
Hari ini, adalah hari paling membahagiakan untuk Naura, Calvin, dan juga kedua keluarga besar. Semuanya menangis haru saat mengetahui jika Calvin ternyata masih hidup dan kembali ke sisi mereka. Semuanya terasa tidak nyata.
Tak dapat dipungkiri, semuanya turut senang dan bahagia. Tanpa berpikir lebih lama lagi, kedua keluarga memutuskan menggelar acara syukuran atas kembalinya Calvin sekaligus acara empat bulanan kehamilan Naura.
Di acara yang penuh dengan kebahagiaan ini, seluruh keluarga serta para tamu hadirin ikut senang dan berbahagia. Naura yang tengah hamil muda itu tidak benar-benar ditinggalkan pergi oleh suaminya.
Dengan pakaian seragam serba mocca, Calvin, Naura, bahkan kedua keluarga terlihat begitu kompak di acara sakral tersebut. Selesai mengaji dan memanjatkan doa, seluruh hadirin tamu dipersilakan menikmati hidangan yang telah disuguhkan.
Saat ini, di sebuah sofa khusus pemilik acara, Naura tak henti-hentinya memandangi wajah Calvin tanpa sedikit pun berniat berpaling. Senyumannya terus terukir dengan begitu cantiknya. Sialnya, Calvin jadi salah tingkah gara-gara tingkah istrinya.
"Sayang!"
"Hm?"
"Jangan lihatin aku kayak gitu. Aku bukan hantu, serius! Aku masih bernyawa, nih, sentuh!" Calvin meraih tangan Naura untuk ditempelkan di wajahnya beberapa kali.
Sungguh, tindakan kecil itu membuat Naura tertawa. Sudah cukup lama Naura tidak tertawa lepas seperti hari ini.
"Iya, aku tahu! Tapi aku pengin lihatin wajah gantengnya suami aku, gimana dong? Aku nungguin kamu tiga bulan, dan itu tuh lamaaaa banget! Aku kangen."
Jujur saja. Ada sedikit perasaan tidak tega mendengar penuturan Naura. Istrinya sudah terlalu banyak tersiksa ketika Calvin tidak ada.
"Maaf udah buat kamu nangis! Aku janji, aku nggak akan pergi lagi! Kecuali kalau memang aku benar-benar dipanggil sama Tuhan." Naura menggeleng pelan, seraya menggenggam erat tangan Calvin.
"Di dunia ini, nggak ada seorang pun yang ingin celaka apalagi sampai koma berbulan-bulan. Aku yakin, semua yang terjadi di hidup aku, kamu, kita, itu adalah sebuah ujian dari Tuhan. Tuhan sedang mengetes, seberapa kuat kita menjalani ujian ini. Tuhan ngasih ujian seperti ini karena Dia tahu kalau hamba-Nya sanggup menerimanya. Terima kasih sudah kembali!"
"CALVIN!" Pekikan histeris dari arah pintu utama, seketika membuyarkan suasana haru nan romantis di antara Naura dan Calvin.
Refleks keduanya menoleh ke arah sumber suara. Senyum di wajah Calvin kian melebar tatkala mengetahui siapa yang baru saja memanggil namanya.
"Woi! Sini kalian! Gue-" Calvin menjeda ucapannya saat Brian, Irgha dan juga Nino, terlihat berlari sekuat tenaga menghampiri Calvin. Belum sempat Calvin mengatakan sepatah kata, ketiga sahabatnya ini langsung menariknya secara paksa untuk berdiri, dan berakhir dipeluk secara bersamaan.
"Calviiinnnn! Akhirnya lo balik juga, Vin! Ke mana aja lo selama ini, hah? G*bl*k lo ngeprank kita selama tiga bulan! Tega lo, Vin!" Irgha tak dapat menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata.
Jujur saja, Irgha bahagia mendengar kabar baik bahwa Calvin kembali dengan keadaan baik-baik saja.
