
"Ekhem. Vin!" Ira mengode Calvin saat menyadari perubahan ekspresi yang dimiliki Naura.
Paham maksud dari kode yang dikirimkan Ira, perhatian Calvin kini kembali pada Naura yang terlihat menunduk lesu dengan bibirnya yang mengerucut.
Naura kenapa?
"Ya udah, ya, Ra! Gue mau langsung nyicipin ini dulu. Ayo, Nau!" Setelah berpamitan singkat, Calvin lantas kembali menggenggam tangan Naura, dengan sebelah tangannya yang lain membawa sebuah nampan berisi pesanannya yang tadi.
Dengan berat hati, Naura kembali mengikuti langkah Calvin di belakang. Diam-diam Naura mencuri-curi pandang ke arah punggung tegap Calvin yang memimpin jalan di depan.
Ada sedikit perasaan berharap dalam diri Naura terhadap Calvin. Tetapi, entah mengapa sudut hatinya yang lain berkata untuk menghentikan harapannya tersebut.
Calvin terlalu tak mungkin untuk Naura, walau status keduanya telah sah menjadi sepasang suami istri.
"Duduk dulu, Nau!" Sahutan Calvin yang tiba-tiba, sontak membuat Naura tersadar dari apa yang tengah dirinya pikirkan.
Ketika mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling, Naura baru menyadari jika keduanya telah sampai di sebuah meja dan kursi kosong di depan stan bazar.
Pantas saja Calvin menyuruhnya duduk.
Seulas senyuman kikuk kemudian terbit di wajah Naura. Dengan segera dia mendudukkan tubuhnya tepat di hadapan Calvin yang telah lebih dulu mendudukkan diri.
"Nih! Dicoba dulu, semoga rasanya sesuai sama ekspektasi kamu." Ujar Calvin, seraya menyerahkan minuman pesanan Naura tepat ke hadapannya.
Awalnya, Naura ragu untuk langsung meminumnya. Tetapi, rasa kering dan haus yang menyerang kerongkongannya membuat Naura tak lagi memikirkan hal-hal lain. Segera Naura meraih Milky Latte pesanannya, lalu menyeruputnya dalam diam.
Hm, enak!
"Gimana? Enak, gak?" Anggukkan kepala yang terkesan terburu-buru, tanpa sadar mengundang kekehan pelan di wajah Calvin.
Seolah terhipnotis, Calvin terus memandangi wajah Naura yang terlihat begitu bahagia ketika menyedot minumannya. Sesekali, perempuan itu akan bereaksi gemas sembari memandangi cup minumannya dalam-dalam.
Tanpa keduanya sadari, seseorang yang juga ikut menyaksikan tingkah keduanya, diam-diam menaruh dendam dalam hati. Bola matanya yang cantik, menatap tajam ke arah Naura maupun Calvin.
Beruntung, aksinya tersebut tak disadari oleh pasangan muda-mudi itu, dikarenakan posisi duduknya yang lumayan cukup jauh.
"Jadi ... mereka beneran suami istri?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba meluncur dari bibirnya. Masih dengan menatap lurus ke arah Naura dan Calvin, perempuan yang tak lain ialah Evelyn itu pun kembali menyeruput kopinya yang tinggal separuh.
"Ya kali bohongan! Nih, ya, gue aja sampe dateng tahu ke pernikahan mereka." Terang salah satu temannya, Sienna, yang juga berada satu meja dengan Evelyn.
"Jujurly, ya, Lyn! Istrinya Si Calvin jauh lebih cantik dari lo!" Ungkapan kelewat jujur yang terucap dari mulut Vina sontak dibalas delikan tajam oleh Evelyn.
Sedangkan Sienna, perempuan itu mengendikkan bahunya mendengar pujian dari Vina teruntuk istrinya Calvin. "Sayang banget dia bisu,"
"Bisu?" Perhatian Evelyn seketika beralih pada Sienna. Demi apa, dirinya terkejut bukan main ketika mendengar suatu kenyataan itu.
"Iya!"
Tiba-tiba saja, Evelyn memasang seulas senyuman jahat di wajahnya yang berpoleskan make up. Dengan anggun, perempuan itu kembali menyeruput kopinya sambil memikirkan sebuah rencana.
Ternyata cewek bisu! Selera Calvin kenapa jadi jatoh gitu? Anyway, bagus juga! Makin mudah buat gue singkirin.
