
Tak pernah Calvin bayangkan, hari yang sangat dia nantikan, akhirnya telah berada di depan mata. Senyuman hangat yang teramat tulus terus terpampang nyata. Bulir-bulir air mata kebahagiaan bahkan tampak begitu jelas di kedua bola matanya.
Calvin lagi-lagi mengulurkan tangannya menyentuh pipi gembul bayi kecilnya yang baru saja lahir sekitar enam jam lalu. Bibirnya tampak begitu kecil berwarna kemerahan dengan kulitnya yang putih halus. Mau dilihat dan diperhatikan sesering apa pun, bayi kecilnya terlihat begitu mirip dengan Calvin.
Calvin jadi gemas sendiri untuk kembali menggendong bayinya. Sayang sekali, bayi kecil yang telah diberi nama Seanno Angkasa Regartha itu baru saja tertidur lelap di pangkuan Naura.
Perlahan, perhatian Calvin beralih pada Naura yang juga tengah memancarkan aura kebahagiaan yang sama. Tatapan matanya seolah masih terfokus pada raut wajah kecil bayinya yang baru selesai Naura susui.
Ada rasa haru yang tidak dapat Naura pungkiri. Walau dirinya masih belum pulih total, Naura sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah untuk merawat Sean.
Di jarak sekitar satu setengah meter, Fani tersenyum lebar memerhatikan anak, menantu, serta cucu kecilnya. Rasanya, kebahagiaannya telah lengkap sekarang. Fani dan Divo serta Hermawan telah sah menjadi nenek dan kakek.
Di tengah suasana sunyi penuh kebahagiaan itu, pintu ruang perawatan Naura terbuka. Tampak Hermawan bersama Divo yang membawa beberapa keresek makanan, minuman, dan beberapa camilan ringan serta buah-buahan untuk semuanya.
"Vin, makan dulu! Dari pagi kamu belum makan 'kan? Papa bawain makanan buat kamu." Hermawan menyodorkan sebuah kantung keresek berukuran sedang berisi nasi serta ayam goreng dan juga minumannya.
Calvin menerima pemberian papa mertuanya dengan senang hati. "Makasih, Pah!" Ucap Calvin, yang dibalas senyuman tipis oleh Hermawan.
"Sayang, kamu mau makan juga?" Perhatian Calvin lalu beralih pada Naura yang diam-diam memerhatikannya.
"Mau! Tapi ..."
"Sini, Sean biar sama Omah dulu!" Fani bergegas bangkit menghampiri Naura seolah peka. Sontak perhatian Naura bahkan Calvin lantas beralih pada Fani.
"Enggak pa-pa, Mah?" Jujur saja, Naura sedikit tidak enak telah merepotkan mama mertuanya sedari tadi.
"Enggak pa-pa! Udah, Sean biar Mama yang gendong! Ululuh, Cucu Omah ganteng banget siii! Mirip sama siapaaa?" Fani mulai mengambil alih Sean ke dalam pangkuannya. Bayi kecil itu bahkan sempat dibuat terusik beberapa saat.
Dirasa kembali tenang, Fani membawa cucu kecilnya untuk duduk di sofa. Di samping kanan dan kirinya sudah ada Divo dan Hermawan yang tampak begitu antusias ingin kembali menatap wajah cucu kecil mereka.
"Ya ampun, baru lahir hidungnya udah mancung! Ganteng banget Cucu Kakek ini." Hermawan tersenyum gemas apalagi ketika ujung jemarinya menyentuh lembut pipi gembul cucunya.
"Mah, Papa pengen gendong Sean lagi dong!" Divo mencolek bahu istrinya, berharap ia kembali mendapat jatah gendong seperti sebelumnya.
"Nanti, ya, Pah! Sean lagi bobo. Nanti kalau kebangun, kasihan Naura. Naura lagi mau makan dulu tuh lihat!" Fani menunjuk menantunya yang tengah makan disuapi oleh Calvin.
Terdengar helaan napas pasrah dari mulut Divo. "Ya udah, tapi nanti gantian, ya, Mah!"
