
"DASAR LICIK!" Teriak seorang laki-laki dengan sebuah luka kecil di lengannya.
Sedangkan di hadapannya saat ini sudah terjadi keributan besar. Banyak orang di hadapannya yang saling memukul satu sama lain. Di antara nya pun sudah ada yang terluka. Memang dasar nya iblis, tidak akan pernah bisa mengikuti aturan. Bahkan mereka melanggar keputusannya sendiri.
Ya benar. Cakrawala menyerang secara tiba-tiba di malam ini, melanggar aturannya sendiri yang mengatakan akan melangsungkan tawuran ini lusa. Cakrawala menyerang dengan di pimpin oleh orang licik itu, Janu. Janu yang menghalangi jalan mereka saat pulang sekolah tadi sore.
Markas Bharta seketika berantakan. Kaca-kaca yang pecah dan pintu besar utama yang rusak. Untung nya posisi markas itu berada di kawasan sepi dan jauh dari pemukiman. Beberapa saat lagi Lucifer akan datang menuntaskan amarah mereka.
Sebelum Lucifer datang, seluruh pasukan Bharta yang memang kebetulan sedang berkumpul malam ini terus melawan walau jumlah Cakrawala lebih banyak karena Cakrawala dibantu beberapa geng besar dari kota lain, seperti Bogor dan Bandung.
Kemampuan yang dimiliki Bharta mampu menahan serangan mendadak itu. Tapi tidak akan mungkin bisa menahan lebih lama lagi, mengingat posisi Cakrawala sekarang. Beberapa saat kemudian rombongan besar bermotor datang. Mereka langsung di perintahkan untuk menyerang melawan Cakrawala. Lucifer.
"Gimana aman?, lo semua baik-baik saja?" Tanya Malvin mendekat pada Anan dan Robi.
"Aman. Cuma kalo lo lebih telat lagi ini pasti udah nggak aman," jawab Robi.
"Mana si Rafa kagak ada lagi, anjir. Kemana lagi tuh anak," lanjut Robi.
Hanya Rafa saja yang tidak ada di sana. Eh tidak, Rafa dan Raka tidak ikut berkumpul di markas. Malvin memutar tubuh nya cepat lalu menendang seseorang yang hendak menyerangnya dari belakang.
Malvin menonjok membabi buta lawan nya yang bukan apa-apa itu, satu kali tendang orang itu langsung ambruk dan saat itulah Malvin menghabisi nya. Selesai dengan orang itu beberapa orang lain nya mengerubuni Malvin dan menyerang cowok itu secara bersamaan. Satu tonjokan berhasil mengenai Malvin membuat bibir cowok itu terluka.
Di belakang nya ada Anan yang sedang berkelahi melawan Janu dan Tio, ketua geng Manticore. Dalam hati Anan berdecih, sok jago tapi keroyokan. Beda lagi dengan Dirga, cowok itu melawan Gilang, ketua geng Leon dengan menggunakan balok kayu yang di rampas dari salah satu anggota musuh tadi. Biarkan saja, enak ajah gak adil gitu nyerang musuh yang gak bersenjata gak pake tangan kosong.
Dari agak kejauhan, Robi mencoba menyingkir ke tempat gelap menghindari musuh, sebab dia akan menghubungi Rafa. Rafa adalah wakil Anan, berjaga jaga takut terjadi sesuatu maka hanya Rafa saja yang mampu mengatasi semua nya.
"Di mana lo?"
"Di jalan,"
"Buru kesini!, Cakrawala sialan nyerang dadakan,"
"Gimana keadaan di sana?"
"Janu bangsat bawa geng Leon sama geng Manticore," Leon adalah sebuah geng terkuat di daerah Bogor. Sedangkan Manticore adalah geng terbesar di Bandung.
"Gue ke sana!"
Robi pun kembali bergabung bersama teman-temannya, cowok itu membantu Anan yang di serang dua arah oleh Janu dan Tio. Dengan sekali tendangan dari Robi Tio langsung tersungkur karena serangan mendadak itu.
