Quiet Wife

Quiet Wife
09. Calvin Marah



"Woi, Vin! Cemberut aja muka lo! Kenapa, sih? Masih pagi, lho, ini?" Brian, salah satu teman sekelas Calvin, menepuk pelan bahunya, seraya ikut duduk di sebelah.


Calvin yang pada dasarnya masih memikirkan di mana keberadaan Naura, hanya mendengus malas membalas pertanyaan Brian.


"Wuidihh ... pagi bener lu datengnya, Vin! Nggak manja-manjaan dulu sama bini?" Sahutan nakal yang terdengar menggelegar itu, refleks membuat siapa saja, termasuk Calvin, spontan membekap telinga.


"Heh, No! Lo kalau baru dateng tuh ucap salam, kek. Apa, kek. Jangan maen teriak aja! Kuping kita semua lama-lama bisa budek, tahu, gak!" Brian menyungut kesal, tepat ke hadapan Nino yang ikut mendudukkan diri di kursi lain, berhadapan dengannya.


"Lebay amat lo, Bray! Terserah guelah! Gue nyapanya juga bukan ke elo, tapi ke si Calvin! Ye 'kan, Vin?"


"Tauk, ah! Berisik lo, sumpah! Masih pagi juga!" Calvin ikut menyungut seraya menatap tajam Nino.


Nino yang merasa tidak memiliki kesalahan apa pun pada Calvin, lantas memegangi dadanya. "Gue punya salah apa lagi, sih, Vin! Muka lo galak amat perasaan hari ini. Gak dapat jatah malem dari bini, ye?


"Iye! Puas lo!"


Calvin yang pada dasarnya hanya asal menjawab, langsung dibalas kelakar menggelegar oleh Brian maupun Nino. Tak berapa lama setelahnya, Irgha pun datang.


Biasa. Si paling telat, ya, Irgha! Kalau si paling bawel, jawabannya sudah jelas Nino. Dan si paling suka ngajak ribut, adalah Brian. Bisa dibilang, sudah hampir dua minggu Brian tidak masuk kampus dengan alasan sakit tipes. Jadinya, dia baru bisa ngumpul hari ini.


"Seru, nih, keknya! Lagi pada ngebahas apa nih, bapak-bapak?" Irgha menggebrak meja, seraya menarik salah satu kursi menganggur untuk ikut duduk berdekatan dengan teman-temannya yang lain.


Oh, iya. Omong-omong, hari ini adalah hari kedua bazar dilaksanakan. Jadi otomatis, saat ini keempatnya tengah duduk manis di depan stan bazar yang tinggal menunggu untuk kembali opening.


Tinggal nungguin Pak Ketuanya saja. Katanya tadi di grup kelas dia hendak menyampaikan sesuatu pada semuanya. Jadi, satu kelas diharapkan kumpul di depan stan bazar.


"Btw, kita bakal bazar lagi, nih?" Irgha tiba-tiba bersuara, dengan perhatiannya yang sesekali akan menatap langit yang terlihat cukup mendung di atas sana.


"Ya iyalah! 'Kan udah dikasih tahu juga kalau bazarnya dua hari, B*go!" Dengan asal, Brian menoyor kepala Irgha, sampai membuatnya berdesis pelan.


"Anj*r! Biasa aja ngomongnya, gak usah maenin pala orang, lu! Gini-gini gue dulu pernah diadzanin!" Teriak Irgha, membuat suasana satu meja mendadak ricuh seketika.


"Ya, sama, Bro! Gue juga pas lahir mah diadzanin, bukan langsung diceramahin. Lo keknya emang b*go, deh, Gha! Sadar gak, sih-"


"Berisik! Makin gak tenang aja hidup gue! Awas, gue mau ke perpus!" Terlanjur gondok setengah mati, Calvin memilih melenggang meninggalkan teman-temannya yang tengah sibuk saling beradu argumen.


"Eeh, Vin! Mau ke mana? Bentar lagi Pak Ketua dateng, terus nanti gue jawabnya gimana?" Nino yang melihat Calvin benar-benar pergi, lantas bangkit dari posisinya. Namun tak membuatnya lantas beralih mengejar Calvin.


"Bodo!"


"Ampun, dah! Si Calvin kenapa, sih? Pasti ini semua gara-gara kalian. Iya 'kan? Ngaku lo!" Tatapan penuh selidik yang dilayangkan Nino teruntuk Brian dan Irgha, dibalas tak terima oleh keduanya.


"Enak aja! Gara-gara lo kali, bilang si Calvin gak dapet jatah malem. Lo, sih, suka ngasal kalau ngomong! Ngamuk 'kan dia!?"


