RaLia

RaLia
Bharta & Lucifer



Sesuai dengan janji waktu itu. Di malam minggu ini inti Bharta berkumpul di Violet kafe menunggu Lucifer yang belum datang. Mereka asik bercanda dan bergurau hingga lonceng di pintu kafe berbunyi dan muncullah orang orang yang mereka tunggu.


"Sorry telat!" ucap Malvin lalu mengambil tempat duduk di hadapan Anan, teman temannya pun ikut duduk memperhatikan percakapan serius kali ini.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Anan lalu kembali menyeruput kopi nya.


"Gue atas nama Lucifer mau menjalin hubungan persahabatan sama Bharta, kita gak pernah bermasalah, dan kami berjanji akan selalu ada di pihak kalian, dan berusaha membantu kalian semampu kami saat kalian butuh kami," jelas Malvin to the poin tanpa berbasa basi, sebab hal ini sangatlah penting.


"Lo pasti punya maksud lain kan," balas Raka menatap Malvin meneliti raut wajah dan mata Malvin.


"Gue serius, dan juga sebenarnya kami butuh bantuan kalian, tapi maksud gue ngajuin persahabatan bukan buat berharap bantuan kalian, gue bener-bener pengen menjalin persahabatan ini, kalaupun kalian gak mau bantu kami, kami akan tetep setia dan gak akan berhianat," sanggah Malvin.


"Apa jaminan lo kalo kalian berhianat?" ucap Anan tegas.


"Gue bersumpah, kalau kami berhianat atau salah satu dari kami, maka nyawa gue jaminannya, lo bisa habisin gue saat itu juga!" jawab Malvin dengan tegas pula.


Kelima cowok itu menatap Malvin dan beberapa anggota nya satu persatu, tidak ada kebohongan sedikitpun dari mata Malvin, lagi pun antara Bharta dan Lucifer tidak pernah bermasalah kan?, Cowok itu sudah bersumpah atas nyawa nya sendiri, tidak ada alasan lagi untuk mereka meragukan Malvin.


"Gue tau lo pasti ada masalah sekarang dan butuh bantuan kita, gue menerima uluran persahabatan ini, dan gue percaya sama lo," ucap Anan menepuk pundak Malvin beberapa kali.


Malvin tersenyum lebar, "Thanks bro!, gue janji gak akan menghianati kalian," jawab Malvin girang.


Robi dan Dirga menatap Anan menelisik sesuatu, namun Anan manganggukkan kepala nya sambil tersenyum dan mengedipkan matanya. Seolah berkata 'gue percaya'. Jika ketua mereka sudah yakin maka tidak akan ada kesalahan apapun.


"Oke, sudah selesai kan, ayolah makan-makan, gak seru lah kalo gak di rayain," kata Robi lalu mengangkat tangan nya memanggil pelayan.


"Oke, biar gue yang teraktir, kalian bisa pesen apapun!" balas Malvin membiarkan teman teman nya yang lain mengambil meja dan memesan.


"SIAP BOS!" seru lantang Lucifer.


Mereka pun mulai menikmati makanan mereka masing masing. "jangan pernah ragu buat traktir kita lagi ya bro hehe," kata Dirga di balas kekehan Malvin.


"Santai itu mah, gampang lah,"


"Anjim, emang bener ternyata ya, se enak-enaknya makanan, bakal lebih enak lagi kalo...dapet dari traktiran hehe.." kekeh Anan terus melahap makanan nya sendiri.


Dengan gemas Raka menoyor kepala Anan dari belakang, "gue kira lo bakal ngomong jauh lebih enak lagi kalo makan bareng bareng gini, taunya gitu pikiran lo, tapi gak salah sih hehe..."


Malvin tertawa melihat sifat asli ketua Bharta itu, ternyata benar, kedudukan tidak membuat Bharta menjadi angkuh.


Dan mungkin geng lainnya butuh ketua seperti Anan.


