Quiet Wife

Quiet Wife
12. Kunjungan Ke Rumah Mertua



"Gimana? Semuanya udah dimasukin, Vin? Gak ada yang ketinggalan 'kan?" Fani bertanya lemah lembut, sedari Calvin memasukkan satu persatu barang bawaan mereka ke dalam bagasi mobil.


"Masih ada satu, lagi dibawa sama Naura,"


"Barangnya berat?"


"Enggak. Paling cuman snack doang."


Tak berapa lama, Naura dengan setelan dress feminin yang begitu pas di tubuh mungilnya, muncul dengan membawa satu keresek berukuran jumbo berisi beberapa makanan ringan yang akan menemani perjalanan mereka.


Sedari kedatangan Naura, Calvin tak henti-hentinya berdecak kagum dalam hati. Rambutnya yang panjang sepunggung dibiarkan tergerai dengan manisnya. Setelan dress lengan tiga perempat dengan panjang di bawah lutut itu tampak begitu indah membungkus tubuhnya.


Memang tidak salah lagi dress yang dibelikan mamanya tempo hari. Begitu cocok untuk tubuh Naura yang mungil dan cukup berisi.


Anehnya, otak Calvin malah tidak sengaja memikirkan Naura waktu kemarin malam. Ucapannya yang mengatakan lain kali, entah mengapa begitu terngiang di kepala Calvin.


"Ekhem. Mau aku bantu?" Berusaha untuk mengenyahkan segala pemikiran absurd-nya, Calvin menghampiri Naura yang hendak memasukkan sekantung keresek snack tersebut di kursi belakang.


"Bisa, kok, bisa." Ucapan Naura yang memang ditujukan pada Calvin, membuat Fani terkejut sampai tanpa sadar tangannya terangkat membekap mulutnya.


Lho, Naura?


Ingin rasanya Fani bertanya panjang lebar pada Naura tentang, sejak kapan dirinya kembali terbuka?


Namun, perasaan itu berusaha Fani singkirkan jauh-jauh. Menurutnya, hal bagus jika dengan kehadiran Calvin dapat membuat Naura berubah sedikit demi sedikit. Dengan begini, janjinya pada mendiang mamanya Naura yang juga adalah sahabatnya, untuk membuat Naura sembuh dari trauma, dapat terpenuhi.


"Mobilnya kemarin udah dicek semua sama Papa. Jadi, sekarang tinggal kalian pake aja. Hati-hati di jalan, ya. Inget, jangan ngebut!" Peringat Fani yang terakhir ia tujukan pada Calvin yang sibuk memandangi Naura.


"Iya, Mah. Tenang aja."


"Nih, Vin! Hadiah dari Papa." Divo yang sedari tadi sibuk berkutat di dalam rumah, tiba-tiba datang dengan sebuah paper bag kecil yang langsung diberikan pada Calvin.


"Apaan, nih, Pah?" Saat Calvin hendak membukanya, Divo menghentikannya.


"Nanti juga tahu." Bisiknya, kemudian menatap sekitar. Terlihat cukup aman, barulah Divo melanjutkan kata-katanya dengan setengah berbisik. Dan sialnya, hal itu membuat telinga Calvin memanas.


"Jaga-jaga kalau mau cocok tanam. Inget, masih kuliah! Walau udah pernah sekali, yang kedua gak boleh sampai kebablasan."


"Ck! Apaan sih, Pah?! Kita mau ke rumahnya Papa Hermawan, bukan mau bulan madu! Papa ngadi-ngadi, nih. Gak mau, ah! Ambil lagi, nih!" Saat Calvin hendak menyerahkannya kembali, papanya ini dengan tampang tengil, terus menggodanya untuk mengambilnya.


"Eeh, ambil, Vin! 'Kan cuman antisipasi,"


"Masalahnya Calvin gak mauu! Nanti gimana kata Naura? Enggak, ah! Kalau mau juga tinggal jangan di dalem aja, beres 'kan?"


"Heh! Kalian berdua lagi ngomongin apaan? Mencurigakan banget dari tadi."


Baik Calvin maupun Divo, keduanya refleks saling menjauhkan diri. Spontan Calvin menyembunyikan paper bag pemberian sang papa di belakang punggungnya.


Mampus, kebawa!


"Eng-gak lagi ngapa-ngapain. Ya 'kan, Pah?"


Sial! Kok, rasanya seperti tengah menyelundupkan barang haram? Semua karena papanya!


"Ekhem. Udah mau siang, mending kalian langsung berangkat. Oh, iya. Jangan lupa dipake, ya, Vin!"


