RaLia

RaLia
Bukan Langit.



Di sebuah ruangan yang tampak remang-remang. Terdapat beberapa orang laki-laki yang tengah santai menikmati minum minuman ber alkohol, dan juga di temani dengan rokok.


Mereka bermain bersama. Bermain kartu sambil bercanda. Ada juga yang bermain ular tangga. Mereka terlihat seperti anak-anak yang sedang bermain. Tertawa, marah, dan saling menggeplak teman di dekat nya.


Seorang laki-laki duduk di sofa dengan santai memperhatikan kegiatan teman-temannya. Dia meneguk minuman nya sesekali tertawa melihat teman-teman nya bercanda. Sudah berteguk-teguk minuman yang di telannya, namun tidak mampu membuat nya mabuk. Dia sudah terbiasa dan sangat ahli soal ini.


Dia bersandar dan mengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan yang gelap itu.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka yang membuat laki-laki itu menolehkan wajah nya.


"Woi Bi!, hayuk lah ikutan, dari mana ajah lo?" Panggil seorang laki-laki yang sedang bermain ular tangga.


Orang yang baru masuk dan di panggil Bi itu menggeleng, lalu berjalan mendekati laki-laki yang duduk di sofa itu.


"Bahaya bos, dia kembali!" Ucap Bian lalu duduk di samping orang yang di panggilnya bos itu.


"Dia siapa maksud lo?" Tanya laki-laki itu.


"Orang yang mau lo singkirin setahun lalu," jawab Bian.


Laki-laki itu sontak menegakkan duduk nya.


"Dia?, gue gak nyangka orang itu bisa juga bertahan sampe detik ini, dan sekarang dia berani kembali." Ucap laki-laki itu dengan nada meremehkan.


"Terus apa yang mau lo lakuin sekarang?" Tanya Bian.


"Habisi mereka berdua!"


...****...


Jam masuk sebentar lagi akan tiba. Sudah ramai siswa siswi yang berdatangan menuju kelas mereka masing-masing. Langkah mereka tiba-tiba berhenti melihat Ellia melewati koridor. Bukan gadis itu saja yang menjadi perhatian. Tapi gadis bernetra biru itu melewati mereka dengan mendorong kursi roda yang di duduki seorang laki-laki tampan yang mengenakan seragam sama dengan mereka.


Mereka bertanya tanya, siapa laki-laki itu. Tapi pastinya mereka pun tahu kalau dia adalah murid baru.


Langkah Ellia berhenti sebab Alan menghentikan jalannya, dan menatap laki-laki di kursi roda itu bingung.


"Siapa?" Tanya Alan menatap gadis itu.


"Alan, gue masih marah sama lo!" Ucap Ellia kembali melajutkan langkah nya sambil mendorong kursi roda itu.


Gadis itu sangat kesal dengan apa yang di lakukan Alan kemarin. Tanpa rasa bersalah, Alan telah membuat wajah nya penuh dengan coretan cat. Dan Alan tahu itu.


Alan memperhatikan gadis itu yang mulai menjauh.


"Sky?, tapi bukan. Tapi mereka mirip," gumam Alan. Wajah laki-laki itu mirip seperti Sky, tapi bukan Sky. Mungkin dia saudara Sky.


Ellia mendorong kursi roda elektrik laki laki itu memasuki kelas nya. Mereka dari ruang kepala sekolah dahulu tadi. Dan Ellia sangat senang saat tahu mereka satu kelas. Ellia berhenti di depan kelas dan teman-temannya yang sedang menatap dia dan lelaki di kursi roda itu penasaran.


"Pak, saya bawa siswa baru," ucap Ellia sopan pada seorang guru yang sedang mengajar.


"Oh ya, saya juga masih nunggu kamu datang buat mulai pelajaran, kamu... emm ayo perkenalkan diri!" Jawab guru itu menatap cowok di kursi roda yang menatapnya datar itu.


"Santai dong muka nya!" Kata Ellia.


Cowok itu berdehem pelan. "Nama gue Esther," kata nya singkat.


Esther sangat tidak peduli dengan pandangan orang orang yang menatap nya di kelas itu. Mereka menatap diri nya tidak suka, tapi ada juga yang tersenyum hangat pada nya. Tapi lebih banyak yang terlihat tidak menyukai nya.


"Ganteng sih, tapi ... heem,"


"Pasti dia naik nya pakai lift khusus,"


"Ganteng doang, kalo jadi pacar dia pasti yang ada susah,"


"Dia kayak deket banget sama Ellia, apa Ellia gak kesusahan ,"


"Eh gak boleh gitu, dia kan juga manusia, emang masalah nya apa kalo takdir dia gitu, kamu gak boleh ngejelekin orang kaya gitu, gak baik!"


Samar-samar terdengar bisikan-bisikan siswa yang bergunjing tentang diri nya.


