RaLia

RaLia
Tidak bisa diubah?



Ellia Alsyana Mahardika. Hari ini kembali membuat para penghuni sekolah takjub dan terheran heran. Bagaimana tidak.


Seorang gadis manis dan lembut datang ke sekolah dengan mengendarai motor besar berwarna hitam. Ketika ia melepas helm nya, terpampang lah rambut panjang gadis itu yang sudah berbeda warna dari sebelumnya. Sangat bertolak belakang dengan sifat Ellia sebelum nya. Namun dengan adanya perubahan itu malah membuat Ellia tampak semakin lebih mempesona. Para lelaki menatap kagum pada gadis itu, bahkan para perempuan sendiri pun juga ikut terpesona akan kecantikan Ellia.



Ellia melangkah meninggalkan parkiran menenteng tas memasuki gedung sekolah. Karena bel masuk baru berbunyi, keadaan sekolah pun sangat ramai dan banyak guru-guru yang berlalu lalang.


"Hey!" Langkah Ellia terhenti.


"Apa ini?, kamu lupa peraturan sekolah. Kenapa ini rambut dicat kayak gini?" Omel seorang guru perempuan menunjuk nunjuk rambut Ellia.


Gadis itu memutar bola matanya. "Suka-suka,"


"Udah mulai berani kamu!, kenapa kamu jadi tiba-tiba berubah gini. Mulai berani melanggar aturan, kamu gak bisa seenak nya disini. Emang kamu siapa?" Guru itu menggeleng geleng, tidak percaya murid teladan seperti Ellia bisa tiba-tiba berubah drastis.


"Perkenalkan, Saya Ellia Alsyana Mahardika. Ibu tau siapa Mahardika?" Jawab Ellia berani menekan nama keluarga nya.


Seketika guru itu terdiam. Dia tau keluarga Mahardika adalah keluarga dengan pengaruh besar dalam bisnis indonesia. Apapun yang diputuskan mereka tidak akan pernah bisa sedikitpun untuk diubah.


Ellia meletakan ponselnya ke telinga menunggu seseorang di seberang sana menjawab panggilan nya.


"Gimana pun cara nya, keluarkan Melyana Aswitami dari SMA Mandala!"


" ... "


"Mengganggu!"


Mata guru itu pun membulat mendengar apa yang dikatakan Ellia. Sedangkan gadis itu tanpa mengucapkan apa-apa lagi langsung pergi meninggalkan guru itu sendiri.


...⚘⚘⚘...


"Woy!" Panggil Ellia pada seorang adik kelas berkaca mata yang melewati meja kantin yang ditempatinya.


"Iya kak,"


"Beliin gue makan, sama minumnya sekalian!" Titah Ellia memberikan beberapa lembar uang merah pada adik kelas itu.


Alan, Aca dan Esther menghela nafas mereka melihat itu. Mereka tidak habis fikir, karena kehilangan seseorang dapat menyebabkan gadis itu bertingkah semau nya. Mereka seketika kehilangan sosok Ellia yang manja dan manis.


BRAK!


"GUE KASIH DUIT BANYAK, YANG LO BELI CUMA MAKANAN KAYAK GINI!" Bentak Ellia menggebrak meja melihat makanan apa yang dibawa adik kelas itu.


"Ta... tapi kakak tadi gak bilang mau dibeliin apa. Jadi aku beliin makanan yang sehat ajah," jawab adik kelas itu pelan sambil menunduk. Tidak ada yang aneh dengan makanan yang dibawa gadis itu. Roti lapis dengan isian sayur dan yoghurt, juga jus apel.


Ellia berdecak. Bukan makanan ini yang diinginkan nya. Ia tidak suka isian roti itu, dan jus apel yang sama sekali tidak ia suka sejak kecil. Gadis itu menghempaskan piring diatas meja nya hingga terlempar dan hancur berantakan di lantai.


Kemudian Ellia pergi dari kantin, menyisakan keterkejutan para penghuni kantin.


...⚘⚘⚘...


Berkali kali tangan itu menonjok dinding gudang. Tidak peduli dengan keadaan tangannya yang sudah terluka dan berdarah. Melihat benda berkilau yang melingkar dijari nya membuat ia tiba-tiba emosi dan kesal. Dengan kasar Ellia melepas cincin pertunangan nya, tidak peduli dengan rasa sakit karena tangan yang terdapat cincin itulah yang ia gunakan untuk menonjok dinding. Kemudian dilemparkan lah benda itu kesembarang arah.


