
Naura refleks berdesis pelan seraya memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa keram. Tak berapa lama, Naura merasakan sesuatu yang hangat dan basah keluar dari area bawahnya. Teringat akan satu hal, Naura lantas mengecek kalender di ponselnya.
Bulan kemaren mens tanggal berapa, ya? Duh, mana belum nyetok lagi?
Beberapa saat dilanda panik, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tampaklah Calvin yang baru selesai mengerjakan tugas kuliah di ruang sebelah. Sebuah ide tiba-tiba memasuki kepala Naura. Dengan cepat perempuan itu berlari ke arah Calvin yang tengah sibuk mencari charger laptopnya.
Saat Naura hendak menyentuh bahu Calvin, Calvin justru malah berbalik ke arahnya seraya tersenyum. "Lihat charger laptop, gak, Nau?"
Naura yang memang tidak tahu pun lantas menggeleng pelan. Saat Calvin hendak lanjut mencari, tangan Calvin langsung dicekal oleh Naura, sehingga perhatiannya kembali pada perempuan itu.
"Kenapa? Ada yang mau disampein?" Semakin hari, rasanya Calvin semakin peka dengan Naura. Dengan cepat Naura mengangguk antusias ketika mendengar pertanyaan dari Calvin.
Tanpa berlama lagi, Naura kembali mengeluarkan ponselnya untuk mengetikkan sesuatu di sana. Setelah dirasa selesai, barulah Naura memperlihatkannya pada Calvin.
Boleh anterin aku ke mini market depan kompleks, gak? Kalau keluar sendiri aku gak berani. Kayaknya aku mens. Stok pembalut di rumah udah habis, jadi mau beli sekalian nyetok.
Seulas senyuman tipis tiba-tiba terbit di wajah Calvin. Entahlah, rasanya Naura ini terlalu jujur. Tetapi, sikapnya yang demikianlah yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
"Ya udah. Aku beliin, ya." Saat melihat Calvin yang berancang-ancang hendak pergi, sontak Naura menghentikannya. Sepasang bola matanya menatap lurus pada Calvin, seolah mengatakan; kamu yakin?
Paham maksud dari keterdiaman dan tatapan kebingunan Naura, Calvin lantas terkekeh seraya melepaskan tangan Naura yang masih menyentuh tangannya.
"Udah, kamu duduk di sini aja. Biar aku yang beliin, ya?"
Ta-tapi ...
...****...
Sekiranya, Calvin sudah berdiri sekitar lima menit di depan sebuah rak tempat berkumpulnya berbagai jenis dan merek dari pembalut. Dan sialnya, Calvin bingung harus pilih yang mana? Tidak ada satu pun yang dia mengerti.
Apa ... gue tanya pegawai mini marketnya aja kali, ya? Tapi, kalau dia nanti nanya, terus katanya buat siapa? Gue jawab- Eh, anj*r, tinggal bilang aja buat istri! 'Kan gue udah punya istri, ya, lupa!
Calvin menghela napas panjang seraya menggeleng-gelengkan kepala untuk mengenyahkan berbagai pemikirannya. Perlahan, Calvin mulai celingukan menatap ke berbagai sisi mini market. Berharap dirinya bisa bertemu dengan salah seorang pegawai mini market yang bisa dia tanyai.
Dan, muncullah mbak-mbak kasir yang terlihat santai, akibat mini market tersebut yang tengah sepi pembeli. Dengan langkah cepat, Calvin berjalan menghampiri mbak-mbak kasir tersebut.
"Permisi, Mbak. Saya mau minta tolong, boleh?" Sapaan Calvin yang diiringi dengan seulas senyuman tipis, tanpa sadar membuat si mbak kasir dibuat terbius beberapa saat.
"I-iya? Ada apa ya, Mas?" Demi apa pun, gelagat si mbak kasir terlihat salah tingkah, namun sebisa mungkin dia tidak memperlihatkannya dengan jelas.
"Em, sini, Mbak! Saya mau nanya sama Mbak, soalnya Mbak 'kan cewek, jadi pasti tahu!" Terang Calvin, seraya berjalan lebih dulu ke arah rak khusus tempat pembalut.
Si mbak kasir hanya mengekori di belakang dengan hati yang bertanya-tanya. Ketika tiba di salah satu rak khusus pembalut, mbak kasir langsung membekap mulutnya, dengan perhatian yang sesekali akan melirik pada Calvin.