"Besan, aku juga mau gendong Sean. Nanti gantian juga, ya,"
"Iya, iya!"
...****...
"Enak?" Tanya Calvin, selepas menyuapi makananan pada istrinya.
Naura tersenyum lembut disela mengunyah suapan dari Calvin. Kepalanya mengangguk beberapa kali.
"Sayang juga makan!" Suruh Naura. Sedari tadi, Calvin terus menyuapinya makan, sementara dirinya sendiri juga belum makan apa-apa.
Tersadar akan hal itu, Calvin kemudian terkekeh. Seperti kata Naura, Calvin mulai menyuapi dirinya sendiri, sebelum nantinya dia akan kembali menyuapi Naura.
"Aa!" Ujar Calvin, kembali menyodorkan suapan lain untuk Naura. Tanpa menunggu lama, Naura kembali menerima suapan itu dengan hati berbunga. Diam-diam Naura melirik ke arah papa serta kedua mertuanya yang sibuk memerhatikan Sean.
Tanpa sadar kedua sudut bibirnya kembali terangkat membentuk lengkungan indah. "Aku seneng banget setelah tahu banyak yang sayang sama Sean." Naura bergumam pelan, membuat perhatian Calvin ikut beralih pada apa yang menjadi fokus Naura.
"Aku lebih seneng saat tahu kalau kejadian hari ini adalah sebuah kenyataan, dan bukan mimpi. Makasih untuk kebahagiaan terbesar yang kamu kasih ke aku, dan keluarga kecil kita. Kamu udah berjuang banyak demi melahirkan bayi kita. Maaf, aku nggak bisa membantu apa-apa saat kamu berjuang tadi." Calvin menunduk lesu ketika mengingat saat-saat istrinya yang hendak melahirkan secara normal. Sialnya, Calvin tidak bisa membantu apa-apa selain menggenggam tangan Naura untuk menenangkannya.
"Kok, Mas Calvin bilang gitu? Kalau gak ada Mas Calvin, aku gak yakin hari ini aku bisa laluin ini semua. Tanpa suamiku, aku nggak bisa apa-apa. Jadi tolong, jangan bilang gitu lagi!" Naura menarik tangan Calvin lalu menggenggamnya, sehingga membuat Calvin mendongak dan menatap Naura.
"Jangan bilang gitu lagi, ya? Selamanya Mas Calvin berarti buat aku, buat Sean, dan buat seluruh keluarga kita. Cukup kamu kembali seperti saat ini, itu udah buat aku dan semuanya bahagia."
Calvin terdiam meresapi kata demi kata yang terlontar dari mulut Naura. Perlahan, Calvin menghela napas panjang, sebelum pada akhirnya pria yang telah sah berstatus sebagai Papa Muda itu kembali melayangkan suapan lainnya pada Naura.
"Iya, aku nggak akan bilang itu lagi. Sini, buka mulutnya, aa!" Untuk kali ini, Calvin memutuskan mengenyahkan semua pemikirannya. Namun di lain waktu, Calvin berjanji satu hal pada dirinya sendiri.
Calvin akan melindungi Naura dan buah hati kecil mereka sepenuh hati. Tidak akan membiarkan keluarga kecilnya terluka sedikit pun.
...****...
Tak terasa, dua tahun lebih telah berlalu dari sejak kelahiran buah hati Calvin dan Naura yang diberi nama Seanno Angkasa Regartha. Buah hati mereka kini tumbuh dengan ceria. Telah banyak peningkatan dan perubahan signifikan dari Sean yang usianya telah menginjak dua tahun lebih dua bulan.
Bayi kecil mereka yang dahulu hanya bisa menangis, kini sudah pandai berjalan bahkan pandai berbicara. Tubuhnya yang relatif berisi dan lebih tinggi dibandingkan balita seusianya, menjadikan Sean balita paling menonjol disetiap kali pertemuan mingguan bahkan bulanan di pusat kesehatan ibu dan anak.
