
Tak terasa, waktu telah berjalan begitu cepat. Puncak acara di hari pertama mulai diadakan tepat di area pesisir pantai. Satu rombongan memulai pesta barbeque. Ada yang menggelar karpet, membuat api unggun, bahkan yang bernyanyi sembari memainkan alat musik pun ada.
Contohnya, Wika dan Gino. Wika berprofesi sebagai penyanyi dadakan. Perempuan itu sudah terkenal jago bernyanyi sedari bangku SMA. Sedangkan Gino, laki-laki itu memainkan gitar akustik. Memetik senar demi senar sehingga menghasilkan musik yang sangat merdu.
Karena tidak ada drum, satu orang relawan bertugas memainkan galon kosong sebagai drum. Rasanya receh dan menyenangkan. Walau jatuhnya suara si musik jadi terdengar sedikit aneh, justru disanalah puncak keseruannya.
Ramai-ramai yang tidak kebagian tugas hanya duduk melingkar di atas sebuah karpet seraya bernyanyi bersama. Terkadang, asa sesi gantian bagi yang telah lama bertugas mengurus barbeque.
Oh, lupa satu hal. Mereka juga membuka stand minuman dingin di malam yang begitu berbintang ini. Walau hanya stand lemon tea, rasanya terasa mewah saat mengadakannya bersama rombongan alumni sekelas.
Dan di sini, tugas Calvin sebagai tukang jaga api unggun tampak mulai bersantai. Api yang dibuat akhirnya tidak lagi padam seperti beberapa waktu lalu.
Selain karena membutuhkan lebih banyak dahan ranting dan dedaunan kering, menambahkan sedikit lagi minyak tanah ternyata membuat apinya bertahan cukup lama. Dan sekarang adalah part yang ditunggu-tunggu. Yaitu, menambahkan kayu yang kering yang berserat agar apinya semakin tahan lama.
Untuk barbeque-nya sendiri dipanggang di tempat pemanggangan khusus. Calvin membuat api unggun semata-mata hanya untuk meramaikan suasana sekaligus membuat objek penerangan menjadi lebih jelas.
"Eh, guys! Reques lagu dong, gue bingung nih mau nyanyi lagu apa lagi." Wika menyahut pada teman-temannya. Otaknya terasa buntu. Sudah mulai bingung hendak menyanyikan lagu apa lagi.
Tiba-tiba, Calvin kepikiran sesuatu. Dengan cepat dirinya bangkit menghampiri Wika dan Gino. "Sini, gue mau nyanyi! Nih, tolong videoin, mau buat bahan kirimin ke istri biar dia bisa mengobati rasa kangennya sama gue."
Semuanya menyoraki Calvin yang dengan begitu gamblang memperlihatkan rasa cinta teruntuk istrinya. Walau istrinya tidak berada di sini, entah mengapa rasanya tetap terdengar begitu so sweet.
"Sini, biar gue videoin! Mumpung ada kamera." Romi menyela di tengah-tengah kehebohan teman-temannya. Oh, ya. Di sini Romi bertugas untuk memotret setiap momen kebersamaan mereka.
"Ntar kirimin ke gue, ya!"
"Beres, Vin! Tenang aja,"
"Oke! Semuanya stand by! Three, roll, action!" Dani menyela, seolah berperan sebagai sutradara. Btw, Dani kuliah di jurusan perfilman.
Raut wajah konyol Calvin mulai berganti serius. Begitupun dengan Romi yang mulai memvideo dengan begitu hati-hati. Para teman-temannya yang menjadi penonton mulai bertepuk tangan saat Calvin memetik gitarnya beberapa kali sampai menjadi sebuah lantunan nada musik.
Tak berapa lama, ritme petikan gitar Calvin yang semula masih melambat, mulai terdengar cepat sehingga nada yang dihasilkan semakin merdu lagi.
Flashlight dari ponsel para teman-temannya yang menonton mulai diarahkan pada Calvin. Semuanya berlaga seolah-olah tengah berada dalam sebuah pagelaran konser.
Dirasa cukup untuk intro, Calvin mulai menarik napas dalam-dalam.
"Dan terjadi lagi
Kisah lama yang terulang kembali
Kau terluka lagi
Dari cinta rumit yang kau jalani
Aku ingin kau merasa
Kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari
Cintamu bukanlah dia ..."