"Sialan lo, Vin! Gue tonjok juga muka lo! Lama banget lo ngilang anj*rrrr!" Nino ikut menimpal. Dia sama halnya dengan Irgha yang menangis bahkan sampai keluar ingus.
"Kita seneng banget pas tahu lo masih hidup, Vin! Makasih udah balik." Tambah Brian, sama emosionalnya.
Calvin tertawa renyah melihat reaksi penuh air mata bahagia dari ketiga sahabatnya. Memang tidak salah Calvin menjalin hubungan persahabatan dengan mereka.
"Thanks, udah dateng! Sekarang karena gue udah balik, gimana kalau kita makan bareng-bareng?" Perlahan, ketiganya mulai melepaskan pelukan pada Calvin. Brian, Irgha bahkan Nino, tampak mengangguk antusias disela masih menyeka sisa air mata.
"Gas, Vin! Pokoknya hari ini, kita bakalan habisin semua menu yang tersaji di acara syukuran kepulangan lo!"
"Good boy!"
...****...
Tak terasa, acara syukuran telah usai. Hari yang cerah mulai berganti gelap. Di sini, di dalam kamar yang telah berbulan-bulan ditinggalkan oleh kedua pemiliknya, mulai kembali diisi dengan suasana hangat penuh cinta.
Barang-barang baru bahkan tampak memenuhi kamar mereka. Seperti tempat tidur bayi, mainan, pakaian serta berbagai jenis alat makan khusus bayi.
Memang masih lama. Tetapi semuanya telah disiapkan oleh Calvin ketika setibanya dia benar-benar pulang ke rumah. Semuanya bernuansa biru, dikarenakan calon anaknya berjenis kelamin laki-laki. Calvin jadi tidak sabar untuk menanti kedatangan bayi kecilnya beberapa bulan lagi.
"Sayang!" Calvin memanggil Naura dengan begitu lembut.
Omong-omong, keduanya tengah merebahkan diri di atas tempat tidur sambil merapatkan posisi agar dapat saling berpelukan satu sama lain.
"Hm."
"Kamu udah tidur?" Pertanyaan itu membuat Naura sedikit menjauhkan wajahnya dari dada bidang Calvin. Kepalanya mendongak menatap lekat-lekat raut wajah Calvin yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
"Kenapa emangnya?"
Salah satu tangan Calvin terulur mengusap surai hitam Naura ke belakang. Kedua sudut bibirnya bahkan terangkat membentuk sebuah lengkungan manis.
"Mas Calvin-"
"Sayang! Itu, yuk!" Naura refleks memelotot ketika mendengar ajakan ambigu dari Calvin.
Berusaha untuk tetap berpikir positif, Naura bertanya; "Maksudnya?"
"Masa nggak ngerti. Itu, lho, Nau!" Lirikan mematikan Calvin sudah cukup membuat Naura paham. Kedua pipinya kian memanas saja rasanya.
"E-emangnya boleh?" Naura mengecilkan volume suaranya diiringi kepalanya yang menunduk malu.
"Boleh! Kata siapa nggak boleh? Aku juga udah konsul sama dokter di aplikasi."
Naura bingung harus membalas apa. Untuk sekadar menatap Calvin saja dia tidak berani. Walau ini bukan kali pertama, tetap saja rasanya tidak terbiasa.
"Sayang!" Panggilan dengan nada rendah dari Calvin, menyadarkan Naura dari berbagai pikirannya. Perlahan namun pasti, Naura mendongak menatap wajah Calvin. Diam-diam dirinya menelan ludah saat tatapan Calvin berubah dalam dan menusuk.
"Ya? Sekalian kita jengukin anak kita."
"I-itu ... iya udah! Ta-tapi pelan-pelan!" Jawaban yang dinanti-nanti terlontar. Seringaian tipis menghiasi wajah tampan Calvin.
"Siap! Bisa diatur."
...****...
"Assalamualaikum, Mah! Maaf, Naura baru bisa jengukin Mama sekarang. Dan seperti janji Naura waktu itu, Naura bawa suami Naura ke sini." Pagi itu, Naura memenuhi janjinya seperti yang pernah dia ucapkan pada almarhummah mamanya tempo hari.
