
Tak terasa, waktu kebersamaan di rumah Hermawan, papanya Naura yang juga adalah papa mertua Calvin, telah sepenuhnya usai. Saat ini, Calvin maupun Naura tengah berada dalam perjalanan pulang. Sekitar empat puluh menitan keduanya berada di dalam mobil yang dibiarkan ber-AC, akibat cuaca panas yang disebabkan oleh hawa pantai.
Sekitar sepuluh menit yang lalu, Naura telah terlelap di samping Calvin. Kepalanya miring ke arah jendela. Beruntung tak sampai terbentur, Calvin dengan sigap menahan kepala Naura menggunakan bantal berukuran kecil.
Calvin menghela napas panjang saat melihat jalanan di depannya mulai macet dengan berbagai kendaraan.
Padahal, ini bukanlah hari libur nasional. Bahkan, ini sudah hari senin. Tetapi, kenapa jalanan tiba-tiba macet?
Lima menit berlalu, akhirnya jalanan yang padat mulai lengang. Mencoba mencari sumber dari kemacetan barusan, netra Calvin mulai menjelajah ke kiri dan ke kanan, siapa tahu ada sesuatu yang tak biasa.
Benar saja. Ada seorang pengendara motor yang mengalami kecelakaan yang sudah hampir dievakuasi. Sepertinya, pengendara motor itu menabrak mobil truk yang tengah terparkir di area bebas parkir. Entah apa penyebab spesifiknya.
"Emh! Kok, kayak ada suara ambulans?" Naura yang tertidur pulas belum ada setengah jam, dibuat terbangun sambil sesekali mengucek kedua matanya.
Sekilas perhatian Calvin menoleh pada Naura. Tak berapa lama kemudian, Calvin menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.
"Ada yang kecelakaan." Balas Calvin, masih mencoba fokus berkendara.
"Oh, ya? Di mana?" Naura mulai celingukan menatap ke luar jendela mobil. Sayangnya, dia tidak menemukan di mana letak kecelakaan itu terjadi.
"Tuh, di belakang. Semoga aja gak ada yang serius. Kecelakaannya parah banget tadi, motor sama truknya sampai ringsek. Jadi ngilu."
Raut wajah Naura ikut-ikutan ngilu mendengar ucapan Calvin. Padahal, Naura murni tidak melihat kejadiannya. Dan anehnya, tiba-tiba perutnya kembali berdemo.
"Mas Calvin, bisa berhentiin mobilnya sebentar?"
"Kenapa?" Calvin melirik Naura cukup lama. Tampak raut wajahnya yang berubah pias dengan tangannya yang tiba-tiba membekap mulut.
"Aku, mual! Huwek!"
Benar saja. Naura kembali mual seperti saat hari itu. Buru-buru Calvin menghentikan mobilnya di tepian jalan yang untungnya tengah sepi.
Tanpa menunggu lagi, Naura langsung berlari keluar dari dalam mobil. Lagi-lagi Naura memuntahkan isi perutnya seperti tempo hari. Namun kali ini, rasanya jauh lebih mual dari hari itu.
"Kamu sakit? Perasaan waktu itu juga gini. Tadi sebelum berangkat kamu makan apa?"
Lemah. Naura masih berusaha memuntahkan isi perutnya yang sialnya hanya cairan putih bening yang keluar dari sana. Kepalanya menggeleng pelan untuk membalas pertanyaan cemas dari Calvin.
Sial! Ini terlalu menguras energi. Tubuh Naura rasanya sudah mau ambruk, jika saja Calvin tidak segera menggendongnya, dan mendudukkannya di dalam mobil.
"Aku ambilin minum, ya?" Ucapan Calvin tidak dijawab apa-apa oleh Naura. Tubuhnya terlalu lemas saat ini.
Tak butuh waktu lama, Calvin kembali membawa sebotol air minum yang langsung diterima baik oleh Naura. Dengan tangan yang bergetar, Naura meminum air tersebut sedikit demi sedikit dibantu oleh Calvin. Dirasa cukup, Naura menjauhkan air minum tersebut, lalu memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir rasa mual dan pusing yang melanda.
"Gimana? Udah agak baikan?" Jawaban berupa gelengan kepala dari Naura, membuat Calvin kian cemas.
