
Malam ini tim inti Bharta juga beberapa anggota mereka sedang berkumpul santai di sebuah warung sederhana, yang terletak tidak jauh dari SMA Mandala.
"Ya ampun naak, itu bukan gula, kamu mau minum es jeruk asin? udah, kamu duduk ajah di sana, biar mpok yang buatin," ucap Mpok Sinta pemilik warung itu. Lalu Mpok Sinta mengambil alih pekerjaan Anan melanjutkan membuat es jeruk lagi.
"Yah, Mpok gak bilang sih, harus nya ini toples di depannya di kasih tulisan, yang mana gula yang mana garem," jawab Anan yang selama ini memang tak bisa membedakan mana gula dan garam, cowok itu tak pernah sedikitpun mengenal bumbu-bumbu dapur. Dan sekarang dia dengan keras kepalanya ingin membantu Mpok Sinta yang sedang membuatkan pesanan orang-orang yang sedang asik dengan kesibukannya di luar sana.
Cowok itu memang sok tau. Pernah sekali dia membantu ibunya memasak sarapan waktu itu, karena ibunya tengah sibuk membuat kopi dan teh, jadi dia tidak di awasi sedikitpun. Hingga akhirnya yang terjadi, semua orang memakan sop daging yang manis dan pancake yang asin. Sungguh!. Sejak hari itu, ibu Anan tidak mengizinkan putra nya itu ikut campur ketika dia memasak. Dan Anan dengan semangatnya selalu ingin membantu meringankan pekerjaan ibunya.
"Lagian Mpok kan gak bakal salah ngambil gula. Sini biar di buang ajah itu es jeruk nya!" sebuah ide cemerlang tiba tiba muncul di otak Anan." udah biarin ajah mpok, siniin ajah itu semuanya, biar anan yang bawain keluar," kata Anan menunjuk nampan yang sudah siap dengan makanan pesanan teman temannya.
"Hati-hati ya nak," Anan mengangguk, lalu membawa nampan itu keluar memberikan pesanan itu pada ke empat temannya.
"Mau ganti profesi bos?" ucap salah satu cowok. "kenapa, lo mau gantiin gue hah!" jawab Anan menatap cowok itu garang. "Emang boleh?," kata cowok itu lagi.
"Boleh, boleh gue tebas tuh bibir," seketika cowok itu diam tak menjawab ucapan ketuanya lagi.
"Makasih bosqu," ujar Robi menerima semangkuk mi rebus dan segelas es jeruk. Raka, Rafa dan Dirga pun menerima makanan yang sama.
Mereka berlima pun mulai memakan makanan masing-masing, hingga...
"Uhuuk, apaan nih!" ujar nyaring Dirga menyemburkan es jeruk dari mulutnya. Anan menatap Dirga menahan tawanya.
"Weh anjir, jangan di sembur ke muka gue juga kale," kata Robi setelah mengelap wajahnya.
"Ini es jeruk atau es air laut sih!" Dirga menggerutu kesal. Berharap mendapatkan kesegaran setelah memakan makanan berkuah, malah yang di dapatnya siraman ombak air laut yang begitu asin di mulutnya.
"Ngapa sih?" tanya Robi. "Gula nya ketuker sama garem nih pasti." Jawab Dirga menyingkirkan gelasnya jauh-jauh.
"Punya gue manis kok," ucap Raka setelah meneguk es jeruk nya.
Dirga menatap hal aneh pada diri Anan, cowok itu menahan tawanya sambil makan. Wah gak bener nih! batin Dirga. Karena asik dengan makanannya, Dirga pun membalas perbuatan yang di yakininya adalah perbuatan si ketua sengklek itu.
Dengan gerakan pelan tak bersuara, Dirga menggeser gelas nya dan menukar dengan gelas Anan. Selesai, lihatlah hasil nya.
Byuur!
Setelah meneguk minuman itu, Anan pun melakukan hal yang sama seperti Dirga, dia menyemburkannya dan lagi-lagi wajah Robi menjadi korbannya.
"Hahahaaa seger gak tuh Rob, cuci muka dua kali," tawa Raka menggelegar melihat wajah kesal Robi yang basah akibat semburan semburan cinta dari dua sahabatnya.
"Hahaa kena karma lo bos, gimana enak bos?" Dirga pun ikut tertawa melihat Anan yang baru selesai meneguk minuman milik Robi, menghilangkan rasa asin yang tertinggal di lidahnya.
"Apa salah hamba ya Allah, kenapa selalu hamba," Robi mengangkat tangannya seperti sedang berdoa juga wajah nya yang dibuat semelas mungkin.
"Komuk lo anjir," tawa Dirga dan Raka tak berhenti juga. Wajah Robi yang masih basah dan memelas.
