RaLia

RaLia
Pelindung.



"TIDAAK!"


Tubuh gadis itu lemas, seluruh tenaganya lenyap. Gadis itu terduduk di lantai kotor itu. Mata nya banjir, air mata nya tumpah begitu dengan teriaknya.


Tubuh kokoh yang selama ini melindunginya terkapar tak bernyawa dengan genangan darah disekitarnya. Luka sayat dan tusukan memenuhi tubuh Langit. Tepat di sebelah jasad itu ada orang yang berdiri diam dengan memegang palu dan pisau di kedua tangannya, menambah keterkejutan gadis itu. Melihat ada noda darah di tangan dan kedua benda di tangan orang itu membuat gadis itu tidak menyangka, sahabatnya sendiri tega melakukan ini.


Gadis itu menangis histeris berlari menghampiri tubuh Langit dan memeluknya, tidak peduli dirinya yang terkena darah Langit. Mengelus lembut pipi Langit dengan telapak tangannya yang dipenuhi darah.


"Kenapa?, kenapa bisa kaya gini. Ini cuma mimpi kan, sayang. Kamu bikin kejutan buat aku kan, ini bukan darah asli. Bangun!, kamu berhasil buat aku terkejut. Ayo bangun!. Aku tahu kenapa kamu gak pergi sama inti Cakrawala dan malah pergi sama dia, karena dia sahabat aku dan kamu mau ngasih aku kejutan. Kamu mau kasih aku hadiah kan kaya biasanya, dimana?, dimana hadiah nya. Aku udah terkejut ... tapi ini bukan hari spesial, terus kamu ngapain bikin kejutan," ucap gadis itu memeluk tubuh langit yang ada di pangkuan nya.


Ia menyeka air mata nya, namun bukannya berhenti malah semakin deras. Gadis itu menggoyang kan tubuh Langit, tidak ada respon.


"BANGUN!, AKU BILANG BANGUN LANGIT NYA CAKRAWALA!. INI GAK MUNGKIN, BANGUN!"


Melihat gadis itu mulai tidak karuan, para anggota Cakrawala memisahkan Langit dari nya, gadis itu tetap memegang tangan dingin Langit tidak membiarkan siapapun mengambil Langit nya. Dua orang pun memegangi tubuh gadis itu agar supaya bisa melepaskan Langit.


"GAK BISA!, GUE TAHU DIA MASIH ADA. DIA LAGI NGE-PRANK GUE. LEPASIN!," teriak gadis itu berusaha melepas kan diri dan menggapai tubuh Langit yang mulai menjauh dibawa oleh anggota Cakrawala.


Dengan sekali hentakan, gadis itu berhasil terlepas dari orang-orang yang memeganginya. Dihampiri nya lah orang yang masih berdiri diam menatap kedua benda di tangannya.


Bugh!


Satu tonjokan berhasil melayang ke wajah orang itu.


"APA YANG LO LAKUIN?, KENAPA?. KENAPA LO BUNUH SKY GUE?. LO ITU SAHABAT GUE, KENAPA LO TEGA NGELAKUIN INI, MALVIN!" teriak gadis itu di depan wajah Malvin.


"To-tolong dengerin gue dulu, ini jebakan. Gu-gue dijebak!"


"DIJEBAK, APA MAKSUD LO. UDAH JELAS APA YANG GUE LIAT. BUKTI NYA PUN ADA DI TANGAN LO, DASAR PENGHIANAT. PEMBUNUH!," gadis itu menunjuk benda ditangan Malvin.


"Gue gak akan mengampunin lo. Bawa dia ke markas utama!" Perintah gadis itu pada anggota Cakrawala.


Setelah kepergian mereka, segerombol laki-laki keluar dari persembunyian mereka dengan senyum puas di wajah masing masing, terutama diwajah Janu. Malvin datang di waktu yang tepat, bukannya berhasil menyelamatkan Langit. Malvin malah menjadi tersangka utama. Dan kebenarannya pun tidak akan diketahui orang, dengan perlahan keinginan dan dendam Janu berjalan lancar.


Tanpa diketahui Janu, seorang anak laki-laki berseragam SMP menjadi saksi atas pembunuhan itu, bahkan anak itu merekam gambar dan suara. Ketika anak itu hendak pulang pun dari tempat itu setelah Janu dan gerombolannya pergi, dia menemukan segulung kertas yang terselip di tembok. Saat dibuka, dia tahu bahwa itu adalah sebuah barang bukti penting juga.


Sayang nya, seseorang menemukan dirinya, hingga mau tak mau semua bukti itu dia serahkan pada teman Janu.


Setelah berhasil menyingkirkan Langit, Esther pun diangkat sebagai ketua Cakrawala. Dan dengan itu rencana lanjutan Janu sudah mulai di jalankan untuk menghabisi Esther. Janu merancang sebuah kecelakaan hebat untuk Esther. Janu membayar sebuah truk besar untuk sengaja menabrak motor Esther.