"Jadi ... istri Saya lagi datang bulan. Tapi Saya gak tahu harus beli yang mana, soalnya banyak banget jenis sama mereknya! Makanya Saya nanya sama Mbak. Mbak pasti tahulah, cewek kalau awal-awal menstruasi itu kira-kira pake yang mana?"
Sungguh, hati si mbak kasir mendadak potek, saat mengetahui fakta bahwa, calon pembelinya yang cukup tampan ini telah memiliki seorang istri. Tanpa sadar dirinya menghela napas gusar untuk menetralisir rasa patah hatinya.
Baru juga mau mulai suka, eeh udah sold out duluan. Emang, ya. Semua cowok ganteng itu pasti udah ada pawangnya.
"Ekhem. Kalau Saya, sih, ya! Awal-awal pake yang ini yang ada sayapnya. Terus kalau lagi deres, pake yang panjang ukuran 30cm+, khusus buat malem, sih. Cuman berguna juga dipake seharian kalau lagi deres-deresnya. Nah, kalau udah mau akhir, Saya pake yang panti liner yang ukuran kecil ini." Calvin mengangguk paham, mendengar penjelasan singkat nan padat dari si mbak kasir.
Entah karena perempuan itu juga menerangkan sambil menperlihatkan contoh produknya, Calvin jadi cepat mengerti. Sehingga jika sewaktu-waktu ketika dirinya akan kembali membelikan Naura pembalut, dia tidak akan bertanya lagi.
"Gitu, ya. Kalau gitu, Saya ambil semua yang Mbak sebutin tadi." Ujar Calvin, yang dibalas senyuman ramah oleh si mbak kasir.
"Oke, Mas. Ada yang mau ditanyain lagi?"
"Enggak, cukup. Makasih, ya, Mbak!"
...****...
Setibanya di rumah, Calvin langsung disambut oleh Naura yang menatapnya dengan tatapan tak biasa. Naurq yang pada saat itu tengah menonton televisi di ruang keluarga, mendadak bangkit kemudian berjalan menghampiri Calvin.
Lagi, Calvin mengulas senyuman yang teramat manis pada Naura. Salah satu tangannya yang membawa barang belanjaan, sengaja di angkat tinggi-tinggi.
"Nih! Dilihat dulu, sesuai gak sama ... ekhem! Kebutuhan kamu." Calvin menyerahkan sekantung penuh dengan pembalut berbagai jenis dan merek, serta beberapa camilan ringan selebihnya.
Di tempatnya, Naura dibuat terharu oleh semua belanjaan Calvin. Semua pembalut yang Calvin beli adalah merek dan jenis yang selalu dia pakai.
Mas Calvin kok bisa tahu? Pasti ... dia sering beliin ginian buat cewek-ceweknya dulu.
Naura membatin sampai tanpa sadar membuat raut wajahnya terlihat kembali murung. Padahal, di detik yang lalu Naura masih merasa terharu sampai berdebar. Tetapi sekarang, kok rasanya sesak, ya?
Seolah dapat membaca isi hati Naura, Calvin meraih salah satu tangan Naura untuk dia genggam. Lantas, Naura mendongakkan wajahnya menatap Calvin yang tengah tersenyum tipis padanya.
Semburat merah lantas menghiasi kedua pipi Naura, sesaat setelah mendengarkan penuturan panjang dari Calvin. Spontan Naura menepis pelan tangan Calvin, lalu berlari meninggalkan Calvin begitu saja.
Bukannya merasa sakit hati akibat diperlakukan demikian, Calvin justru malah tertawa lepas melihat kelakuan Naura yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Fix! Gue udah jatuh cinta sama Naura. Ah, gimana gak bisa jatuh cinta! Orangnya aja gemesin gitu!"
"Calvin?"
Merasa tiba-tiba terpanggil, Calvin yang pada dasarnya tengah menggerutu tidak jelas seorang diri, lantas berdeham kuat beberapa kali, sembari membalikkan tubuhnya ke arah Fani yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.
"Eh, Ma-mama! Kenapa, Mah?" Berusaha untuk menutupi kegugupan, Calvin memasang senyuman misterius teruntuk mamanya.
Beruntung, sepertinya Fani tidak terlalu memerhatikan saat ini. Terlihat dari rona wajahnya yang penuh dengan kantuk dan pakaiannya yang lumayan kusut.
