
Sangat kebetulan. Ketika inti Bharta sampai ke markas, mereka mendapati dua motor yang sangat mereka kenali bertengger di halaman depan markas. Ke empat laki-laki itu pun turun dari kendaraan nya masing masing dan memasuki gedung itu. Yah, benar sekali, di sebuah sofa ruang tengah terdapat Malvin bersama Vian tengah duduk berdua, mungkin mereka sedang menunggu inti bharta itu. Menyadari kedatangan orang yang di tunggu nya, Malvin dan Vian pun berdiri menyambut sang tuan rumah.
"Kebetulan lo ke sini, tadi nya gue mau ke markas lo," ujar Anan menjatuhkan bokong nya di sofa, di ikuti juga dengan yang lainnya.
"Ada apa?" Tanya Malvin.
"Lo ada apa ke sini?" Tanya balik Robi.
"Gak ada apa-apa, cuma main doang si," jawab Vian.
Robi mengangguk. Laki-laki itu mengangkat kedua kakinya ke atas paha Dirga yang duduk di sebelah nya, meluruskan lutut nya yang terasa pegal padahal tidak melakukan apapun.
"Pada kemana sih anggota lo?, sepi banget nih tempat dari tadi gue nunggu," ucap Malvin.
"Lah iya, hari ini markas emang kosong jadi kita kesini dulu sebelum pulang. Terus lo berdua gimana bisa masuk?," kata Dirga. Dia yakin sebagai pemegang keamanan markas, pintu utama juga pagar markas sudah terkunci sejak semalam. Dan kunci yang di gunakan di pintu utama pun adalah kunci berlapis, dua kali menekan pin kemudian kata sandi.
Malvin tersenyum miring. "Pintu mana emang yang gak bisa buat gue buka. Kunci ganda yang lo pake itu sangat mudah buat gue bobol," kata Malvin dengan wajah sombongnya.
"Sombong amat, Btw gak ada yang ilang kan di sini," kata Robi.
"Emang nya ada apaan di sini yang bisa gue curi. Yang ada cuma ****** pink noh majang di sono," Malvin menunjuk dengan dagu nya sebuah pintu ruangan yang terbuka tak jauh dari tempat mereka.
Pintu itu ter nganga lebar dan terlihat beberapa cd merah muda yang tergantung di dinding dalam ruangan itu. Dan sial nya ruangan itu adalah kamar seorang laki-laki yang langsung berlari saat itu juga pergi mengunci pintu kamar itu.
"Sial, pake lupa kunci pintu. Kebongkar udah apa yang selama ini gue jaga," rutuk laki laki itu pada dirinya sendiri merasa malu.
"Mmppf.. ketua Bharta, cogan incaran cewek cewek suka pake ****** pink," kata Malvin menahan tawa mengingat jumlah cd yang mungkin lebih dari lima yang tergantung.
Anan mendengus kesal. Sebuah rahasia tersendiri bagi Anan, bahwa cowok itu adalah seorang penyuka warna pink. Teman-temannya pun tidak ada yang tau kecuali Raka. Teman-temannya tidak tahu saja bagaimana isi kamar pribadi Anan di rumah nya. Karena itu lah cowok itu tidak pernah mengizinkan teman-temannya memasuki kamarnya ketika main ke rumah Anan. Anan selalu membawa mereka ke ruang khusus permainan di rumah nya saat teman teman nya main.
Telinga Anan memanas, seketika itu juga cowok itu beranjak pergi melarikan diri. Sebelum satu rahasia lagi terbongkar ke permukaan.
Rafa menggebrak meja di hadapan nya menghentikan tawa orang orang di sekitarnya itu. Mereka semua langsung diam dan memusatkan pandangan mereka ke arah cowok berwajah datar itu.
"Lusa!" Ucap Rafa menatap serius Malvin dan Vian.
Kedua cowok itu mengernyit tidak mengerti, apa nya yang lusa.
"Apa nya lusa?" Tanya Vian.
"Jam sepuluh malam" Malvin menghela nafas lelah. Kenapa cowok ini memotong motong perkataan. Lusa jam sepuluh malam. Apa?,
"Cakrawala ngajak tempur!" Kata Dirga memperjelas. Harus nya Anan yang menyampaikan ini, tapi Anan malah kabur.
"Pas banget, gue baru ajah mau rencanain ketemu mereka buat nentuin hari. Kalo gitu gue gak perlu capek-capek lagi datengin orang-orang gak guna itu," balas Malvin.
"Gue jamin, gue dan Bharta. Bharta di dirikan bukan karena ego atau ambisi, kami gak akan membiarkan apa yang gak benar terjadi di luar. Apalagi soal nyawa yang gak bersalah. Kami bakal terus bantu kalian sampai orang orang itu jadi debu," ucap Rafa panjang.