"Halaah ... lo juga salah! Intinya, kita semua selalu salah di mata si Calvin kalau dia lagi ngambek. Udah, cukup, ya!"


...****...


Sesampainya di dalam perpustakaan, Calvin langsung menghela napas berat saat isi kepalanya lagi-lagi memikirkan Naura.


"Punya istri pergi gak bilang-bilang. Gak tau apa gue kangen?" Calvin lagi-lagi menyungut sebal sembari meratapi layar ponselnya yang menyala.


Sepasang bola matanya seolah terfokus pada layar bagian samping kiri atas, tempat biasanya berbagai notifikasi sering muncul di sana.


Sayang, sudah sepuluh menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda Naura akan mengiriminya pesan.


"Aaarghhh! Nauraaa! Lo sengaja 'kan? Iya 'kan? Chat gue dong, lo ada di mana? Mau ditelepon juga bingung. Ck! Gini amat punya istri." Belum ada sekitar satu menit selepas Calvin yang terus meluapkan kekesalannya seorang diri, suara gemericik air hujan yang semakin terdengar jelas, membuat Calvin sontak mengalihkan pandangannya.


Spontan dirinya bangun dari posisi duduknya. Melihat ke luar dengan seksama lewat jendela kaca perpustakaan yang terbuka lebar.


"Hujan? Astaga, temen-temen gue yang lagi pada jaga stan? Aduh! Mana gue gak bawa payung, lagi. Pasti mereka pada panik sekarang. Gimana, ya?" Calvin bergerak gelisah, apalagi ketika melihat hujan yang semakin lama semakin deras. Bahkan, beberapa mahasiswa seangkatannya yang tengah berjaga stan di bawah, terlihat berlari ke sana ke mari melindungi barang dagangan mereka.


Tring!


Bunyi notifikasi dari ponselnya, seketika mengalihkan perhatian Calvin. Ketika mulai membuka dan membacanya, spontan Calvin menghela napas lega.


"Bagus, deh. Barang-barangnya udah keburu diamanin." Sesaat ketika Calvin hendak memasukkan ponselnya ke dalam saku, ponselnya tiba-tiba bergetar diiringi suara nada dering yang terdengar cukup nyaring.


Beberapa mahasiswa yang berada di dalam perpustakaan menginterupsi Calvin untuk tidak berisik. Dengan cepat Calvin mengangkat teleponnya yang ternyata berasal dari sang mama.


"Halo, Mah?"


"Itu ... ternyata Naura pergi ke makam mamanya, Vin! Mama baru sadar kalau Naura naruh catetan kecil di dapur. Keknya Naura gak sempet ngasih tahu karena Mama lagi sibuk jemur baju. Coba deh, sekarang kamu hubungi Naura! Di sini hujannya gede banget, takutnya ada apa-apa sama Naura. Mama khawatir." Ucapan Fani yang menerangkan di mana posisi Naura saat ini, membuat Calvin spontan mengalihkan perhatiannya kembali ke arah jendela kaca perpustakaan.


Sial! Hujannya makin gede!


"Iya, udah. Calvin hubungi Naura sekarang! Mama jangan khawatir, ya?" Ujar Calvin, kemudian mematikan spontan panggilannya.


"Nauraaa! Semoga gak ada hal buruk yang terjadi."


...****...


"Eh, lo punya jas hujan lebih, gak?" Tanya Calvin, tanpa mengindahkan pertanyaan Brian.


"Kagak. Emang buat apa?"


"Gue ada, Vin! Tapi, buat apaan?" Irgha menyela, membuat beberapa perhatian lantas beralih padanya.


"Gue mau jemput istri gue. Dia lagi kejebak hujan di jalan."


"Waduh! Hujan gede gini, istri lo mau ke mana, Vin?" Nino bertanya spontan, sementara Irgha mulai membuka tasnya untuk mengeluarkan jas hujan lebih yang akan dipinjam oleh Calvin.


"Nanti gue cerita, deh. Gue lagi buru-buru, takut ada apa-apa,"


"Nih, Vin! Hati-hati bawa motornya! Hujannya gede banget, tuh. Btw, jas buat lo?" Irgha menyerahkan jas hujannya yang langsung diterima baik oleh Calvin.


Tampak Calvin menghela napas lega di tempatnya. "Ada di bagasi. Makasih, ya, Gha! Entar gue balikin."


"Santuy!"


"Gue duluan, ya, guys!" Tanpa berbasa-basi lagi, Calvin langsung berlari meninggalkan teman-temannya, setelah sebelumnya berpamitan singkat.


"Hati-hati, Vin! Jangan ngebut!" Teriak Brian, yang dibalas acungan jempol oleh Calvin di depan sana.


