RaLia

RaLia
PROLOG



Langkah cepat seseorang terdengar keras di koridor yang sepi.


Dadanya berdegup kencang, ia takut hal yang buruk terjadi. Suara orang di seberang telfon tadi terdengar sangat ketakutan.


Sebenarnya apa yang terjadi pada sepupu sekaligus sahabatnya itu. Dia bukan hanya sekedar sepupu namun seperti layaknya saudara kandung.


Semoga tak terjadi apa apa.


Tepat di depannya terlihat kerumunan orang orang yang sedang memperhatikan sesuatu yang tak bisa ia lihat dari tempatnya berdiri sekarang.


Rasa takut makin menggerogoti dirinya, apakah sepupunya celaka hingga di kerumuni banyak orang. Ia geram kenapa orang orang itu hanya diam saja.


Dengan cepat gadis itu kembali melangkah dan mencari sepupunya itu di dalam kerumunan.


Ia sangat lega setelah menemukan orang yang di carinya ternyata baik baik saja bahkan sesekali dia memekik bersamaan para cewek yang lain.


Gadis itu menarik pergelangan tangan sepupunya keluar dari kerumunan. Lihat saja apa yang akan ia lakukan, berani sekali membuatnya sangat takut.


"Ih sakit tau, lepas ngapa!" dia berusaha melepaskan tangannya yang sedang di cekal oleh gadis itu.


"Gak akan, maksud lo apaan bikin gue takut ajah, gak tau apa kalo jantung gue bentar lagi copot!" bukannya melepas, gadis itu malah semakin kuat menggenggam tangan sepupunya membuat pemilik tangan kesakitan. Siapa suruh buat orang takut.


"Iya gue jelasin, tapi lepas dulu, tangan gue perih," dengan wajah memelas. Karena merasa kasihan, gadis itu melepaskan cekalannya. Sebenarnya ia tak tega menyakiti sahabatnya ini, tapi sesekali gadis menyebalkan itu harus di beri pelajaran.


Setelah tangannya terlepas dia mengusap usap sambil meniupi tangannya yang memerah.


"Jadii?" menatap sahabatnya tajam.


"Lo gak takut apa di taman belakang sendirian! kan di sana serem. Gue takut lo kenapa napa, jadi gue panggil lo kesini sekalian ngasih tau, soal apa yang di lakuin si ganteng hari ini!" gadis itu menjelaskan.


"Tapi kan lo gak perlu bikin orang jantungan Acaa, gue kira lo beneran kenapa napa," gadis itu menghela nafas panjang, berusaha menormalkan emosinya.


"Abis nya lo kalo istirahat pasti di taman belakang mulu, gue bosen nemenin lo di tempat serem gitu, mumpung ada kejadian hangat, lo harus liat pasti seru dah!" semangat Aca.


"Kejadian apa sih?" malas nya.


"Liat dulu ajah Ellia sayang!" kemudian Aca menarik Ellia menerobos kerumunan hingga berada di paling depan hingga bisa melihat kejadian di lapangan di hadapannya dengan jelas.


Dengan malas Ellia menatap apa yang terjadi di hadapannya. Tidak ada yang menarik!. Hanya dua cowok yang sedang bertanding basket saja. Eeh tunggu, bukankan itu Rafa. Lantas apa peduli Ellia jika itu memang Rafa.


Rafa yang selalu di bicarakan sahabat di samping nya ini setiap hari. Eh tapi salah satu dari mereka itu Alan. Sahabat kecilnya.


"Lo liat cowok yang di pinggir sana, cowok ganteng yang peke kaca mata itu." tunjuk Aca pada seorang cowok tampan berkaca mata cukup tebal, tinggi, putih, rambut yang tertata sangat rapi juga seragam yang sangat rapi dari semua teman temannya, meski tampan, banyak yang memandang raka sebagai cowok yang sedikit culun yang dan entah memang menurut Ellia saja atau orang lain juga bahwa cowok itu hampir mirip dengan Rafa.


Ellia mengangguk"dia namanya Raka. Dia itu temennya Rafa yang ganteng juga. Dia idola gue nomor dua setelah Rafa. Meski keliatannya dikit culun," jelas Aca.


"Terus!" Ellia menyaksikan dua cowok di tengah lapangan yang sedang berebut bola dengan gesit.


"Tadi itu Alan nantangin Raka adu basket, terus Raka nya nolak, abis itu karena nolak, si Alan malah ngeremehin Raka. Pas banget waktu itu Rafa denger, jadi Rafa gak terima kan temannya di remehin gitu jadi si Rafa yang gantiin Raka," jelas Aca tentang sebab kejadian hari ini.


"Udah ganteng, pinter, jago basket, Rafa itu peduli banget sama temennya, ya ampunn... kapan Aca di peduliin abang Rafaa!" Ellia tidak mendengarkan sama sekali ucapan Aca dan masih fokus memperhatikan hal yang ada di hadapannya.


Beberapa saat kemudian pertandingan basket satu lawan satu itu berakhir, dan kemenangan berada di pihak Rafa.


Dari tempatnya Ellia melihat cowok itu mendorong kecil bahu Alan. Lalu berlalu ke pinggir lapangan menemui Raka.


Setelah itu teman teman Rafa yang lain ikut bergabung dan memberi selamat dengan senyum dan tawa mereka, terlihat mereka sedang tertawa kecuali Rafa.


Ellia menatap bingung Rafa, setiap melihat Rafa, pasti cowok itu selalu berwajah datar, dan sekarang Ellia lihat bahkan dengan teman temannya sendiri pun dia datar saja tanpa ada ekspresi sedikitpun.


