Quiet Wife

Quiet Wife
33. Penuh Drama



"Sorry!"


"Iya, gak pa-" Calvin menggantungkan ucapannya saat menyadari siapa yang baru saja menabraknya di lorong kampus.


"Davin?" Salah satu alis Calvin terangkat. Tatapan matanya berubah dingin dan menusuk yang dilayangkan pada seorang laki-laki yang Calvin panggil dengan nama 'Davin'.


Davin Andrealoka. Bisa dibilang dia adalah sahabat Calvin dari sejak kecil. Namun, hubungan persahabatan mereka renggang akibat mencuatnya isu perselingkuhan antara Evelyn dan Davin.


Dulu ketika bertemu Davin, Calvin selalu merasa marah dan dendam. Namun sekarang, rasanya Calvin tidak lagi merasakan hal itu.


"Sorry, Vin!" Davin berucap singkat, sebelum pada akhirnya dia memilih melenggang dari hadapan Calvin.


"Tunggu!" Calvin menahan bahu Davin, sehingga berakhirlah laki-laki itu kembali berhadapan dengan Calvin. Raut wajahnya begitu dingin dan asing. Tidak seperti Davin yang dahulu selalu tampak ceria ketika berpapasan dengan Calvin.


"Dari kapan lo mulai masuk kampus lagi?"


Raut wajah Davin langsung memperlihatkan rona keterkejutan selepas mendengar pertanyaan tak terduga dari Calvin. Sempat berpikir Calvin akan kembali melontarkan kalimat kebencian padanya, Calvin justru malah menanyakan soal dirinya.


Calvin gak akan balas dendam 'kan? Tapi, kalaupun Calvin mau balas dendam, gue bisa apa?


"Ekhem. Baru seminggu." Terjadi keheningan beberapa saat di antara mereka, sebelum akhirnya Davin kembali bersuara.


"Denger-denger, lo udah nikah, ya? Selamat, ya!" Davin mengulurkan salah satu tangannya, berharap Calvin mau membalas uluran tangan itu dan berakhir saling menjabatkan tangan.


Sayang. Sepertinya, Calvin masih membencinya. Saat Davin hendak menurunkan tangannya, siapa yang menyangka jika Calvin langsung menerima uluran tangannya?


"Thanks, ya!" Hanya itu. Setelahnya, lagi-lagi suasana hening yang terjadi di antara Calvin dan Davin.


Soal jabatan tangan? Itu sudah terputus belum lama.


"Kalau gitu, gue duluan-"


"Vin!" Davin tampak menyela, membuat Calvin menghentikan ucapannya.


"Ya?"


"Bukan gue yang tidur sama Evelyn! Gue juga gak tahu kenapa orang yang bikin isu itu malah bawa-bawa gue. Dan, gue juga gak ngerti kenapa si Evelyn kukuh nuding kalau gue ikut terlibat. Terserah lo mau percaya atau nggak, yang jelas cowok di video itu bukan gue."


Sungguh, Calvin dibuat terdiam memaku mendengar penjelasan tiba-tiba dari Davin. Sebelum Calvin mencerna semuanya, Davin telah lebih dulu melenggang dari hadapan Calvin tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Membuat Calvin dilema antara memercai kenyataan yang tersebar luas, atau kenyataan lain yang diucapkan Davin padanya hari ini.


"Kalau beneran bukan Davin, kenapa selama ini dia cuman diem dan memilih melarikan diri? Kenapa dia gak langsung jelasin semuanya langsung waktu itu?"


Banyak sebenarnya pertanyaan yang berseliweran di kepala Calvin. Sayangnya, satu pun jawaban tidak ada yang terlintas di kepala. Mungkin, jawabannya saat ini hanya satu. Yaitu, kembali menanyakan kebenaran lebih lanjut pada Davin.


...****...


Selesai mata kuliah jam pertama, Calvin memutuskan pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang mulai terasa keroncongan. Namun, baru saja Calvin menginjakkan kaki di area kantin, seseorang sudah mencegat langkahnya dengan berdiri tepat di hadapan Calvin.


Lantas Calvin mengerutkan dahi, seraya menatap risi sang pelaku tersebut yang tak lain ialah Naima.


"Minggir!" Sentak Calvin, yang spontan dibalas gelengan kepala oleh Naima.