Terjadi jeda beberapa saat yang dijadikan kesempatan bagi Calvin untuk kembali menarik napas.
"Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Kar'na separuh aku
Dirimu ..."
Suara tepukan tangan serta sorakan heboh kian menggema. Semuanya kian bersemangat untuk ikut bernyanyi bersama-sama mengiringi nyanyian Calvin.
"Kuada di sini
Pahamilah, kau tak pernah sendiri
Kar'na aku s'lalu
Di dekatmu saat engkau terjatuh
Aku ingin kau merasa
Kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau pahami
Cintamu bukanlah dia ...
Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Kar'na separuh aku
Dirimu ..."
Calvin berimprovisasi ketika mulai memasuki part *******. Semua teman-temannya semakin terhanyut akan nyanyian Calvin. Tak ayal, beberapa diantaranya mulai terbawa perasaan sampai berkaca-kaca.
"Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Kar'na separuh aku
Semua lukamu t'lah menjadi lirihku
Kar'na separuh aku
Dirimu ..."
Sesi bernyanyi telah selesai, namun Calvin masih memainkan gitarnya untuk menyelesaikan nada terakhir. Hanya beberapa puluh detik berlalu, Calvin akhirnya selesai. Tepukan tangan serta sorakan heboh semakin menjadi-jadi. Semuanya masih tidak menyangka akan kembali mendengar nyanyian Calvin setelah sekian lama mereka lulus SMA.
Dan, ya. Nyanyian Calvin masih sama merdunya. Apalagi diiringi dengan permainan gitarnya yang semakin merdu.
"Thank you!" Calvin mulai beranjak meninggalkan tempatnya. Kedua kakinya melangkah menuju Romi yang sibuk mengutak-atik kamera.
"Noh, udah gue kirimin ke hape lo!"
"Thanks, ya, Bro!"
"Oke, udah mateng! Siapa yang udah pada laper?!" Pekikan dari para cewek-cewek yang bertugas sebagai juru masak barbeque, seketika mengundang perhatian seluruhnya.
"Gass! Laper gue!"
"Mantappp!"
"Serbuuuu!"
...****...
Malam ini, akan menjadi malam pertama bagi Calvin tidur tanpa Naura. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Dikarenakan esok hari masih memiliki rencana lain, acara barbeque pun dihentikan. Tentunya agar besok dapat beraktivitas dengan baik.
Sekiranya, Calvin sudah berguling ke sana ke mari di tempat tidur cukup lama. Zaki dan yang lain pastinya telah terlelap ke alam mimpi. Terdengar bunyi dengkuran halus yang membuat Calvin menyimpulkan jika Zaki telah sepenuhnya terlelap.
Mencoba mencari posisi ternyaman, Calvin mulai menarik selimut sebatas leher. Kedua bola matanya yang memang tidak mengantuk, terus dipaksa terpejam. Sayangnya, tak butuh waktu lama, Calvin kembali membuka matanya.
"Ck! Baru malem ini gue harus tidur tanpa istri, kenapa rasanya gak enak banget? Gue gak bisa tidur, sialan!" Calvin kembali bergerak gelisah sampai berakhir menendang-nendang selimut.
Oke. Calvin tidal bisa tidur tanpa Naura. Tetapi, bagaimana dengan Naura malam ini? Apakah perempuan itu juga merasakan hal yang sama?
Terlalu berlarut akan berbagai lamunan tentang Naura, membuat Calvin sedikit demi sedikit mulai merasa mengantuk. Sampai pada akhirnya, Calvin mulai terlelap ke alam mimpi.
...****...
Pagi ini, adalah pagi pertama Naura bangun tanpa Calvin di sepanjang malam. Jujur saja, Naura hampir tidak bisa tidur tadi. Jika bukan karena terus mengulang-ulang video Calvin yang bernyanyi seraya memainkan gitar, mana bisa Naura tertidur lelap.
Sungguh, Naura sempat iri dengan teman-temannya Calvin yang menyaksikan secara langsung Calvin bernyanyi. Naura juga ingin berada di sana dan bertepuk tangan seperti yang lain.
