Quiet Wife

Quiet Wife
10. Calvin Masih Marah?



Sesampainya di rumah, hujan telah sepenuhnya berhenti. Dan, Calvin masih tetap mendiami Naura seperti ketika dia baru menemukan istrinya tertidur di sebuah halte sepi.


Ketika mulai memasuki rumah dengan keadaan sedikit basah kuyup, Fani yang tengah berada di ruang tengah langsung berlari kecil menghampiri Calvin dan juga Naura yang berjalan menunduk di belakang Calvin.


"Akhirnya, kalian udah pulang juga. Naura sayang, kamu gak kenapa-kenapa 'kan? Ya ampun, Mama gak lihat catatan dari kamu. Untung sebelum mau ke rumahnya Bu Laras, Mama ke dapur lagi. Eeh, ada catetan dari kamu. Langsung aja Mama suruh Calvin buat jemput, soalnya tiba-tiba hujannya lebat banget. Mama juga sampai gak jadi pergi ke rumahnya Bu Laras. Mama minta maaf, ya!"


Naura tersenyum tak enak hati karena sudah membuat mama mertua yang begitu menyayanginya dibuat khawatir sampai seperti ini. Ketika kedua bola matanya melirik ke arah Calvin yang tengah mendudukkan diri di salah satu sofa, Naura kembali menunduk saat wajah Calvin masih terlihat sama.


Ternyata gak enak, ya, dicuekin sama suami sendiri. Pasti Mas Calvin cemas banget tadi, makanya dia sampai bentak aku.


"Ya sudah. Sekarang kamu mandi pake air hanget, habis itu ganti sama baju yang tebel. Kalau udah selesai langsung turun ke bawah, ya. Mama ada buatin kamu teh biar gak masuk angin." Ucapan Mama Fani yang terdengar begitu perhatian, lagi-lagi membuat Naura mengembangkan seulas senyumannya. Setelahnya, Naura pun mengangguk mengiyakan.


...****...


"Vin? Naura mana? Belum turun?" Sahutan lembut dari Fani yang baru selesai dari dapur, dibalas dengusan pelan oleh Calvin.


"Gak tahu. Iya, kali."


"Dih! Cuek banget jawabnya. Mama ada salah sama kamu?" Fani langsung tersadar dengan jawaban serta raut wajah Calvin yang tidak bersahabat.


Pasti ada sesuatu!


"Nggak."


"Terus, kamu kenapa?"


"Gak kenapa-kenapa."


Helaan napas panjang mulai Fani embuskan. Perlahan, wanita paruh baya itu mulai mendekatkan diri ke samping putra bungsunya, yang terlihat sok sibuk dengan sebuah tayangan televisi di depan.


Biasanya juga paling anti sama acara tv.


"Kamu kesel, ya, sama Naura?" Tebakan Fani yang langsung menjurus, membuat Calvin melotot.


"Apaan, sih, Mah! Gak jelas, deh,"


Fani terkekeh pelan melihat reaksi Calvin yang cukup berlebihan. "Nih, ya, Vin. Kesel sama Naura, boleh. Tapi inget, jangan lama-lama. Istri kamu itu berbeda dari yang lain. Nanti kalau kamu keterusan cuekin dia, kalau dia kabur beneran, kamu mau?"


"Ya, janganlah! Mama, kok, ngomongnya gitu? Mama nyumpahin Naura pergi?" Lagi-lagi Calvin balas melotot pada mamanya.


Entahlah. Memikirkannya saja sudah membuat Calvin marah, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi. Bisa nangis kejer Calvin kalau sampai ditinggal Naura!


"Makanya, sana samperin istrinya! Jangan sampai nanti nyesel kalau terus kamu sia-siain! Gak gampang nyari istri yang baik kayak Naura." Ucapan mamanya memang ada benarnya juga.


Tauk, ah!


"Ck. Iya, iya! Calvin samperin."


...****...


Tepat ketika Calvin baru memasuki kamar, dia menemukan keberadaan Naura yang tengah terduduk melamun di atas kursi. Tatapan matanya tampak begitu kosong, seolah ada suatu kesedihan mendalam di dalamnya.


Ah, sial. Membuat Calvin ikut merasa bersalah saja!


"Naura! Turun, yuk! Mama udah buatin teh hanget buat kamu." Sahutan Calvin, seketika membangunkan Naura dari lamunannya. Sontak perhatiannya langsung terkunci pada raut wajah Calvin yang masih tetap dingin seperti sebelumnya.


Tak bertahan lama, Naura kembali menunduk. Membuat Calvin sontak mengerutkan alisnya.


Kenapa lagi?


"Naura?" Lagi. Calvin memanggil Naura, seraya semakin mendekatkan posisinya. Namun, tak ada reaksi apa pun dari Naura.


