RaLia

RaLia
Kebelet.



Waktu masih terlalu pagi untuk orang orang yang manyandang status murid datang ke sekolah. Matahari belum sepenuhnya muncul. Hawa dingin masih sangat mendominasi.


Ellia merapatkan sweeter biru nya mengurangi rasa dingin yang menyeruak. Gadis itu duduk di atas ayunan yang berada di taman belakang. Tangan kanannya terangkat menyentuh leher yang kini kosong. Ellia merasa sangat bersalah tidak bisa menjaga kalung pemberian Sky dengan baik. Kenangan saat itu pun muncul tiba tiba di kepala Ellia.


"Sekarang buka mata nya!" Ellia membuka mata dan langsung mengamati benda yang menggantung di lehernya. Sangat indah dan cantik.


"Cantik, aku suka!" cowok itu tersenyum mengelus lembut pipi Ellia. Gadis ini benar benar manis, senyum nya yang merekah seperti kelopak mawar, senyum ini candu. Sky tidak ingin senyuman ini di tunjukkan pada orang lain.


"Iya dong, harus suka. Aku gak pernah salah pilih apapun buat kamu," Ellia mengangguk. Gadis dengan mata biru itu pun mengusap lembut gandulan mawar yang ada di kalung nya.


"Cantik banget sih, gemez jadinya. Aku gak mau lepas kalung ini sampai kapanpun!" Sky menatap Ellia gemas. Cowok itu mencubit kedua pipi tembam Ellia gemas. Bagaimana bisa pacarnya selucu ini.


"Iih, sakit Sky..." rengek Ellia mencubit kedua tangan Sky supaya cowok itu melepas cubitannya.


"Uluh uluh... cayang kuh, cayang nya Sky lucu banget sih," kini Sky beralih mengelus lembut pipi yang memerah akibat ulahnya itu.


Ellia merengut kesal. "Nyebelin banget sih," Ellia membalas perbuatan Sky, mencubit kuat pipi cowok itu. Bukannya meringis atau apalah, Sky malah tertawa lebar memperhatikan wajah Ellia yang tengah gemas mencubit kuat kuat pipinya.


"Maafin aku Sky!" gumam Ellia. Air mata nya menetes jatuh di pipinya,di mana sebenarnya kalung itu, apakah sudah terbuang oleh penjaga kebersihan?. Tidak bisa, benda berharga itu tidak boleh dengan mudah nya terbuang. Ellia akan terus mencarinya.


Gadis itu bangkit lalu berjalan menuju tempat jatuh kalung nya. Mumpung masih sepi, tidak akan ada orang yang memandanginya aneh. Gadis itu mencari cari ke setiap sudut, sisi dan celah-celah sempit lainya. Tetap saja tidak di temukan apapun.


Dengan langkah gontai nya Ellia menyusuri koridor menuju suatu tempat, pikiran nya saat ini benar-benar kacau.


Pintu ruangan musik terbuka, Ellia sempat meminta kunci pintu ruangan itu tadi pada pak satpam. Ia tidak berbohong apapun dengan menyebut nya sebagai anak ekstra musik pada pak satpam hingga pak satpam percaya.


Ellia mencari alat musik yang di inginkan nya, pagi ini dirinya sangat ingin memainkan alat musik. Gadis itu masih menimang-nimang, apa yang akan di mainkan nya.


Pilihan nya jatuh pada sebuah biola di bingkai sudut ruangan. Tangan lembut nya membawa biola itu ke bangku dekat jendela. Setelah selesai memutar bangku menghadap jendela besar di depannya gadis itu menyibak tirai yang masih tertutup. Pemandangan sekitar sekolah yang masih berembun menyapa penglihatan Ellia ketika ia membuka tirai itu.


Gadis itu mendudukkan bokong nya dan mulai mempersiapkan biolanya.


Alunan merdu dari permainan Ellia menyebar keseluruh penjuru ruangan, Ellia begitu bergairah dengan permainannya, matanya terpejam keningnya mengerut gadis itu sangat emosional kentara dengan gerakan tubuhnya yang begitu bersemangat, alunan nada nya pun semakin cepat namun masih sangat indah di indra pendengaran.


