
Rafa terkekeh melihat tubuh mungil Ellia di dorong oleh Lio dari belakang hingga gadis itu merosot di sebuah perosotan di hadapannya. Beberapa kali Ellia mengeluh sebab diri nya belum siap meluncur Lio sudah mendorong nya. Anak laki laki itu tertawa saat Ellia mengusap bokong nya yang terasa sakit setelah mendarat di tanah berumput.
Di susul anak itu, Lio meluncur sambil tertawa lalu badan gembul itu mendarat di tanah dan menubruk Ellia yang belum beranjak dari tempat nya.
"Aduh Lio!"
Lio, anak itu terlihat sangat senang bermain dengan mereka berdua. Rafa kira anak itu akan sangat mengganggu, tapi ini tidak lah buruk. Bibir Ellia mengerucut sebal karena Lio mengejek nya.
Rafa terus mengikuti kemana dua makhluk menggemaskan itu pergi. Lio selalu saja mengacau saat Ellia akan memulai obrolan dengan Rafa.
"Ikut geng motor seru ya Sa?" Tanya Ellia menatap cowok yang berjalan di samping nya itu.
"Seru, " jawab Rafa menanggapi.
"Mau ikutan juga boleh gak?" Rafa mengernyit kan dahinya.
"Ngapain?"
"Biar bisa bareng Sasa terus, nanti gue minta Papa beliin motor," jawab Ellia jujur.
"Lio juga mau ikutan jen motol dong, Lio punya motol kelen banget tau, kemalen abang Lio balu beliin walna oyen. Abang Caca, Lio mau ikut motol motolan juga ya!" Sela Lio memberitahu tentang motor mainan baru nya.
"Gak boleh, cuma kakak yang boleh ikut, Lio gak boleh!" Ellia memeletkan lidahnya.
Sebelum nya Ellia tidak pernah peduli dengan geng itu sebab Aca yang menceritakannya terlalu melebih lebihkan. Tapi setelah mengenal Raka dan teman teman nya Ellia merasa seperti apa yang Aca katakan. Mereka baik dan ramah, tidak seperti apa yang Ellia pikirkan sebelumnya. Terlebih setelah mengetahui bahwa cowok cuek yang sesekali ia perhatikan itu adalah sahabat kecil yang sangat di rindukan dan yang selalu di carinya.
Ellia tidak ingin melepas Sasa nya, dari dulu hanya Sasa yang bisa mengerti dirinya, yang selalu bisa mengatasi kesedihannya. Ia ingin selalu bersama Sasa nya.
"Boleh kok, kan abang Caca?" Tanya Lio dengan mata berkaca kaca.
"Motor Lio emang gede?" Tanya Rafa. Bocah itu mengangguk.
"Segede mana?"
"Segini!" Bocah itu menunjukkan pinggang nya sendiri, memberitahu bahwa motor nya sebesar itu.
"Gak bisa dong kalo cuma segitu, harus nya segede ini, kan Sa?" Kata Ellia menunjukkan pinggang nya. Rafa pengangguk.
"Belati Lio gak boleh ikut?" Ellia menggelang sambil menunjukkan wajah pura pura melas nya.
Anak itu mulai meneteskan air mata nya membuat dua remaja itu tertawa lucu berhasil menggoda bocah gembul itu.
"ABAANG!" Teriak Lio berlari lalu tiba tiba memeluk kaki seorang cowok yang tidak mereka kenal.
Cowok itu berbalik dan menatap tajam bocah gembul yang memeluk kakinya.
"LIO!, lo dari mana ajah sih hah!, kan gue udah bilang tunggu, malah ngilang," omel cowok itu menarik pelan telinga kecil Lio.
Dengan itu membuat tangis bocah itu semakin keras.
"Huaa bunda, huhu abang nakal," tangis Lio menggelegar membuat Rafa dan Ellia gemas.
"Udah diem, nanti gue kena omel bunda terus gue di pukul, lo mau gue di pukul?" Lio menggeleng. Cara satu ini pasti sangat ampuh untuk membuat bocah itu berhenti menangis. Sebab saat di rumah cowok itu akan mendapat pukulan dari bunda nya ketika dengan jahil nya membuat sang adik menangis. Melihat abang nya di pukul sang bunda, bukannya senang bocah itu malah semakin menangis lalu memeluk erat abang nya agar tidak di pukuli lagi oleh sang bunda. Padahal pukulan wanita itu hanya pura pura saja dan tidak sakit sama sekali.