Bukan hanya itu. Warna rambut yang relatif berwarna hitam kemerahan serta warna kulit putih yang kontras dengan wajah yang sangat mirip dengan papanya, menambah kesan imut dan menggemaskan setiap kali orang-orang melirik maupun menatapnya.
Tak heran banyak juga kalangan orang dewasa yang tak segan untuk sekadar menyapa maupun menggendong Sean. Sayangnya, Sean begitu dingin dengan orang asing. Tetapi, dia juga teramat manja pada papanya, seperti hari ini.
Hari ini adalah hari Calvin dinyatakan lulus S1. Sedari menjadi penonton bersama jajaran tamu beserta anggota keluarga wisudawan, Sean tak henti-hentinya terus menunjuk ke depan dan berucap 'Papa' berulang-ulang.
Sayangnya, yang ditunjuk Sean bukanlah papanya. Maklum anak kecil yang sangat dekat dengan papanya. Apa-apa semuanya dipanggil papa. Padahal Naura yang mengandung dan melahirkannya.
"Mama! Papa!" Sean lagi-lagi menarik ujung kebaya Naura seraya menunjuk-nunjuk ke depan.
Karena takut Sean akan menangis histeris seperti kejadian beberapa waktu lalu, Naura memutuskan menggendong Sean dan membawanya keluar dari aula.
Dan benar saja. Baru beberapa langkah Naura berjalan menjauh, Sean sudah berkaca-kaca. Bibirnya mengerucut sebelum pada akhirnya, balita itu menangis sembari memanggil nama papanya.
"Papa! Sean mau Papa!"
Naura memejam kuat kedua matanya saat perhatian orang-orang di sekitar mulai beralih pada mereka. Sungguh, Naura takut orang-orang akan risih mendengar tangisan putranya yang tidak bisa dikatakan enteng.
"Sean, kita beli es krim, ya? Sean mau yang rasa apa, hm?"
"Gak mau es kim! Sean mau Papaa!"
"I-iya, nanti. Papa lagi di dalam, nanti juga nyamperin kita ke sini, ya? Sayangnya Mama gak boleh rewel, waktu di rumah kamu udah janji lho sama Mama." Tangisan Sean perlahan mulai mereda. Raut wajah kecilnya terlihat memerah dipenuhi sisa air mata. Dengan lembut, Naura mengusap sisa air mata di wajah Sean sembari mengajaknya jalan-jalan.
"Tuh, ada yang jualan ikan! Sean mau Mama beliin ikan, gak?" Berusaha untuk melupakan keingingan Sean akan bertemu dengan papanya, Naura menunjuk seorang pedagang ikan hias yang berdiri tak jauh dari posisi mereka.
Spontan Sean mengusap sisa air mata yang menghalangi penglihatannya. "Ikan?"
"Iya! Itu kayaknya juga ada kura-kura. Sean 'kan suka kura-kura. Beli, yuk!"
"Sean mau kula-kula!" Naura menghela napas lega saat putranya mau dibujuk. Karena putra kecilnya tipe balita aktif, Naura menurunkan Sean dari gendongannya. Membiarkan Sean berjalan dengan kedua kaki mungilnya. Tak lupa salah satu tangan mungilnya Naura genggam erat-erat agar tidak berlari ke sembarang arah.
Sesampainya di tempat pedagan ikan hias, senyum Sean langsung merekah tatkala kedua bola matanya menangkap beberapa atau bahkan puluhan ekor kura-kura yang masih berukuran kecil. Tawanya tercetak jelas. Kedua kakinya melompat kegirangan melihat kura-kura yang terlihat begitu aktif bergerak di dalam akuarium berukuran kecil.
"Mama, Mama! Sean mau yang ini!" Sean kembali menarik ujung kebaya Naura sembari mendongak.
Untuk menyamakan posisi, Naura berjongkok di samping putra kecilnya. Kedua bola matanya menjelajah menatap satu persatu kura-kura untuk dibandingkan dengan kura-kura pilihan Sean.
Senyum Naura lantas merekah saat itu juga. "Sean mau yang ini?" Tanya Naura, yang spontan dibalas anggukkan antusias oleh Sean.