"Kamu lihat Papa, nggak? Kok, dia belum pulang, ya? Dia 'kan belum makan malem. Masa selama itu pertemuan bapak-bapaknya!"
"Euh ... mungkin, Papa maen catur dulu kali sama menantunya Pak RT? Menantunya Pak RT 'kan jago maen catur, tuh! Secara 'kan, Papa suka banget sama catur."
"Masa iya? Emang ini baru jam berapa?"
"Setengah delapan?"
"Ck! Udah tua juga masiiihh aja keluyuran. Ya udah, Mama mau nyamperin Papa Kamu. Harus dijewer dulu telinganya, baru mau pulang kayaknya!" Gerutu Fani, menggebu-gebu. Tanpa berniat mengobrol lebih lama dengan Calvin, wanita itu langsung berjalan melewati Calvin seraya membenarkan cepolan rambutnya.
"Titip rumah, ya, Vin!" Pekik Fani, tepat ketika dirinya baru saja keluar dan menutup pintu.
"Iya, Mah!"
...****...
"Lho, Naura! Kamu kenapa?" Tepat ketika Calvin baru saja menutup pintu kamar, netranya langsung disambut dengan sebuah pemandangan tak biasa, di mana Naura tengah meringkuk di atas tempat tidur, dengan wajahnya yang terlihat pucat. Bahkan, kedua alisnya tampak mengernyit dalam, seolah tengah menahan sebuah rasa sakit.
Ketika mulai menyingkap selimut setengahnya, kedua tangan Naura terlihat berada di area perut bawahnya. Memeluknya erat-erat, seolah sesuatu yang tengah menyiksanya saat ini berada di area itu.
"Perut kamu kenapa? Sakit?" Gelengan kepala yang diperlihatkan Naura, membuat Calvin bingung.
"Terus? Keram?" Tanya Calvin lagi. Namun kali ini, jawaban dari Naura adalah anggukkan, yang artinya 'iya'.
"Mau ke klinik aja?" Lagi-lagi Naura menjawab dengan gelengan kepala. Dan sialnya, Calvin bingung harus bagaimana?
Ya kali, Calvin harus menyuruh Naura untuk mengetik dulu supaya dirinya paham. Naura sekarang tidak sedang baik-baik saja!
"Terus, gim-" Calvin menghentikan ucapannya, saat mulut Naura mulai bergerak seperti hendak menyampaikan sesuatu.
"Aku gak pa-pa."
Demi apa pun, Calvin sungguh dibuat terkejut bukan main saat mendengar Naura berbicara. Tidak terlalu keras memang. Suaranya bahkan terdengar seperti sebuah bisikkan kecil, namun Calvin mendengar semuanya.
Naura ... tidak bisu? Sudah Calvin duga. Tetapi, itu bukan intinya saat ini.
"Ya udah. Sekarang kamu mau aku gimana, biar rasa sakitnya berkurang, hm?" Dengan penuh perhatian, Calvin mengusap pelan surai hitam Naura.
Sebelum kembali melontarkan apa yang hendak kembali disampaikan pada Calvin, diam-diam Naura menenggak ludahnya susah payah. Tenggorokannya tiba-tiba terasa begitu kering, entah karena Naura yang sudah begitu lama memendam suaranya, atau memang gugup karena perdana baginya berbicara pada orang lain setelah sekian lama. Naura pun tidak tahu pasti.
"Aku ... minta tolong-"
"Iya, apa?"
"Bisa tolong usapin perut? Tapi Mas Calvin harus sambil tidur di sini." Ucap Naura, masih dengan suara yang terdengar berbisik.
Perlahan, Calvin mengembuskan napas panjang, kemudian mengangguk sebagai jawaban. "Ya udah. Kalau gitu, aku naik, ya?" Ujar Calvin, seraya naik ke atas tempat tidur, tepat di samping Naura.
Sebelum benar-benar ikut merebahkan diri di samping Naura, diam-diam Calvin menatap raut wajah Naura yang semakin pucat.
Apa ... sesakit itu?
Tanpa berniat kembali bertanya, Calvin mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan terlebih dahulu tangan Naura yang menutupi perut bawahnya.
Naura tidak memberontak saat Calvin berusaha menyingkirkan tangannya. Perempuan itu hanya diam seraya menunggu. Dan ketika Calvin mulai mengusap perutnya, entah mengapa rasa keram itu berangsur mereda. Sampai tanpa sadar membuat Naura nyaman hingga memejamkan matanya.
^^^To be continued...^^^