"Oh ya, kalian lagi dalem masalah kan, dan itu sebenarnya yang membuat kalian ingin bersahabat dengan kami?" kata Rafa tidak ikut menikmati makan nya hanya meminum secangkir kopi saja.


"Hmm, emang itu awalnya, tapi kayaknya gue ngerasa gak enak gitu sekarang kalo dateng dateng langsung minta bantuan, gue bakal urus sendiri dulu semampu gue," jawab Malvin.


"Gue udah yakin percaya sama lo, lo gak perlu ngerasa gak enak, kita bakal coba bantu," kata Anan sudah sangat yakin.


"Coba lo cerita!"


Malvin menggeleng "nanti ajah, sekarang waktunya perayaan," tidak ingin memaksa, Anan pun mengangguk dan melanjutkan melahap rakus makanan nya.


"Buset dah bos, udah kek babi ae lo, udah berapa taun gak makan?" Celetuk Robi tak habis pikir dengan ketua nya itu yang sangat senang makan apalagi hasil traktiran.


"Udah ... " ucapan Anan terputus akibat suara nyaring sebuah ponsel.


Malvin mengeluarkan ponsel nya dan mengangkat telepon dari wakil ketua Lucifer yang sedang berjaga markas.


"Halo!"


" Bos, markas di serang,"


Tiba tiba Malvin berdiri dari duduk nya membuat semua orang menatap Malvin yang nampak kaget.


"Siapa?" Tanya Malvin sebelum bergerak.


"Cakrawala," Malvin menggeram kesal, orang itu masih saja mengusik nya, apa lagi yang di inginkan orang itu. Setelah orang di sebrang menyebut Cakrawala, Malvin memutuskan panggilan itu.


"****, cabut!, markas di serang!" Titah Malvin langsung buru buru pergi bersama anggotanya tanpa pamit pada Bharta di karenakan lupa.


"Ayo!!," kelima cowok itupun ikut menyusul mengikuti rombongan Malvin, teringat keadaan Malvin terakhir kali saat tawuran dengan Cakrawala.


Beberapa menit kemudian rombongan itu berhenti di depan markas Lucifer yang nampak beberapa anggota Lucifer sedang melawan Cakrawala.


"Selamat datang sahabat!," ujar Janu menyambut kedatangan orang yang di tunggunya. Rahang Malvin mengeras, Janu lagi lagi membuat kerusuhan di markasnya.


"Apa lagi sekarang?" Tanya Malvin dengan nada dinginnya.


Dengan senyuman menjijikannya Janu mendekat ke arah Malvin, senyumnya melebar melihat beberapa orang di belakang Malvin.


"Ohho, kalian bergabung hah!, buat apa?, pengecut lo minta bantuan mereka!," tunjuk Janu pada lima cowok yang berada di belakang Malvin.


Janu tertawa dengan nada mengejek, dia fikir Lucifer akan takut dengan suara tawa itu, tidak akan lama lagi tawa Janu akan berubah menjadi air mata yang memohon atas hidupnya. Malvin akan pastikan itu.


"Sebelum itu terjadi, dia akan habis Malvin, lo bisa hitung waktu nya mulai dari sekarang,"


****! itu tidak boleh terjadi, Malvin harus bergerak cepat sekarang, jangan sampai ia terlambat lagi. Malvin tidak akan membiarkan kejadian dua tahun lalu terulang, Malvin tidak ingin mengingkari janjinya, jika sampai hal itu terjadi maka entah apa yang harus di lakukan Malvin.


"Kali ini gue gak akan biarin lo ngelakuin itu, jangan berhayal mengulangi tragedi itu Janu!, gue akan pastikan lo yang akan habis kali ini," tidak menghiraukan ucapan Malvin, Janu menepuk sekali pundak Malvin yang langsung di tepis oleh Malvin. Janu pergi dari tempat itu di ikuti para anggota nya, saat akan melewati Malvin Janu berhenti sebentar, Janu berbisik di telinga Malvin.


