Quiet Wife

Quiet Wife
43. Mengikhlaskan



Arvin refleks berdiri tegak saat melihat sekumpulan tim penyelamat bergerak cepat sembari membopong kantung jenazah.


Sial, Arvin benar-benar tidak sanggup jika isi dari kantong jenazah itu adalah adiknya.


Dengan langkah bergetar, Arvin berlari menghampiri tim penyelamat. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Arvin membuka resleting kantong jenazah. Dan jantungnya seketika berdegup kencang saat mengetahui bahwa jenazah itu bukanlah adiknya.


"Adik saya mana?" Arvin masih dengan raut wajah tegang, bertanya pada tim penyelamat yang memaklumi sikapnya.


"Adiknya Mas, laki-laki, apa perempuan?" Tanya salah seorang tim penyelamat. Buru-buru Arvin mengeluarkan ponselnya seraya memperlihatkan foto Calvin.


"Adik saya laki-laki!"


Tampak para tim penyelamat itu saling pandang, kemudian dengan berbarengan menghela napas panjang. "Kami belum menemukannya. Tapi kami berjanji, kami akan menemukan adiknya Mas secepatnya." Setelah mengatakan hal itu, tim penyelamat memutuskan melanjutkan langkahnya menuju tempat evakuasi. Meninggalkan Arvin yang dibuat tidak berdaya di tempatnya.


Dengan langkah berat, Arvin kembali menuju anggota keluarganya.


"Apa ... itu Mas Calvin?" Naura bertanya tanpa sedikit pun menatap Arvin yang tengah menatapnya. Tatapan perempuan itu masih kosong.


"Bukan."


Semuanya spontan menghela napas. "Kenapa Calvin masih belum bisa ditemukan?" Fani menggerutu pelan. Hatinya bimbang dan tertekan.


Entah karena terlalu berlarut akan Calvin, semuanya sampai tidak menyadari waktu yang telah menunjukkan pukul tengah hari. Suara azan dzuhur berkumandang, menyadarkan semuanya dari berbagai lamunan.


"Kita salat dulu, yuk!"


...****...


Tengah hari sudah hampir lewat, namun Calvin masih belum juga ditemukan. Para tim penyelamat sudah berkali-kali terjun mencari satu orang korban tersebut yang sampai detik ini belum juga ditemukan.


Seluruh anggota keluarga sudah pasrah jika pada akhirnya nanti, Calvin benar-benar ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Asalkan Calvin dapat ditemukan, itu sudah lebih baik. Sayangnya, Tuhan seolah belum mengikhlaskan Calvin untuk sesegera mungkin ditemukan.


Dan saat ini, Divo dan Arvin memutuskan untuk tetap menunggu kabar di pantai. Sementara Fani dan Naura, keduanya tengah berusaha mengisi perut dengan terpaksa.


Jika Fani mungkin tidak mengisi perut pun tidak apa. Tapi menantunya, sekhawatir dan setakut apa pun, Naura tetap harus mengisi perutnya. Fani tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.


"Naura! Makan dulu, Sayang!"


"Aku nggak laper, Mah."


Senyuman simpul yang sebelumnya Fani perlihatkan, pada akhirnya luntur begitu saja. Dadanya sesak melihat Naura masih terus murung di tempatnya.


"Kamu harus makan. Tadi pagi kamu cuman makan sedikit. Sekarang makan, ya, Mama suapin!" Saat Fani hendak melayangkan satu suapan nasi beserta lauknya, Naura lantas menangis. Air matanya kembali lurus membanjiri wajah cantiknya.


"Aku mau ketemu Mas Calvin, Mah! Aku gak mau apa-apa lagi, aku cuman mau ketemu sama suami aku! Dia udah janji mau nemuin aku kemarin, tapi sampai sekarang dia belum temuin aku!"


"Naura! Dengerin Mama!" Fani menggenggam kedua tangan Naura yang terasa berkeringat dingin. "Kalaupun nanti kita semua bisa ketemu Calvin, mungkin kondisi Calvin sudah tidak seperti dulu. Mungkin Calvin sudah-"


"Sudah meninggal maksud Mama?" Fani menahan napasnya, kemudian mengangguk. Saat itu juga, tangis Naura kembali pecah. Fani yang pada dasarnya duduk di depan Naura, lantas beralih ke sampingnya. Memeluk tubuh rapuh Naura, di mana pada dasarnya Fani pun sama rapuhnya.


