
Dua kelompok gang sudah berkumpul di sebuah lahan lapangan luas yang sepi, karena di sekitar kawasan sana banyak pabrik dan gedung tua yang sudah tak terpakai dan terbengkalai.
Lokasi inilah tempat biasa nya geng seperti mereka melakukan tawuran.
Dari kedua belah pihak sudah siap di tempatnya masing-masing, sesuai kesepakatan, tidak boleh ada yang membawa senjata apapun.
Dua orang yang di ketahui sebagai katua dari masing-masing kelompok itu berjalan maju berhadap-hadapan membicarakan sesuatu sebelum pertempuran di mulai.
"Kenapa lo gak mau buka penutup wajah lo itu, percuma. Gak ada orang asing di sini," ucap seorang laki-laki yang menggunakan jaket kebanggaannya.
Seseorang yang di ajak bicara itupun tersenyum di balik penutup wajahnya. Orang itu menggunakan pakaian serba tertutup, jaket kebanggan Cakrawala yang sedikit kebesaran di luar kaos abu abunya, topi hitam menutupi rambut, masker hitam menutupi wajah nya, dan satu kain meliliti leher. Siapapun tidak akan bisa mengenali orang itu, hanya sepasang mata indah yang terlihat mampu menghipnotis siapapun yang menatapnya.
"Orang asing, ada mata-mata di sekitar sini," kata orang itu menatap lawannya.
"Oke, sebenarnya gue gak mau kaya gini terus, lo harus dengerin penjelasan gue," ucap Malvin si ketua Lucifer.
"Penjelasan apa?, semua bukti udah menjelaskan bahwa lo adalah penghianat, gue gak akan ngebiarin orang kaya lo damai setelah merenggut orang yang sangat berharga bagi gue," ucap orang berpakaian tertutup itu, dialah leader Cakrawala. Tak seorang pun yang mengetahui wajahnya, kecuali Cakrawala dan Lucifer.
"Baiklah kalo lo gak mau dengerin gue dan membantah kenyataan yang ada, tapi lo harus buka mata, penghianat itu ada di sekitar lo,"
"Terserah, lo sendiri gak bisa ngebuktiin diri lo gak salah, dan lo malah nuduh orang tanpa bukti, sekarang kita mulai, gue muak berhadapan sama lo, dan bilang sama anak buah lo itu, jangan beraninya mengusik anggota gue," ucap ketua Cakrawala, lalu dia mundur kembali pada posisinya,di depan anggota Cakrawala yang sudah mengatur formasi dan posisi mereka.
"KALIAN INGET KATA KATA GUE!!" suara lantang Malvin memperingati anggotanya.
"JANGAN BANYAK BACOT, MAJUU!!" teriak Janu si wakil ketua Cakrawala memulai tawuran itu. Hingga terjadilah pertempuran dua geng yang sudah lama berselisih itu.
****
"Waah gila, formasi mereka bagus banget, tapi kita gak kalah bagus sih," ucap Robi yang memperhatikan layar laptop di markas Bharta bersama ke empat sahabatnya.
"Lo liat gerakan ketua Cakrawala itu, meski badan nya kecil, dia gampang banget ngabisin banyak musuh sekaligus." kata Robi yang mencatat poin penting yang terdapat di diri ketua Cakrawala.
"Dia bukan orang biasa, wajar mereka secepat itu menggeser posisi kita," ujar Anan, mata cowok itu memperhatikan pertempuran yang sudah setengah jam terjadi tapi Lucifer belum juga menyerah meski sudah banyak dari mereka yang berjatuhan.
"Pergi lo, masih berani lo ngusik gue?" terdengar suara ketua Cakrawala itu dari balik maskernya. Terlihat Malvin pergi meninggalkan tempat itu dengan semua anggota nya, mereka berjalan dengan susah payah untuk mencapai kendaraan masing masing.
"Stop!" ujar Raka tiba-tiba saat orang dengan pakaian tertutup itu berbalik menghadap tepat ke kamera.
Dirga pun menuruti Raka dan mem pause nya.
Raka mengambil alih mouse di tangan Dirga dan mulai memperhatikan hal yang aneh pada orang itu.
Di zoom nya tepat di bagian mata orang itu. Tunggu! Ada yang aneh kah dengan kedua mata itu?.
"Mata nya, kenapa gak asing ya, gue rasa pernah liat mata ini," tunjuk Raka pada mata orang itu di layar laptop.
"Banyak kali orang matanya biru kaya gitu, gue sama adek gue ajah sama kan kaya gitu," jawab Robi menunjuk matanya sendiri yang berwarna biru.
Raka menghela nafasnya lega, melihat sepasang mata biru itu, sangatlah tidak asing, dia pernah melihatnya namun lupa, dan barulah dia ingat di mana melihat nya, Robi dan adik nya memiliki warna mata yang sama.
Nenek Robi berasal dari belanda, jadilah cowok itu mewarisi netra Neneknya. Mereka berlima pun sering ngumpul di rumah Robi sambil mengajak adik manis Robi bermain.
Saat Raka kembali melanjutkan tontonan di laptopnya, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari laptop itu seiring menampilkan punggung Leader Cakrawala yang mulai berjalan menjauh membelakangi kamera, kemudian mereka kembali di buat kaget saat layar laptop itu menjadi gelap seketika setelah Leader Cakrawala itu tampak melemparkan sesuatu ke arah kamera yang di pasang Raka.
"Buset! kamera sekecil itu masih ketahuan juga, bisa bisa nya dia ngancurin kamera itu dari jauh!" Decak Dirga tidak menyangka orang itu bisa melakukan itu dari jarak jauh, sedangkan Dirga sendiri sudah meneliti sekecil apa kamera itu, kamera yang entah di dapat dari mana oleh Raka, yang ukurannya setara dengan besar ujung jari telunjuk nya.
Raka menutup laptop itu dan menyenderkan tubuh nya di sandaran sofa.
"Siapa?,"
****
Bersambung❤