RaLia

RaLia
Bersama Raka.



"Waah, ini beneran, makasih Alan!" Ellia memeluk bungkusan berisi lima batang coklat, beberapa botol susu coklat kesukaan nya dari kafe favorit nya, beberapa bungkus roti coklat dari toko roti langganan Mama nya, di tambah sebuah boneka beruang coklat ukuran kecil namun tidak terlalu kecil, masih bisa untuk di peluk.


Ellia tidak percaya, ada apa gerangan Alan memberinya sesuatu berbau coklat ini. Ellia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya. Senyumnya terus terpancar sambil memeluk boneka beruang lembut itu yang sudah di keluarkan dari bungkusan.


"Ada apa nih?" Alan menggaruk tengkuknya, "biasa lah El, dikasih uang banyak sama bokap, abis bantuin ngerjain tugas kantor," Ellia ber oh, mengerti. Alan memang sering di suruh untuk membantu ayah nya soal tugas kantor. Kata nya supaya saat ayah Alan memberikan perusaan itu pada Alan, cowok itu sudah mengerti karena sejak sekarang sudah di suruh belajar mengurus perusahaan.


"Besok-besok banyakan dong," Alan menyentil kening Ellia pelan, Ellia mengaduh pelan. Sebenarnya tidak lah sakit." Gak ada kenyangnya ya lo, itu juga udah gue tambahin, kemaren-kemaren kan cuma tiga coklatnya, gak ada susu sama rotinya lagi!" Ellia terkekeh, soal coklat, susu coklat dan roti coklat, Ellia sih gak ada habis nya.


"Iya nanti gue tambahin, lo mau apa?" tanya Alan mengangkat tangannya, meletakkan di kepala Ellia lalu mengusapnya lembut.


Ellia tersenyum, Alan memang seperti ini dari dulu. Perhatian, selalu memanjakan Ellia, walau sesekali menjahilinya." Boneka nya yang lebih gede, biar enak di bawa tidurnya, kecil begini lo udah sering kasih, gak puas buat di peluk," jawab Ellia riang.


"Oke!" mata Ellia membulat. Alan sering membelikannya boneka, tapi ukurannya tidak pernah ada yang besar. Tapi dengan itu, kamar Ellia menjadi ramai oleh teman teman imut nya.


"Doa in gue makanya biar gue bisa terus ngebantu bokap di perusahaannya sampe gue di kasih kepercayaan." Ellia mengangguk semangat. Tentu saja, ia ingin yang terbaik untuk sahabatnya ini.


"Baru bantuin Om ajah udah langsung beliin gue yang kaya ginian, apa lagi pas nanti lo udah jadi bos, gimana ya, bisa jadi nyonya Alan Dewangga dong gue, "Alan terkekeh, cowok itu kembali mengusap kepala Ellia.


"Boleh tuh, jadinya lo adalah nyonya Ellia Alsyana Alan Dewangga, hehehe,," Ellia tertawa. Dia tidak menyadari maksud dari Alan barusan. Alan berharap hal itu menjadi nyata. Namanya di sandingkan dengan nama gadis yang selalu ada di dekatnya sejak kecil.


"Kok gue gak rela banget ya,"gumam seseorang di balik tembok memperhatikan dua manusia yang penuh kebahagiaan di bangku taman belakang itu.


...........


Bel baru saja berbunyi, semua murid di dalam kelas XI B tergesa gesa merapihkan peralatan mereka dan berkerumun di pintu berdesak desak untuk keluar.


Melihat itu saja sudah membuat Ellia merasa sesak sendiri. Dia dan Aca menunggu sampai semua orang itu keluar barulah mereka keluar.


Saat setelah menutup pintu kelas, seseorang memanggilnya. Ellia menoleh, di depannya sekarang berdiri seorang Raka yang tengah tersenyum pada nya.


Ellia membalas senyuman itu, "gue udah bilang ke ketua melukisnya, dia gak ngizinin lo keluar dari ekstra itu, tapi lo bisa gabung sama ekstra musik," Ellia berbinar.


"Beneran?" Raka mengangguk "iya, lo gak masalah kan masuk dua ekskul yang pastinya ngebuat lo makin sibuk? tapi buat jadwal nya gak bakal buat lo kecapean kok," jelas Raka.


"Enggak masalah kok, malah gue seneng masih punya kesempatan masuk ekskul musik," jawab Ellia di sertai senyumannya yang dapat menular pada cowok di depan nya itu.


"Makasih ya," Ellia mengangguk masih mempertahankan senyumnya.


"Kalo sekarang gue ajak lo ke ruang musik, lo mau gak?" Raka merasa kaku berhadapan dengan gadis ini, keindahan raut wajahnya begitu sulit untuk Raka memalingkan mata.