Tak berlangsung lama, Naura kemudian melompat ke pelukan Calvin membari menangis tersedu-sedu. Hal itu sontak membuat Calvin terkejut pun merasa bersalah diwaktu yang bersamaan.


"Maaf!" Hanya itu. Bisikkan bergetar yang terlontar dari mulut Naura, sukses membuat Calvin terdiam beberapa saat.


Ketika tak ada balasan apa-apa dari Calvin, Naura sudah berniat untuk melepaskan pelukannya. Belum sepenuhnya terlepas, kedua tangan Calvin menarik tubuh Naura sehingga berakhir memeluknya erat. Seolah tak membiarkan Naura untuk melepaskan pelukannya.


"Aku yang minta maaf! Maaf udah bentak kamu. Tadi aku cemas, jadinya aku refleks. Maaf udah buat kamu sedih."


Jujur, setelah Calvin berkata demikian pada Naura, hatinya jauh merasa lebih tenang ketimbang tadi. Bahkan, Calvin kian memeluk erat tubuh Naura, sampai berakhir terus menciumi puncak kepala Naura.


Sementara Naura, perempuan itu masih menangis dengan tubuhnya yang bergetar. Bahkan, air matanya terasa membasahi kaos yang tengah dipakai oleh Calvin.


Perlahan, Calvin mulai melonggarkan pelukannya. Menatap raut wajah Naura dalam-dalam yang terlihat begitu kacau.


Sial! Bisa-bisanya Calvin membuat Naura kembali menangis? Bukankah dirinya sudah berjanji akan membuat Naura tersenyum bahagia?


"Udah, jangan nangis lagi. Entar cantiknya hilang. Udah, ya?" Calvin menyeka sisa air mata yang masih menempel di wajah Naura.


Beruntung, tangis Naura mulai mereda sedikit demi sedikit. Membuat Calvin merasa jauh lebih lega setelah melihatnya.


Gini, ya, rasanya punya istri! Rasanya seperti kita menikah karena cinta, bukan karena tragedi.


"Kenapa?" Tanya Calvin. Takut jika dirinya masih memiliki kesalahan pada Naura yang tidak Calvin sadari.


"Mas Calvin kenapa gak nanya tentang aku? Mas Calvin gak penasaran, kenapa selama ini aku pura-pura bisu?"


Jantung Calvin serasa copot dari tempatnya, sesaat ketika mendengar suara Naura yang sesungguhnya.


Ya, Naura berbicara pada Calvin! Dan yang lebih mengejutkannya adalah, Naura tidak lagi berbisik seperti ketika dia mengucapkan kata maaf. Sialnya, suaranya terdengar begitu merdu, sampai tanpa sadar membuat Calvin terbius.


"Ekhem." Dengan cepat, Calvin mengenyahkan segala pemikiran aneh yang muncul bergiliran di otaknya.


Diem dulu lo, Otak! Jangan mikir yang aneh-aneh! Iya, suara istri lo merdu banget, sampai rasanya membangkitkan gairah lo sendiri, tapi jangan sekaranglah! Gila aja gue!?


Calvin menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralisir perasaan menggebu dalam hatinya. Perhatian sepasang bola matanya terkunci pada sepasang bola mata Naura yang menatap lurus ke arahnya, seolah tengah menunggu sebuah jawaban dari Calvin.


"Aku ... takut kalau bertanya, nanti malah membuat luka kamu terbuka. Jadi, aku lebih memilih diam sampai pada saatnya kamu mau cerita sendiri sama aku." Ujar Calvin, jujur.


Jika dirinya bisa egois, Calvin sebenarnya sangat ingin tahu alasan dibalik semua yang terjadi pada Naura. Sayang, Calvin takut membuat Naura tersinggung dan malah berakhir pergi meninggalannya.


Jadi, berakhirlah Calvin memendamnya seorang diri. Berharap suatu hari, Naura mau berkata jujur dan menceritakan segalanya.


Terdengar helaan napas pelan dari mulut Naura, sebelum perempuan itu berniat kembali membuka mulutnya. "Aku ... belum bisa cerita. Tapi karena Mas Calvin udah tahu, aku gak akan sembunyi-sembunyi lagi. Tapi dengan syarat, aku cuman akan bicara sama Mas Calvin."


...****...


"Hai, Cal!" Lamunan indah Calvin diharuskan membuyar, saat seseorang yang tak pernah sekalipun ia harapkan kehadirannya lagi, ikut menempati kursi kosong di samping Calvin.


Seolah tidak peduli, Calvin memilih menjauhkan diri sedikit dari Evelyn tanpa berniat untuk membalas sapaannya sama sekali.