"Dak mau!, nanti abang sakit kalo di pukul bunda, telus abang tidul di lumah sakit, telus yang main sama Lio siapa coba," jawab anak itu mengusap sisa sisa air mata nya.
"Anak pinter!" Kata cowok itu mengusap kepala sang adik.
Ellia menatap tajam cowok itu sedari tadi. Benarkah ini abang Lio?, cowok ini?, sejak kapan?.
Gadis itu mendengus ketika cowok itu beralih dari Lio dan menatapnya dan Rafa bergantian. Cowok ini!, dia adalah orang yang waktu itu mengepung nya di halte bersama gerombolannya.
"Lo abang nya Lio?, lo bisa jadi abang gak sih, anak kecil begini lo tinggal sembarangan di tempat rame kaya gini, kalo Lio di culik gimana!" Seru Ellia geram, kesal dan benci.
Bisa bisa nya dia menginggalkan anak usia lima tahun sendirian di tengah keramaian.
"Eh ada Rafa bareng bidadari di sini, Yo Rafa!" Sapa cowok itu mengulurkan tangannya bertos dengan Rafa.
"Vian!" Jawab Rafa menyebut nama cowok itu. Rafa memang mengenal cowok itu, dia adalah Vian, tangan kanan atau wakil ketua Lucifer, sahabat Malvin.
"Neng bidadari jangan khawatir, gak bakal ada yang mau culik anak ini, bisa di liat sendiri kan pipi gembul, perut gendut. Yang ada itu penculik gak akan sanggup ngasih makan nih bocil," kata Vian menyentil dahi Lio pelan. Lio tidak menghiraukan dahi nya yang di sentil, coklat di tangan dan di mulut nya itu lebih penting.
"Oh iya, abwang nowmong lo gue ke Lio tadhi, nanti Io biyang bundha," kata Lio menunjuk Vian dengan keadaan mulut penuh.
"Bilangin ajah, gue gak takut wlee..."
"Bang Caca, Lio mau main sama abang Caca sama kakak cantik, abang Pian tinggalin ajah yuk," ucap Lio menarik tangan Rafa dan Ellia di tangan kanan dan kirinya mengajak dua remaja itu pergi, dan meninggalkan Vian.
"Loh bocil!, kok gue di tinggal sih woy," teriak Vian.
Lio menoleh ke belakang kemudian menjulurkan lidah nya mengejek.
...***...
"Satu duaa... ih Sasa senyum dong!," Kali ini Rafa mengiyakan ajakan Ellia berfoto dengan badut Spongebob yang berdiri di depan sebuah bianglala.
Gadis itu menarik kedua pipi Rafa. "Nah, gitu dong, kan ganteng," entah mengapa telinga Rafa memerah mendengar ucapan Ellia hingga membuatnya seketika merubah senyum terpaksanya menjadi senyum alami.
"Satu duaa... tiga!" Ujar Lio lalu mengambil gambar kedua nya.
"Iih Lio juga mau foto sama kakak cantik dong, abang Caca pegang hape nya ya,"
Rafa lagi lagi tidak menolak. Cowok itu mengarahkan kamera ponselnya kepada dua makhluk menggemaskan itu.
Tangan Rafa tertahan, tidak juga kunjung mengambil gambar. Senyum lebar nan bebas itu sangat indah, terpesona! Rafa terpesona dengan senyum lebar Ellia yang membuat mata gadis itu menyipit nyaris tertutup. Masih sama seperti dulu, cantik dan juga penuh keceriaan. Nampak nya selama mereka berpisah tidak ada hal buruk yang terjadi pada gadis itu.
Entah bagaimana Rafa bisa membayangkan gadis kecil ceria itu akan berubah setelah pertemuan kembali.
"Udah belom?, pipi gue pegel tau ih," kata Ellia mencak mencak di tempat.
"Oke sekali lagi, satu duaa... tiga!"
"Horee, naik itu yuk kakak cantik," tunjuk Lio pada bianglala di belakang mereka.