"Bang Rafa bantuin gue doung," rengek Robi memelas memegang lengan Rafa, mengganggu Rafa yang makan dalam diam."D L!" jawab Rafa membuat Robi mengernyitkan dahi bingung.
"apaan tuh," kata Robi.
"derita lo!" kata Rafa datar.
Tiin tin!!
Suara nyaring beberapa motor dari depan mengalihkan mereka. Disana ada beberapa motor yang berhenti, kira kira dua puluhan laki laki turun dari motor mereka masing masing.
Seketika lima cowok itu bangkit menghampiri orang-orang itu, melihat tim inti mereka bangkit, para anggota bharta yang lain yang ada di tempat itu ikut berdiri menyusul ketua mereka menemui sang tamu.
Dilihat dari lambang di jaket mereka,orang orang itu adalah gang Lucifer. Anan maju berhadapan dengan Malvin.
Belum ada tanda tanda kedua ketua geng itu mengatakan sesuatu. Hening, menunggu salah satu mereka memulai percakapan.
"Mau apa lo ke sini?" tanya Dion tak sabaran karena Anan tak kunjung juga bertanya. Anan mengangkat tangannya menghentikan Dion. Dion patuh dan diam.
"Hmm," dehem Anan, wajah cowok itu berubah menjadi datar sedari tadi. Berbeda dengan saat dia sedang mengerjai Dirga tadi.
"Gue denger lo mata-matain kita tawuran kemarin," ucap Malvin menatap Anan tanpa adanya tatapan permusuhan.
"Hm," jawab Anan dengan deheman lagi.
"Ham hem mulu lo," kekeh Malvin menimbulkan kebingungan di antara anggota Bharta.
"Gue mau ngomong pribadi sama lo berlima, minggu di Violet kafe!" ucap Malvin tersenyum ke arah Anan.
"Oke!" jawab Anan menyetujui. Lucifer pun kembali pada motor mereka dan pergi menjauh dari tempat itu.
"Kita gak pernah ada masalah sama mereka kan," kata Raka masih menatap kepergian Lucifer.
"Gak ada," jawab Anan.
"Yuk masuk," ajak Dirga. Lalu mereka pun kembali masuk ke dalam warung.
"Gue balik!" ucap Rafa di anggukan yang lain.
Malam semakin dingin, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Warung mpok Sinta pun sudah di tutup sejak tadi. Cowok berkaca mata dan berponi itu masih bertahan di sana. Semua temannya sudah pulang sejak warung di tutup. Tapi Dirga memutuskan untuk tetap di sana bersama Raka.
Hanya keheningan yang menyelimuti mereka, Dirga yang asik dengan game di handphone nya, dan Raka yang diam melamun memikirkan sesuatu.
Entah kenapa fikiran nya mengingat kejadian tadi sore. Suara merdu Ellia, tangannya yang menggenggam tangan mungil gadis itu, wajah cantik menawan milik Ellia, wajah manis nya yang semakin manis saat sedang memakan permen kapas.
Raka menatap tangannya sendiri. Dia tersenyum manis, mengingat tangan ini yang menggenggam tangan gadis bernetra biru itu. Bayangan anak-anak kecil yang ada di taman tadi semakin membuat Raka menatap intens telapak tangannya sendiri.
Dulu tangan ini lah yang selalu menggenggam tangan mungil milik Nana. Nana, lo di mana?.
Setengah jam berlalu. Dirga menyimpan kembali ponsel nya ke dalam saku jaket nya. Bersiap untuk pulang. "Gak mau balik lo?" Dirga menepuk pundak Raka.
"Hmm, yuk balik!" jawab Raka langsung mengambil jaket dan tas nya.
Raka memarkirkan mobil hitam miliknya di garasi rumah. Cowok itu melangkah memasuki rumah. Setelah menutup kembali pintu rumahnya, Raka melepas kaca mata dan menyisir poni di dahi nya ke belakang.
Cowok itu kembali melangkah untuk menaiki tangga, tapi sebuah suara yang sangat di kenalnya tiba-tiba menusuk indra pendengarannya. Raka menghela nafas kasar, dia diam berusaha tak peduli.
"DARI MANA SAJA KAMU, TIDAK MELIHAT JAM BERAPA SEKARANG, SUDAH BERAPA KALI SAYA PERINGATKAN." Raka tak menghiraukan teriakan pria paruh baya yang menatapnya tajam itu.
"KAMU INI ADALAH SEORANG KAKAK, HARUSNYA KAMU MEMBERI CONTOH ADIKMU, BUKAN KAMU YANG HARUS MENCONTOHNYA. LIHAT ADIKMU ITU, DIA SELALU MENURUT WALAU BEBERAPA KALI MELAKUKAN KESALAHAN."
