RaLia

RaLia
Perkembangan.



USIA KEHAMILAN 3 BULAN.


Suara seseorang tengah memuntahkan sesuatu dipagi hari berhasil membuat ia terbangun dari tidurnya. Ini sudah biasa, jika dirinya sedang tidak mengalami mual dipagi hari, pasti suaminya lah yang mengantikan posisi itu. Begitupun sebaliknya.


"Sayang!, kepengin bubur durian..." rengek Raka begitu keluar dari toilet.


"Pagi-pagi begini?. Lagian di mana ada yang jual bubur durian," Ellia tidak habis pikir. Kenapa malah Raka yang ngidam aneh-aneh. Sementara dirinya setiap ngidam masih berada dibatas normal.


Seperti kemarin, ia hanya ngidam jus campuran mangga dan melon.


Drrt..drrt..


Getaran ponsel Raka mengalihkan perhatian Ellia.


"Itu, sekretaris kamu telepon."


"Halo!" Jawab Raka menerima panggilan.


"Karena hari ini bapak tidak ke kantor, apa saya bisa mengantarkan berkas ke rumah bapak?. Ini berkas penting," ucap Andra sekretaris Raka.


"Ya, bisa. Eh.. saya ingin minta tolong. Carikan saya bubur durian!" Ucapan Raka membuat Andra melongo disebrang telepon.


"Bubur durian pak?"


"Ya, kalo belum dapat jangan sekali kali datang ke sini!" Ancam lalu memutuskan sambungan telepon.


"Ada-ada ajah kamu," kata Ellia menggelengkan kepala. Perempuan itu hendak akan bangun dari atas ranjang namun Raka menariknya hingga terjatuh kembali ke atas ranjang. Tangan Raka mendekap erat tubuh istrinya, tidak mengizinkan Ellia pergi. Menenggelamkan wajahnya dileher istrinya sesekali menggesekkan hidung mancungnya di sana.


"Lepasin aku Sa, aku harus mandi," Ellia menggeliat berusaha melepaskan diri.


"Gak usah mandi, aku mau begini ajah sampai siang," rengek Raka manja, lelaki itu menghirup wangi tubuh baru bangun Ellia yang selalu menjadi candunya di pagi hari.


Setengah jam bertahan dalam posisi yang sangat nyaman itu, suara bel rumah terdengar ke setiap penjuru rumah. Ellia yang sebentar lagi akan terlelap, kembali membuka matanya lebar. Ia berusaha melepaskan diri dari kungkungan suaminya dengan perlahan takut pergerakannya membangunkan Raka dari tidur.


Tapi percuma, ketika sedikit lagi ia terlepas, Raka kembali mengeratkan pelukannya.


"Lepas dulu ih, itu ada tamu!"


Dengan itu Raka dengan terpaksa melepaskan istrinya. Enggan beranjak dari ranjangnya, Raka membiarkan dirinya berbaring dengan keadaan yang belum mandi.


"Itu, Andra udah datang," ucapan Ellia membuat Raka merasa terkejut. Secepat ini?, dimana dia bisa mendapatkan bubur durian.


"Kamu mandi dulu gih, gak enak banget mau nemuin orang tapi bau asem," titah Ellia berjalan ke lemari pakaian untuk menyiapkan pakaian ganti Raka.


"Kamu suruh dia tunggu di meja makan ya," pinta Raka langsung dituruti Ellia.


Sambil menunggu Raka turun, Ellia sambil lalu menyiapkan sarapan sekalian untuk Andra. Ia hanya membuat makanan yang simpel saja agar tidak memakan waktu, karena Andra harus kembali bekerja.


Ellia membuat roti lapis dengan isi irisan daging, sayur, saos tomat dan mayonaise.


Ellia dibuat terkejut dengan kedatangan Raka dari belakangnya mengambil sebuah mangkuk dan sendok.


"Mana bubur nya?" Andra langsung memberikan apa yang bosnya pinta itu.


Setelah memindahkan bubur durian itu ke mangkuk, Raka lalu mengdorong mangkuk tersebut ke hadapan Andra yang langsung memundurkan kursinya sambil menutup hidung. Ya, dia sangat tidak menyukai durian. Mati-matian Andra menahan bau durian itu tadi ketika menunggu pesanan itu dari tempat ia membeli. Dan apa ini?, apa bosnya sedang menjahilinya dengan mendekatkan bubur durian itu padahal dia tau kalau Andra anti dengan durian.


"Makan!, gue mau lihat lo makan habis ini," Gila!, sungguh ini adalah sesuatu yang gila. Ellia tau bahwa suaminya itu tengah mengidam. Tapi dia memberikan durian kepada Andra?, apakah dia akan membuat orang lain muntah-muntah.


