RaLia

RaLia
Lukisan.



MAMA!, EL PULANG BAWA TEMEN NIH!" teriak Ellia menggelegar ke seluruh rumah.


Raka pun yang berdiri di samping Ellia menutup telinga nya.


"Ya ampun!, orang baru pulang harus nya ngucap salam bukan teriak-teriak gitu, apalagi bawa temen, malu dong El!" Tegur Nandini yang buru buru keluar dari arah dapur dan masih lengkap dengan celemek yang di pakainya.


Ellia terkekeh geli, "Maaf, Mama pasti lagi masak kan, El mau ganti baju dulu, Mama buatin makanan buat Raka ya!, nanti El turun lagi," ucap Ellia ngacir pergi menaiki tangga.


Nandini menggeleng lesu, "anak gadis, temen nya malah di tinggal, ayo duduk!" Ucap Nandini menuntun lengan Raka menuju ruang makan.


"Tante baru ajah selesai masak, pas banget El pulang, bawa temen lagi. Papa El juga pasti bentar lagi pulang, di minum dulu ya nak!, kita tunggu Papa El pulang dulu," Nandini meletakkan segelas jus di hadapan Raka.


Cowok itu tersenyum manis membalas ucapan Nandini dan mulai meneguk jus nya.


"Kamu sekelas sama El?" Tanya Nandini sambil menyiapkan masakan buatan nya juga alat makan di atas meja makan.


"Enggak tante, cuma temen satu ekskul," jawab Raka sopan. Nandini mengangguk.


"Assalamualaikum, eh ada tamu!" Salam Reynand baru datang di ikuti seorang cowok di belakang nya mendekati istrinya.


"Waalaikum salam, kamu bersih bersih dulu sana, terus makan!, Alan ayo duduk," ucap Nandini setelah menyalami Reynand.


Reynand mengangguk dan pergi ke kamarnya. Sedangkan Alan mengambil kursi di samping Raka dan menduduki nya.


"Kok lo di sini?, mau ngapain lo?" Tanya Alan kemudian menerima minum dari Nandini.


"Di ajak Ellia," jawab Raka.


Alan mengangguk. Raka menatap lekat Nandini, entah kenapa Raka merasa bahwa dia mengenal wanita paruh baya itu, Raka merasa bahwa mereka pernah bertemu sebelum nya tapi kapan dan dimana?.


"Ada apa Raka?" Tanya Nandini bingung di tatap seperti itu oleh Nandini.


"Enggak tante, cuma saya ingat seseorang," jawab Raka.


Nandini terkekeh. "Kirain kenapa,"


Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari lantai atas, membuat mereka mengalihkan pandangan nya pada sepasang ayah dan anak yang sedang ribut di tangga paling atas.


"Papa gak bisa curang, El bakal sampe ke meja makan duluan," kata Ellia berlari menuruni tangga dan menghalangi jalan kanan kiri nya dengan ke dua tangann nya, supaya Reynand tidak bisa mendahului nya.


Gadis itu berlari dan langsung menduduki kursi samping Alan. Ellia menoleh ke arah Ayah nya yang berjalan pelan kearah mereka.


"Yeey Papa kalah, El menang sampe meja makan duluan, jadi El duluan yang di kasih makanannya sama Mama," girang Ellia lalu membalik piring di hadapannya dan menyodorkan piring itu ke arah Nandini.


"El duluan!" Kata Ellia dengan senyum senang nya.


"Gak ada, Raka sama Alan duluan yang Mama siapin," balas Nandini mengambil piring Raka dan mengisinya dengan makanan.


Ellia merengut lucu kembali meletakkan piringnya ke atas meja.


"Alan dari tadi?" Tanya Ellia.


"Iya, gue ada bawa sesuatu buat lo," jawab Alan membuat Ellia merasa senang.


"Beneran, bawa apa?"


"Eh, udah dulu ngobrol nya yuk, kita makan dulu ya," kata Nandini di sambut senang Ellia. Gadis itu memang sedang lapar sekarang.


Mereka semua makan dalam keadaan khidmat dan tenang, Raka pun sangat menikmati nya. Masakan Nandini terasa sangat lezat, sama seperti buatan ibu nya, Raka jadi teringat ibu nya sekarang. Dia sangat merindukan malaikat nya itu. Ini sangat persis seperti apa yang di buat ibu nya. Sudah sangat lama setelah hari itu. Raka tidak menyesal dengan keadaan nya sekarang. Apa yang terjadi pada diri nya sekarang adalah bayaran atas apa yang sudah terjadi.


"Bunda, Raka rindu!"


...⚘⚘⚘...


Ellia berdecak kesal karena rengekan cowok bernama Alan itu. Pekerjaan nya terganggu, akan lama untuk selesai jika begini.


"Alan diem dulu dong iih, gantian!, ini tinggal dikit lagi, nyebelin banget sih!" kata Ellia gemas menarik rambut Alan sebentar lalu di lepaskan nya.


"Buruan El!. Curang lo. Masa Raka ganteng banget di situ, gue mau di lukis lebih ganteng dari Raka pokok nya!" Tunjuk Alan pada lukisan Raka yang di buat Ellia.


"Yah, emang Raka lebih ganteng dari lo kok, wlee.." Ellia menjulurkan lidahnya.


Raka yang hanya duduk diam di depan Ellia merasa pipi nya memanas, mendengar ucapan Ellia barusan. Raka jadi bergerak gelisah saat Ellia kembali memusatkan mata biru nya pada Raka.


