan Aca yang menyentuh kepalanya.


"Bodo!" Ellia kembali menggoreskan warna warna pada kertas, menarik garis coretan yang tak di sengaja tadi menjadi garis garis estetik, coretan tadi di atasi dengan mudah oleh Ellia hingga coretan itu tidak jadi merusak lukisan indahnya. Malah menjadi lebih indah lagi.


"YA AMPUN, GANTENG BANGET!" Pekik Aca melihat wajah seorang lelaki tampan di kertas gambar Ellia. Lukisan wajah seorang lelaki yang sangat tampan, rahang tegas, dagu belah, bibir tipis, alis tebal dan sorot mata teduh. Aca terpaku, wajah siapa yang Ellia lukis. Aca sudah berkali kali tidak mempercayai bahwa lelaki setampan itu sungguh ada di dunia nyata.


Ellia langsung mendekap Sketchbook nya sambil menatap tajam Aca. Tidak mengizinkan gadis itu melihat wajah pujaan hatinya.


"Pelit banget sih!" Gerutu Aca mengerucutkan bibirnya.


"He is mine!" Kata Ellia kembali membuka buku itu dan menatap lama lukisan wajah dari orang yang sangat ia rindukan. Sumpah demi apapun, Ellia sangat sangat mencintai dan merindukan sosok itu.


"Sky gak akan tenang kalo lo masih terus sedih-sedih kayak gini, yang dia pengen adalah kebahagiaan lo, Sky pasti gak akan senang kalo liat lo kayak gini," ucap Aca mengelus bahu Ellia ketika melihat gadis itu terdiam menatap lekat lukisan wajah Sky yang belum sepenuh nya sempurna itu dengan mata memerah nya.


Aca menarik sahabat nya itu kedalam pelukannya. Aca jadi ingat di hari kematian Sky, gadis itu sangat hancur dan berantakan untuk menerima kenyataan yang ada. Aca memang tidak begitu sangat mengenal Sky, namun saat sesekali dia bertemu dengan laki-laki itu, Aca merasa bahwa Sky sangat baik dan mampu membahagiakan sahabat nya ini.


"Udah El, dari pada lo sedih kayak gini sekarang kita harus pergi ke ruangan seni, kita ciptakan lukisan lukisan indah di sana, lalu kita lukis kebahagiaan kita sendiri," ucap Aca.


Ellia melepaskan dirinya dari pelukan Aca, gadis itu tersenyum dan mengangguk.


"Nah gitu dong, kan cantik kalo gini," Aca menarik kedua pipi Ellia gemas.


Ellia terkekeh geli. "Susu coklat gue?" Aca menghela nafas nya mendengar pertanyaan gadis itu.


"Iya iya nanti pulang sekolah!" Ellia tersenyum senang dan kemudian menarik tangan Aca dan berjalan meninggalkan taman belakang yang asri itu.


...⚘⚘⚘...


Sore sudah menjelang. Keadaan sekolah pun sudah sangat sepi. Seorang Cowok berkaca mata melangkah di koridor sekolah hendak pulang. Raka pulang telat hari ini sebab lupa waktu saat sendirian di ruang musik. Raka merasa jauh sangat tenang saat memainkan alunan musik dari piano di dalam ruangan sepi nan hampa. Alunan melodi yang di mainkan nya terdengar sangat indah saat sebuah rasa ikut andil di dalam permainan.


Melodi indah yang sudah lama hilang dari hidup nya seakan kembali. Gadis bermata biru itu!. Sorot mata itu telah membawa nya hanyut ke dalam pesona keluguan itu.


Terasa hari akan semakin sore, Raka menyudahi saja permainan nya. Cowok itu melangkah menyusuri koridor yang sepi dengan santai. Melewati ruang seni Raka kembali mundur seperti melihat seseorang di dalamnya.


Raka mendekat ke kaca jendela ruangan itu mengintip siapa di dalam sana.


Terlihat seorang gadis duduk sendirian sibuk mengoleskan kuas cat ke kanvas di depan nya. Raka memasuki ruangan itu tanpa membuat suara sedikitpun, dia berdiri tepat di belakang gadis yang masih tenang dengan kegiatannya.


Raka diam memerhatikan lukisan indah yang hampir selesai itu, dia tidak bergerak sedikitpun saking fokusnya menatap kegiatan gadis itu. Raka tersentak bersamaan dengan gadis itu yang juga tak kalah terkejut nya saat berbalik badan menemukan seorang cowok berdiri di belakang nya.


"Udah dari tadi?, kok gak ada suara nya, bikin kaget ajah," ucap Ellia sambil memegangi dada nya.


Raka terkekeh geli. "Sengaja,"


"Bagus banget, siapa dia?" Tanya Raka menatap lukisan indah Ellia.


Ellia ikut menatap apa yang di tatap Raka lalu tersenyum manis.


"Sky!" Jawab Ellia masih tersenyum indah memandangi sosok Sky dalam lukisan.


"Dia ganteng ya," ucap Raka beralih menatap wajah cantik Ellia.


"Iya, bikin candu," jawab Ellia.


Entah kenapa Raka merasa panas di hati nya, berusaha menepis pemikiran buruk dari kepala nya namun Raka tidak bisa. Raka cemburu dan merasa iri pada Sky, dia cemburu pada orang yang sudah tiada. Dia yakin, Sky adalah laki laki paling beruntung karena dapat memiliki gadis itu dan mampu membuat Ellia tidak sanggup untuk berpaling dari nya.


"Gue juga mau di lukis, lo bisa lukisin gue?" Tanya Raka.


Ellia mengangguk semangat dan beralih menatap cowok itu, "bisa!, tapi gak di sini, ayo ikut gue!"


Gadis itu menarik tangan Raka agar mengikutinya, tak lupa mengambil tas nya di kursi sebelum keluar dari ruangan itu.


Raka hanya pasrah saja mengikuti kemana gadis itu membawa dirinya.


"Pelan-pelan jalan nya!"


.


.


.


Bersambung