Setelah Calvin benar-benar tak lagi terlihat oleh mata, barulah mereka melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Disela berjalan dalam diam, tiba-tiba Nino menghentikan langkahnya. Membuat Brian dan Irgha juga ikut berhenti.


"Kenapa, No?" Sahut Brian.


"Kalian nyadar, gak, kalau si Calvin makin lama kek makin bucin gitu sama istrinya?" Mendengar ujaran Nino, Brian dan Irgha spontan mendengus.


"Ya, wajarlah, b*go! Dia bucin juga sama istrinya, sah-sah aja! Kalau bucinnya sama istri orang, itu baru patut dipertanyakan." Ucapan sarkas dari Irgha, dibalas cengengengesan spontan oleh Nino.


"Lagian lo nanya aneh-aneh aja! Bagus dong si Calvin secepet itu jatuh cinta, setelah dia dibuat sakit hati sama mantannya. Gue kalau jadi si Calvin belum tentu bisa nerima cewek lain setelah apa yang udah terjadi." Timpal Brian.


Kalau dipikir-pikir, iya juga, ya!


"Iya, sih. Kalau gue mungkin udah trauma dan gak mau pacaran lagi. Gila banget emang si Evelyn. Udah dapet cowok baik-baik, eh, malah disia-siain." Ujar Nino, diakhiri menghela napas berat setelahnya.


"Tapi, ini si Calvin keren banget, sih. Katanya mereka baru kenal sebulan lebih, eeh endingnya sat set bae! Sayang banget waktu itu gue sakit, jadinya gak bisa dateng ke nikahan mereka, deh." Jujur, Brian merasa kesal pada dirinya sendiri waktu itu, karena tidak bisa ikut menghadiri pernikahan teman sendiri. Rasanya, dia teramat merasa bersalah pada Calvin.


"Ya, 'kan, elo lagi sakit, Bray! Sans ajalah, si Calvin juga gak marah tuh,"


"Anyway, istrinya si Calvin kayak gimana? Cantik?" Brian mengubah raut wajahnya yang semula murung menjadi cerah kembali.


"Banget, sih, kalau kata gue!" Ujar Nino. Otaknya seketika teringat akan wajah manis nan ayu milik Naura. Sayang sekali sudah ada pawangnya.


"Ternyata, jodoh itu gak ada yang tahu, ya,"


"Namanya juga jodoh. Jodoh itu bukan tentang seberapa lama lo pacaran sama seseorang. Yang pacaran bertahun-tahun juga belum tentu endingnya nikah. Ini yang baru ketemu sebulan, endingnya malah gak terduga 'kan? Pacaran mah gak perlu lama-lama. Yang penting pas nikah samawa. Tiru noh, si Calvin. King Of Sat Set Sat Set!" Irgha kembali berujar setelah beberapa saat dia hanya diam seraya mendengarkan obrolan kedua temannya.


"Setuju gue!" Timpal Brian dan Nino bersamaan.


...****...


Hampir setengah jam Calvin melajukan motornya di tengah lebatnya hujan, akhirnya, Calvin telah sampai di lokasi yang dikirimkan Naura. Langsung saja dia mematikan mesin motornya, dan berlari ke arah Naura yang berada di halte bus. Tampak perempuan itu tengah memejamkan mata seraya bersandar, yang membuat Calvin semakin khawatir.


"Naura? Hei, kamu gak pa-pa 'kan? Naura?" Perlahan, Calvin membangunkan Naura dengan cara mencolek beberapa kali pipinya yang cukup chubby.


Terlihat pergerakan kecil dari wajah dan tubuhnya, yang kemudian Naura mulai membuka kedua matanya. Senyuman manis diiringi sepasang matanya yang menyipit, dibalas decakan sebal oleh Calvin.


"Kok, kamu bisa ketiduran di sini? Kamu gak takut dirampok, apa? Mana pas pagi-pagi udah ngilang gak tahu pergi ke mana. Kamu sengaja mau bikin aku panik, iya?"


Senyuman Naura mendadak luntur dan berganti murung, sesaat mendengar ocehan panjang dari Calvin.


Kok, Mas Calvin marah-marah, sih? Aku salah lagi, ya?


Terdengar suara helaan napas berat dari mulut Calvin, yang semakin membuat Naura menunduk takut.


"Sekarang kita pulang, mumpung hujannya agak reda. Nih, pake jasnya. Biar gak kedinginan." Nada suara Calvin terdengar begitu dingin dan cuek. Semakin membuat Naura takut untuk menatap raut wajah Calvin. Sehingga berakhirlah Naura hanya diam dan menurut.


^^^To be continued...^^^


Haduuh ... Pak Suami ngambek, nih! Jangan lama-lama, ya, ngambeknya. Kasian istrinya, wkwk.


...Calvin...



...Naura...