"Tapi bos, ini laporannya harus segera ditanda tangani," Andra mengangkat tas yang dibawa nya mengingatkan pada Raka tujuan sebenarnya ia datang ke rumah itu.


"Itu nanti saja. Sekarang lo habisin ini didepan gue, atau gue gak akan nerima laporan lo itu dan gue gak ngebiarin lo keluar dari rumah ini sebelum bubur ini habis,"


Tolonglah siapapun, selamatkan Andra hari ini.


"Atau lo mau gue pecat!" Andra tidak bisa kehilangan pekerjaannya. Memakannya dengan cepat, tidak masalah kan muntah-muntah seharian. Daripada harus dipecat. Mau diberi makan apa istri dan anaknya di rumah.


Dengan tangan kiri menutup hidung, tangan kanan Andra mulai meraih sendok. Setelah mengucap doa dan menarik nafas, Andra dengan cepat memakan bubur durian itu tanpa jeda, menahan gejolak aneh yang mulai bereaksi dari dalam tubuhnya.


Sendokan terakhir selesai. Buru-buru Andra menyodorkan tas yang dibawanya pada Raka. Langsung saja lelaki itu berlari menuju toilet yang letaknya didekat dapur. Melihat itu Ellia merasa prihatin pada Andra, sekretaris suaminya itu pasti akan tersiksa karena akibat ulah ngidam suaminya.


"Sayang!, mana sarapannya?" Panggil Raka. Segera Ellia membawa nampan dengan tiga piring roti lapis.


"Kok tiga?" Tanya Raka.


"Satunya buat Andra," jawab Ellia meletakkan satu piring di depan Raka.


"Udahlah gak usah, dia kan barusan udah makan bubur." Kata Raka tanpa beban. Melupakan sesuatu yang sangat penting.


"Bubur apa aku tanya?"


"Bubur duri..." ah, Raka baru ingat sekarang. Apa yang ia lakukan tadi, dia telah meracuni orang.


...⚘⚘⚘...


USIA KEHAMILAN 5 BULAN.


akhirnya setelah dari pagi buta Raka bekerja, sore ini lelaki itu telah selesai dan sudah waktunya pulang. Begitu sampai di rumah, tidak seperti biasanya Ellia tidak menyambut dirinya pulang. Dimana istrinya itu berada, Raka sudah memanggil-manggil dan mencari keseluruh rumah. Rasa lelahnya seketika hilang berganti rasa cemas yang amat besar. Ia tidak bisa menemukan istrinya dimana-mana. Bahkan Ellia tidak meminta izin untuk pergi.


Ditengah kekalutan Raka telepon rumah berdering mengalihkan perhatian Raka. Ia mengangkat telepon itu dan terdengarlah suara seorang wanita dari sana.


Mendengar ucapan wanita itu, cepat-cepat Raka berlari keluar rumah menghampiri sebuah rumah tetangga yang berada di seberang rumahnya.


"Dimana istri saya?" Tanya Raka pada seorang wanita yang berdiri di dekat sebuah pohon di halaman rumahnya.


"I... itu," jawab wanita itu gugup menunjuk ke atas pohon.


"Ngapain kamu di sana, hah?. Ayo turun!" Raka tidak habis pikir, bagaimana bisa Ellia menaiki pohon jambu dengan keadaan perutnya yang buncit.


"Sebentar ya, aku mau petikin jambunya beberapa." Balas Ellia.


Perlahan-lahan namun pasti, wanita hamil itu berhasil turun dari pohon jambu yang lumayan tinggi itu dengan membawa peperbag berisi buah jambu yang dia petik.


"Maaf Pak Raka, saya sudah larang Mbak El buat manjat. Tapi, saya gak berhasil. Dia kekeh mau naik, padahal biarin ajah tukang kebun yang manjatin kalau Mbak El mau jambunya," ucap wanita pemilik rumah itu. Raka dan Ellia sudah cukup dekat dengan tetangganya ini. Mereka sangat baik dan ramah.


"Gapapa Mbak. Emang dasarnya ajah istri saya yang nakal," balas Raka menoyor pelan kepala istrinya yang masih sibuk memakan buah jambu.


"Ayo pulang!. Bikin orang khawatir ajah,"


"Terimakasih ya Mbak Ren jambunya," ucap Ellia mengangkat peperbag nya.


Renita tersenyum.


"Sama-sama. Nanti kalau kurang, ke sini ajah ya. Tapi gak boleh manjat sendiri," jawab Renita sambil mengelus perut buncitnya. Ya wanita itu juga sedang hamil.


"Beneran boleh?" Tanya Ellia dengan mata berbinar.


Renita mengangguk disambut sorakan Ellia. Dengan bahagia Ellia menarik suaminya untuk pulang sambil mengayunkan peperbag di tangannya.


...⚘⚘⚘...