Oh, ya. Kemarin malam, Naura pura-pura sudah tidur ketika Calvin mengiriminya video. Karena jika Naura ketahuan masih bermain ponsel, Calvin pasti akan marah.
Namun, berkat video itu, Naura mulai merasa tenang hingga akhirnya terlelap setelah cukup lama terus terjaga.
Dan pagi ini, setelah memasak dan juga sarapan bersama yang lain, Naura memilih berjalan-jalan sendirian ke taman kompleks. Biasanya Naura akan ditemani Calvin jika ke sini. Tapi sekarang, Naura sendiri.
Entah karena ini masih pagi, taman kompleks tampak begitu sepi. Ketika melirik jam di ponsel, tertera pukul sembilan lewat lima belas menit.
Naura menghela napas panjang ketika memilih ayunan kayu untuk dijadikan sebagai tempat duduk. Diam-diam Naura memerhatikan setiap inci ayunan tersebut yang membuatnya serasa bernostalgia.
Perlahan, Naura menggerakkan ayunan tersebut dengan begitu hati-hati. Dan, ya. Naura semakin bernostalgia saat memainkan ayunan itu. Refleks dirinya memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam.
Tak bertahan lama, Naura kembali membuka matanya. Mau seberapa kuat pun bayangan masa lalu yang bersinggah di kepala, tetap rasa kesepiannya saat inilah yang paling dominan.
Jujur saja, Naura merindukan Calvin. Ingin sekali Naura mengirimi pesan untuk menanyakan soal kabarnya. Namun, Naura takut akan mengganggu kegiatan Calvin yang tengah bersenang-senang bersama teman-temannya.
"Bosen." Naura menggerutu dengan kepalanya yang menunduk.
Waktu terus berjalan sehingga hawa pagi sedikit demi sedikit mulai memudar. Hawa siang mulai terasa. Sinar matahari yang sebelumnya terasa hangat, kini mulai terasa memanas. Bergegas Naura bangkit dari ayunan untuk kembali ke rumah.
Namun sebelum itu, Naura menyempatkan diri untuk merogoh ponselnya. Melihat kembali video Calvin bernyanyi untuk menuntaskan sedikit rasa rindunya.
Di sela langkah kaki menuju rumah, Naura tak henti-hentinya terus tersenyum manis menatap video itu. Dia sampai tidak menyadari langkahnya karena terlalu fokus. Sampai ketika Naura hampir menabrak sebuah tiang, seseorang dengan secepat kilat menariknya ke pinggir.
Jelas hal itu membuat Naura terkesiap sampai menjatuhkan ponselnya. Jantungnya berdegup kencang, apalagi ketika matanya mulai bersitatap dengan seseorang yang jelas tidak Naura kenali.
"Mbak kalau jalan hati-hati dong! Nggak lihat di sana ada tiang? Fokus aja terus sama hape, sendirinya gak diurus. Masih untung kalau tiangnya polos. Itu tiangnya bercabang, coba kalau kena perut? Mbak itu lagi hamil, hati-hati sedikit bisa 'kan?" Celotehan panjang lebar dari pemuda itu membuat Naura tersadar. Dengan cepat Naura menjauhkan diri.
Namun, saat ini yang membuat Naura bingung adalah, dari mana pemuda itu tahu kalau dirinya sedang hamil?
Karena gugup dan juga sedikit takut, Naura hanya menunduk sembari berusaha mencari ponselnya. Peka akan hal itu, pemuda itu ikut mengedarkan pandangannya ke tanah. Ketika menemukan sebuah ponsel, dia lantas meraihnya. Sudah hendak dikembalikan pada Naura, namun karena layar ponselnya menampilkan sebuah video dengan sosok tidak asing, refleks dia mengernyit seraya kembali menjatuhkan perhatiannya pada Naura.
"Istrinya Calvin?" Merasa terpanggil, Naura refleks mendongak. Tak bertahan lama, perhatian Naura langsung terfokus pada ponselnya yang berada di genggaman pemuda itu.
Ketika Naura hendak meraihnya, pemuda itu dengan cepat menyembunyikannya ke belakang punggungnya. Tentu saja hal itu membuat Naura bertanya-tanya.
"I-itu ... tolong-"
"Gue Davin, sahabat- enggak. Mantan sahabatnya Calvin."
"Hah?"
^^^To be continued...^^^