"Terserah, walau saya selalu mengikuti ucapan anda, entah sampai kapan setiap hal yang saya lakukan selalu menjadi kesalahan di mata anda," jawab Raka dingin, berbeda dengan Raka di luar rumah.
"Kamu awasi adikmu, jaga dia!, jangan jauh-jauh dari dia, dan selalu ada di dekatnya, kalau saja saya tau dia terluka sedikitpun, kamu tidak akan saya lepaskan!" ucap pria itu masih dengan nada tingginya, menatap remaja laki-laki itu dengan tatapan menusuknya. Raka tetap menghiraukannya, dia melanjutkan langkahnya yang tertunda menaiki undakan anak tangga.
"Anak tidak tau diri!" gumam pria itu, tapi sayangnya tidak bisa di sebut gumaman karena masih sangat jelas terdengar di sepenjuru rumah yang sepi.
Raka tetap melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Sedangkan di sudut lain rumah itu, seseorang mendengar semuanya. Sangat jelas dan menyakitkan. Sudah sering dia mendengar teriakan dan bentakan yang seperti itu. Orang itu pun melangkah menyusul Raka.
Raka melepas seragam nya lalu pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi.
Beberapa lama kemudian Raka keluar sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk.
Dilihat lah orang yang sudah menunggunya sedang duduk di atas ranjang empuk milik Raka.
Raka mendekat dan duduk tepat di samping orang itu.
"Apa?" tanya Raka.
"Lo gak perlu jagain gue, karena di sini yang harusnya di jaga adalah lo, jangan dengerin dia, gue akan balikin yang seharusnya jadi milik lo," jawab cowok yang memiliki wajah begitu mirip dengan Raka.
"Haha, jangan seperti itu. Gue sadar diri, meskipun lo bisa balikin semuanya, tapi mengingat keadaan nya sekarang, semuanya percuma. Sekeras apapun kita mencegah, akhir cerita ini akan tetap sama," Raka tertawa hambar. Menertawakan takdir yang harus dia jalani.
"Jangan macam-macam Raf, semuanya gak akan berubah. Lo malah ngebuat gue semakin sulit," lanjut Raka menatap wajah adik kembaran nya.
"Tapi ini gak boleh berjalan kaya gini, lo gak pernah ngelakuin kesalahan sedikitpun. Apa adil kalo begini caranya. Gue merasa jadi orang paling kejam Rak, lo harus terus ngelindungin orang yang sangat baik-baik saja ini, sedangkan lo lah yang semestinya harus gue lindungi." suara cowok itu meninggi tidak menyetujui ucapan Raka.
"Jangan halangin gue Rak, gue gak akan ngebiarin semua ini terus berlanjut!" lanjutnya dengan kilatan emosi di matanya.
"SEMUA AKAN SIA-SIA RAFA!, LO MALAH AKAN BUNUH GUE. SETIDAK NYA KALO GUE GAK BISA APA-APA, GUE MASIH BISA NGELINDUNGIN LO, APA YANG GAK BISA GUE PUNYA AKAN JADI MILIK LO. SEMUA ITU SAMA AJAH BAGI GUE." Raka memegang dadanya, nafasnya menjadi tidak teratur tiba-tiba. Dadanya merasakan sakit, seakan ada sesuatu yang menekannya dengan keras.
"Haah, huuh, huuft..." Raka mencoba mengatur nafasnya yang semakin tercekat. Begitupun cengkeraman tangannya di dada yang semakin erat.
"RAKA!!" teriak Rafa panik langsung meraih tas Raka dan mengobrak abrik isinya, mencari tabung kecil yang berisi butiran-butiran yang di butuhkan Raka.
Setelah menemukannya, langsung saja dia berikan beberapa butir pil pada Raka beserta segelas air yang selalu tersedia di atas nakas.
Beberapa saat setelah Raka menelan nya, tubuh cowok itu melemas dan terjatuh di atas ranjang.
Rafa membenarkan posisi kakak kembarannya itu lalu berbaring di sebelahnya, menyusul Raka ke alam mimpi. Dia harap dalam mimpinya, semua ini berakhir. Beban berat dalam dadanya pun lenyap. Walau dalam mimpi.
Tapi di dunia nyata pun Rafa akan berjuang untuk membuat semua ini berakhir.
Rafa tidak sanggup jika harus mengalami kehilangan untuk kesekian kalinya.
.
.
.
Bersambung.
Rafa Satria Putra & ***Raka Sadewa Putra.
penampilan asli mereka. Tapi di cerita ini bayangkan saja kalau salah satu dari mereka memakai kaca mata dan gaya rambut poni ala korea gitu untuk peran Raka, oke👌***