"Kita harus ikhlas. Sudah selama ini, rasanya tidak mungkin jika Calvin masih hidup. Jadi, kita berdoa yang terbaik semoga Calvin cepat ditemukan. Ya?"


...****...


Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, pencarian terus dilakukan. Sayangnya, Calvin belum juga ditemukan. Para tim penyelamat bahkan sudah mulai putus asa untuk terus melakukan pencarian. Dan seperti yang telah diputuskan, Calvin akhirnya dinyatakan meninggal tanpa ditemukan.


Tentu saja, hal itu tidak dapat langsung diterima oleh pihak keluarga. Namun, berbagai pencerahan serta saran dari tim penyelamat, pada akhirnya sedikit meluluhkan hati pihak keluarga.


Seperti yang saat ini tengah terjadi di kediaman keluarga Calvin, semuanya tengah mengadakan pengajian atas kepergian Calvin. Semuanya, khususnya para tetangga yang ramai-ramai mengasihani Naura. Perempuan itu diharuskan kehilangan suaminya disaat ia tengah hamil muda.


Tak hanya tetangga, teman-teman seangkatan Calvin juga hadir di acara duka itu. Semuanya menangis tidak terima atas keputusan sepihak di mana Calvin dinyatakan pergi selamanya, padahal jasadnya saja masih belum ditemukan.


"Yang sabar, ya, Nau! Jujur, aku ikut sedih dan gak rela dengernya." Ira, salah satu teman sekelas Calvin di kampus, terus menenangkan Naura yang berada di sampingnya.


Bisa dibilang, Naura yang awalnya berusaha terlihat baik-baik saja, ketika melihat tangisan tulus dari Ira, membuatnya kembali menangis. Jujur saja, Naura tidak kuat menghadapi ini sendirian. Apalagi disaat dia sendiri tengah mengandung seperti ini.


"Makasih udah dateng." Ira semakin menangis tak tega apalagi ketika mengetahui bahwa Naura sebenarnya tidak sama seperti yang dideskripsikan orang-orang.


Refleks Ira memeluk tubuh Naura. Mencoba memberikan kekuatan padanya agar tetap tabah menghadapi semua cobaan. "Kamu kuat, Nau! Kalau ada apa-apa, kamu boleh banget cerita sama aku. Ya? Calvin udah aku anggap sebagai saudara aku sendiri. Dia orangnya baik banget, dia juga solid. Gak ada yang gak suka sama orang yang sebaik dia. Dia juga suka dengerin keluh kesah semua orang termasuk aku. Pokoknya Calvin itu bener-bener sosok temen yang baik."


...****...


Setelah semua acara duka usai, tepat di tengah hari, Naura izin pamit pada kedua mertua serta kakak iparnya.


"Kamu ... beneran mau pulang dan ninggalin Mama?" Jujur saja, Fani tidak rela jika Naura pergi ke rumahnya semula. Dia sudah terlanjur sayang pada menantunya.


"Aku minta maaf, Mah, Pah! Kalau aku tetap di sini, aku gak bisa lupain Mas Calvin! Dan bayangan itu malah menyakiti hatiku sendiri, di mana kenyataannya, aku gak akan pernah bisa ketemu sama Mas Calvin lagi. Aku-" Naura mendeja kalimatnya ketika Fani mulai memeluknya dengan begitu erat.


"Ya sudah. Tapi sekali-sekali, kamu harus temuin Mama, ya? Mama bakalan kangen banget sama Naura, sama calon cucu Mama juga. Jaga diri baik-baik, ya."


Perlahan, Fani mulai melepaskan pelukannya. Mengecup singkat wajah Naura dengan penuh kasih sayang. Setelahnya, Naura mulai menyalimi tangan Fani, kemudian dilanjut pada Divo lalu Arvin.


"Aku pamit dulu, ya, Mah, Pah, Kak Arvin!"


"Iya. Aku juga mau pamit. Niat izin kuliah dua minggu, tapi sekarang udah lebih dari sebulan. Mungkin, Arvin juga mau pamit sekarang, Mah, Pah!" Arvin ikut menyalimi tangan mama dan papanya. Walau ia masih sangat berat hati meninggalkan kedua orang tuanya, Arvin harus tetap kembali ke Belanda.


"Iya, Vin! Papa sama Mama ngerti, kok. Kamu hati-hati, ya! Naura, titip salam buat Papa."