Naura yang biasanya selalu tampak bersedih ketika menghampiri makam mamanya, saat ini raut wajah wajahnya tampak tersenyum tulus sembari menggenggam erat tangan Calvin.
"Assalamualaikum, Mah! Maaf, Calvin baru bisa jengukin Mama hari ini." Perlahan, Calvin berjongkok di hadapan makam mama mertuanya, diikuti Naura yang dengan telaten membersihkan rumput dan dedaunan kering yang menutupi makam sang mama.
Kegiatan keduanya berlangsung husyuk apalagi ketika mulai memanjatkan doa dan menaburkan bunga serta air doa. Tak berlangsung lama, kegiatan tersebut pun telah usai. Namun baik Naura maupun Calvin, keduanya masih enggan untuk beranjak pergi.
Helaan napas pelan dari Naura terdengar sampai ke telinga Calvin. Senyum tipisnya masih belum juga luntur, membuat Calvin ikut terhanyut akan senyuman itu yang teramat dia rindukan.
"Oh, ya, Mah. Kami ke sini mau menyampaikan kabar gembira. Seharusnya mungkin dari awal aku bilang sama Mama. Maaf, Naura baru sempat sekarang jengukin Mama!" Naura berucap sesal ketika mengingat apa saja yang telah dia lalui selama ini. Lagi-lagi Naura menghela napasnya.
"Ini bukan sepenuhnya salah Naura, kok, Mah! Tolong, jangan marahin Naura! Ini ... murni karena keadaan di mana sa-"
"Mas Calvin?" Naura memanggil Calvin, membuatnya menghentikan ucapannya sehingga berakhir menatap Naura.
Beberapa saat saling pandang, Naura tiba-tiba tertawa pelan dengan begitu cantiknya. "Kamu mau nyalahin diri kamu sendiri?" Naura bertanya disela dirinya masih memasang tawa.
"Iyalah! 'Kan emang gara-gara aku,"
Tawa Naura luntur mendengar pengakuan Calvin. "Enggak! Padahal aku nggak mau bilang itu tadi."
Calvin terdiam, masih memandangi raut wajah cantik Naura. "Aku baru aja mau bilang, kalau sebuah kabar baik yang pengin banget aku kasih tahu ke Mama itu soal kembalinya kamu! Aku seneng banget sampai rasanya nggak bisa berkata-kata. Aku nggak tahu apa ini nyata, atau cuman mimpi indah dari Tuhan untuk menghibur aku sebentar atau bagaimana. Yang jelas, aku sangat bersyukur kamu bisa kembali dalam keadaan sehat dan masih mengingat aku."
"Jadi ... kamu bukan mau ngasih tahu Mama soal kita yang sebentar lagi akan jadi orang tua?"
"Kalau itu, aku udah pernah kasih tahu Mama waktu kamu dinyatakan meninggal pertama kali." Terang Naura, yang dibalas helaan napas panjang oleh Calvin.
"Udah, jangan terlalu dipikirin gitu! Yang penting, sekarang kamu udah pulang. Kamu juga udah mempersiapkan sebuah nama yang cantik banget buat calon anak kita. Makasih! Dengan kembalinya kamu aja udah membuat aku senang bukan kepalang." Perlahan, Naura kembali menggenggam tangan Calvin. Tatapan matanya terlihat begitu tulus memancarkan aura kebahagiaan di sana.
"Makasih udah nungguin aku pulang! Aku janji setelah ini, aku nggak akan pernah ninggalin kalian lagi." Calvin balas menggenggam tangan Naura, seraya berakhir membuat Naura bersandar di bahunya.
"Janji?" Naura mengangkat jemari kelingkingnya ke hadapan Calvin. Hal itu tentu saja membuat Calvin tertawa ringan.
Tanpa berpikir panjang, Calvin balas menautkan jemari kelingkingnya dengan jemari kelingking milik Naura. "Janji!"
"Aku pegang ucapan kamu."
^^^To be continued...^^^