Quiet Wife

Quiet Wife
51. Lengkap



...Dede Sean...



...Mama Naura...



...Papa Calvin...



...****...


"Menantu itu apa?" Naura menghentikan langkah kakinya, bingung menjawab apa atas pertanyaan dari putra kecilnya.


"Hm, menantu itu ..."


"PAPA!" Sean memekik keras, membuat Naura menghentikan ucapannya.


Belum sempat Naura bernapas lega, Sean langsung berlari secepat kilat menuju papanya yang tengah melambaikan tangan sembari mengenakan setelan wusudawan.


"Sean, pelan-pelan, jangan lari!" Naura sudah sangat cemas, apalagi dengan adanya orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar. Beruntungnya, Calvin dengan sigap menangkap putra kecilnya dan membawanya ke dalam dekapan.


"Yeey, Sean temu Papaaa!" Dengan manja, Sean mengalungkan kedua tangannya di leher Calvin. Tak memedulikan wajah papanya yang sesekali akan terhantam oleh akuarium kecil berisi kura-kura pemberian wanita asing bernama Syifa.


"Udah selesai?" Naura bertanya halus, seraya hendak mengambil Sean dari Calvin. Sayangnya, putra kecilnya itu menolak kembali ke dekapan mamanya. Dengan tampang cemberut, Sean semakin mengalungkan kedua tangannya pada leher Calvin.


"Sean mau sama Papa, Mama!"


"Tapi Papa lagi repot, sama Mama dulu, yuk!" Naura sudah hendak kembali berancang-ancang, tetapi Sean malah menangis histeris sehingga membuat beberapa orang yang berjalan di sekitar mereka menoleh terkejut.


"Iya, iya, Sean sama Papa! Jangan nangis lagi, oke? Sean mau jajan, nggak? Yuk, Papa beliin!" Tangisan balita itu langsung mereda tatkala mendengar bujukkan manis dari mulut papanya. Dengan cepat Sean mengusap wajahnya yang sempat berderai air mata sesaat.


"Sean mau es kim!" Jemari mungil Sean menunjuk stan penjual es krim berbagai varian bentuk dan rasa.


Tanpa menunggu lama, Calvin mengangguk menyanggupi. Satu tangannya yang menganggur menarik halus tangan istrinya. "Sayang juga mau es krim?"


"Hm, enggak, deh. Buat Sean aja,"


"Kenapa?" Kedua alis Calvin tampak mengerut. Belum sempat Naura membalas, ucapan Sean seketika mengalihkan atensinya.


"Papa, ayo! Es kim!"


"Eh, iya! Ayo, mau yang rasa apa?" Dengan langkah tegas, Calvin berjalan menuju stan es krim bersama dengan putra kecilnya yang dia gendong di sebelah kiri dan juga istrinya yang tangannya Calvin genggam di sebelah kanan.


Tak ayal, kebersamaan mereka mendapat perhatian positif dari orang-orang yang menyempatkan diri untuk menoleh memerhatikan interaksi keluarga kecil itu. Terlihat begitu manis dan sempurna.


Sesampainya di stan es krim, Sean berucap pada papanya untuk menurunkannya. Tentu saja Calvin hanya bisa mengikuti permintaan itu. Tubuhnya berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Sean.


"Sean mau yang mana?" Tanya Calvin, sesekali menoleh gemas pada kedua pipi gembul putranya yang semakin hari, semakin terlihat menggemaskan.


"Sean mau yang ini! Yang stobeli!" Kepala Sean mendongak dengan kaki kecilnya yang sedikit berjinjit. Jemari mungilnya kembali menunjuk sesuatu yang dia inginkan.


Calvin terkekeh. Salah satu tangannya dengan gemas mencolek pipi gembul Sean. "Kalau Mama mau yang mana?" Perhatian Calvin lalu beralih pada Naura yang berdiri di belakang mereka.


"Mama enggak, Sean sama Papa aja." Ujar Naura, diakhiri tersenyum manis.


"Ya udah, samain aja. Mama makan es krimnya berdua sama Papa." Putus Calvin, pada akhirnya. Sedangkan Naura, mama muda itu hanya tersenyum tipis dengan wajahnya yang sedikit menunduk.


Tak berapa lama menunggu, Calvin dan Sean kembali. Kedua tangan mungil Sean membawa sebuah mangkuk es krim berukuran sedang bersama dengan sendoknya.


Sean tidak digendong Calvin. Balita itu menolaknya dan memilih berjalan seraya mencicipi es krim rasa stroberi favoritnya. Sedangkan Calvin, pria itu memperlihatkan satu mangkuk es krim lain yang dimasukkan ke dalam kantung keresek.