"Hitung mundur!,"


"Tiga,"


"Dua, dan..."


"BOOM!, haha,"


Pergilah Janu dari tempat itu di ikuti tatapan geram permusuhan dari mata anggota Lucifer yang ada di sana.


"Ayo masuk!, panggil Dodit juga!," Malvin melangkah memasuki markas nya, menyadari ada yang aneh, cowok itu menoleh dan kemudian menepuk jidad nya.


"WOY!," kelima Bharta itu terkejut. Mereka sedari tadi memperhatikan gerak gerik Janu hingga Cakrawala menghilang.


"Ngapain lo pada, di sini banyak setannya, hati-hati kesambet, ayo masuk!," ucap Malvin meneruskan langkahnya.


"Emang bener ya?" Tanya Robi memandang sekitar nya dan ternyata benar, tidak jauh dari sana ada kuburan yang terlihat sangat gelap.


Robi menoleh ke arah teman teman nya, bulu kuduk nya berdiri saat tidak terlihat teman teman nya di sana, apa dia di tinggal.


"Hihihihi..."


mendengar suara itu dari belakang nya, Robi sontak berlari dengan kecepatan penuh memasuki markas Lucifer di iringi teriakan maut dan suara tawa seseorang di belakangnya.


"HUAAA BANGSAT, NGAPA GUE DI TINGGAL SENDIRI WOYY!,"


"BWAHAHAHA..." Dirga tertawa ngakak menatap punggung Robi yang menjauh.


"Penakut dasar, sama setan ajah takut," Dirga menggeleng masih tertawa.


Tiba tiba langkah nya berhenti mendengar suara sesuatu di balik semak semak.


Sekarang gantian, Dirga merasa bulu kuduk nya berdiri karena angin yang berhembus menyentuh kulitnya.


"Jangan ada yang berani ngerjain gue!," ucap Dirga tidak berani menoleh.


Lalu suara yang sama seperti suara yang ia tiru untuk menakuti Robi tadi terdengar sangat nyaring.


Dengan keberaniannya, Dirga berbalik badan melihat ada apa di sana.


Cowok itu bergetar hebat, keringat mengucur deras setelah melihat bayangan putih terbang perlahan ke arah nya.


Dengan sisah tenaga nya, Dirga berlari kencang memasuki markas dan segera mengunci pintu hingga di pastikan terkunci rapat.


Dirga menggaruk lehernya yang sebenarnya tidak gatal, salah tingkah saat semua orang di sana menatapnya dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak, tiba tiba cowok itu datang grasak grusuk menutup dan mengunci pintu dengan raut wajah yang terlihat lucu di mata para anggota Lucifer juga sahabatnya.


"Kenape lo?, ketahuan maling daleman orang?," tanya Robi sambil menahan tawa.


Melihat tampang Robi membuat Dirga ingin mencekik cowok itu. Dirga yakin cowok itu tahu apa yang terjadi pada nya di luar.


"Gue kan dah bilang di luar banyak setannya, lo malah berani jailin orang bawa bawa setan, di datengin beneran kan lo, merasa di panggil tuh dia. Siap siap ajah dah lo..." ujar Malvin yang duduk di sebuah sofa dan melipat tangannya di depan dada.


"Siap-siap apaan?" Tanya Dirga merasakan akan ada hal aneh selanjutnya.


"Siap siap di peluk dia nanti pas lo tidur,"


Merasa takut, Dirga berlari ke arah Rafa lalu bersembunyi di punggung cowok itu sambil memeluknya erat.


"Anjing, minggir lo!" Rafa mendorong Dirga menjauh dari nya hingga Dirga terjatuh di depan Malvin.


"GUE HARUS APA?, TOLONGIN GUE ELAH, MENDING DI GODAIN BENCONG LAMPU MERAH GUE DARI PADA DI PELUK, DI ***** ***** SETAAN!,"


.


.


.


Bersambung.