Kecelakaan itu berjalan sesuai keinginan Janu. Esther celaka, dan hal yang di sayangkan Janu adalah Esther tidak mati, cowok itu hanya mengalami kelumpuhan seumur hidup. Kenapa Esther bisa sekuat itu. Melihat keadaan ketua yang seperti itu, beberapa anggota menyarankan agar Esther beristirahat sejenak dari Cakrawala. Dan itu disetujui oleh Esther, Esther perlu memulihkan jiwa nya yang masih belum sepenuhnya menerima keadaan. Esther menunjuk seseorang untuk menggantikan nya tanpa melepas kedudukan diri nya sendiri sebagai ketua. Esther harus menjalankan amanah untuk posisi ini dari kakak nya, Langit. Langit pernah bilang, untuk tidak melepas Cakrawala sebelum seseorang yang tepat untuk itu ditemukan. Esther sangat mempercayai orang itu untuk mengambil alih sementara. Sebelum orang yang dicarinya ditemukan.


Mengetahui hal itu, membuat Janu memanfaatkan nya dengan baik.


Flashback end.


Dengan sigap, Malvin langsung memutar balikkan tubuh nya, hingga yang terkena pukulan itu adalah Malvin. Inti Bharta seketika terkejut melihat itu. Bukan, bukan terkejut dengan apa yang Malvin lakukan. Tapi dengan Malvin yang menarik orang di pelukannya itu untuk menukar posisi hingga wajah orang itu terlihat jelas sekarang. Dengan wajah dibasahi air mata dan keringat, juga rambut panjang nya.


"MALVIN!" pekik orang itu melihat kepala Mavin yang mengeluarkan banyak darah. Dia mendekat pada Malvin.


"Jangan nangis, gapapa. Ini bukan masalah besar, gue harus patuh sama perintah Langit. Jaga lo, gak akan gue biarin lo terluka," balas Malvin pelan menahan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya.


Janu perlahan melangkah mendekat. Inti Bharta bersiap untuk menyerang Janu, namun beberapa anggota Manticore dan Leon menghadang mereka dengan senjata di masing-masing tangan mereka. Keempat lelaki itu semakin panik melihat Janu yang siap melayangkan tongkat besi nya kepada orang yang masih memeluk Malvin itu. Terlebih Rafa, cowok itu terus berusaha keras untuk menghindari layangan benda-benda tajam yang di arahkan kepadanya, dan berusaha lepas dari orang-orang yang menghalanginya untuk menyelamatkan orang itu.


Tubuh Rafa berhasil mendapatkan beberapa goresan dari pisau lipat salah satu orang yang menghalanginya. Rasa sakit itu tidak akan terasa dibandingkan melihat Janu yang akan melukai orang itu.


BUGH!


Janu tersenyum puas berhasil melukai orang itu sama seperti Malvin. Dia memegang kepala nya yang terasa ingin pecah, sangat sakit. Seperti batu besar yang menghantam kepalanya dengan kuat. Darah mengalir deras bersamaan air mata nya melihat Malvin sudah tidak sadarkan diri. Seluruh dunia perputar, penglihatan nya mulai mengabur, namun dia masih sanggup bertahan.


"PENGHIANAT!, GUE HABISI LO!" Teriak nya kuat sambil berusaha berdiri, sangat ingin menerjang Janu.


Setelah berhasil berdiri, kepalanya semakin terasa sakit. Samar-samar wajah Janu sudah hampir tidak terlihat. Janu melempar tongkat besi nya ke sembarang arah, kemudian merogoh sesuatu dari saku jaket nya. Cowok itu berlari siap menerjang orang itu lagi. Dia yang sudah hampir limbung dikejutkan dengan teriakan seorang cowok, dan cowok itu tiba-tiba memeluk dirinya hingga serangan belati dari janu mengenai cowok itu.


"NANA!"


Teriakan itu mengejutkan dia. Samar samar dengan pandangan buram nya, dia melihat siluet seorang cowok yang sangat dikenalinya. Tangan besar yang memeluknya perlahan mengendor hingga menyisahkan noda darah di tubuhnya. Dirinya seketika merasa linglung dengan keadaan sekitar. Dunia seakan berhenti berputar. Sedangkan cowok yang terkena belati Janu itu sudah memegangi dadanya yang semakin sesak dan juga napas yang sudah tersendat.


Tubuhnya terkulai perlahan ke tanah sebelum seluruh kesadarannya habis dia bergumam.


"Sasa nya Nana, jangan pergi lagi!"


Kemudian seluruh keadaan menjadi hitam dan gelap.


Emosi Rafa memuncak. Kilatan mata merah nya siap menghabisi Janu. Saudara dan gadis yang dicintai nya terluka, tidak akan Rafa ampuni Janu.


Rafa merenggut belati dari tangan seseorang, entah dari siapa Rafa tidak peduli. Keadaan Janu yang membelakangi nya dimanfaatkan oleh laki laki itu, dilemparnya lah belati tersebut hingga berhasil tepat menancap di kepala bagian belakang Janu.


"Gue gak akan pernah mengampuni orang yang bermain-main sama orang yang gue sayang!"


...-bersambung-...


.......


.......


.......