"Sini, Mama gendong!" Sean tidak menolak seperti saat tadi. Balita itu sibuk memakan es krimnya sampai belepotan.


"Hm, kita nyari tempat duduk dulu, yuk!" Ajak Calvin. Satu tangannya yang menganggur dengan romantis memeluk tubuh Naura dari samping.


Naura tampak terdiam dengan kedua bola matanya yang sibuk menjelajah. "Di sana aja gimana?"


Calvin mengikuti arah tunjuk Naura. Kepalanya mengangguk saat menangkap sebuah bangku kosong yang posisinya berada tepat di bawah pohon rindang. Tampak cukup sejuk bila ditempati apalagi di cuaca panas seperti saat ini.


"Ayo! Sean mau sama Papa atau sama Mama?" Pertanyaan Calvin dibalas gelengan pelan oleh Sean. "Mama!" Ujar Sean, sembari memeluk tubuh Naura.


...****...


"Sayang!"


"Hm?" Naura yang tengah sibuk memerhatikan putra kecilnya bermain dengan kura-kura, lantas menoleh pada Calvin.


"Kenapa?" Bukannya segera membalas sahutan dari istrinya, Calvin malah menyandarkan kepalanya di bahu Naura. Kedua bola matanya bahkan mulai terpejam beberapa saat.


Terdengar helaan napas panjang dari mulut Calvin yang membuat Naura sedikit bertanya-tanya.


"Sayang?" Panggil Naura, seraya menyentuh halus permukaan wajah Calvin. Sesekali, Naura juga akan mencuri-curi pandang untuk melihat raut wajah Calvin lalu dilanjut memerhatikan kegiatan kecil putranya.


"Hm."


Giliran Naura yang menghela napas panjang. "Kamu kenapa? Lagi ada masalah?"


"Enggak."


"Terus?"


Calvin perlahan menegapkan posisi duduknya. Kepalanya menoleh pada Naura, lalu dilanjut pada Sean.


"Sean!" Panggilan halus itu membuat Sean mendongak. Senyuman polosnya mengembang saat mengetahui bahwa papanyalah yang barusan memanggil namanya.


Tanpa berpikir panjang, Sean berlari menuju Calvin. Balita itu sampai melupakan kura-kura yang dia lepaskan dari dalam akuarium. Sesampainya di depan Calvin, Sean merentangkan kedua tangannya minta digendong.


Calvin dan Naura yang melihatnya tersenyum gemas. Dengan cepat Calvin mengangkat tubuh berisi putranya untuk didudukkan di pangkuannya.


"Hari ini, Papa mau umumin kabar baik sama Mama dan juga Sean." Salah satu tangan Calvin yang menganggur lalu meraih tangan Naura untuk digenggamnya erat-erat.


Sebelum benar-benar melanjutkan perkataannya, Calvin menarik napas panjang terlebih dahulu. "Mulai besok, kita pindah ke rumah kita." Ujar Calvin, sontak Naura membelalakkan mata.


"A-apa? Rumah kita?" Jawaban berupa anggukkan mantap dari Calvin, membuat Naura kian terkejut. Jantungnya sampai dibuat berdegup kencang karenanya.


"Kamu-"


"Semuanya berkat kamu dan juga Sean. Sekarang, kita punya rumah sendiri untuk keluarga kecil kita." Naura terdiam meresapi untaian kata demi kata yang Calvin lontarkan. Sudut hatinya menghangat, dan Naura tidak tahu harus membalas seperti apa lagi.


"Kenapa tiba-tiba?"


Calvin terkekeh seraya semakin menggenggam erat tangan Naura. "Siapa bilang ini tiba-tiba?"


Naura lagi-lagi mengerutkan alisnya bingung. Terdengar helaan napas panjang dari Calvin yang semakin membuat Naura penasaran.


"Aku udah rencanain hal ini dari ketika kamu lagi hamil Sean. Tapi, aku baru bisa wujudin hal itu hari ini. Maaf!" Senyuman yang Calvin perlihatkan berubah getir. Kepalanya sedikit menunduk untuk menatap lekat-lekat wajah putra kecilnya yang masih setia memerhatikan interaksi antara Calvin dan juga Naura.


Tatapan matanya yang terkesan polos membuat Calvin merasa tak berdaya. Perasaan sesak tanpa alasan kerap kali memenuhi dada Calvin hanya karena tatapan polos dari Sean.


Terkadang batinnya bertanya hal tak biasa. Apa yang akan terjadi pada Sean jika seandainya hari itu Calvin benar-benar tidak pernah kembali?


