
Kekuasaan dan pangkat tinggi. Siapa yang tidak menginginkan itu?. Orang berlomba-lomba untuk menggapai hal itu. Tidak jarang orang akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, walau dengan cara salah sekalipun. Menjadikan nyawa orang lain sebagai mainan di tangan mereka, mereka lupa kebenaran dan mengabaikan penderitaan orang lain. Ini sudah biasa, sudah terjadi sejak dulu. Dan sampai sekarangpun terus berjalan.
Malvin duduk dengan tidak tenang di ruang tengah markas Lucifer. Ia tidak sendiri, ada Vian, Raka dan juga Anan. Malvin harus segera menyelesaikan ini agar tidak ada lebih banyak lagi yang terluka. Orang itu sudah mulai mencoba menyakiti Esther. Malvin sudah memutuskan ini. Malvin tidak ingin jika Cakrawala yang selama ini ia jaga akan menjadi sebab terluka nya orang banyak. Sebelum Esther terluka, Malvin akan menghancurkan nya. Lebih baik Cakrawala bubar saja jika seperti itu, daripada dengan kehadirannya akan menjadi sebab terjadinya keributan.
Malvin harus menentukan nya sekarang.
"Kita tempur!, jangan biarin Esther bernasib kaya Langit. Kasih tau mereka buat nentuin tanggal!" Ujar Anan tegas. Lalu cowok bangkit di ikuti yang lainnya.
"Pilihan nya ada dua. Cakrawala bubar, atau jatuh ketangan kita!" Balas Malvin.
...🍃🍃🍃...
Gadis bernetra biru itu berulang kali menghela nafas. Lelah dengan apa yang di lakukan ibunya. Berulang kali Nandini membenahi penampilan putrinya. Rambut indah Ellia yang sudah di atur, terus berkali-kali Nandini atur ulang. Sampai pusing rasanya kepala Ellia. Make up tipis di wajah nya tidak di biarkan luntur sedikitpun. Gaun panjang pink yang begitu indah pas menempel di tubuh mungil itu. Nandini berdecak beberapa kali, Ellia sudah seperti putri raja sekarang.
"Ya ampun, anak siapa sih ini. Cantik nya!" Kata Nandini kagum dengan hasil karya tangan nya. Nandini bersikap seperti saat dulu Ellia kecil yang di dandani nya dengan berbagai gaun.
Ellia mendengus, "anak tante Roosie, saudara nya Aca!"
Nandini melotot, "gak ada. Kamu anak Mama!. Di kasih apa kamu sama Roosie?, puding, donat, kue?. Biar Mama buatin yang banyak. Mama gak bakal kasih kamu ke siapa pun sekalipun itu adik Mama sendiri."
"Iya iya Ellia cantik ini cuma anak Mama. Besok buatin yang banyak loh jangan lupa!" Ucap Ellia nyengir.
Nandini menatap jam di dinding kamar Ellia. Astaga!, karena terlalu asik mendandani Ellia, Nandini jadi lupa untuk bersiap diri. Acara akan di mulai kurang dari satu jam lagi, dan Nandini belum juga bersiap. Dengan buru-buru Nandini meninggalkan Ellia setelah sebelumnya sempat menjawab ucapan putri nya itu.
"Iya Mama buatin yang banyak, udah ya sayang Mama mau siap-siap juga!"
Ellia menatap heran pada ibu nya yang berlari cepat lalu hilang di pintu kamar. Sebenarnya sepenting apa acara pertemuan ini, kenapa Nandini sangat heboh dan harus merias Ellia dengan tangannya sendiri dan sangat menjaga penampilan Ellia. Mungkin ini pertemuan dengan orang penting dunia?,
Karena semua persiapan nya sudah siap, Ellia hanya bisa duduk bertahan di depan meja riasnya sembari menunggu Nandini selesai bersiap. Karena merasa bosan, gadis itu menjatuhkan kepalanya di atas meja. Matanya perlahan tertup hingga akhirnya terlelap.
"YA AMPUN ANAK GADIS!, AYO BERANGKAT SAYANG. KAMU TOKOH UTAMA NYA LOH!"
Seketika Ellia langsung terbangun mendengar teriakan maha dasyat yang berasal dari wanita tercinta nya.
Wajah terkejut dan bangun tidurnya nampak sangat lucu. Nandini hendak tertawa namun dia menahannya.
"Aku gak jadi ikut ya Ma, ini udah malem. El ngantuk pengen tidur ajah." Ucap Ellia lemas.
"Masa udah cantik gini gak jadi ikut sih. Mama dandanin kamu nya lama ya tadi. Sia-sia dong!" Bibir Nandini mengerucut sebal. Ini adalah malam istimewa putrinya. Nandini sudah sangat menanti-nantikan hal ini.
Dengan terpaksa, Ellia bangkit lalu mengambil tas selempang nya dan berjalan keluar meninggalkan Nandini. Wanita itu menggeleng geleng kepala, putri nya sekarang sudah besar. Tapi Nandini selalu merasa kalau Ellia itu masih anak kecil. Wanita itu tersenyum dengan pandangan kosong nya. Tangan kecil Ellia yang kemarin menggenggam erat tangan nya, malam ini Nandini yang akan menggenggam tangan itu dan menuntunnya menapaki jalan hidup selanjutnya.