Haruskah Calvin mencari klinik? Tapi ... jangankan klinik. Di sepanjang jalan ini hanya ada pepohonan. Masih perlu beberapa ratus meter lagi untuk sampai di sekitaran area penduduk. Dan itu pun belum tentu pasti ada klinik di sana.
"Mas Calvin!"
"Iya? Mana lagi yang gak nyaman, hm?" Sahutan lemah Naura langsung dibalas cepat oleh Calvin. Dengan penuh kasih sayang, Calvin mengusap pelan surai hitam Naura yang sedikit berkeringat dingin.
"Perut aku tiba-tiba gak nyaman. Aku pengin rebahan. Pulangnya besok aja, ya?"
"Ya udah, mau putar balik aja, hm?" Dengan cepat Naura menggelengkan kepalanya.
"Jangan! Nanti papa cemas,"
"Ya udah, kita cari penginapan aja gimana?" Calvin akhirnya dapat menghela napas lega saat melihat anggukkan kepala dari Naura.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Calvin lalu berjalan mengitari mobilnya, setelah sebelumnya Calvin menutup pintu mobil di samping Naura.
Sampai di dalam, Calvin memasangkan sabuk pengaman Naura, lalu dilanjut memasang sabuk pengaman untuknya, sebelum akhirnya kembali menghidupkan mobil dan melajukannya di jalanan.
Sedari mengemudikan mobilnya kembali, Calvin tak henti-hentinya terus mencuri pandang ke arah Naura yang berusaha memejamkan mata, sembari mengusap perutnya yang katanya terasa tidak nyaman.
Alangkah beruntungnya Calvin saat ini. Dirinya tidak perlu terlalu lama mengemudikan mobil, dan sudah menemukan sebuah hotel penginapan yang ukurannya memang tidak terlalu besar, namun cukup untuk mengistirahatkan Naura sejenak.
Dengan cepat Calvin memasuki area parkir sementara. Setelah mematikan mesin dan membuka pintu mobil, Calvin masih sempat-sempatnya melirik Naura. Tangan kekarnya menyentuh salah satu pipi Naura sampai membuatnya terbangun.
"Aku mau check-in dulu. Tunggu di sini sebentar, ya!"
...****...
Setelah melewati beberapa tahapan, Calvin akhirnya selesai melakukan check-in. Tanpa berniat mengganggu Naura, Calvin membopong tubuhnya menasuki hotel. Lantas, hal itu membuat Naura terkejut saat menyadari di mana posisinya saat ini.
"Mas Calvin kenapa malah gendong aku? A-aku masih bisa jalan, kok!" Naura berucap berbisik. Entah mengapa suaranya mendadak susah keluar saat ini.
Entah karena ada beberapa orang yang tengah memperhatikan mereka, atau karena adegan mual dan muntah yang tadi, Naura pun tidak tahu pasti.
Namun yang jelas, tak butuh waktu lama, akhirnya keduanya sampai di depan sebuah kamar hotel. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Calvin menurunkan Naura dari gendongannya. Merogoh saku celana untuk mengambil kunci kamar.
Saat pintu kamar mulai terbuka, Calvin sudah hendak menggendong Naura lagi, namun gerakannya langsung terhenti saat Naura menahannya.
"Yakin?" Tanya Calvin, ragu. Anggukkan pasti dari Naura, mau tidak mau Calvin hargai.
Tanpa berniat mengucapkan kata-kata lain, Naura mulai berjalan selangkah demi selangkah memasuki kamar hotel. Langkahnya terlihat begitu pelan, dan Calvin tanpa sadar dibuat ngilu olehnya.
Perlahan, Naura mulai mendudukkan atau mungkin lebih tepatnya mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kedua alisnya refleks mengernyit, saat lagi-lagi perutnya seperti bergetar aneh seperti seseorang yang keroncongan.
"Mau aku pesenin bubur?" Calvin bertanya halus seraya meraba kening lalu dilanjut ke area leher Naura. Lumayan hangat dan sedikit berkeringat dingin.
Awalnya, Naura menggeleng pelan atas jawaban dari pertanyaan Calvin. Namun ketika melihat raut wajah dingin Calvin, Naura pun mengangguk walau terpaksa.
"Tunggu di sini sebentar, ya! Jangan ke mana-mana!"
...****...
"Maaf, ya, Mah! Mungkin Calvin sama Naura pulangnya besok."
"..."
"Iya, ini Naura mendadak gak enak badan, jadinya kita mau nginep dulu semalem di hotel."