"Sasa, mau naik gak?" Rafa mengangguk.
Mereka membeli tiga tiket lalu berdiri di dekat orang yang menjaga pintu bianglala. Sadar akan sesuatu, Ellia menoleh ke kanan ke kiri tidak menemukan Lio di manapun. Kemana anak itu pergi.
"Sa, Lio kemana?"
"Hah, Lio?... itu dia," Rafa pun sempat menoleh ke kanan ke kiri dan bernafas lega saat bocah itu berlari ke arah mereka dengan sebuah minuman di tangan kanan nya dan popcorn di tangan kirinya.
"Lio habis dari mana sih, nanti ketinggalan naik loh!" Bocah itu menyengir dan menunjukkan apa yang di bawa nya.
"Bial tambah selu hehe,"
Kemudian orang penjaga itu membukakan pintu gondola mempersilahkan mereka masuk. Bianglala mulai bergerak membuat Lio memekik kesenangan.
"Sasa liat!, gedung sekolah kita keliatan dari sini," ujar Ellia menunjuk bangunan tinggi yang terlihat dari atas.
"Waah, sekolah kakak tinggi ya, bisa di liat dali sini, besok Lio bilang bunda buat pindah sekolah ke sana deh,"
"Mana bisa?" Balas Rafa. Bocah gembul itu menatap Rafa bingung.
"Emang gak bisa?" Tanya Lio lalu memasukkan beberapa popcorn sekaligus ke dalam mulut nya.
Rafa menggeleng "gak bisa lah, Lio kalo mau sekolah di sana harus lulus TK dulu abis itu SD terus bisa SMP di sana!" Jawab Rafa. SMA Mandala memang memiliki gedung SMP.
Lio mengangguk angguk paham "Lio bental lagi lulus TK dong," kata Lio memberitahu bahwa diri nya akan menduduki bangku SD sebentar lagi.
"Waah masa, Lio udah pinter dong berarti," balas Ellia, gadis itu mencomot popcorn milik Lio dan memakannya.
"Iya dong, eeh itu abang Pian ngapain di situ sendilian?" tunjuk Lio pada cowok di bawah sana yang dengan wajah malas nya duduk di sebuah bangku tidak jauh dari bianglala.
Tidak ada yang menjawab ucapan Lio. Ellia sibuk memandangi pemandangan dari atas sana, sedang Rafa sibuk memandangi wajah cantik di hadapannya.
Merasa ada yang memperhatikan, Ellia menoleh dan mata nya mendapati Rafa yang tengah menatapnya. Tatapan mereka beradu beberapa saat sampai gondola itu sedikit bergoyang membuat tubuh Ellia terdorong ke depan dan lalu di tahan oleh Rafa.
Jantung Ellia berdetak cepat, menaiki bianglala memang menyenangkan, tapi gondola yang bergoyang seperti barusan juga merupakan hal yang tidak di sukai Ellia. Di tambah tangan laki laki di hadapannya ini memang erat lengannya.
Ellia membetulkan posisi duduk nya di samping Lio, anak itu tidak bergerak karena goyangan tadi sebab salah satu tangannya memegang erat besi gondola.
Rafa mengelus lembut lengan Ellia beberapa detik untuk menenangkan gadis itu kembali. Rafa tau Ellia memang suka naik bianglala namun akan takut saat gondola nya bergoyang sedikit lebih menggoncang.
"Gapapa, bentar lagi kita turun," Ellia tersenyum. Tanpa di sangka, Rafa membalas menampilakan senyum yang sangat indah nya, senyum yang berbeda dari sebelum nya, senyum yang begitu alami sama seperti senyum nya dulu saat kecil.
"Ganteng!" Gumam Ellia tanpa sadar. Seketika telinga Rafa memerah dan pipi nya memanas.
Cowok itu berdehem pelan "udah tau kalo gue ganteng dari lahir, ayo turun!" Rafa keluar dari gondola itu setelah orang penjaga nya membukakan pinru gondola.
"Masih mau lanjut neng," ucapan orang penjaga itu menyadar kan Ellia bahwa Rafa dan Lio sudah meninggalkan nya sendirian. Ia terlalu terpaku saat mendengar Rafa sangat pede nya memuji diri sendiri. Sejak kapan.
.
.
.
bersambung