"Gue gak mau, gue buktiin gue bisa batalin hubungan ini. Emang nya lo siapa yang bisa maksa gue kayak gini. Yang gue mau itu Sasa, bukan cerminan nya." Geram Ellia.


Pukul sembilan malam. Gadis dengan surai pink itu berdiri di balkon kamar nya. Menyandar pada pembatas balkon menunggu kedatangan seseorang. Ellia mengadahkan wajah nya menatap langit gelap. Bintang dan bulan, gadis itu tersenyum menatapnya.


"Bulan dan bintang emang indah. Banyak orang yang bermimpi untuk memeluk nya tapi gak bisa. Aku bersyukur karena aku adalah orang yang paling beruntung, karena aku lah satu-satu nya yang bisa memeluk sesuatu yang bahkan jauh lebih indah daripada bintang."


Ucapan Sky tiba-tiba melintas dikepala nya.


'Kalo aku gak bisa kembali ke kamu lagi. Cari Sasa kamu itu, aku yakin walau sedikit. Kamu masih punya perasaan sama cowok itu. Aku juga percaya, dia bakal lindungin dan jaga kamu dengan baik. Aku takut gak punya banyak waktu lagi. Aku cinta kamu.'


Isi surat peninggalan Sky yang tergeletak di nakas kamar lelaki itu. Yang Ellia temukan setelah kematian Sky. Ellia yakin surat itu ditulis sebelum Sky pergi ketempat lelaki itu terbunuh. Dada Ellia nyeri mengingat Sky, Ellia tidak ingin kehilangan lagi.


Suara mobil memasuki gerbang mengalihakan pikiran Ellia. Orang yang ditunggu akhirnya datang. Buru-buru gadis itu berlari hingga hampir saja ia tersandung ditangga. Seorang pria paruh baya duduk bersandar di sofa ruang tamu dengan jas yang dilepas dan dasi yang dilonggarkan. Ellia tau dia sangat lelah, tapi tidak masalah. Dirinya kan putri kesayangan Reynand, pria itu tidak akan marah pada nya.


"Papa!" Seru Ellia.


Reynand langsung menegakkan duduk nya merentangkan tangan menyambut putri nya yang berlari kearah nya.


"Kok belum tidur?, kenapa hm?" Kata Reynand lembut. Dia bahagia melihat Ellia yang tersenyum lagi setelah beberapa waktu belakangan ini.


"Papa mau kasih apa yang El mau?"


Reynand mengangguk. Selagi bisa, apapun akan ia berikan untuk putrinya.


"Mau apa emang, sampe udah malem gini belum tidur nunggu Papa?"


Ellia diam sebentar, Papanya sangat menyangi dirinya. Pasti dia tidak akan menolak apa yang dipintanya.


"Aku mau minta, Papa batalin pertunangan aku sama Rafa ya. Aku gak suka sama dia Pa, aku ada cowok lain yang aku suka. Aku gak mau ngelanjutin ini," pinta Ellia dengan suara lembut.


"Raka. Iya kan, Papa tau El. Tapi kamu tau kan apa yang ditegasin sama Kakek Nenek kamu. Keluarga Mahardika kalau udah memutuskan sesuatu, maka gak ada cerita nya dibatalkan atau diubah. Supaya kita bisa bertanggung jawab sama apa yang udah kita tentuin dari awal nya. Papa bisa kasih kamu apapun. Tapi buat membantah perkataan Kakek Nenek kamu, Papa gak bisa. Apa yang bakal Kakek kamu bilang sama Papa nanti," sungguh Reynand pun ingin mengabulkan keinginan anaknya. Tapi keputusan yang diambil bersama orang tuanya itu, tidaklah mudah untuk ditentang.


"Aku tau Pa, coba kali ini ajah. Kakek gak akan marah kalo kita ingkar cuma sekali. Kesalahan pertama gak akan terlalu berat buat dapet maaf nya kan," Ellia terus membujuk dan meminta agar Reynand bisa mengabulkan keinginannya.


Reynand berdiri menatap Ellia dengan tatapan bersalah. "Maaf El, tapi Kakek kamu gak kayak gitu. Gak ada yang bisa ngebantah Kakek kamu itu." Kemudian Reynand pergi meninggalkan Ellia dengan tatapan kosong nya.


"Gue gak mau sama Rafa. Kakek harus dengerin gue!"


...-BERSAMBUNG-...