"..."
"Gak usah! Naura gak pa-pa, kok, Mah. Ada aku yang jagain. Ini sekarang dia udah tidur, habis makan bubur."
"..."
"Tadinya, sih, udah disuruh minum obat. Tapi obatnya gak masuk dan Naura-nya malah muntah lagi. Jadi, cuman makan bubur aja, sih, Mah."
"..."
"Iya, nanti diusahain lagi buat dibujuk Naura-nya biar mau minum obat."
"..."
"Ya udah, aku tutup dulu teleponnya. Nanti dikabarin lagi kalau Naura udah bangun."
"..."
"Iya, Mah! Udah, jangan khawatir. Naura ada aku, kok, di sini. Hm ... Iya."
Panggilan telepon singkat pada mamanya, langsung dimatikan setelah dirasa cukup untuk sebuah penjelasan. Hari yang dijadwalkan sudah harus pulang ke rumah, diharuskan ditunda karena Naura yang tiba-tiba sakit.
Tentu saja berita itu disambut heboh oleh Fani di seberang telepon. Mamanya yang cukup rempong ini sudah berniat mau menyusul ke sini. Beruntungnya hal itu tidak terjadi, karena Calvin sudah lebih dulu menjelaskannya lebih rinci.
Tak terasa, waktu sudah mulai menjelang sore. Sudah lumayan lama Calvin duduk di samping tubuh Naura yang tertidur lelap. Sayang, raut wajahnya masih sama piasnya.
"Jangan sakit lagi, Nau! Rasanya, aku udah mau gila ngelihat kamu sakit kayak gini." Embusan napas berat seolah terus Calvin embuskan akhir-akhir ini.
Perlahan namun pasti, Calvin ikut merebahkan dirinya di samping Naura. Salah satu tangannya terangkat untuk menjauhkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajah Naura.
Lagi. Calvin rasanya kembali dibuat terbius oleh wajah cantik itu. Pikirannya dengan liar melayang pada kejadian ketika keduanya masih di rumah Hermawan.
Naura yang cantik dengan tubuhnya yang berlekuk indah nan berisi, dibuat melenguh tak berdaya di bawah kungkungan Calvin. Jika diingat baik-baik, malam kedua mereka waktu itu begitu memuaskan. Calvin serasa dibuat melayang karena Naura. Dan, mungkin juga demikian dengan Naura. Karena disela mereka melakukan itu, Naura tak henti-hentinya melenguh memanggil namanya.
Tanpa sadar Calvin menarik kedua sudut bibirnya seraya mendekatkan posisi tidurnya supaya lebih berdekatan dengan Naura.
"Cepet sembuh, Naura! I love you!"
...****...
"Gimana, Tante?" Sahutan lembut dari mulut seorang gadis berparas cantik nan anggun, seketika menyadarkan seorang wanita paruh baya yang baru saja menyelesaikan panggilan telepon.
"Eh? Maaf, ya! Tante malah ngelamun. Habisnya, barusan Calvin telepon, katanya belum bisa pulang sekarang."
"Lho, kenapa? Calvin gak kenapa-kenapa 'kan, Tante?" Gadis dengan rambut ikal semampai itu mulai menunjukkan rona khawatir di wajahnya.
Embusan napas berat dari wanita yang tak lain ialah Fani, mamanya Calvin, membuat gadis itu kian khawatir.
"Calvin gak pa-pa. Tapi katanya Naura tiba-tiba sakit, jadi sekarang mereka lagi check-in di hotel. Mungkin besok baru pulang,"
Kedua alis gadis itu refleks mengernyit dalam. "Naura? Naura siapa, ya, Tante? Seinget aku, Calvin gak punya sepupu yang namanya Naura?"
Tampak Fani yang kemudian menepuk jidatnya seraya tertawa garing. "Oh, iya. Tante lupa ngasih tahu kamu. Calvin sudah menikah. Dan Naura adalah nama istrinya Calvin, menantu Tante."
Bagai tersambar petir di sore hari, hatinya serasa mencelos jauh ke dalam dasar jurang paling dalam. Sepasang bola matanya tiba-tiba memanas hampir berkaca-kaca. Kenyataan tak terduga yang dia dengar dari mulut Fani, nyatanya sanggup membuat mentalnya terguncang.
Calvin ... sudah menikah?
^^^To be continued...^^^