Permainan nya berakhir, nafasnya bergemuruh dengan keringat yang mengalir di keningnya. Tiba-tiba tangan kirinya di gapai oleh seseorang.


"Emosi boleh, tapi jangan sampe nyakitin diri sendiri!" Mata Ellia terbuka kening nya menyerngit memperhatikan cowok di depannya yang sedang membersihkan jari Ellia yang terluka akibat permainan biolanya. Ellia menarik tangan nya setelah cowok itu menempelkan sebuah plaster.


"Ngapain lo di sini?" tanya Ellia bingung. Bagaimana tidak, dirinya tidak menyangka cowok yang di ketahuinya biasa nya tidak perduli pada apapun di sekitar kini berada di hadapan Ellia dan mengobati luka di jarinya.


"Ikut!" Ellia langsung meletakkan boila di tempat duduk nya tadi, dan dengan terpaksa gadis itu mengikuti langkah Rafa yang menarik nya entah kemana.


"Sekarang udah gak gugup lagi kalo ngomong sama gue?" ucap Rafa menekan pundang Ellia supaya duduk di bangku taman belakang.


Ellia berdehem dan mengalihkan pandangan nya ke mana mana.


Rafa merogoh saku celana nya dan menyodorkan tepat di depan wajah Ellia benda yang susah payah di cari Ellia sejak kemarin.


Melihat kalung nya berada di tangan Rafa dengan cepat gadis itu menyambar kalung nya dan memeluknya dengan erat takut akan kehilangan lagi.


"Sky..." gumam Ellia lalu menciumi gandulan mawar emas kalung itu.


"Gue pasangin," Rafa kembali mengambil kalung itu dan memposisikan tubuhnya di belakang tubuh Ellia,


"Hati-hati!" Rafa berdehem kemudian merubah posisinya duduk di samping Ellia setelah selesai.


"Dapet dari mana?" tanya Ellia sambil mengusap kalung di lehernya.


"Pas banget jatoh di kaki gue waktu itu," Ellia mengangguk, lalu tidak ada percakapan lagi beberapa saat, hingga Rafa tiba tiba bangkit dan menarik tangan Ellia untuk mengikutinya.


"Tunggu sebentar!" Kata Rafa setelah memastikan Ellia duduk anteng di salah satu bangku kantin.


Perlahan beberapa murid berdatangan memasuki kantin untuk sarapan. Di sudut kantin sana, agak jauh namun masih terlihat dari posisi nya, mata Ellia menangkap seseorang yang terlihat aneh. Gerak gerik nya sangat aneh. Hingga mata orang itu balik menatap nya membuat Ellia terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ,dan saat itu lah Rafa kembali dan duduk di hadapannya.


"Makan!" cowok itu memberikan sebungkus roti coklat seperti yang biasa ia beli juga segelas susukocok coklat.


Wah coklat!


Tanpa ada penolakan Ellia langsung menurut memakan roti itu. Setelah habis separuh gadis itu menghentikan makannya dan menaruh sisa roti itu di atas meja kemudian menyedot susukocok coklat nya.


"Makasih!" Rafa mengangkat alisnya menatap Ellia.


"Makasih udah nemuin dan balikin kalung gue, juga makasih roti sama susu nya!" jelas Ellia sambil menunduk dalam.


"Tadi nya gak mau gue balikin!" kata Rafa membuat Ellia seketika mendongak membuka lebar matanya memelototi Rafa.


Seenaknya saja memberikan barang orang lain tanpa tau pemilik asli nya pada orang lain. Ellia bisa pastikan orang yang memberi dan menerima nya tidak akan selamat dari amukan Ellia.


"Tapi pas tau punya lo, gak jadi gue kasihin, kasian anak orang yang gak tau apa-apa sampe kena amuk!" lanjut Rafa.


Ellia mendengus. Memang semenjak Sky pergi gadis itu sangat sulit mengontrol emosi saat terjadi sesuatu yang berhubungan dengan Sky.


"Yaudah makasih sekali lagi, gue mau masuk kelas dulu," pamit Ellia beranjak meninggalkan Rafa.


Rafa tersenyum tipis memperhatikan punggung Ellia yang mulai menjauh.


...🌹🌹🌹...


