
"Nau, aku berangkat dulu, ya!" Bukan jawaban lisan yang keluar dari mulut Naura, ketika Calvin pamit berangkat menuju kampus. Istrinya ini hanya tersenyum simpul sembari melambaikan tangannya saat Calvin hendak menaiki motor.
Tiba-tiba, perasaan ragu dan enggan untuk pergi, kembali menghinggapi diri Calvin. Dengan cepat dirinya berlari memeluk Naura begitu erat.
"Apa ... aku gak usah ngampus aja, ya?"
"Kenapa?" Tanya Naura. Suaranya terdengar begitu samar dan berbeda. Seperti tengah menyembunyikan sebuah rasa sakit yang tidak ingin diketahui oleh siapa pun.
Perlahan, Calvin menarik napasnya begitu dalam, namun tidak berniat untuk melepaskan pelukannya. "Aku cuman mau nemenin kamu aja di sini. Aku takut kamu tiba-tiba pergi."
"Emangnya, aku bisa pergi ke mana?" Pertanyaan Naura selanjutnya, membuat Calvin lantas melepaskan pelukannya. Menatap dalam raut wajah Naura yang begitu menggemaskan, walau tidak sedang tersenyum.
Tanpa memberikan aba-aba, Calvin mengecup bibir mungil Naura, tepat di depan pintu masuk. Sontak hal itu membuat Naura terkesiap, sampai tanpa sadar mendorong dada Calvin. Wajahnya langsung bersemu dengan perasaan malu yang menggunung.
"I-ini di luar! Na-nanti kalau ada yang lihat gimana?" Naura memejamkan matanya kuat-kuat. Jantungnya sudah tidak dapat dijelaskan lagi seperti apa degupannya. Kacau.
Diam-diam Calvin menarik sudut bibirnya melihat reaksi Naura. Awalnya Calvin pikir, Naura sudah tidak menginginkannya. Tetapi melihat reaksi Naura saat ini, Calvin jadi paham. Mungkin sikap dinginnya menjelaskan kalau Naura hanya sedang tidak mood saja.
"Ya udah, aku berangkat dulu, ya! Jaga rumah!"
"Heh, lo gak mau pamit sama gue?" Sahutan menyebalkan yang begitu nyaring itu terdengar dari arah lain. Spontan senyuman manis di wajah Calvin langsung luntur dan berganti datar.
"Ngapain? Lo bukannya masih tidur?" Calvin menarik Naura ke belakang tubuhnya, menyembunyikan Naura dari pandangan Arvin, sang kakak, yang baru saja tiba kemarin malam.
Arvin menghela napas panjang sembari menggaruk belakang kepalanya. Ternyata, tidak semudah itu untuk kembali menjalin hubungan harmonis dengan Calvin seperti dulu.
Oke. Anggap saja ini salahnya.
"Yah, terserah lo, deh! Btw, istrinya jangan disembunyiin mulu dong, Vin! Gak akan gue embat juga kali." Arvin menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah waspada Calvin yang semakin menjadi-jadi.
"Bodo amat! Pokoknya, awas lo gangguin istri gue! Sayang, aku berangkat dulu, ya!" Ucap Calvin. Sialnya, nada bicaranya berubah lembut saat berhadapan dengan Naura.
Sabar Arvin, sabarrr! Adek lo masih tahap penyesuaian. Inget, dia adek kandung lo!
"I-iya, hati-hati!" Jujur, ini pertama kalinya Naura dipanggil mesra oleh Calvin. Rasanya seperti tidak nyata dan jantungnya lagi-lagi berdebar hebat.
Apa kemarin aku jujur aja, ya? Kalau ngasih tebak-tebakan kayak gitu, mungkin siapa aja akan jawab sama kayak jawabannya Mas Calvin.
Naura terus menggerutu dalam hati sampai ketika Calvin sudah mulai menghidupkan mesin motor, Naura langsung berlari menghampiri Calvin. Raut wajahnya berubah tegang, dan hal itu sanggup membuat Calvin bertanya-tanya.
"Nanti pas pulang hati-hati, ya! A-aku ada kejutan buat kamu."
"Kejutan? Kejutan apa?" Tanpa pikir panjang, Calvin kembali mematikan motornya. Terdengar bunyi decak sebal yang tak lain dari mulut Arvin.
"Nanti aja, 'kan kejutan." Ucap Naura. Helaan napas lagi-lagi Calvin embuskan.
"Sekarang aja!" Tuntut Calvin. Naura jadi bingung harus bagaimana?!