Janu melayangkan sebuah tongkat besi yang di terjatuh dari tangan salah satu anggotanya ke arah kepala Anan. Kepala Anan akan terluka sangat parah jika saja dia terlambat satu detik saja untuk menghindar. Dengan lihai Anan memutar balikkan keadaan, tongkat besi di tangan Janu berhasil Anan dapatkan. Anan melayangkan pukulan demi pukulan pada Janu. Gerakan gesit Janu selalu berhasil membuat pukulan Anan meleset.
"Dasar pecundang!, ingkar sama omongan sendiri!" Ujar Anan terus menyerang Janu. Satu pukulan dari tongkat besi Anan berhasil mengenai lutut Janu hingga cowok itu terjatuh.
Janu mengerang kecil, perlahan cowok itu kembali berdiri dengan senyum remeh nya.
"Gue nggak ingkar, tadi gue bilang lusa. Tapi karena malam ini gue gabut, kenapa harus lusa,"
Anan kembali melayangkan tongkat besi itu ke arah Janu.
Di sisi lain Malvin menjatuhkan tiga orang sekaligus. Tanpa berhenti Malvin menghantam musuh-musuh yang menghalanginya. Malam ini seluruh anggota Lucifer berubah menjadi iblis yang sebenarnya, setiap musuh yang berada di hadapannya mereka babat habis hingga membuat pertahanan Cakrawala seketika melemah. Janu yang masih terus menghindari serangan bertubi-tubi Anan menoleh menatap seluruh anggota nya yang mulai berguguran. Seperti dugaannya, ini lah waktu nya.
Janu menekan sebuah tombol kecil yang tersembunyi di salah satu kancing jaket nya. Tidak lama kemudian rombongan motor dengan jumlah besar melebihi jumlah Lucifer yang di bawa Malvin datang dengan suara bising dari masing masing kenalpot motor motor itu. Janu tesenyum puas melihat Anan dan Malvin begitu juga inti Bharta dan Lucifer yang menghentikan gerakan mereka.
"Bahaya!," Batin Anan. Bagaimana tidak, jumlah pasukan Bharta dan Lucifer sudah berkurang sejak awal pertempuran. Dan di titik-titik kemenangan, mereka mengeluarkan seluruh pasukan Leon dan Manticore yang tersisa.
"HANCURKAN!" Teriak Janu mengintrupsi pasukan besar yang baru datang itu untuk menyerang.
Seketika keadaan berbanding terbalik dari sebelumnya. Pertahanan Bharta dan Lucifer semakin melemah. Banyak dari anggota nya yang tumbang. Tidak bisa!, malam ini semua nya harus selesai, Janu harus mendapat balasannya. Jika tidak selesai malam ini, maka hidup Esther dan dia akan terancam. Malvin tidak ingin melanggar janji nya pada sang sahabat.
Janu yang sebelumnya lemahpun seketika membalas setiap pukulan yang di dapatnya dari Anan. Janu menendang perut Anan dengan keras hingga membuat cowok itu terpental. Baru saja Anan bangkit, tanpa menunggu Anan Janu langsung menghujam tonjokan demi tonjokan ke wajah dan tubuh Anan.
Malvin, Vian, Dirga dan Robi di kepung musuh dengan berbentuk lingkaran, dan keempat cowok itu saling membelakangi memposisikan pose siaga. Dan setelah itulah mereka menyerang.
Dengan beberapa kali perlawanan Malvin berhasil keluar dari lingkaran itu dengan luka dan darah di sebagian tubuh nya. Malvin berlari menuju tempat Anan yang sudah hampir tumbang di serang oleh Janu, Tio dan Gilang. Gila memang. Malvin menarik kerah Gilang dan memukul cowok itu berkali kali tanpa jeda. Dan Dirga yang juga berhasil keluar dari lingkaran musuh tadi juga ikut menyerang Tio dan Janu.
Seorang anggota Lucifer mendekat dan membantu Anan yang sudah lemas bangkit lalu sedikit menyingkir dari kegaduhan itu.
Suara deru motor dan mobil mengalihkan pandangan Anan ke asal suara. Rafa membuka helm dari kepala nya lalu melemparkan benda itu ke kepala Janu. Berhasil, Janu langsung terjatuh. Rafa pun menyerang setiap pasukan Cakrawala yang menghadangnya. Cowok itu berhasil melawan musuh tanpa luka di tubuh nya.