"Boleh," jawab Ellia, lalu dia tersadar sesuatu, dia menoleh ke samping nya, Aca masih diam memperhatikan percakapan mereka.


"Lo udah di jemput kan Ca?," tanya Ellia.


"Iya udah, lo pergi ajah gapapa, gue bisa ke depan sendiri kok," jawab Aca." hati-hati ya!" ucap Ellia.


"di kira gue anak kecil apa!" Ellia terkekeh. "yaudah dadah Ellia kuuh," Aca melambaikan tangan pada Ellia lalu pergi dari tempat itu.


..........


Tepukan tangan menggema di suatu ruangan yang masih ramai. Berbeda dengan ruangan lainnya yang sudah sepi. Suara Ellia membuat semua orang di sana terpaku.


Bahkan sang vocal sendiri pun sama terkesimanya,mereka berfikir bagus tentang Ellia. Mereka tidak sedikitpun merasa tersaingi.


Ellia tersenyum puas melihat semua orang menyukai nya. "Wah, kenapa gak dari dulu ajah lo gabung sama kita," ujar seorang cowok yang sejak awal tidak bergerak saking terpanah nya. Wajah cantik dan polos Ellia, membuat siapapun terkesima dan tidak akan berfikir suatu hal yang buruk tentang gadis itu, kecuali orang itu lah yang sudah memiliki sifat buruk sejak awal.


"Gue kesaing nih," ucap seorang cewek yang di ketahui adalah seorang vocal.


"Boleh minta nomor handphone nya gak,"


"Pacaran yuk,"


"Cantik banget sih kak,"


Itulah ucapan dari beberapa orang di sana. Ellia mendengar itu hanya bisa mengembangkan senyumnya lebar.


Gadis itu tidak menyadari bahwa cowok berkaca mata di samping nya begitu tepaku, mematung tak dapat bergerak melihat senyum indah di wajah Ellia. Begitu manis, menyejukkan. Ingin rasanya senyuman itu hanya di peruntukkan untuk dirinya semata. Raka ingin egois, tak ingin seorang cowok pun mendapatkannya. Hanya untuk dirinya.


"Gimana buat acara pensi bulan depan, yang bawain lagu Ellia?" tanya Raka meminta pendapat semua anggota.


"Setuju ajah udah," semua orang di sana pun mengangguk setuju. Raka tersenyum menatap Ellia.


"Gimana El, lo mau kan?" Ellia diam sebentar, lalu mengangguk sambil tersenyum.


"Nanti kan kebesokannya pensi kita ada manggung di Rose resto, Ellia ikut juga kan Rak?"tanya seorang cowok.


"El, lo mau ikut?" tanya Raka. Beberapa detik Ellia berfikir lalu mengangguk.


"Oke Ellia, nanti buat latihannya gue kabarin," Ellia mengangguk.


"Makasih ya, kalian udah mau nerima gue, gue seneng!" ucap Ellia sambil tersenyum di balas anggukan semua orang.


"Yaudah, ini udah sore, kalian boleh pulang." kata Raka membubarkan orang orang itu.


"Biar gue anter lo pulang ya El," Ellia mengangkat tangannya, melihat jam tangan yang menunjukkan pukul lima sore. Tadi dia sudah menghubungi sopir nya untuk tidak menjemputnya.


"Iya boleh," Raka tersenyum senang, lalu menggendong tas nya dan melangkah keluar berdampingan dengan Ellia.


..........


Selama di perjalanan tak ada obrolan sedikitpun. Raka yang fokus menyetir mobilnya, dan Ellia yang sibuk membalas pesan dengan seseorang.


"Turun yuk," ajak Raka lalu keluar dari mobil nya. Ellia menyusul Raka keluar. Gadis itu menatap sekitar nya.walau sudah hampir malam, tempat itu masih saja ramai.


Ellia tersentak saat tangannya di genggam oleh tangan besar. Kepala nya mendongak menatap Raka yang menarik nya lembut menuju salah satu pedagang bakso.


Raka tetap menggenggam tangan Ellia hingaa sampai di satu meja. Ellia menurut dan duduk di sana, sedangkan Raka pergi untuk memesan.


Ellia mengangkat tangannya hingga berada tepat di depan wajah. Ditatapnya telapak tangan yang di genggam Raka tadi, terasa hangat. Lalu tangannya beralih memegang dada nya, kenapa bisa seperti ini?. Raka sangat baik padanya, Raka selalu bersikap lembut saat bersamanya.


Dua mangkuk bakso di letakkan di atas meja, Raka duduk tepat di hadapan Ellia, di batasi meja. "dimakan El!" ucap Raka lembut. Ellia mengangguk dan mulai menyantap baksonya dalam diam.


