
Hari yang cerah nan terik, rasanya begitu menyebalkan untuk Naima. Niatnya kembali menjadi seorang mahasiswi adalah untuk sampai ke pelukan Calvin.
Sial, Calvin yang Naima idam-idamkan nyatanya telah beristri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Bisa-bisanya Calvin melupalannya begitu saja, setelah apa yang sudah dia janjikan pada Naima waktu itu.
Di tengah langkahnya yang penuh kemalasan, Naima menemukan Calvin di parkiran kampus. Sepertinya, Calvin sudah hendak pulang ke rumah. Dilihat dari gerak-geriknya yang tengah memakai helm.
Dengan cepat Naima berlari menghampiri Calvin. Tak lupa mengganti raut wajah malasnya dengan penuh ceria.
"Hai, Vin! Lo udah mau balik?" Naima menyapa lembut. Sontak Calvin mengalihkan perhatiannya pada Naima, seraya menaikkan kaca helm yang sempat menutupi sebagian wajahnya.
"Oh, elo, Nai! Iya, mau ke super market dulu tapi,"
"Eh, kebetulan gue juga mau ke sana! Gue nebeng, dong, please!"
"Lo gak bawa mobil?" Pertanyaan Calvin, sedikit membuat Naima kelabakan.
"I-itu ... mobil gue lagi di bengkel- Iya, di bengkel! Mesinnya tiba-tiba mati, jadinya gue ke sini naik taksi online." Ujar Naima. Jelas ucapannya adalah dusta. Karena pada kenyataannya, mobilnya juga berada di parkiran kampus, namun berada di lahan yang lain.
Semoga Calvin gak lihat mobil gue ...
"Oh, ya udah. Tapi, gue gak bawa helm cadangan."
"Gak pa-pa, deket, kok. Super market yang di depan kampus itu 'kan?" Tanya Naima, dan Calvin mengangguk.
"Habis dari sana, gue langsung naik taksi aja." Tambahnya lagi. Tanpa berpikir panjang, Calvin menyuruh Naima untuk segera naik ke atas motornya.
Senyuman manis lantas menghiasi wajah Naima. Dengan hati-hati, Naima menaiki motor Calvin dengan menjadikan bahu Calvin sebagai topangan. Setelah menyamankan posisi duduk, kedua tangannya tanpa disuruh mulai melingkar di perut Calvin.
Awalnya, Calvin sempat ragu. Tetapi mengingat motornya ini tinggi dan besar, siapa pun pasti akan refleks berpegangan. Jadi, ya sudahlah.
...****...
"Em, lo mau beli apa, Vin?" Naima bertanya kepo, setelah cukup lama keduanya berjalan mengitari berbagai rak di super market.
"Nyari susu buat ibu hamil."
Naima seketika menghentikan langkahnya. Hatinya lagi-lagi dibuat sakit dan sesak. Begitu menyebalkan.
Seserius itu Calvin sama tuh cewek? Hamil doang, apanya yang istimewa?
"Ekhem. Mau gue bantu cariin, gak?" Mencoba tetap biasa saja, Naima lantas menawarkan diri untuk membantu Calvin.
Walau hatinya terbakar api cemburu, iri dan dengki, Naima tidak boleh memperlihatkannya di depan Calvin. Karena di mata Calvin, Naima adalah sosok perempuan elegan, lembut, dan baik hati.
"Emang lo tahu?"
"Enggak tahu, sih. Tapi kita carinya bareng-bareng aja,"
"Bukannya lo ke sini karena mau beli sesuatu juga, ya?" Pertanyaan Calvin berikutnya, lagi-lagi membuat Naima kelabakan.
Aduh, Calvin kenapa ingatannya tajam banget, sih!
"Nanti ajalah, mending gue bantuin lo dulu! Gampang gue mah," balas Naima, tetap berusaha meyakinkan Calvin.
"Gak usah, gue nanya sama pegawainya aja. Lo nyari barang yang lo mau aja dulu. Bentar, ya!" Tanpa berniat menunggu Naima membalas, Calvin telah lebih dulu melenggang meninggalkan Naima.
Dan, ya. Hal itu membuat Naima dilema, antara tetap kukuh menawarkan diri, atau tetap diam seperti yang dikatakan oleh Calvin.
