RaLia

RaLia
Kenapa?



"Lo bahagia?" Tanya Rafa menatap wajah Ellia serius.


"Gue pikir ini terlalu cepat, tapi gapapa. Gue bahagia, karena yang Papa pilih itu lo bukan orang lain." Gadis itu kembali mengumbar senyum bahagia nya. Melihat gadis itu bahagia, wajah datar Rafa berubah dengan terbitnya sebuah senyuman di sana.


"Sasa bahagia?" Tanya balik Ellia.


Rafa mengangguk kecil lalu mengusap kepala Ellia lembut.


"Iya, kalo gini berarti gak bakal ada yang bisa mutusin hubungan ini kan. Lo tunangan gue, dan orang lain gak bisa ngerusak hubungan ini,"


Kening Ellia mengernyit menatap Rafa bingung. Gadis itu tidak mengerti apa yang Rafa ucapkan.


"Gue cinta sama lo Na," jantung Ellia berdegup tidak normal mendengar apa yang Rafa ucapkan barusan.


Benarkah?. Ellia tidak salah dengar kan.


Gadis itu berbalik badan menghindari tatapan mahadasyat dari Rafa yang menyebabkan hati nya bergejolak.


Ia merasa sangat beruntung dengan perjodohan orang tua nya. Di jodohkan dengan orang yang tepat, Ellia tentu bahagia kan. "Sky, kamu bahagia?" Batin Ellia mendongakkan kepala menatap satu bintang yang paling bersinar di langit sana.


"Lo gak harus jawab apapun. Kegelisahan gue terjawab sekarang, gue takut lo gak terima dan gak bahagia sama pertunangan mendadak ini. Ayo masuk!, ini acara kita kan,"


Ellia kembali menurut dan mengikuti langkah Rafa yang menggenggam tangan nya erat kembali memasuki hotel dan kembali ke aula di mana pesta tengah berlangsung. Mereka bergabung di meja besar tempat dua keluarga besar mereka tengah asik makan bersama. Setelah mereka duduk, Nandini langsung menyiapkan makanan mereka masing masing.


"Ayo makan!" Kedua nya menurut dan melahap makanan mereka dengan khidmat.


Selagi mereka makan, kedua nya diam diam mendengarkan obrolan keluarga mereka.


"Untuk pernikahan nya, Mama pikir setelah mereka lulus baru kita adakan." Ujar Nenek Ellia.


"Rey juga pikir gitu, mereka masih kelas sebelas sekarang. Gimana Al!?" Balas Reynand.


Alvino menoleh ke arah Rafa dan Ellia sebentar lalu mengalihkan tatapan nya kepada Reynand.


"Iya, setelah mereka lulus, baru kita bicarakan tentang pernikahan. Yang penting sekarang mereka sudah terikat," jawab Alvino.


Setelah nya mereka mengobrol santai, membicarakan bisnis, juga keseharian anak-anak mereka. Rafa dan Ellia hanya diam mendengarkan obrolan asik orang orang itu. Ellia menguap merasa kantuk yang datang. Gadis itu sudah merasa bosan dengan pembicaraan orang dewasa itu. Sangat ingin rasanya merebahkan tubuhnya di ranjang empuk nan nyaman di kamar nya. Tanpa sadar gadis itu meletakkan kepala nya di atas meja dan mulai terlelap. Beberapa saat kemudian setelah semua orang itu sudah menyelesaikan obrolannya, mereka terkejut melihat Ellia yang tertidur.


"Kasihan cucu Oma kecapean. Rafa!, kamu gendong El bawa pulang ya."


Rafa pun langsung menurut dan mengangkat tubuh mungil Ellia kedalam gendongan nya. Mengatur posisi nyaman gadis itu supaya tidak terganggu dalam tidur nya. Melihat Ellia yang tidak bergerak sedikitpun, Rafa tau bahwa gadis itu sudah lelah.


...☘☘☘...


Pagi yang cerah seperti biasanya. Dengan semangat seperti biasa, Ellia menuruni tangga dengan cara melompat-lompat. Nandini dari bawah menatap ngeri pada apa yang putrinya lakukan. Mata nya melebar sambil berkacak pinggang.


"ELLIA ANAK NAKAL!. TERUS LOMPAT-LOMPAT SAMPE KAMU NYUNGSEP. MAMA SYUKURIN KAMU YA!" teriak Nandini tidak ada sabar dengan kelakuan putri nakal nya. Dan ya!. Di anak tangga terakhir gadis itu benar-benar terjatuh dengan bokong menyentuh lantai dengan kuat.


"PAPA!, HUAA SAKIT!" Jerit Ellia menangis keras.