"Kenapa nggak yang ini aja?" Naura mengangkat seekor kura-kura lain yang juga ditempatkan dalam akuarium kecil.
Raut wajah Sean tampak tidak tertarik saat mamanya menawarkan kura-kura lain, selain yang barusan dia pilih sendiri. "Sean mau yang ini! Yang itu jelek, milip sama Om Avin!"
Tawa Naura langsung pecah saat itu juga. "Hei, gak boleh ngomong gitu! Om Arvin 'kan baik sama Sean, suka ngasih mainan."
"Tapi Om Avin suka nyium-nyium pipi Sean! Papa juga suka malah kalau pipinya Sean diciumin telus? Katanya nanti bisa lusak!" Tak hanya Naura, salah seorang calon pembeli lain yang juga tengah memilih ikan hias untuk koleksi di dalam akuarium di rumah, ikut tertawa kecil menanggapi ocehan Sean. Dia sampai ikut berjongkok di samping Sean untuk melihat lebih jelas raut wajah menggemaskan balita itu.
"Sean umurnya berapa? Pinter banget jawab pertanyaan mamanya?" Seorang wanita kisaran usia akhir 20an mengelus kepala Sean. Bukannya mendapat respons positif, Sean malah langsung berlari ke pelukan Naura untuk bersembunyi.
"Maaf! Anak saya suka malu-malu sama orang baru,"
"Nggak pa-pa, namanya juga anak kecil. Ganteng banget, ya, Sean! Tante juga punya anak seusia Sean, tapi belum lancar bicara." Ujar wanita itu, masih setia menatap raut wajah Sean yang cemberut.
"Hm, ya udah. Tadi Sean mau kura-kura, ya? Nih, buat Sean! Tante yang bayarin." Naura dibuat kelimpungan saat wanita itu tiba-tiba menyerahkan kura-kura secara cuma-cuma pada Sean.
Dan yang paling membuat Naura kelimpungan adalah, Sean langsung menerima saja pemberian dari wanita itu tanpa bertanya lebih lanjut.
"Eh, jangan Mbak! Kok, jadi dibayarin? Nggak usah, saya-"
"Nggak pa-pa, Mbak! Saya terlanjur gemes lihat Sean. Anggap aja ini hadiah pertemuan pertama Saya sama Sean. Ya 'kan, Sean?" Sean tidak membalas ucapan dari wanita itu. Balita itu sibuk memerhatikan kura-kura impiannya dengan raut berbinar.
Terdengar kekehan kecil dari wanita itu. "Sean, di masa depan, kita harus ketemu lagi, ya?" Wanita itu mencolek pipi gembul Sean, sehingga membuatnya mendongak seketika.
Dengan polosnya, Sean mengangguk. "Telima kasih, Tante! Tante baik sama Sean."
"Sama-sama! Panggilnya Tante Syifa. Di masa depan, Sean mau, ya, jadi menantu Tante?"
"Eh?" Naura seketika dibuat terdiam memaku mendengar penuturan wanita yang mengaku bernama Syifa itu.
Belum pernah ada orang dewasa yang mengajak Sean berbicara dengan ajakan tak masuk akal seperti itu! Biasanya paling hanya mengajak main, atau tidak bercanda untuk menjadikan Sean putra dari orang yang mengajak Sean berbicara.
Tetapi ini? Menantu?
"Mbak bisa aja. Em, ya udah. Makasih banyak, ya, Mbak untuk hadiahnya. Kalau begitu, saya sama Sean mau langsung pergi dulu."
"Oh, iya. Silakan! Dadah Sean!" Syifa melambaikan tangannya pada Sean yang juga dibalas sama oleh balita itu.
Sungguh, ada apa dengan hari ini?
Oke, Naura akan menganggapnya sebuah candaan saja, karena bagaimanapun, masa depan Sean tidak bisa diatur hanya karena ucapan seseorang.
"Mama!" Panggil Sean, disela langkah kakinya meninggalkan penjual ikan hias pun wanita bernama Syifa.
"Hm."
"Menantu itu apa?"
^^^To be continued...^^^