Embusan napas pasrah Calvin keluarkan. Saat mencoba lewat jalur lain, Naima lagi-lagi berdiri menghalangi. "Ck! Mau lo apa sebenarnya?"


"Mau gue adalah, lo dengerin penjelasan gue!"


"Gak ada yang perlu dijelasin."


"Tapi lo salah paham, Vin!"


"Gue gak salah paham. Mulut lo sendiri yang bilang!"


Naima tidak tahu harus membalas seperti apa lagi sekarang?! Calvin terlalu sulit untuk ditaklukkan.


Seandainya waktu bisa diputar kembali, mungkin Naima akan lebih bersabar. Tidak akan ada kejadian seperti saat ini, di mana ternyata Calvin mengetahui niat busuknya dari mulutnya sendiri yang sering sekali menggerutu sana-sini.


"Vin!" Naima mencoba menyentuh lengan Calvin, namun Calvin langsung menyentaknya saat itu juga.


"Gue gak suka dipegang-pegang sama cewek kayak lo! Setop gangguin hidup gue! Lebih baik lo pulang ke negara asal lo!" Ucapan Calvin yang kelewat menusuk, berhasil membuat Naima menangis. Tubuhnya bergetar dengan air mata yang luruh begitu saja.


Seluruh perhatian para mahasiswa yang berada di kantin tersebut jelas saja langsung tertuju pada Naima. Mantan primadona kampus yang sempat viral pada masanya.


"Kalau kehadiran gue di sini emang bikin lo gak nyaman, gue akan pulang seperti yang lo mau."


"Bagus kalau lo sadar. Lebih cepat, lebih baik."


Nafsu makan Calvin telah menguap, hilang entah ke mana. Dengan demikian, Calvin memilih pergi dari kantin dan melupakan niat awalnya yang hendak mengisi perut. Meninggalkan Naima yang masih berdiri memaku dengan keadaan menangis sesenggukkan.


Lihat aja! Suatu hari, gue akan ikat lo di sisi gue, Vin! Dan gak akan ada seorang pun yang tahu di mana keberadaan lo.


...****...


"Maafin Papa, ya, Naura! Papa baru bisa jengukin kamu hari ini. Sudah dari lama sekali Papa ingin jengukin kamu setelah mendengar tentang kehamilan kamu." Hermawan tak henti-hentinya meminta maaf pada Naura ketika setibanya beliau di rumah kediaman Fani dan Divo.


Di sana, Hermawan langsung disambut hangat oleh Fani dan Naura yang tengah sibuk membuat lauk makan siang. Dan saat ini, ketiganya tengah mengobrol ringan di ruang keluarga.


"Udah, Mas Hermawan gak perlu minta maaf kayak gitu. Naura baik-baik aja, kok, selama di sini. Mas Hermawan 'kan juga sibuk melaut, makanya baru sempet sekarang jengukin Naura-nya." Fani berujar mewakili Naura.


Senyuman lebar seolah terus terpatri di wajah Naura. "Iya, Pah! Naura juga ngerti, kok. Sekarang 'kan Papa udah di sini." Balas Naura. Helaan napas lega mulai Hermawan embuskan.


"Baiklah kalau begitu. Omong-omong, gimana kata dokter waktu diperiksa hari itu?"


Tampak raut wajah Naura yang berubah kebingungan. "Harus cek up lagi, ya?" Dengan polosnya Naura bertanya demikian.


Sontak Hermawan terkekeh pelan seraya mengusap surai hitam Naura. "Nanti Papa temenin cek up."


"Serius, Pah?" Raut wajah Naura berubah antusias. Melihat anggukkan Hermawan, refleks Naura memeluk lengan papanya seraya bermanjaan di sana.


"Makasih!"


Tak berapa lama, Calvin datang. Netranya langsung disuguhkan pemandangan manis antara Naura dan papanya. Dengan mengembuskan napas panjang terlebih dahulu, Calvin berjalan menghampiri mereka. Tak lupa untuk memasang senyuman yang teramat tulus.


"Papa gak bilang mau ke sini?" Calvin menyalimi tangan Hermawan, kemudian dilanjut melirik Naura yang sudah menyiapkan ancang-ancang untuk menyalimi tangannya.