Reynand yang duduk sambil menikmati kopinya meringis melihat itu. Pria itu bangkit dan membantu putrinya bangun, menuntun Ellia hingga tiba di meja makan. Nandini dengan santainya menyeruput teh nya berusaha tidak peduli pada Ellia, siapa suruh tidak mendengarkan.


"Alhamdulillah!" Ucap Nandini pelan dan itu masih terdengar di telinga Ellia. Gadis itu menatap sang ibu dengan mata berkaca kaca.


Ellia mengangguk pelan. Dengan perlahan gadis itu mulai memakan sarapannya. Sekali kali Ellia melirik Nandini yang nampak acuh. Tepat setelah sarapan nya selesai, suara bel rumah berbunyi. Ellia dengan cepat bangun dan menyampirkan tas di bahunya berjalan cepat menuju pintu mendahului kedua orang tuanya yang hendak bangun.


"Selamat pagi!" Sapa seseorang begitu Ellia membukakan pintu. Gadis itu tersenyum lebar pada orang itu.


"Selamat pagi juga Sasa!" Balas Ellia semangat.


"Udah sarapan?" Tanya Rafa. Ellia meengangguk sebagai jawaban.


"Ayo berangkat!" Ellia mengikuti langkah Rafa di belakang nya. Sebelum mencapai mobil Rafa, Ellia berhenti melangkah teringat ada sesuatu yang tertinggal.


Setelah pamit pada Rafa, gadis itu langsung berlari kembali memasuki rumah sampai langkahnya berhenti di ruang makan. Reynand dan Nandini nampak masih belum selesai juga dengan sarapan mereka. Ellia mengambil dua lembar roti tawar kemudian mengoleskan selai coklat kesukaan nya.


"Siapa yang datang?" Tanya Nandini.


"Sasa. El berangkat sekolah dulu Ma, Pa!" Ellia menyalimi tangan kedua orang tuanya  lalu pergi ke tempat Rafa menunggunya.


Selama perjalanan ke sekolah, Ellia nampak tenang di bangku samping Rafa yang sedang menyetir. Gadis itu melahap rotinya sambil memandangi pemandangan jalan raya yang mulai ramai. Menoleh ke sampingnya, Rafa terlihat fokus dengan menyetir nya. Wajah datar seperti biasa juga terlihat di wajah tampan itu. Ellia memandangi wajah tampan itu dengan kekaguman. Pantas saja banyak perempuan yang menyukai cowok itu, Rafa terlihat sangat tampan dari dekat. Dulu Ellia bersikap biasa saja setiap Aca mengagumi Rafa, dan sekarang malah dirinya ikut mengagumi Rafa. Mungkin ini adalah karma karena selalu mengabaikan dan mendiami Aca yang terus bercerita tentang kekagumannya terhadap Rafa.


"Sasa mau gak?" Tawar Ellia mendekatkan roti nya pada Rafa.


Cowok itu menoleh sebentar lalu membuka mulutnya menyuruh Ellia menyuapi nya.


"Enak!"


"Sasa udah sarapan kan tadi?" Tanya Ellia. Rafa menggeleng pelan sebagai jawaban.


Ellia terus menyuapi dirinya dan Rafa bergantian hingga roti di tangannya habis. Tak terasa pun mereka sudah sampai di sekolah. Mereka berjalan beriringan memasuki gedung sekolah. Di pintu besar gedung, mereka berpapasan dengan Raka. Ellia tersenyum manis dan melambaikan tangannya menyapa Raka. Tapi cowok itu tidak membalas dan malah menatap mereka berdua dengan tatapan tajam nya. Ellia menurunkan kembali tangannya dengan wajah murung. Tidak biasa nya Raka seperti itu, biasanya cowok itu selalu tersenyum padanya.


"Raka kenapa ya?" Gumam Ellia yang masih terdengar di telinga Rafa. Rafa tidak mengatakan apapun, cowok itu sudah sangat tahu kenapa Raka seperti itu.


Sesampainya di depan kelas Ellia, gadis itu melambaikan tangannya ke arah Rafa.


"Makasih Sasa, ke kantin dulu ya sebelum masuk kelas. Sarapan!." Rafa mengangguk dan mengacak rambut Ellia kemudian pergi.


Ellia hendak berbalik dan memasuki kelas, namun terlihat Alan yang melewati nya. Gadis itu tersenyum lebar.


"Halo Alan!" Sapa Ellia. Alan menghentikan langkah nya dan menoleh kepada Ellia.


"Iya!" Jawab Alan singkat lalu kembali melanjutkan langkah nya.


Gadis itu mengernyit bingung. Alan pun bersikap seperti itu. Apa dirinya punya salah pada Raka dan Alan. Kenapa kedua cowok itu mendiami nya seperti itu.


.......


.......


.......


...Bersambung...