Beberapa saat kemudian bakso dalam mangkuk kedua nya habis. Setelah meneguk es jeruk nya, Ellia mengedarkan pandangannya menatap keramaian di sana.


Mata nya berhenti saat melihat penjual permen kapas. Ellia berdiri dan menarik tangan Raka menuju tempat itu. Untung saja Raka sudah membayar bakso nya, kalau tidak, mungkin penjual bakso itu sudah berteriak membuat Raka malu.


Raka mengikuti kemana Ellia menariknya, dia tersenyum saat tau Ellia berhenti di mana."lo mau?" tanya Raka.


"Mauu!" Ellia mengangguk lucu, semakin menggemaskan di mata Raka.


"Pak, dua dong!" kata Ellia menunjuk permen kapas yang berwarna biru dan pink. Gadis itu membayar kedua permen kapas itu setelah penjual nya memberikannya pada kedua tangan Ellia.


Tapi tidak jadi saat Raka lebih dulu yang membayar nya. "ih kok lo yang bayar sih, gue ajah Rak!" kata Ellia.


"Gapapa El," jawab Raka.


"duduk di sana yuk!" ajak Ellia menunjuk ke bangku yang berada di dekat danau buatan.


"Itu mau dihabisin semua?" tanya Raka tak percaya melihat Ellia menikmati permen kapas pink nya, sedang yang berwarna biru berada di pangkuannya.


"Iya, lo mau?, nih." kata Ellia menyodorkan permen kapas di tangannya. "gak usah deh, liat lo makan ajah udah manis," jawab Raka menatap Ellia tak berkedip. Entah kenapa saat bersama gadis bermata biru itu membuat Raka seakan tidak bisa berkedip menatap nya.


"Hah!" Raka tersadar. "Hah, gapapa kok, lo suka banget ya?" tanya Raka lagi.


"Iya, suka, gue suka banget yang manis manis," jawab Ellia terus melahap permen kapasnya.


"Termasuk gue?" Ellia menoleh ke arah Raka, menatap wajah cowok itu. Ya benar, jika di lihat dari dekat seperti ini, Raka sangatlah manis. "Mungkin!" jawab Ellia tersenyum manis.


Deg!


Jantung Raka kembali berdegup. "Hehe ..." kekeh Raka mengalihkan keadaan jantung nya.


"Bibin ... liatin tuh Sasa nakal sama Cia, huaa..." suara seorang gadis kecil mengalihkan perhatian Raka dan Ellia.


"Sasa jangan nakal, nanti Bibin pukul mau, mau Bibin bilang bunda hah..." kata seorang anak laki-laki yang menatap tajam anak laki-laki lain di hadapannya. Sedangkan gadis kecil yang menyebut dirinya Cia itu sedang bersembunyi di balik badan anak yang di panggil Bibin itu sambil memeletkan lidah nya ke arah anak yang di panggil Sasa.


"Sasa ambil boneka nya Cia, huaa Bibin, liat tuh boneka nya Cia jadi jelek," adu gadis kecil itu lagi pada Bibin.


"BUNDAA SASA NAKAL.." teriak anak laki laki lain lagi dari belakang Bibin dan Cia.


"Kok bilang bunda sih, nih boneka Cia, Bibin matanya mau di tusuk ya, melotot gitu.." akhirnya Sasa mengembalikan boneka milik Cia.


"Gak mau, udah di jelekin sama Sasa, pokok nya Cia mau boneka yang baru.." gadis kecil itu merajuk tidak menerima boneka yang di tangisi nya tadi.


"Udah Cia jangan ngambek ya, Bibin beliin yang baru ya nanti," bujuk Bibin mengusap pipi gembul Cia.


"Hah beneran! yeey Bibin ganteng, Sasa jelek, wlee..." pekik gadis kecil itu riang.


Huuft..


Melihat bocah bocah itu, membuat dua remaja yang memperhatikan mereka tersenyum kecut dan membatu, hal yang terjadi di depan mereka mengingatkan tentang masa lalu. Masa yang begitu indah.


"Pulang yuk Rak, udah mau malem," kata Ellia mendongak menatap langit.


"Yuk!"


****


"Makasih ya Rak, nanti lo kabarin gue kalo mau latihan!" ucap Ellia sebelum turun dari mobil Raka.


"Sama-sama, masuk sana," jawab Raka.


"Lo ngusir?" kata Ellia.


"Eh enggak, emang lo gak mau masuk?" Ellia terkekeh.


"Iya, bye..."Ellia melambaikan tangannya pada Raka sebelum memasuki rumah.


Setelah melihat Ellia menghilang di telan pintu rumah mewahnya, Raka pun kembali melajukan mobil nya ke suatu tempat.


.


.


.


.


.


Bersambung