Singa Bharta malam ini mengamuk, membabat kurang lebih separuh dari gabungan pasukan Leon dan Manticore. Dan hal itu menyebabkan luka dan darah di beberapa titik tubuhnya.
Pertahanan Rafa semakin goyah seiring berkurangnya jumlah musuh hingga sebuah benda keras memukul punggungnya dengan keras membuat cowok itu tersungkur dan memuntahkan darah dari mulut nya.
Cowok itu bangkit sambil memegangi kepala nya yang kembali bercucuran darah.
Perhatian orang-orang seketika teralihkan pada pelaku itu. Janu terkejut melihat siapa sosok yang baru datang dengan motor hitam besar nya. Pakaian nya serba hitam dan nampak tatapan matanya sangat tajam dari balik helm full face bagaikan kobaran api yang menyambar ke arah Janu.
...
...
Orang itu turun dari motor nya dan mendekat ke arah Janu dengan langkah lebar. Di setiap langkahnya tidak ada sedikitpun mata tajam itu berpaling dari wajah Janu. Siap membakar habis orang kurang ajar itu.
"DAPET PERINTAH DARIMANA LO, NYERANG MALAM INI HAH!" Teriak orang itu penuh emosi.
"Bukannya ini bagus," jawab Janu.
"Bagus. Punya posisi apa lo di Cakrawala?, udah berani bertindak tanpa perintah atau persetujuan ketua?" Balas orang itu sengit.
Janu tidak menjawab.
Orang itu mengitari pandangannya keseluruh tempat itu. Banyak anggota Lucifer dan Bharta yang tumbang. Matanya terpaku pada sosok Raka yang sedang membantu para anggota nya yang terluka menuntun masuk ke dalam markas. Orang itu menarik bibir nya tersenyum miring dari balik helm nya. Dia menepuk pundak Janu tiga kali.
"Tapi setidak nya lo menghasilkan," Janu pun tersenyum licik.
"Ayo, habisi yang tersisa!" Perintah orang itu, pertarungan yang sempat terhenti itupun kembali di teruskan. Kedatangan ketua Cakrawala itu semakin menipiskan jumlah Lucifer dan Bharta yang tersisa.
Malvin menatap orang itu dengan hati yang berdenyut nyeri. Tidak!, ini tidak boleh terjadi, kenapa dia harus datang. Dia bisa terluka. Malvin berharap Esther juga tidak akan datang. Ini situasi berbahaya.
Kini orang itu berhadapan langsung dengan Malvin. Malvin menatap orang di depannya itu dengan tatapan lembut. Yang sangat Malvin benci adalah, ia harus berkali-kali menghadapi orang yang selama ini di jaga nya dari jauh di dalam sebuah pertarungan seperti ini.
"Gak bisa kah lo percaya dan dengerin gue buat kali ini?, gue takut ini adalah kesempatan terakhir lo dan gue nggak sanggup buat merasa bersalah lagi," kata Malvin masih terus berusaha meyakinkan orang di hadapannya itu.
Orang itu lelah mendengar hal yang sama dari mulut Malvin setiap berhadapan dengan cowok itu. Apa yang mau Malvin buktikan sebenarnya. Bukannya bukti-bukti sudah mengarah kepada Malvin. Apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri itu sudah membuktikan kebenarannya. Untuk kebenaran apalagi yang ingin Malvin tunjukkan kepadanya.
Kepala Malvin terhempas menoleh ke kanan menerima satu tonjokan dari ketua Cakrawala itu. Malvin menerimanya, beribu-ribu kalipun ia dipukuli seperti ini oleh orang itu ia akan menerimanya dengan ikhlas.
"Kalo emang yang selalu pengen lo katakan ke gue itu memang kebenaran, langsung lo kasih bukti nya di depan gue!. Dengan omongan lo yang berulang-ulang itu nggak akan membuktikan apa-apa, kecuali lo bener-bener bawa bukti nyata nya!"
Setelah itu pukulan dan tonjokkan pun terus mengarah kepada Malvin tanpa di balas oleh cowok itu. Malvin hanya bisa menahan dan menangkis serangan orang itu tanpa mau membalas dengan hal yang sama.