Teriakan Ellia dari bawah kembali menyadarkan lamunan Nandini. Wanita itu mengusap setetes air mata yang tidak sengaja jatuh ke pipinya, kemudian pergi menyusul suami dan putrinya yang sudah menunggu.
Mobil Reynand berhenti tepat di depan pintu besar sebuah hotel besar. Ellia mengaga tidak percaya, sepenting apa pertemuan ini, sampai sampai harus di adakan di sebuah hotel mewah langganan para pebisnis besar indonesia. Butuh beberapa detik untuk gadis itu kembali normal, dan setelah itu Nandini langsung menarik tangan nya untuk turun dari mobil.
"Kami berdiri di sini untuk memberitahukan sebuah kabar gembira yang sudah sejak lama kami rencanakan dan baru sekarang bisa di wujudkan. Saya Reynand Widura Mahardika mengumumkan, acara ini di gelar untuk mengikat tali dua keluarga. Ellia Alsyana Mahardika dan Rafa Satria Putra, putra putri kebanggaan kami akan melakukan pertunangan guna untuk sebagai tali dari ikatan dua keluarga ini." Seketika suara tepukan tangan bergemuruh di seluruh aula itu. Dua nama keluarga besar di satukan malam ini. Keluarga Mahardika dan Keluarga Putra, yang di beritakan sudah dekat sejak lama. Tidak membingungkan mendapat kabar seperti itu mengingat berapa lama dua keluarga itu dekat.
Ellia menatap Rafa dengan wajah bingung nya. Dia diam dengan tatapan kosong nya masih mencerna apa yang Ayah nya katakan barusan. Gadis itu masih tetap diam walau Nandini sudah menuntunnya untuk sedikit maju bersama Rafa yang di tuntun Alvino.
Keterdiaman Ellia usai ketika seorang wanita tua yang masih terlihat cantik yang di yakininya adalah Nenek Rafa mendekati mereka dengan membawa nampan yang sudah di hias dengan bunga bunga dan di atasnya terdapat dua kotak cincin berlian.
Rafa sedari tadi diam dengan ekspresi datarnya tidak menolak ataupun mengeluarkan komentar nya tentang pertunangan mendadak ini. Nenek Rafa menyerahkan satu cincin pada tangan Rafa dan di terima begitu saja oleh cowok itu. Ellia menoleh ke arah kedua orang tua nya. Menatap mereka dengan wajah bingung nya.
"Papa!,"
"Kenapa sayang?, kalian udah kenal dan saling sayang sejak dulu kan." Ucap Reynand dengan suara pelan di telinga Ellia.
"Kenapa tiba-tiba?, El masih kecil Pa!" Protes Ellia dengan berbisik juga.
"Gapapa, ini baru cuma tunangan doang kok. Kamu percaya sama Sasa kan?"
Ellia tidak menjawab dan membiarkan saja saat Rafa mengambil tangan kirinya dan mulai memasangkan cincin itu di jari manis Ellia. Gadis itu bahagia dengan ikatan ini, hanya saja Ellia pikir ini terlalu cepat dan mendadak.
Ingat bahwa cowok yang memasangkan cincin itu adalah Sasa nya. Ellia percaya dengan Papa nya. Ellia percaya pada Sasa nya. Dengan ini Ellia tidak akan kehilangan Sasa nya lagi kan. Keinginan Sky terkabul.
Sekarang gantian, Ellia memasangkan cincin yang di serahkan oleh Nenek nya di jari Rafa.
Suara tepukan tangan bergemuruh di susul perta makan malam yang di mulai. Dari kejauhan, seorang cowok menatap Ellia dan Rafa yang berada di atas panggung dengan tatapan terluka nya.
"Cantik nya cucu Oma. Udah besar ya sekarang Ellia nya Oma!" Kata Nenek Ellia mengusap lembut rambut cucu nya.
"Oma... El kangen Oma!" Balas Ellia menghambur ke pelukan sang Nenek. Nenek Ellia pun membalas pelukan cucunya itu tak kalah erat.
"Suruh siapa kamu gak pernah datang ke rumah Oma. Besok datang ya, Oma bakal buatin kue coklat kesukaan El. Susu coklat juga!" Ellia memekik senang mendengar itu, gadis itu mengecup pipi sang Nenek.
Tawa Ellia terhenti ketika tangan kanan nya di tarik oleh Rafa. Ellia pamit pada Nenek nya dan pergi mengikuti kemana Rafa menariknya. Beberapa saat kemudian setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai di taman hotel. Pada malam hari taman itu terlihat sangat indah, Ellia bahkan terdiam memandangi ke indahan itu, sampai Rafa berdiri di depan Ellia menghadap gadis itu menatap wajah cantik di depannya. Wajah cowok itu masih tetap datar, senyum Ellia memudar melihat wajah Rafa yang nampak tidak bahagia. Ellia perhatikan cowok itu tidak tersenyum dari tadi.
"Sasa!" Panggil Ellia pelan.
.......
.......
.......
...Bersambung...