Tapi Esther hanya diam tak peduli memasang wajah datar nya. Esther berdehem pelan membuat Ellia mengerti sesuatu.


"Sudah sudah, jangan ngobrol sendiri!, kalian boleh duduk," kata guru itu.


"Apa lo liat-liat, pindah gih Ca, Esther biar duduk sama gue!" Seketika wajah Aca cemberut enggan bangkit dari bangku nya.


"Enggak mau El, dia ajah yang duduk di sana," tunjuk Aca pada bangku kosong di dekat seorang cewek cupu berkaca mata besar.


"Gue gak mau pindah, gue mau duduk sama lo!" Rengek Aca. Ellia berdecak kesal.


"Aca!" Aca bangun dari duduk nya, melangkah malas menuju bangku kosong itu.


Setelah Aca pindah, Ellia memindahkan kursi Aca lalu membetulkan posisi Esther supaya lebih nyaman di samping nya. Cowok itu tersenyum pada Ellia dan di balas senyuman juga oleh gadis itu.


"Lo kurang nyaman?" Esther menggeleng.


"Jangan jauh-jauh dari gue!" Ucap Esther mengadarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ellia mengangguk. Kemudian mereka mulai fokus pada guru laki-laki di depan sana sampai waktu bel berganti pelajaran berbunyi.


...⚘⚘⚘...


Waktu istirahat telah tiba. Kini Ellia bersama Esther juga Aca sedang menikmati makan siang mereka di sebuah meja kantin. Mereka nampak tenang, tapi Aca sering mencuri curi pandang pada Esther. Entah ada apa pada gadis itu, Aca seperti kebingungan.


"El!" Panggil Aca.


"Hmm," sahut Ellia.


"Dia Sky?" Sontak Ellia menoleh pada Aca.


Gadis bermata biru itu berdehem pelan sebelum bicara. Ellia tersenyum sambil menggeleng.


"Tadi dia udah perkenalan kan di kelas, nama nya Esther!" Kata Ellia.


"I iya sih.. ta-tapi kok..." Aca menggeruk pipi nya yang tak gatal.


"Esther, adik nya Sky," Aca mengangguk paham. Ia paham sekarang, kenapa Esther terlihat mirip dengan Sky, dan kenapa Ellia sangat dekat dengan nya, bahkan sampai menyuruh Aca untuk pindah tempat duduk untuk Esther.


"Hai Esther, gue Aca, sepupunya Ellia," Aca menyodorkan tangannya ke arah Esther.


Cowok itu bergeming, masih tenang dengan makanan nya tanpa menghiraukan tangan Aca yang mengambang di udara.


Aca seketika jadi salah tingkah, dia menarik kembali tangannya dan mengalihkan diri dari rasa malu dengan memakan bakso nya dengan lahap.


"Entar malem lo dateng?" Tanya Esther menolehkan wajahnya pada Ellia.


"Oh iya, gue lupa ngomong soal itu. Maaf, gue gak bisa, soal nya lusa udah pensi, gue mau latihan dulu. Gapapa ya Esther, kita main ke luar nya lain kali ajah, boleh kan," jawab Ellia dengan rasa bersalah nya.


Bukannya marah atau kesal, Esther tersenyum lalu mengacak rambut Ellia.


"Gapapa, masih ada lain kali, gue gak masalah," Ellia tersenyum manis pada Esther.


Sedangkan di sebuah meja yang tak jauh dari mereka, lima orang cowok menatap Esther dari tempat nya dengan tatapan yang sama.


"Langit, dia kembali?" Ucap Dirga.


"Iya, dia mirip banget sama Langit," sahut Robi.


"Tapi gak mungkin, Langit udah meninggal bukan," kata Raka sambil mengemut permen gagang nya.


"Dia bukan Langit!"ucap Rafa.


"Cuma mirip, terus dia siapa?. Pasti dia ada kaitan nya sama Langit, dan kenapa dia bisa deket banget sama Ellia?" Kata Anan.


Rafa dan Raka pun melihat ke arah Esther dan Ellia yang nampak nyaman berdekatan, juga kadang mereka melihat wajah datar Esther langsung berubah manis saat berbicara dengan Ellia. Raka merasa sesuatu yang aneh dalam dirinya, rasa yang sama saat melihat Ellia sangat senang saat melukis wajah Sky.


Teringat tentang wajah Sky yang di lukis Ellia, Raka jadi menyadari sasuatu hal yang dia lupakan kemarin.


Sky, Langit dan Esther. Mereka terasa sangat mirip. Terlebih wajah Langit dulu yang pernah mengajak Anan balapan, terlihat sangat mirip dengan wajah Sky yang di lukis Ellia kemarin. Atau jangan jangan, Sky itu Langit. Berarti kekasih Ellia yang sudah meninggal itu adalah Langit, ketua Cakrawala.


.


.


.


Bersambung