Melihat mata sayu Malvin juga apa yang dilakukan cowok itu dengan tidak membalas serangan dari ketua Cakrawala itu menambah keraguan dan kebingungan di dalam hati orang itu. Malvin tidak pernah lelah terus ingin mengatakan kebenaran yang tidak pernah di percayainya itu, selama ini Malvin tidak pernah mau membalas setiap serangan nya di dalam tawuran sebelum sebelum nya, begitupun di tawuran malam ini. Padahal tubuh Malvin sudah dipenuhi luka bahkan pukulan darinya menyebabkan hidung cowok itu mengeluarkan darah. Ada apa ini, kenapa tiba-tiba dirinya merasakan keraguan yang semakin besar dalam hatinya. Orang itu mengarahkan pandangannya ke sekitar, anggota Bharta dan Lucifer sudah hampir habis, Rafa pun sudah mulai kehilangan pertahanan sebab mendapatkan luka-luka di sebagian tubuh nya sebab serangan Janu. Orang itu tanpa sadar menghentikan serangannya pada Malvin. Di angkatlah kedua tangan nya yang bergemetar itu dan di tatap nya.
Tatapan nya beralih kembali kepada Malvin yang tersungkur di tanah dengan noda darah di seluruh pakaian nya.
"Kenapa nggak melawan?, jangan jadi lemah!, tunjukin ke gue sekarang apa yang mau lo kasih tahu!" Orang itu melihat sosok Malvin yang tidak di kenalnya selama ini. Malvin yang di kenalnya adalah Malvin yang kuat, tangguh, tidak mudah menyerah dan Malvin yang keras kepala. Tapi apa ini, kenapa yang ada di hadapannya ini sekarang adalah Malvin yang lemah, pasrah, tidak berdaya, dan menerima apapun yang menimpanya. Ini sungguh bukanlah Malvin. Matanya sayu berkaca-kaca memperlihatkan cowok itu pasrah dengan semua ini.
BRUGH...
Seseorang anggota dari Cakrawala terhempas tepat di hadapan sang Leader, dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Seluruh wajahnya di penuhi darah, bagian dada cowok itu terus mengucurkan darah.
"Se... selamatin dir... diri loh!, orang-orang ituh, pengh... hianat yang seh sungguhnya!" Ucap nya orang itu dengan sedikit kekuatan yang masih tersisah. Malvin terkejut melihat orang itu yang ternyata adalah Dodit. Luka Dodit sangat parah melihat seluruh tubuh Dodit yang berdarah. Sesuatu telah terjadi.
Dengan sisa-sisa tenaga nya Dodit mengeluarkan sebuah handycam, perekam suara dan sebuah gulungan kertas yang ternoda oleh darah dari dalam sebuah kantung yang di bawanya. Dodit menyerahkan benda-benda itu pada ketua Cakrawala yang masih terpaku pada apa yang terjadi pada salah satu anggota nya itu.
Tangannya bergetar ketika mengambil benda benda itu dari Dodit. Satu persatu orang itu membuka isi dari pada benda-benda di tangannya. Keringat tiba-tiba bercucuran di dahi nya, darahnya berdesir, jantungnya berdegup tidak normal, pernapasan nya mulai tidak beraturan, seluruh tubuh nya bergetar hebat. Ini tidak mungkin, orang yang sangat di percayainya ternyata adalah penghianat terbesar.
BODOH!, dirinya seketika merasa sangat bodoh dengan apa yang dilakukan nya selama ini. Ia kira apa yang dilihatnya saat itu sudah sangat menunjukkan siapa yang salah, tetapi sebuah kenyataan sangat berbanding terbalik dengan kepercayaan nya selama ini.
Orang itu jatuh berlutut dengan air mata yang mengalir deras yang tidak terlalu terlihat di balik helm. Malvin menunduk dalam, akhirnya orang itu mengetahui yang sebenarnya.
BUGH...
orang itu tersungkur ke tanah begitu sebuah tongkat besi yang cukup besar menghantam punggung nya.
...-BERSAMBUNG-...
.......
.......
.......
...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK. ❤...