"Kok gerak-gerak gitu sih, capek ya?. Dikit lagi kok ini," kata Ellia terus mengoleskan kuas nya ke kanvas.


Alan berdecak "masih gantengan gue kemana mana kali,"


"Biarin, yang penting ganteng," Ellia memutar bola mata nya jengah mendengar itu.


"Masih lama gak sih, gue tidur dulu kalo gitu," Alan tidak sabaran. Dia iri pada Raka, dia ingin juga di lukis. Cowok itu merebahkan tubuh nya di atas lantai tempat itu. Memandangi langit langit juga keseluruhan ruangan khusus milik Ellia.


Di tembok ruangan itu terdapat beberapa lukisan hasil karya nya. Yang paling mencolok dari lukisan-lukisan itu adalah sebuah lukisan besar terbingkai yang tergantung di satu sisi tembok. Reynand, Nandini juga Ellia terntunya berada di dalam lukisan itu. Alan ingat, Ellia bilang butuh waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan lukisan keluarga itu. Ada lukisan dirinya bersama gadis itu juga di antara lukisan-lukisan itu. Sangat indah, namun lukisan yang tergantung di sebelah nya itu membuat Alan tersenyum pahit.


Lukisan wajah Sky.


Gadis itu lebih sering melukis wajah Sky dari pada lukisan lainnya.


Mata Alan terpejam mulai tertidur menunggu Ellia sangat lama.


Di tempat duduk nya Raka mulai jahil. Cowok itu memeletkan lidah nya dan membuat wajah konyol. Ellia yang mengalihkan wajah nya dari lukisan nya terkejut.


"Kok gitu sih," Raka terkekeh.


"Ayo lukis wajah gue!" Raka kembali menunjukkan wajah konyol nya.


"Bentar!, nah udah selesai!" Ucap Ellia bangkit dari duduk nya lalu menarik Raka agar melihat karya nya.


"Masih ganteng kok, kenapa gak lukis wajah gue yang barusan?"


"Udah jadi ini kok," jawab Ellia.


"Gue bakal pajang lukisan ini di dinding kamar gue, gue bakal selalu ingat kalo lukisan ini adalah karya lo. Dan yang spesial nya adalah, ini wajah gue, diri gue yang di lukis dengan tangan mungil lo," ucap Raka tulus.


Gadis bermata biru itu pun tersenyum.


"Makasih, gue ngerasa tersanjung, " kata Ellia.


Gadis itu menolehkan kepalanya ke tempat di mana Alan tidur. Tiba-tiba sesuatu melintas di pikirannya setelah melihat kuas cat di tangannya.


"Main-main yuk!" Ajak Ellia membawa wadah cat nya dan mendekati tempat Alan.


Di pandangilah wajah tampan Alan beberapa saat. Raka menatap Ellia bingung. Apa yang akan gadis itu lakukan.


"Ganteng banget ya ampun sahabat gue!" Kata Ellia sambil kemudian menggoreskan kuat cat nya ke pipi Alan membentuk kumis kucing, lalu ke hidung nya membentuk bulatan. Terakhir ke dahi Alan.


"Kalo gini kan tambah ganteng, lucu nya,"


Ckreek...


Ellia mengambil gambar wajah Alan.


Raka menggelengkan kepala nya memperhatikan apa yang gadis itu lakukan.


"Raka, coba merem deh!" Pinta Ellia.


"Mau ngapain?" Raka menatap gadis itu curiga.


"Udaah, merem ajah!" Raka tak juga kunjung menutup matanya membuat Ellia gemas lalu mencengkram kuat rahang Raka dengan tangan kiri nya, menahan agar kepala cowok tidak bergerak. Kemudian gadis itu mencelupkan kuas nya ke dalam cat dan menggambar sebuah bintang di pipi kiri Raka. Cowok itu hendak melepaskan diri, namun melihat wajah antusias Ellia, Raka kembali tidak bisa melawan, membiarkan gadis itu menggambar apapun di wajah nya.


"Hahaha... kalian cakep banget!" Girang Ellia bertepuk tangan melihat wajah Raka.


Mendengar pekikan Ellia, seketika Alan terbangun. Cowok itu mengerjapkan mata nya seperti orang polos, lalu menoleh ke arah Ellia yang tertawa girang bersama Raka.


"Lo apain itu anak orang El?," Ellia menoleh ke sumber suara. Seketika tawa nya semakin meledak melihat wajah corat coret Alan yang baru bangun tidur.


"Lah, malah ketawa nih anak," ucap Alan bingung menggaruk kepalanya nya.


Sungguh wajah Alan sangat lucu saat ini. Ellia akan memasukkan foto Alan yang di ambil nya tadi ke instagram, dapat di pastikan, wajah imut Alan akan menjadi berita paling ramai di sekolah besok.


Entah dapat dari mana, Raka melemparkan sebuah cermin kecil pada Alan. Mungkin cowok itu menemukan cermin itu di sebuah rak tempat Ellia menyimpan cat-cat nya.


"ASTAGA, LO APAIN MUKA GANTENG GUE EL!" Teriak Alan setelah terkejut melihat wajah nya sendiri di pantulan cermin.


"Gue anak baik, pasrah di apain ajah sama cewek satu ini," ucap Raka semakin membuat Ellia tidak dapat menghentikan tawa nya. Sedangkan Alan dengan wajah memerahnya menatap Ellia dengan pendangan gemas.


"Untung sayang!"


.


Bersambung