"Mas Calvin ... yakin? Nggak, ah. Nanti aja. Takutnya gak sesuai sama ekspektasi-"
"Woi, Vin! Minggir dulu bisa? Masuk kamar lagi, gih! Ini rahasia antara gue dan istri gue!" Calvin menyahut nyaring yang ditujukan pada Arvin.
Dan, ya. Emosi Arvin rasanya sudah mulai menyulut sampai ke ubun-ubun. "Gue abang lo, anj*r! Pan, pin, pan, pin! Dasar bocah ingusan! Pamer terooosss!"
Pasrah? Iya!
Pada akhirnya, Arvin lagi yang mengalah. Dia benar-benar kembali menuju kamarnya, seperti yang dikatakan oleh Calvin.
"Jadi, kejutannya?" Tuntut Calvin, lagi. Naura semakin bingung harus memulai dari mana.
"I-itu. Tapi Mas Calvin jangan marah, ya!"
"Iya, apa!"
"A-aku ... hamil."
"Apa?"
"Eng-gak! Lupain!" Saat Naura hendak berlari meninggalkan Calvin, Calvin langsung mencegahnya. Entah mengapa rasanya Naura takut untuk menatap mata Calvin saat ini. Bahkan, kedua bola matanya sudah mulai berkaca-kaca. Takut Calvin akan marah dan sebagainya.
"Kamu bilang ... hamil?"
"Maaf!" Naura semakin menunduk takut. Air matanya sudah membanjiri wajah cantiknya tanpa dirinya minta.
Hening. Sudah dapat dipastikan Calvin marah. Saat Naura hendak mundur, tiba-tiba sebuah pelukan erat merengkuh tubuhnya. Membuat Naura terkesiap beberapa saat sampai mematung.
"Kenapa minta maaf?" Bisik Calvin. Suaranya terdengar rendah. Seberusaja mungkin Naura melepaskan diri dari pelukan Calvin, namun tak bisa. Calvin seolah tidak berniat untuk melepaskan pelukannya.
"A-aku kepikiran sama ucapannya Mas Calvin kemarin. Aku takut! Maaf udah mengacaukan-"
"Kamu ngomong apa, sih, Nau! Kemarin aku belum selesai ngomong udah kamu potong! Sekarang, tolong didengerin lagi! Aku mungkin belum siap, tapi kalau udah dikasih, aku gak mungkin gak menerima." Jelas Calvin. Tanpa sedikit pun berniat melepaskan Naura.
Dan, ya. Naura yang awalnya berusaha melepaskan diri, kini berbalik menjadi dirinya yang enggan melepaskan Calvin. Kedua tangannya melingkar di tubuh Calvin. Tangisnya pecah. Berharap yang terjadi hari ini bukanlah mimpi indah yang dibuatkan oleh Tuhan untuk memperburuk suasana hatinya.
Perlahan, Calvin melepaskan pelukan keduanya. Sepasang bola matanya menatap dalam ke arah Naura yang masih menitikkan air mata.
Bisa-bisanya perempuan itu beranggapan jika Calvin akan marah. Lihatlah sekarang! Calvin rasanya semakin tidak ingin meninggalkan Naura sendirian di rumah.
"2 atah 3 hari? Lupa, pokoknya belum lama. Ta-tapi, bisa aja salah, soalnya cuman dites pake test pack."
"Ya udah, sekarang aku anter ke klinik, ya!"
"Jangan!" Ucapan Naura yang lagi-lagi melarang Calvin seperti waktu itu, membuat Calvin kembali teringat ucapan dari mama dan papanya kemarin sore.
"Kenapa?" Demi apa pun, Calvin takut jika balasan dari Naura setelah ini sama seperti perkataan mama dan papanya kemarin.
Itu ... nggak mungkin 'kan?
"Mas Calvin 'kan mau berangkat kuliah. Nanti aja habis pulang dari-"
"Aku bisa izin buat satu hari! Kita berangkat sekarang, ya? Oh, ya. Aku ganti dulu motornya pake mobil Bang Arvin. Bentar, ya, Nau!" Tanpa menunggu lebih lama, Calvin kembali memasukkan motornya ke dalam garasi. Dengan cepat kedua kakinya berlari memasuki rumah untuk mencari keberadaan Arvin.
"Tapi-"
...****...
Sepulang dari memeriksakan Naura ke klinik khusus ibu dan anak, Calvin tak henti-hentinya terus memasang senyum. Perhatiannya terus tertuju pada hasil USG calon anaknya.
Gini, ya, rasanya mau jadi bapak? Seneng banget rasanya!
"Habis ini Mas Calvin langsung ke kampus 'kan?" Sahutan lembut dari Naura, seketika menyadarkan Calvin dari berbagai lamunan indahnya.