"Lyn, lo gak pa-pa? Kok, senyum-senyum gak jelas gitu? Bikin yang lihat takut aja, deh." Vina yang notabene berotak lemot serta bermulut ember, melayangkan pertanyaan yang sontak dibalas gamparan telak oleh Sienna.
"Diem lo, Oon! Suka-suka Evelyn-lah! Ya 'kan, Lyn?" Ujar Sienna, yang kemudian dibalas seringaian tipis oleh Evelyn.
...****...
"Gimana sama jalan-jalan hari ini? Suka?" Calvin menghentikan langkah kakinya, tepat ketika keduanya telah sampai di area parkir kampus.
Tanpa terasa hari sudah semakin sore, dan Calvin sangat menikmati kebersamaannya bersama Naura seharian ini. Senyuman manisnya seolah tidak pernah memudar sedari terus bercengkrama dengan Naura.
Bahkan, ketika tengah menonton beberapa acara yang diperlihatkan oleh para mahasiswa, Naura tak henti-hentinya terus tertawa, sampai tanpa sadar dirinya terus memeluk erat lengan Calvin.
Ah, jika diingat-ingat lagi, Calvin dan Naura seperti pasangan suami istri pada umumnya tadi. Rasanya menyenangkan dan mendebarkan. Calvin berharap, ke depannya hubungannya dengan Naura akan benar-benar seperti pasutri sungguhan.
"Capek, gak?" Calvin menyentuh wajah Naura yang terlihat pucat. Tatapan matanya juga terlihat cukup sayu. Dan hal itu sukses membuat Calvin cemas.
Perasaan cemas itu mulai sedikit terkikis saat gelengan kepala yang diiringi dengan senyuman manis mulai diperlihatkan Naura. Tetapi, tetap saja Calvin cemas.
"Kamu gak lagi sakit 'kan, Nau?" Dengan penuh perhatian, Calvin kembali menyentuh wajah Naura, seraya mengecek suhu tubuhnya lewat keningnya.
Terdengar bunyi geraman halus dari Naura yang diikuti dengan gelengan kepala. "Yakin?" Tanya Calvin. Tanpa berpikir panjang, Naura pun mengangguk mantap sebagai jawaban.
"Ya udah. Kita pulang sekarang aja, ya. Kamu juga pasti capek."
...****...
Bukan apa-apa. Hanya saja, Evelyn merasa aneh dan kurang paham tentang pernikahan mereka. Evelyn dan Calvin baru saja putus sekitar tiga bulan yang lalu. Dan sekarang, Calvin malah disebut-sebut sudah menikah sekitar seminggu yang lalu?
Kalau bukan karena Calvin terpaksa menikah dengan si cewek bisu itu, mana mungkin Calvin bisa semudah itu melupakannya.
Iya, 'kan?
"Udah, Lyn! Dan, wow! Perkiraan lo yang ngira mereka nikah karena dijodohin itu keknya cuman perkiraan lo doang, deh." Sienna mulai membeberkan satu persatu hal yang sudah sangat gatal ingin dia ucapkan.
Merasa kurang paham, Evelyn lantas mengubah posisinya menjadi berdiri seraya berjalan ke arah Sienna. "Maksudnya?"
"Ck! Lo lihat video yang gue ambil! Si Calvin so sweet banget tahu! Mana perhatian banget lagi sama istrinya! Cara ngomongnya aja pake 'aku-kamu'. Pokoknya pas tadi mereka mau pulang, gue tuh sempet ikutan baper tahu, gak! Fix, sih, mereka nikah karena cinta! Gue jamin!" Penjelasan dari Sienna, seketika membuat Evelyn naik pitam. Dengan terburu-buru perempuan itu merebut ponsel Sienna untuk membuktikan ucapannya.
"Apaan sih, lo, Na! Lo tuh sebenernya dukung gue, apa dukung si cewek bisu itu!" Terlanjur marah, Evelyn mulai memutar sebuah video berdurasi pendek yang memperlihatkan keharmonisan antara Calvin dan Naura.
Seperti kata Sienna, di video yang di zoom beberapa kali itu terlihat Calvin yang begitu lembut dan perhatian pada Naura. Dari mulai bibirnya yang terus melengkung membentuk seulas senyuman, maupun gestur tangannya yang menyentuh wajah Naura, semuanya terpampang jelas di sana.
Hanya satu hal yang tidak dapat diketahui oleh Evelyn. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun yang pasti, beberapa kali mulut Calvin terus berbicara 'kamu' pada Naura.