"Arghh! Susah banget perasaan. Calvin kenapa, sih, gak bisa lihat pengorbanan gue sedikit aja? Kalau bukan karena gue cinta, gak akan gue bela-belain nawarin diri buat bantuin dia. Ngapain juga gue bantuin nyari susu ibu hamil? Mana buat tuh si Cewek Fake, lagi. Bikin kesel aja, heuhh!"
...****...
Setelah cukup lama berada di super market, Calvin maupun Naima telah menyelesaikan belanja mereka.
Naima yang pada dasarnya memang tidak berniat membeli sesuatu, berakhir membeli beberapa kebutuhan wanita. Padahal, Naima belum lama ini menyetok banyak. Tetapi karena Calvin terus bertanya, jadilah dirinya terpaksa.
"Ya udah, kalau gitu gue duluan, ya, Vin!" Saat Naima hendak pergi, terdengar suara Calvin yang menyahutinya di belakang.
"Udah pesen taksi?"
Senyuman tipis diam-diam Naima perlihatkan. Sebelum benar-benar berbalik menghadap Calvin, Naima menyembunyikan senyuman itu. Lalu berbalik menatap Calvin dengan raut wajah yang dibuat-buat ragu.
"Hm, belum. Baru mau ambil hape," ujar Naima, lagi-lagi dirinya berdusta. Yang sebenarnya Naima inginkan adalah Calvin yang berinisiatif mengantarkannya pulang.
"Oh, ya udah. Kalau gitu gue duluan, ya. Takutnya lagi ditungguin sama istri,"
"Hah? Oh, i-iya-"
"Gue duluan!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Calvin benar-benar meninggalkan Naima pergi bersama motornya.
Sial! Bukan itu maksudnyaaa!
"Iihhh, gak peka banget jadi cowok!" Pekik Naima. Tentunya ketika Calvin telah benar-benar menghilang dari pandangannya.
...****...
Rasanya, Calvin ingin sekali menjauhkan Naura dari abangnya yang super duper playboy ini. Tetapi, mengingat Naura yang semakin membuka diri, Calvin jadi tidak tega.
Harusnya 'kan, Calvin senang melihat Naura mulai terbiasa dengan kehadiran orang-orang baru di sekitar. Naura tidak lagi menutup diri dan mulai berbicara selayaknya orang-orang pada umumnya.
Oke, tahan. Demi Naura!
"Sayang!" Calvin menyahut lembut, seraya melangkah menghampiri Naura.
Perhatian Naura maupun Arvin lantas beralih pada Calvin yang terlihat membawa sesuatu di tangannya. Seulas senyuman manis kemudian terbit di wajah Naura. Perlahan, perempuan itu mulai bangkit dari sofa untuk mencium punggung tangan Calvin.
Melihatnya saja sudah membuat Arvin iri. Adiknya sudah punya istri dan akan segera menjadi ayah. Lalu Arvin? Cewek saja nggak punya. Nasib, nasib!
"Kamu udah pulang?" Perhatian Naura lagi-lagi mencuri pandang ke arah keresek putih di tangan Calvin.
Calvin mengangguk, seraya menyerahkan sebuah kantung keresek berwarna putih itu ke tangan Naura. "Susunya udah aku beliin. Jangan lupa diminum!"
"Makasih!"
"Ekhem! Gua sebagai abang lo yang murni seorang manusia masih di sini. Gua bukan nyamuk, ye," terlanjur gatal, Arvin mengode Calvin dan Naura agar menghentikan aksi romantisme mereka.
Dan, ya. Berkat ucapan Arvin, raut wajah Calvin langsung berubah datar. Sedangkan Naura, buru-buru perempuan itu berjalan ke dapur untuk menyeduh susu khusus ibu hamil yang dibelikan oleh Calvin.
"Iri lo?" Dengan tampang meremehkan, Calvin menduduki sofa di depan Arvin. Refleks Arvin menaikkan salah satu alisnya, seraya menatap jengah Calvin.
"Iri? Enggak, gua gak iri! Cuman ngingetin. Santai, Vin, santai!" Ucap Arvin.
Suasana di antara keduanya mendadak hening beberapa saat. Tak berapa lama, sepasang adik kakak itu mulai tertawa pelan, kemudian saling menautkan tangan mereka beberapa saat.