"Hm? Ngapain? Besok ajalah, gampang!" Balas Calvin, alakadarnya. Perhatiannya lagi-lagi beralih pada hasil rekaman USG di tangannya.
"Kecil banget, ya, Nau!" Tunjuk Calvin. Spontan Naura menoleh.
"Coba lihat!" Saat Naura hendak mengambil alih, Calvin langsung menjauhkannya. Tidak membiarkan Naura untuk ikut melihatnya.
"Masih pengin lihat." Ujar Calvin, dibalas helaan napas pasrah oleh Naura.
Oke. Mungkin, pilihan paling benar saat ini Naura memberitahukannya pada Calvin. Yang Naura kira bahwa Calvin akan benar-benar marah, ataupun tidak menginginkan darah dagingnya sendiri, semuanya hanya bayangan gelap Naura.
Naura lupa satu hal. Dari awal pernikahan mereka, Calvin sudah berjanji akan menjaga Naura, apa pun yang terjadi. Dan, seperti sekarang ini. Calvin benar-benar merealisasikan ucapannya.
"Makasih!" Gumam Naura. Rasanya, sesuatu yang bening sudah hendak kembali luruh dari dalam pelupuk matanya.
Dengan gerakan lembut, Calvin mengeratkan genggaman tangannya sembari menatap Naura begitu dalam. "Aku yang makasih! Maaf, udah buat kamu kepikiran. I love you, Naura!"
...****...
"Gha! Si Calvin mana? Dia gak ngampus?" Nino berbisik pelan pada Irgha yang kebetulan posisi duduknya berada di sebelah kiri. Sementara di sisi kanan, ada Brian yang sok sibuk memerhatikan dosen yang tengah mengajar di kelas mereka.
"Izin nganterin bininya ke klinik." Balas Irgha, sama berbisik. Seperti Brian, Irgha juga tengah sok sibuk memerhatikan dosen di depan.
"Oh." Balas Nino.
Karena telah memilih bangku paling belakang, diam-diam Nino mulai membuka ponselnya. Jemarinya dengan lincah membuka aplikasi IG dan mulai menscroll postingan cewek-cewek cantik yang berseliweran di beranda.
Namun, ketika Nino mulai merefresh beranda IG, tiba-tiba postingan tak terduga muncul dari nama akun yang cukup familier.
"Woi! Ini, akunnya si Calvin 'kan? @callme.vin beneran punya si Calvin 'kan?" Nino menepuk pundak Brian dan Irgha bergantian, berharap kedua sahabatnya ini mau menoleh walau sekilas.
Sayangnya, kedua hanya membalas dengan dehaman singkat mengiyakan.
"Bininya ... hamil?"
"Mana?" Tanpa pikir panjang, Brian langsung menoleh seraya mengambil alih ponsel Nino. Sedangkan Irgha, dia yang juga mendengarnya ikut kepo. Ingin mengambil alih ponsel Nino yang berada di genggaman Brian.
"Yang bener aja lo! Sini lihat!" Sahut Irgha, masih mencoba mempertahankan diri untuk tidak bertingkah heboh.
"Bentar. Eh, iya!" Brian refleks membekap mulutnya. Baru beberapa saat memandang, Nino sudah kembali merebut ponselnya. Jadilah mereka bertiga duduk saling berdempetan untuk memandangi postingan Calvin di IG sampai melupakan pelajaran.
"Cepet amat!" Jiwa julid Brian mulai keluar.
"Langsung jadi, gila! Sat set bae kawan kita ini ya gaes ya!" Timpal Nino, diakhiri berdecak kagum.
"Keknya ini bukti kalau malam pertama lebih kuat daripada malam-malam setelahnya." Ungkap Irgha, mulai membahas ke mana-mana.
"Jadi kebelet nikah gue,"
"Halah, paling kebelet bikinnya lu! Ya 'kan?" Nino mematikan ponselnya, menunjuk Brian yang mulai menatapnya garang.
"Maunya sih demikian, tapi pengin yang udah halal aja, deh. Biar kek Bapak Calvin yang bisa ngegasss setiap saat!"
"Ekhem! Irgha, Nino, Brian! Lagi ngapain kalian?" Sahutan bariton dari arah depan, seketika menyadarkan ketiga cowok itu dari apa yang tengah mereka bahas.
Saat menoleh, satu kelas seolah menatap mereka bertiga dengan tatapan aneh tak biasa. Namun, yang paling horror daripada itu adalah, tatapan dari salah satu dosen killer yang menghentikan sesi pembelajarannya karena ulah mereka.
"Mampus kita!"
^^^To be continued...^^^