...****...


Malam dingin dengan embusan angin malam yang menusuk kulit, menjadi malam pertama bagi Naura tidur di rumah lamanya tanpa Calvin. Mencoba untuk terlelap, sialnya, pikirannya terus teringat akan Calvin. Di mana Naura dan Calvin waktu itu pernah menghabiskan malam bersama di tempat ini.


Menyebalkan! Naura lupa hal itu.


Naura berniat kembali ke rumah lamanya bermaksud untuk melupakan memori bersama Calvin. Tetapi Naura lupa, di mana di sini pun, masih tetap ada kenangan indah bersama Calvin.


Dengan perasaan kalut, Naura membelalakkan mata. Mencoba mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping ke sebelah kiri. Tangannya refleks menyentuh tempat kosong yang dahulu pernah ditempati Calvin. Sedangkan tangan yang satunya terulur menyentuh perutnya yang semakin membulat.


"Kamu juga kangen sama Papa, ya?" Naura menghela napas panjang disela aktivitasnya mengelus perut. Bisa dibilang, akhir-akhir ini Naura sering mengajak janinnya mengobrol seputar Calvin.


Ya, hanya Calvin.


"Mama juga. Biasanya jam segini, Papa tuh suka peluk Mama kalau lagi tidur. Sekarang ..." Sungguh, Naura tidak kuat melanjutkan kata-katanya. Ingin dirinya kembali menjatuhkan air mata, namun air mata itu seolah telah mengering dan hilang selamanya.


"Em, kamu laper, gak? Kita makan, yuk!" Naura mengalihkan perhatian pada perutnya. Tangannya masih setia mengelus janinnya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Hm? Ya udah, Mama juga laper. Semoga masih ada makanan di dapur."


...****...


Naura mengernyit bingung saat sebuah punggung tegap berdiri jangkung menghalangi kulkas. Jujur saja, Naura tidak pernah melihat punggung tegap itu seharian ini.


Jadi, dia siapa?


Saat Naura masih sibuk memandangi, pemilik punggung itu berbalik. Tampak raut wajah syok yang dia tampilkan ketika netranya menemukan sosok perempuan berpakaian piyama tidur.


"Kamu ... siapa?" Mencoba tetap tenang, Naura bertanya seraya sedikit memundurkan langkah kakinya. Tangannya refleks memeluk perutnya seolah menjaga agar janinnya tidak berada dalam bahaya.


Tentu saja pemuda itu melihat semua gerak-gerik waspada Naura. Bahkan, sudut hatinya tiba-tiba sesak melihat kenyataan lain di mana Naura sepertinya benar-benar tengah hamil anak pria lain.


"Ekhem. Aku Ivan, kamu nggak inget? Kita ... temen sekelas waktu SD." Pemuda itu tersenyum hangat setelah beberapa waktu hanya terdiam.


"Tapi, kenapa kamu bisa ada di sini?" Naura masih waspada terhadap pemuda yang mengaku bernama Ivan itu.


Sejujurnya, Naura lupa siapa saja temen sekelasnya waktu SD dulu. Ivan? Ivan yang mana? Naura tidak merasa memiliki teman SD bernama Ivan.


"Papa yang undang Ivan ke sini!" Suara bariton dari arah pintu dapur, lantas mengenyahkan perhatian semuanya.


Melihat kedatangan papanya, Naura lantas berlari menghampirinya. "Nih, Papa bawain martabak telor kesukaan Putri Papa. Kali-kali aja kamu mau."


Naura yang tadinya hendak bertanya panjang lebar seputar Ivan, mendadak tidak jadi dan melupakan niatannya. Matanya berbinar menatap satu buah keresek putih yang katanya berisi martabak telor.


"Ini buat aku semua, Pah?" Tanya Naura yang dibalas anggukkan pelan oleh Hermawan.


"Aaa, makasih! Aku bawa ke kamar, ya?"


"Boleh. Sana, habisin!" Suruhan dari Hermawan, membuat Naura tersenyum lebar. Tanpa berniat lebih lama lagi, Naura pun berlari menuju kamarnya seraya membawa serta martabak telor pemberian papanya.


Sepeninggalan Naura, raut wajah Hermawan berubah datar. Tatapannya beralih pada Ivan yang terlihat terkekeh sembari menunduk.


Sepertinya perkiraan Hermawan benar. Pemuda ini masih menyukai Naura.


^^^To be continued...^^^