Tak mau kalah, Evelyn kembali mendekat, membuat Calvin yang tadinya masih berusaha jengah, lantas menatapnya dengan tatapan dingin.


"Sorry, hari ini ada kelas yang gak ada hubungannya sama mahasiswa fakultas manajemen. Bisa keluar?" Ucapan dingin Calvin, membuat Evelyn terdiam seraya mengepalkan kedua tangannya di bawah sana.


Dengan menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, Evelyn lantas memasang senyuman kaku di hadapan Calvin. Setelahnya, tanpa berniat mengatakan apa-apa lagi, Evelyn bangkit dari kursi. Melenggang keluar dari dalam ruang kelas yang masih cukup sepi.


Tepat di ambang pintu, langkah Evelyn terjeda beberapa saat oleh kedatangan Nino dan juga Brian. Kedua pemuda itu sontak memasang tatapan tak suka terhadap Evelyn, seolah memiliki dendam pribadi.


"Ngapain lo di sini? Anak fakultas mana lo?" Nino bertanya sarkas pada Evelyn.


Ketika Evelyn sudah hendak melanjutkan langkahnya, Brian tiba-tiba berdiri di hadapan Evelyn. Menghadang perempuan itu, sembari menatapnya dengan tatapan merendahkan.


"Gimana hasil selingkuh dari temen gue? Udah ngisi belum lo? Jangan lupa tahu diri. Selera si Calvin bukan cewek rendah kayak lo, yang pacarannya sama si Calvin, tapi tidur bareng temennya. Sejujurnya, gue gak berharap yang tidur sama lo itu si Calvin. Enak aja temen gue maen sama ..." Brian sengaja menggantungkan ucapannya. Walau demikian, tatapan yang Brian layangkan kali ini, sudah cukup untuk mendeskripsikan Evelyn.


Sial! Wajah Evelyn rasanya sudah cukup mendidih akibat perkataan Brian yang terdengar gamblang. Terlanjur kesal, Evelyn menghentakkan kakinya, seraya berjalan cepat meninggalkan Brian dan Nino yang tertawa puas di belakang.


"Malu dia, Bro!"


"Siapa suruh masih sempet-sempetnya deketin si Calvin? Dah tahu udah punya bini, masih aja gatel."


...****...


Calvin menghela napas lelah, ketika setibanya dia di rumah. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul enam sore, dan Calvin baru saja pulang dari kampus. Bisa dibilang, seharian ini Calvin dibuat sibuk oleh tugas kelompok yang harus segera dikumpulkan minggu ini. Jadilah Calvin pulang terlambat tidak seperti biasanya.


Saat Calvin mulai merilekskan tubuhnya di sofa, suara dentingan gelas yang ditaruh di atas meja, membuat Calvin sontak membelalakkan matanya yang sempat terpejam beberapa saat. Seulas senyuman tipis kemudian menghiasi wajah Calvin.


"Di-minum dulu." Jujur saja, Naura teramat gugup saat mencoba untuk lebih terbuka dengan Calvin. Walau dirinya sudah berjanji pada dirinya sendiri, tetap saja Naura masih ragu.


Sejujurnya, masih ada sedikit rasa takut dalam diri Naura untuk berbicara pada orang asing setelah sekian tahun dirinya menutup diri. Tetapi, karena sudah terlanjur diketahui, rasanya terus bersembunyi juga tidak berarti.


Toh, Naura mulai berbicara dengan Calvin yang notabene adalah suaminya. Jadi, tidak apa-apa 'kan?


"Makasih." Calvin menerima air minum yang disodorkan oleh Naura dengan senang hati. Bahkan, Calvin meminumnya hingga tandas. Seulas senyum malu-malu lantas menghiasi wajah cantik Naura.


"Ekhem. Mas Calvin ... u-udah makan?" Tanya Naura, pelan.


"Belum."


"Ke-kenapa?" Raut wajah Naura berubah cemas, dan hal itu sanggup membuat Calvin semakin tak dapat mengalihkan perhatiannya dari Naura.


"Kok, nanya kenapa? Ya, karena pengin makan sama-sama, lah!"


"Tapi ... aku baru aja makan barusan. Gimana, dong?" Naura kian memperlihatkan raut wajah tak enak hati. Anehnya, hal itu justru membuat Calvin teringin untuk semakin menggodanya.


"Kok, gak nunggu?" Tanya Calvin, terdengar seolah benar-benar merajuk.


Dan lihatlah raut wajah Naura saat ini. Begitu panik jika sewaktu-waktu Calvin akan kembali marah padanya. "Aku gak tahu kalau Mas Calvin bakal pulang jam segini. Kalau tahu ... tadi mungkin udah aku tungguin."


Ya ampun, istrikuuu ... Apa yang harus aku lakukan padamu?


^^^To be continued...^^^