Tiba tiba ada seorang cewek cantik menemui Rafa memberikan sebotol air mineral dan handuk kecil. Ellia tau dari kabar kabar yang di bawa Aca bahwa cowok itu playboy. Setiap cewek rela menjadi pacarnya walau hanya satu jam pun. Menurut Ellia itu bodoh.


Rafa mengambil air yang di berikan Raka untuk ia minum, kemudian mengambil air dari cewek itu lalu di siramkan pada kepala serta wajahnya. Hal itu terlihat sangat menawan di mata para cewek yang melihatnya membuat mereka memekik.


Lalu Rafa mengelap kepalanya dengan handuk dari pacarnya.


Cewek itu tersenyum manis pada Rafa. Lalu sedetik kemudian wajah cewek itu berubah lalu meninggalkan Rafa dan teman temannya.


Semua teman teman Rafa tertawa setelah cewek itu pergi, namun seperti biasa Rafa tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Aah...kenapa Ellia begitu memperhatikan cowok itu, apa urusannya. Tapi Ellia penasaran.


"Yok balik ke kelas!" ujar Aca lalu menarik Ellia meninggalkan tempat itu untuk masuk kelas karena bel akan berbunyi sebentar lagi.


***


"Kalo bukan karena lo, Raka gak akan menang sekarang!" Alan meremehkan.


"Raka gak akan pernah kalah selama masih ada gue, lo harus tau itu!" Rafa mendorong kecil bahu Alan lalu pergi dari hadapan alan menemui Raka di pinggir lapangan.


"Lo gapapa?" tanya Raka dengan wajah khawatir.


"Harus nya gue yang tanya, lo gapapa?" tanya balik Rafa.


Raka menggeleng"sampe kapan lo bersikap kayak gini, seakan akan gue emang gak bisa apa apa, gue masih bisa nolak Alan baik baik," ucap si cowok berkacamata itu.


"Tapi dia ngeremehin lo tadi. Saudara mana yang bisa liat saudaranya berusaha di permaluin orang lain," Rafa mengelus pundak Raka.


"Wey mantap bos, emang gitu tuh, sekali kali si Alan harus di kasih pelajaran!" tiba tiba tiga sahabat lainnya datang dengan kehebohan.


Raka tersenyum."maaf..."ujar Raka.


Rafa menggeleng.


"Lo tadi gak liat muka nya si Alan Rak! kesel banget dia tuh, gak berhasil lagi bikin malu lo," ucap Robi dengan senyumannya.


"Tapikan lo dah putus sama Naya, tuh cowok masih ajah dendam sama lo." kata Anan.


"Dia gak terima sama gue tuh, soalnya gue lebih ganteng dari pada dia, iri pasti!" ucap Raka lalu mereka tertawa tapi tidak dengan Rafa.


"Yoi pasti. Muka kaya ban truk ajah sok amat sialan!" kata Dirga.


"Ban truk bocor. Door!" pekik Anan lalu keempat cowok itu terbahak.


Tiba tiba dari belakang mereka datang seorang cewek cantik dengan seragam yang ngepas di tubuhnya, juga dandanan yang berlebihan, membawa sebotol air mineral dan handuk kecil.


Raka melihat kedatangan cewek itu baru sadar bahwa air yang hendak di berikannya pada Rafa masih ada di tangannya.


Dengan cepat Raka menyodorkan air tersebut tepat di hadapan wajah Rafa. Raka tidak ingin Rafa menerima air atau pemberian lainnya dari para cewek yang haus ketenaran.


Tapi Raka gagal, setelah Rafa meminum air pemberiannya, cowok itu masih menerima pemberian cewek itu.


Melihat wajah tak suka Raka,Rafa kemudian mengatakan hal yang tak menyenangkan bagi cewek itu.


"Kamu pasti capek kan, sampe keringetan gitu, nih handuknya, atau mau aku lapin ajah!" cewek itu menyodorkan handuk kecilnya dan di terima oleh Rafa.


"Hmm pergi!, kita putus!" ucap Rafa semudah itu membuat cewek itu dengan kesal pergi sambil menghentak hentak kasar lantai.


"NEENG!!ABANG JUGA KERINGETAN, GAK MAU LAPIN NIIH!!" teriak Anan dan di sambut gelakan tawa dari yang lainnya, pengecualian Rafa.


"BABANG CAPEK NIH, GAK DI KASIH MINUM JUGA!!" sambut Robi. Dari jauh cewek itu berdecak kesal dengan sikap sahabat mantan pacarnya.


"Kapan lo berubah, masih ada tiga cewek lagi Raf!" ujar Raka menatap sahabatnya serius.


"Kapan-kapan," jawab Rafa.


"Gue gak suka lo jadiin cewek sebagai mainan, gue udah bilang berkali-kali sama lo." Kata raka.


"Semua udah gue putusin, sisanya kapan-kapan." Raka menghela nafasnya pelan. Raka tidak pernah suka jika ada seseorang yang memperlakukan wanita sebagai mainan. Apalagi sahabat nya, dia tidak ingin Rafa tidak mendapatkan wanita yang tulus nanti. Menjaga Rafa adalah tugas nya. Tapi selama ini yang ia rasa adalah diri nya yang selalu di jaga oleh Rafa.


Dengan tidak sengaja mata Raka menangkap seorang gadis memperhatikan Rafa dari jauh.


Gadis itu sangat manis, cantik. Raka tak berhenti menatap gadis itu. Awalnya Raka tak peduli, tapi dari cara memandang gadis itu pada Rafa yang berbeda membuat Raka penasaran. Kenapa gadis itu memandangi Rafa seperti itu, hingga gadis itu di tarik pergi oleh temannya.


Sudah lah mungkin gadis itu memang gadis yang sama seperti lainnya yang sangat mengagumi Rafa.


-BERSAMBUNG-