Aishh!! Ellia menggerutu sejak tadi, lagi lagi sopir nya tidak bisa menjemput. juga kenapa taksi online yang di pesan nya belum juga sampai. Ia sudah terlanjur berada di halte luar sekolah dan sekarang ia sedang kebelet. Ellia berfikir jika taksi itu langsung sampai maka ia akan menyuruh sopir nya untuk cepat agar bisa cepat sampai rumah dan langsung melesat ke toilet, sedangkan sekarang Gadis itu bergerak gelisah di tempat nya, jika harus kembali masuk ke gedung sekolah maka ia harus berlari menuju toilet yang berada di sudut gedung.


Aah Ellia sudah tidak tahan!. Gadis itu langsung berlari kencang kembali memasuki gerbang sekolah dan terus berlari menuju toilet lantai satu. Menaiki beberapa anak tangga kecil, berbelok terus lurus hingga toilet itu sudah ada di depan mata nya. Tapi naas! seseorang yang baru keluar dari toilet terkena senggolan Ellia hingga orang itu terjatuh karena tidak siap akan ada nya serangan mendadak.


Ellia sedikit menoleh, lalu kembali meneruskan larinya sambil sesekali melompat, lebih mementingkan cairannya yang akan tumpah beberapa saat lagi.


"Huft, lega nya!" Ellia menatap pantulan dirinya di cermin, membenarkan rambut nya yang sedikit berantakan. Gadis itu lalu mmelangkah keluar hingga seseorang menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Ellia polos. Entah memang benar benar polos atau sudah melupakan apa yang terjadi tadi sebelum memasuki toilet.


"Minta maaf!" titah Rafa.


"Ouuh jadi yang gue tabrak tadi lo, iya deh maaf, tadi buru-buru ke toilet gak sempet minta maaf juga tadi gue gak terlalu jelas liat muka lo!" Rafa mengangguk lalu menatap bingung gadis di depannya ini.


"Kenapa belum pulang, sekolah udah sepi gini," Ellia langsung menjawab pertanyaan Rafa sambil meneruskan jalan nya di ikuti Rafa yang berjalan di belakang nya.


"Gue tadi lagi nunggu taksi online, sopir gue gak ada jemput!" Rafa mengangguk. Lalu kemudian cowok itu menarik tangan Ellia untuk mengikutinya ke tempat parkir.


"Sama gue ajah, ini udah sore," ucap Rafa sebelum menaiki motor besarnya. Ellia masih diam.


"Ayo naik!"


"Terus nanti kalo taksi nya dateng dan gue gak ada kan kasihan, "jawab Ellia masih belum menaiki motor Rafa. Cowok itu memutar bola mata nya kemudian kembali menarik tanggan Ellia agar segera menaiki motornya.


"Gapapa udah, biarin ajah" Ellia tidak bisa membantah dan menurut menaiki motor Rafa.


"Pegangan yang kenceng, gue gak ada helm lagi," Ellia kembali menurut memegang jaket Rafa erat erat dan saat itulah Rafa langsung menjalankan motor nya.


Pegangan Ellia pada jaket Rafa makin erat, cowok itu membawa motor nya dengan kecepatan penuh di jalan raya yang ramai itu, mata Ellia menutup rapat, cowok di depannya ini memang gila.


"LO MAU MATI!" teriak Ellia memukul pelan punggung Rafa.


Rafa yang merasakan pukulan Ellia tersadar bahwa di belakangnnya terdapat seorang gadis. Rafa pun memelankan laju motor nya melihat Ellia yang masih memejamkan mata nya dari spion.


Beberapa saat kemudian motor besar itu berhenti di depan pagar rumah Ellia. Rafa merasakan gadis di belakang nya itu belum juga bergerak. Rafa berdehem dan melepas tautan tangan Ellia dari perut nya.


Ellia langsung membuka mata nya menyadari bahwa mereka sudah sampai.


Gadis itu menetralkan detak jantung nya lalu turun dari motor Rafa.


"Emm...makasih," ucap Ellia menggaruk lehernya yang tak gatal.


Rafa mengangguk lalu gadis itu perlahan hilang dari pandangannya. Cowok itu tersenyum memperhatikan Ellia yang menjauh dan hilang di telan pintu rumah.


"Gak mungkin!"


.


.


Bersambung


.


.


...



Ellia Alsyana Mahardika.