Papaaaaa!!!! "Hm, iya."


"Apanya yang dipake?" Pertanyaan polos dari Naura, membuat Calvin kian gelagapan.


"Itu, lho-"


"Sabuk pengaman! Iya, maksudnya Papa itu! 'Kan, Pah?" Sela Calvin, buru-buru. Takut jika ucapan papanya ini membuat pikiran Naura tidak lagi polos.


Hanya Calvin yang berhak membuat pikiran Naura tercemar. Iya, hanya Calvin!


"Ooh."


"Ya sudah. Hati-hati di jalan, ya, Sayang! Kabarin Mama kalau udah sampai." Sebelum benar-benar melepaskan Naura pergi bersama Calvin, Fani menyempatkan diri untuk memeluk Naura penuh kasih sayang.


Rasanya, ini seperti sebuah mimpi, di mana Naura yang dahulu begitu kecil, kini malah berdiri jangkung di hadapannya. Apalagi, sekarang Naura malah menjadi menantunya. Sudah benar-benar sah menjadi bagian dari keluarga.


Andai, kamu masih di sini, Mi. Aku sangat ingin melihat rona bahagia kamu saat melihat bahwa anak-anak kita benar-benar menikah saat ini. Seperti yang pernah kamu ucapkan waktu itu.


...****...


Perjalanan menuju kampung halaman Naura yang berada di pesisir pantai, menjadikan perjalanan begitu menyenangkan. Apalagi di sepanjang perjalanan, keduanya disuguhkan dengan pemandangan laut yang biru.


Sekitar satu jam lebih berkendara, Calvin menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang cukup sepi. Bukan karena sudah sampai, ataupun nyasar, tapi karena Naura yang tiba-tiba mabuk perjalanan.


Saat ini, dengan penuh perhatian, Calvin membantu memijit Naura yang masih memuntahkan isi perutnya.


"Tadi minum obat masuk angin dulu, gak?" Gelengan kepala dari Naura, dibalas helaan napas oleh Calvin.


"Kita istirahat di situ dulu, yuk!" Ajak Calvin, yang dibalas anggukkan lemah oleh Naura.


Beruntung, di tempat keduanya berhenti, ada sebuah bangku yang terbuat dari bambu, sehingga memudahkan Calvin untuk membawa Naura istirahat sejenak.


"Minum dulu." Calvin menyodorkan sebotol air minum yang telah dibuka penutup botolnya. Dengan lemah, Naura pun meraihnya.


"Makasih. Padahal seumur-umur, aku gak pernah mabuk perjalanan kayak gini." Naura menyerahkan botol air minum kembali pada Calvin, setelah ia menenggaknya sedikit.


"Oh, ya? Tadi kamu ada makan apa?" Calvin meraba dahi Naura, lalu dilanjut ke area leher untuk mengecek suhu tubuhnya. Dan, semuanya normal.


"Enggak makan yang aneh-aneh, kok. Tapi mual."


"Sekarang masih mual?" Tanya Calvin, lembut. Balasan berupa gelengan pelan dari Naura, tak lagi dipertanyakan oleh Calvin.


Beberapa saat, keduanya saling terdiam. Calvin sibuk memeluk tubuh mungil Naura dari samping, sedangkan Naura mencoba memejamkan mata dengan kepala yang bersandar di bahu lebar Calvin.


Embusan angin laut seolah kian tercium pekat. Apalagi saat angin itu mulai menerbangkan sebagian rambut Naura yang tergerai. Sedangkan pemiliknya saat ini tengah berusaha memejamkan mata.


Beberapa kali Calvin mencoba menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik Naura, namun tidak berhasil. Decakan sebal tanpa sadar keluar dari mulutnya, dan membangunkan Naura yang mencoba terlelap beberapa saat.


"Mas Calvin ngapain?" Perlahan, Naura mulai memposisikan tubuhnya menjadi duduk tegap. Kedua bola matanya yang masih tampak sayu, menatap Calvin yang tampak kelimpungan harus menjawab apa.


"Hm, itu. Rambut kamu." Ujar Calvin. Membuat Naura seketika menyentuh rambutnya.


Tanpa bertanya apa-apa lagi, Naura merogoh saku dress yang sebelumnya ia selipkan sesuatu di sana, yaitu sebuah ikat rambut. Dengan telaten tanpa perlu menyisir rambutnya terlebih dahulu, Naura mengikat rambutnya tinggi-tinggi dengan hasil yang begitu rapi.