USIA KEHAMILAN 7 BULAN.


Kediaman Raka dan Ellia hari ini tengah ramai dengan tamu-tamu. Ya, hari ini mereka menyelenggarakan acara Tujuh bulanan Ellia. Doa-doa dipanjatkan mengharapkan keselamatan ibu dan anak, diamini orang-orang.


Setelah beberapa doa dibacakan, para tamu perempuan satu persatu mendatangi Ellia. Meletakan tangannya di atas kepala Ellia sambil membacakan doa lalu mengusap lembut perut buncit Ellia.


Sementara itu pengisi acara yang mereka undang dari sebuah pesantren mendendangkan sholawat diiringi dengan hadroh.


"Perutnya udah sebesar ini, padahal masih tujuh bulan. Pasti ini kembar deh," ucap Aca mengelus gemas perut Ellia.


"Gemes-gemes ngeri gue liat perut lo,"


"Cepetan nikah makanya, biar lo bisa ngerasain apa yang gue rasain,"balas Ellia.


Aca menghela nafas panjang. Dirinya sudah bertunangan dengan Alan beberapa waktu lalu. Dan pernikahan akan dilakukan tidak lama lagi. Sampai hari ini meskipun sudah sering menghabiskan waktu bersama Alan, tapi Aca masih sangat merasa berat hati menerima keputusan orang tuanya. Sikap Alan kepadanya pun sangat terlihat jelas bahwa lelaki itu sangat tidak menginginkan hubungan ini.


"Lo masih belum bisa nerima?" Tanya Ellia melihat reaksi Aca.


"Gak tau lah. Btw gue laper nih, gue makan dulu ya," kata Aca lalu pergi.


Setelah kepergian Aca, seorang lelaki dengan kursi rodanya datang menghampiri Ellia.


"Gimana kabar lo?. Ini gue bawa hadiah buat ponakan gue," ujar orang itu memberikan kotak tidak terlalu besar pada Ellia.


"Baik, terimakasih Esther lo bisa sempat datang. Kabar lo gimana?" Balas Ellia menerima hadiah dari Esther.


Sudah lumayan lama Ellia tidak bertemu dengan teman-teman Cakrawala sejak dirinya menikah. Malvin, Esther dan lainnya mempunyai kesibukan di kota yang berbeda-beda. Karena kebetulan Esther ada urusan pekerjaan di sini, jadi lelaki itu menyempatkan diri untuk menghadiri undangan dari Ellia.


"Baik, mumpung ada di sini. Sekalian silaturrahmi," jawab Esther.


"Gue gak bisa lama nih, ada kerjaan. Udah ketemu lo cukup kali ya," lanjut Esther .


"Eh sebentar!. Tunggu dulu kalo mau pergi!" Ellia menyentuh kursi roda Esther menghentikan pergerakan Esther yang akan berbalik.


"SASA!" panggil Ellia pada Raka yang tidak jauh darinya.


"Kenapa, pengen sesuatu?" Raka langsung mendekat seketika itu.


"Tolong ambilin bingkisannya dong, kasihin Esther. Dia udah mau pergi," pinta Ellia.


Raka mengangguk kemudian pergi mengambil bingkisan yang sudah dipersiapkan untuk para tamu.


"Bawa pulang!. Makasih udah datang dan ngasih doa buat kami," ujar Raka lalu dia mengantarkan Esther sampai halaman hingga bertemu dengan pengawal Esther yang menunggu di sana.


"Kalo udah lahir, kabarin gue. Ponakan gue perempuan atau laki-laki!" Pesan Esther sebelum memasuki mobilnya.


"Siap, lo hati-hati!"


Setelah mobil itu melesat meninggalkan pekarangan rumahnya, Raka kembali memasuki rumah. Ia dibuat bingung dengan keadaan di sana, semua orang merasa panik mengerubungi sesuatu. Lelaki itu perlahan mendekat ke sumber kepanikan orang-orang. Terdengar pekikan wanita dari sana. Perasaan Raka seketika tidak enak.


"Mana nih suaminya, udah siap belum mobilnya?" Ucap seseorang.


Tiba-tiba seorang pria berlari masuk dari pintu utama melewati Raka. Orang-orang menyingkir memberi jalan pada pria itu. Dia mengangkat wanita yang memekik kesakitan itu dan membawanya keluar menuju mobil yang telah disiapkan.


"Sasa. Ayo susulin mereka, Mbak Renita mau lahiran!" Panggil Ellia panik.


"Sebentar ya sayang. Kita selesain doa nya dulu sebentar, habis itu kita susul mereka"


Ellia mengangguk menuruti kata suaminya dan tetap duduk di tempatnya menunggu doa penutup majelis selesai dibacakan.


.......


.......


.......


...-BERSAMBUNG-...