"Sengaja, 'kan biar SURPRISE!" Ujar Hermawan, dibalas tawa hangat oleh semuanya.


"Vin, kuliah aman?" Hermawan menghentikan tawanya, kemudian mengode Calvin untuk ikut duduk di sampingnya yang masih kosong.


"Aman, Pah!"


"Kamu ini sudah mau jadi Papa. Apa, kamu sanggup?"


Sebelum benar-benar menjawab, Calvin menghela napasnya terlebih dahulu. "Jika ditanya sanggup atau tidaknya, Calvin akan mencoba yang terbaik. Karena bagaimanapun, di sini Calvin masih belajar. Jadi, mohon bimbingannya dari Papa." Ujar Calvin.


Siapa yang akan mengira, berkat ucapannya yang panjang lebar itulah, berhasil membuat Hermawan kembali tertawa. "Papa percaya sama kamu, Vin! Kamu orangnya bertanggung jawab. Tidak salah kamu menjadi suaminya Naura."


Calvin tersenyum simpul dengan kepala yang sedikit menunduk. Sesekali, Calvin akan melirik Naura yang posisinya berada tepat di samping Hermawan. Bisa dibilang, walau posisi keduanya berdekatan, tetap saja ada Hermawan yang menjadi sekat di antara keduanya.


"Besok pagi Papa mau anterin Naura cek up."


"Oh, Calvin ikut!" Tanpa ragu, Calvin langsung menyahut. Jelas hal itu membuat Hermawan mengernyit bingung.


"Nggak kuliah?"


"Bisa izin, kok, Pah."


"Nggak boleh! Mas Calvin udah keseringan izin," Naura mulai buka suara, setelah cukup lama dia terus terdiam.


"Gak pa-pa, 'kan mau nemenin kamu," kata Calvin, bersikukuh.


"Aku ada Papa yang nemenin." Ujar Naura, tak mau kalah.


"Tapi 'kan aku juga pengin ikut! Pengin tahu juga,"


"Nanti langsung aku kabarin kalau kamu pengin tahu." Balas Naura, masih tidak mengizinkan Calvin untuk ikut bersamanya besok.


"Nggak! Pokoknya, besok aku ikut!" Tekan Calvin. Sudah tidak bisa diganggu gugat.


"Mas Calvin gak boleh ikut! Mas Calvin harus kuliah!" Balas Naura, ikut menekankan setiap perkataannya.


"Oke, setop! Lama-lama kalian bikin kami para orang tua pusing di tempat." Hermawan menyela argumen panas di antara anak dan menantunya.


Sontak keduanya terdiam dengan masih menjaga kontak mata. Tak berapa lama, baik Calvin maupun Naura, keduanya langsung membuang muka. Perasaan dongkol sama-sama keduanya rasakan.


Yang satu memaksa ingin ikut, dan yang satunya lagi bersikukuh untuk melarang.


"Aduh! Bener kata Naura, Vin! Kamu udah keseringan izin. Gak baik buat nilai IPK,"


"Tapi, Mah!" Rasanya, Calvin jadi satu-satunya orang yang dilarang untuk mengantar istri sendiri cek kandungan ke klinik. Menyebalkan!


"Iya, Vin! 'Kan masih bisa lain kali?" Timpal Hermawan, membuat Calvin hanya bisa pasrah setelahnya.


"Tuh, dengerin!" Tambah Naura, refleks Calvin menoleh tajam ke arah istrinya yang tengah tersenyum puas.


"Nau! Ikut, ya?" Calvin berucap memelas. Sungguh, kenapa rasanya tidak adil?


"Nggak boleh!"


Baiklah! Calvin merajuk. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Calvin lantas bangkit dari sofa. Berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Naura, beserta Fani dan Hermawan, yang dibuat terdiam oleh sikap ajaibnya.


"Sana, bujuk suaminya!" Hermawan mengode Naura yang terlihat syok saat mendengar suruhannya.


"Aku?"


"Iyalah! Masa Papa." Hermawan terkekeh geli, yang juga dibalas kekehan sama oleh Fani.


"Em, ya udah, deh."


^^^To be continued...^^^


...Calvin mode kesel gara-gara gak dikasih izin sama Naura...



...Naura mode happy...



Thanks to reading:*