"Sorry, ya, Vin! Soal-"
"Udah, jangan dibahas. Udah lewat," Calvin menjeda ucapan Arvin yang sepertinya hendak mengungkit soal masa lalu.
Baik Calvin maupun Arvin, keduanya lagi-lagi terdiam. Tak berapa lama, tatapan Arvin kembali pada Calvin. Merasa ada sesuatu hal yang hendak diungkapkan oleh Arvin, Calvin mencoba memasang raut wajah serius.
"Ada yang mau disampein?" Tanya Calvin. Refleks Arvin menepuk spontan pahanya sendiri.
"Si paling peka! Gua yakin seratus persen, istri lo betah dapet suami modelan kayak lo!" Ujar Arvin. Dibalas helaan napas malas oleh Calvin.
"Buruan ngomong! Biasanya kalau lo pasang muka serius kayak gitu, lo mau nyampein sesuatu sama gue,"
Raut wajah Arvin kembali ke mode serius. Helaan napas panjang yang Arvin embuskan bahkan terdengar begitu jelas di telinga Calvin.
"Gue ... mau ngingetin lo satu hal. Gue mohon, lo dengerin ucapan gue!" Arvin menjeda ucapannya. Begitupun dengan Calvin yang masih tetap diam dan mendengarkan.
"Lo jangan mau dideketin lagi sama si Naima! Dia ada niat busuk buat pisahin lo sama istri lo!"
Tidak ada balasan apa-apa dari ucapan Arvin. Sedikit pun tidak ada reaksi alami dari gestur wajah yang terkejut, ataupun tidak percaya. Calvin seolah tenang-tenang saja, bahkan dengan santainya tersenyum tipis seraya menyandarkan punggungnya di sofa.
"Lo gak percaya sama omongan gue?" Terbalik, Arvin-lah yang terkejut di sini.
"Bukannya gue gak percaya,"
"Terus?" Arvin buru-buru menyela. Sungguh, ekspresi Calvin yang paling menyebalkan diantara ekspresi-ekspresinya yang lain adalah ketika Calvin diajak bicara serius, wajahnya selalu tampak tenang bagaikan air.
Jika Calvin tenang bagaikan air, maka Arvin adalah sebaliknya.
"Sebenernya, gue udah tahu dari awal. Cuman, yah-"
"Cuman?" Arvin kembali menyela. Terdengar decak sebal dari mulut Calvin disertai dengan tatapan yang menusuk.
"Lo beneran mau dengerin gue ngomong, apa nanya-nanya doang?"
"Eh, iya dengerinlah! Ya, elo ngomongnya santuy gitu, 'kan gue gereget pengin cepet-cepet!" Timpal Arvin, tak mau kalah.
Calvin lagi-lagi menarik napasnya dalam-dalam, sebelum pada akhirnya melanjutkan ucapannya. "Cuman, gue pengin tahu aja. Mau sampai mana dia terus pura-pura di hadapan gue."
Bulu kuduk Arvin tiba-tiba berdiri. Demi apa pun, ucapan Calvin terlalu menusuk, padahal bukan ditujukan pada Arvin.
"Kalau semisal dia berbuat nekat?" Arvin sengaja melontarkan kalimat itu. Dia ingin kembali mendengar jawaban memuaskan yang sudah ditebak pasti akan dilontarkan oleh Calvin.
"Gue pastiin, dia gak akan pernah bisa berbuat sampai sana!"
"Busetttt! Makin merinding gue. Terus, kenapa lo masih ladenin dia padahal lo sendiri tahu, kalau tuh cewek cuman pura-pura?"
"Panjang amat pertanyaan lo? Gue bukan tersangka kali, sampai harus lo introgasi segala!" Perlahan, Calvin bangun dari sofa. Saat hendak melenggang meninggalkan Arvin, tangannya langsung dicekal.
"Mau ke mana lo? Lo belum jawab pertanyaan gue, anj*r!"
Calvin mengernyit jijik saat tangannya dicekal oleh Arvin. Dengan cepat Calvin menepisnya. "Samperin bini! Males gue ditanyain mulu sama lo, buang-buang waktu. Mending gue mesra-mesraan sama istri gue! Bye!"
"What the- sialan! Punya adek gini amat, yak!"
^^^To be continued...^^^