"Aarghhh! Sial! Secepet itu Calvin lupain gue? Enggak, enggak, enggak! Pokoknya gue gak terima! Gue mau Calvin balik ke sisi gue!" Evelyn menjerit cukup keras sampai rasanya sudah ingin memporak-porandakan seluruh isi di ruang kamarnya.
Sienna yang awalnya biasa-biasa saja, berubah panik saat ponselnya masih berada di tangan Evelyn. "Heh, heh, heh! Hape gue, Lyn! Ini masih cicilan, belum lunas semua!" Pekik Sienna.
Saat itu juga, suasana di sekitar mereka mendadak hening. Buru-buru Sienna menggapai ponselnya dari tangan Evelyn, sebelum dilempar dan dihancurkan olehnya.
"Hape doang elit. Ternyata bayarnya paylater." Evelyn bergumam sarkas, seraya mencoba untuk menenangkan dirinya. Tidak dengan Sienna yang malah bernapas lega, sebab ponselnya masih baik-baik saja.
Masalahnya di sini adalah, Sienna belum melunasi bersih ponselnya. Demi tampil bergaya seperti Evelyn yang berdompet tebal, Sienna rela menyicil ponsel mewah walau harganya di atas batas kemampuannya.
"Heuh! Gimana, ya, cara gue singkirin dia? Mana Calvin kanyaknya cinta banget lagi sama tuh cewek bisu! Tapi, masa iya seleranya sama yang begituan? Emangnya dia gak malu apa?"
"Kalau udah cinta, jangankan gak sempurna. Sekalipun pasangannya udah meninggal, kalau cinta, ya tetep cinta!" Sahutan yang terdengar cukup keras itu berasal dari Vina, yang entah sejak kapan memasuki kamar Evelyn, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sejak kapan lo masuk kamar gue? Dari tadi ke mana aja lo!" Evelyn memekik emosi, seraya berjalan menghampiri Vina, lalu menarik salah satu tangan Vina agar segera menyingkir dari tempat tidurnya.
"Minggir, gak lo!"
"Astaga, Lyn! Bentar doang! Gue tuh capek habis giliran jaga stan tadi," keluh Vina, masih bersikukuh tidak ingin beranjak dari tempat tidur Evelyn.
"Jadi lo ngilang karena jaga stan?" Sahut Sienna, yang dibalas acungan jempol oleh Vina.
"Iyup!"
"Hihh! Bentar doang tapi! Awas kalau lo ketiduran di kasur gue, apalagi sampe ngiler di seprai kesayangan gue!"
"Iya, iya! Dasar bawel!"
...****...
"Tumben kalian baru pulang? Habis dari mana?" Sesampainya Calvin dan Naura di halaman rumah, keduanya langsung disambut dengan sapaan hangat dari Fani yang tengah menyiram tanaman di halaman depan.
"Habis dari kampus, Ma. Papa mana? Belum pulang?" Calvin menyalimi Fani yang juga diikuti oleh Naura setelahnya.
"Udah. Cuman sekarang lagi pertemuan bapak-bapak di rumahnya Pak RT. Kayaknya mau ngadain kerja bakti, deh." Terang Fani.
Tepat ketika perhatiannya beralih pada Naura, raut wajahnya langsung berubah cemas. "Lho, Naura sakit? Kok, mukanya pucet?"
"Tadi juga aku sempet nanya sama Naura, tapi katanya gak pa-pa."
"Kamu beneran gak pa-pa? Sini, Mama cek!" Dengan perasaan cemas, Fani lantas memeriksa suhu tubuh Naura, dimulai dengan menyentuh kedua pipinya dan dilanjut menyentuh permukaan keningnya.
"Enggak panas, sih. Ya udah, sekarang kalian mandi bersih-bersih. Habis itu turun lagi, kita makan sama-sama, ya."
"Iya, Ma! Aku sama Naura duluan kalau gitu."
"Iya. Naura, kalau kamu sakit, bilang sama Mama, ya!" Ucapan Fani yang terakhir ditujukan pada Naura, menantunya. Spontan Naura mengangguk pelan seraya tersenyum tipis sebagai jawaban.
Setelahnya, Calvin dan Naura mulai melenggang meninggalkan Fani yang masih dilanda cemas. Namun, perasaan cemas itu tidak berlangsung lama, apalagi ketika melihat Calvin yang mulai terang-terangan memperlihatkan kedekatannya dengan Naura.
"Bikin cemas aja. Tapi ... Mama harap, pernikahan kalian yang diawali dengan tragedi ini dapat menjadi hikmah terbesar suatu hari nanti."
^^^To be continued...^^^