Cakrawala adalah sebuah tempat yang begitu tenang, dulu. Dulu Cakrawala adalah nama untuk sebuah keluarga yang hangat. Sampai akhirnya sesuatu terjadi. Sesuatu yang tidak di ketahui siapapun. Penghianatan yang tidak di ketahui sebab nya.
"Terima kasih,"
...🌹🌹🌹...
Sasa
Gue ke sana!
^^^Sasa beneran mau ke rumah?^^^
Sasa
Iya, lo sendirian di rmh kan,
Bokap lo yang bilang.
^^^Gak usah deh.^^^
Sasa
^^^Yaudah iya, tapi ada Aca sama^^^
^^^Esther di sini.^^^
Sasa
Suruh pulang!.
Apa kata nya, padahal Aca dan Esther baru saja sampai. Ada beberapa acara yang ingin mereka lakukan mumpung orangtua Ellia sedang tidak ada. Kesenangan belum saja di mulai tapi Rafa malah menyuruh mereka pulang. Memangnya kenapa kalau kedua orang itu ada. Apakah hal penting yang akan di katakan Rafa sampai harus mengusir kedua temannya pulang.
"Mm... maaf ya, gue rasa acara kita batal. Rafa mau ke sini, katanya ada yang mau di omongin. Terus dia nyuruh kalian pulang," bibir Ellia mengerucut dengan wajah kecewa nya.
"Haaah... Rafa mau kesini?, sendirian?," mata Aca melotot. Ellia mengangguk.
"Emm... yaudah deh, gue balik ajah. Besok kali ya kita maskeran bareng," nada semangat Aca beberapa saat lalu langsung berubah lemas. Ellia tidak mengerti kenapa Aca sangat aneh. Aca pun pergi meninggalkan Ellia dan Esther.
"Gue gak mau pulang. Gue gak mau biarin lo cuma berduaan ajah sama cowok di rumah sebesar ini,"
"Btw kita lagi berduaan loh di sini," balas Ellia.
"Kalo gitu, lo ke kamar tamu ajah deh sana istirahat!" Lanjut Ellia. Tanpa membalas ucapan Ellia, Esther pergi menuju kamar tamu yang sudah sangat dia hapal letaknya.
Beberapa detik Esther menghilang dari pandangan Ellia, suara ketukan pintu terdengar. Dan saat di buka, ternyata benar. Rafa sudah datang.
"Ayo masuk!" Ajak Ellia.
Mereka berdua pun duduk di sofa panjang ruang tengah. Sebenarnya apa yang ingin Rafa katakan adalah hal biasa yang di katakan dan di lakukan oleh laki laki pada pasangannya. Tapi Rafa harus menyuruh Ellia untuk meminta teman temannya pulang. Karena ini adalah pertama kali bagi nya, walaupun sebelumnya Rafa sudah pernah mencoba menjadi playboy. Tapi tak sekalipun Rafa yang lebih dulu meminta dan mengajak perempuannya melakukan sesuatu.
"Penting banget?" Tanya Ellia.
"Sebenarnya biasa ajah sih. Tapi ini pertama kali nya gue yang ngajak duluan, gak enak ajah kalo ada orang lain," Ellia mengagguk ngerti.
"Emang nya mau ngajak gue ke mana?"
"Makan malam. Berdua," jawab Rafa.
"Kapan?, dimana?, dinner?," Rafa mengangguk lama menjawab semua pertanyaan gadis di samping nya itu.
"Mau kan?" Tanya Rafa memastikan.
Bagaimana cerita nya Ellia akan menolak. Pasti tidak akan menolak lah, apalagi yang mengajaknya adalah mas tunangan.
"Pasti lah, kapan?"
"Nanti jam delapan. Gue mau pulang ajah dulu sekarang," jawab Rafa.
Mulut Ellia menganga. Cuma seperti ini saja?.
"Lo dateng cuma beberapa menit doang buat ngomong itu sampe harus usir Aca segala. Kalo gini kan gue masih bisa main dulu," ucap Ellia.
Rafa mengedikkan bahu nya acuh lalu melangkah menuju pintu utama. Beberapa saat Rafa menghilang dari pintu, cowok itu kembali memasuki rumah dengan sebuah paper bag besar di tangannya. Rafa pun menyodorkan bawaan nya itu pada tunangannya.
"Gue pulang!" Cowok itu pun berbalik meninggalkan Ellia sendirian di sana.
"HATI-HATI!" Teriak Ellia malas untuk mengantar cowok itu keluar.
Rafa yang sudah berada di luar tepatnya di depan pintu besar utama menoleh kebelakang. Tidak menemukan siapapun di belakang nya. Ia kira Ellia akan mengantarnya ke luar, lalu menatap nya dengan mata berbinar dan mengucapkan sampai jumpa dengan lembut.
"SIAP BOS!"
...-BERSAMBUNG-...