Calvin bahkan sempat dibuat kagum dengan keterampilan Naura yang tidak membutuhkan cermin maupun sisir untuk merapikan rambutnya. Dan yang lebih membuat Calvin salah fokus ialah, leher jenjang Naura. Tiba-tiba Calvin teringat malam itu, di mana dengan ganasnya, Calvin meninggalkan beberapa jejak keunguan di leher cantik itu.


Sial! Mikirin apa lagi lo, Vin!? Sesat semua perasaan isi pikiran lo. Heran gue! Belajar dari mana sih lo?


Dalam hatinya yang terdalam, Calvin sungguh merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya berpikiran mesum terhadap Naura. Seandainya Naura dapat mengerti isi hati Calvin, bisa-bisa sekarang dirinya sudah ditampar oleh Naura.


Memikirkannya saja sudah membuat ngilu.


"Mas Calvin!"


"Hm. Iya!" Reaksi terkejut Calvin yang begitu alami, membuat senyum di wajah Naura tercetak.


"Mas Calvin lagi ngelamun, ya? Mikirin apaan?" Seolah telah benar-benar pulih, Naura bertanya usil seraya mencolek lengan Calvin. Anehnya, reaksi Calvin terlihat begitu kaku.


"Enggak mikirin apa-apa. Oh, ya. Udah baikan belum? Mau jalan sekarang?" Sebelum Naura terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Calvin skakmat, lebih baik Calvin mengalihkan obrolan agar Naura tak lagi bertanya yang bisa saja pertanyaan itu akan berakhir menjebak Calvin.


"Hm, udah! Sekarang aja."


"Nanti kalau mual lagi, bilang, ya!"


...****...


Berangkat dari rumah pukul sembilan pagi, sampai di tujuan sekitar pukul dua belas tengah hari. Perjalanan terasa lebih lambat dari biasanya, dikarenakan Naura yang mabuk perjalanan, kemudian minta jajan ini dan itu dahulu. Dan yang terakhir, Naura kepengin istirahat karena kedua kakinya yang tiba-tiba pegal.


Sebagai suami yang baik dan pengertian, Calvin hanya bisa meladeni semua keinginan Naura. Pikirnya, toh itung-itung jalan berdua. Kapan lagi?


Saat ini, ketika Naura dan Calvin sudah berdiri di depan pintu hendak memencet bel rumah, pintu itu kemudian terbuka lebar. Menampakkan sesosok pria bertubuh tidak begitu tinggi, yang selama ini Naura rindukan.


"Papa?" Raut wajah Hermawan berubah semakin syok, saat mendengar putrinya menyahuti namanya. Perasaan hari seolah tak bisa dibendung, sehingga dengan spontan Hermawan memeluk putri sematawayangnya.


"Papa kangen sama Naura." Ujar Hermawan. Sebenarnya, masih banyak yang ingin beliau sampaikan. Apalagi perihal Naura yang kembali terbuka seperti sekarang ini


Apa semua karena Calvin?


Pelukan keduanya diharuskan terurai saat mengingat di mana posisi keduanya saat ini. Perhatian Hermawan yang semula sibuk pada putrinya, mulai beralih pada Calvin.


"Nak Calvin, bagaimana kabarnya? Baik?" Dengan senyuman yang begitu merekah, Hermawan menjabat tangan menantunya tanpa merasa sungkan.


Demi apa pun, dia teramat senang dengan perubahan Naura.


"Alhamdulillah, baik, Pah. Papa bagaimana kabarnya?"


"Sangat baik, berkat kamu. Eh, kok, jadi ngobrol di depan pintu? Ayok, masuk dulu! Barang-barangnya biar nanti Ujang yang bantu bawain. Sekarang dia lagi di dapur, bikin minum buat kalian." Ucapan Hermawan, membuat Calvin dan Naura ikut tersadar. Sontak keduanya saling melempar tatapan satu sama lain beberapa saat.


"Ayok! Tunggu apa lagi?" Melihat Naura yang tersenyum begitu tulus pada Calvin, rasanya membuat Hermawan semakin merasa senang dan lega di waktu bersamaan.


Pikiran buruknya yang terus berspekulasi, bahwa Naura tidak akan hidup bahagia setelah apa yang sudah terjadi ternyata salah besar. Bahkan, Naura sudah mulai kembali terbuka setelah sekian tahun putrinya hanya diam dan tidak berbicara.


Sepertinya, bukan keputusan yang buruk menikahkan Naura dengan Calvin. Bahkan tadi aku lihat, sepertinya Calvin juga begitu menyayangi Naura. Tatapan matanya yang lembut menerangkan semuanya.


^^^To be continued...^^^


...Naura Akmilia istrinya Calvin Bintang Regartha...