"Sean!" Dengan penuh kasih sayang, Calvin mengusap lembut surai hitam milik Sean. Balita itu tersenyum manis ketika papanya lagi-lagi memanggil namanya.


"Iya, Papa!"


"Papa sayang banget sama Sean,"


"Sean juga cayang sama Papa!" Sean kian melebarkan senyumannya. Kedua tangan mungilnya direntangkan untuk kembali dikalungkan di leher Calvin.


Naura tersenyum hangat melihat pemandangan indah itu. "Kalau sama Mama, Sean sayang nggak?"


Perhatian Sean langsung terbagi dua. Kepalanya celingukan menatap mama dan papanya secara bergantian.


"Cayang!" Ungkapnya, tanpa sadar malah mengundang tawa tersendiri pada Naura dan Calvin.


"Sini peluk!" Naura mulai merentangkan tangannya, tak lupa memasang senyuman yang teramat manis teruntuk putra kecilnya.


Sean bingung antara memilih memeluk mamanya atau tetap di tempat semula, di mana dirinya tengah memeluk erat papanya. Namun, perasaan itu seketika melebur ketika Calvin yang lebih dulu mendekatkan posisi duduk dan memeluk Naura dari samping. Senyum manisnya ikut tercetak tanpa dibuat-buat.


"Nice! Sekali lagi!" Sahutan tak terduga yang diawali dengan bunyi tangkapan foto dari sebuah kamera, mengenyahkan fokus keluarga kecil itu.


Raut wajah ketiganya berubah seratus delapan puluh derajat saat menyadari, siapa yang baru saja memotret kebersamaan mereka.


"Om Aviiinnn!" Sean memekik keras seraya melompat dari pangkuan Calvin dan berlari menuju Arvin.


Bukan hanya Arvin seorang. Masih ada Mama Fani, Papa Divo dan tentunya Papa Hermawan juga. Keempatnya datang menyusul menuju tempat wisuda Calvin. Semuanya tidak ada yang mau melewatkan kesempatan berharga yang terjadi sekali seumur hidup itu.


"Hai, Bocah! Om ada bawa permen kapas. Kesukaannya siapa, nih?" Dengan penuh keramahan hati, Arvin menggendong Sean seraya memerlihatkan sebuah permen kapas berwarna biru yang dibungkus dalam balutan plastik transparan.


Senyum di wajah Sean kian mengembang. Tawa gemasnya pecah saat permen kapas itu beralih ke tangan mungilnya. "Makasih, Om Avin! Tumben hali ini Om jadi baik cama Sean?"


Fani, Divo dan Hermawan, refleks tertawa geli mendengar balasan Sean. Tidak dengan Arvin yang cemberut karena ucapan Sean yang teramat menusuk jantungnya.


"Sean, gak boleh ngomong gitu!" Naura berucap memperingati Sean. Sementara putra kecilnya itu hanya menyengir lebar tanpa dosa.


"Gimana acaranya? Udah?" Arvin menyahut di tengah suasana haru. Tentunya ucapan itu Arvin tujukan pada Calvin yang tampak semakin lengket dengan istrinya.


"Acara formal udah. Tinggal foto aja. Ini pada ke sini mau pada foto 'kan?" Calvin menatap satu persatu anggota keluarganya dengan tampang usil. Tentunya hal itu disambut hangat juga oleh semuanya.


"Iyalah! Papa habis potong rambut, sayang dong kalau nggak foto?" Divo menyisir rambutnya ke belakang bak anak muda yang tengah diterpa kasmaran.


Dan, ya. Gelagatnya itu berhasil membuat sang istri berdecak seraya berkacak pinggang. "Udah tua, inget, gak usah aneh-aneh!"


"Denger tuh!" Timpal Arvin, membuat semuanya kembali tertawa.


Tanpa diduga, Hermawan berjalan ke samping Divo. Lengannya dengan jantan disampirkan di bahu Divo seraya berkata,


"Emangnya kenapa? Dikira cuman anak muda doang yang bisa gaya? Kita yang udah jadi kakek-kakek juga bisa. 'Kan, Div?" Ujar Hermawan. Seketika perasaan putus asa dalam diri Divo langsung melebur dan berganti menjadi sebuah kepercayaan diri.


"Betul. Papa setuju sama omongannya Besan!"


Di sela kebersamaan penuh canda dan tawa itu, diam-diam Sean menarik kemeja Arvin. "Om Avin! Meleka lagi ngomongin apa?" Tanya Sean. Refleks Arvin menoleh lalu berakhir menciumi gemas pipi gembul Sean.


"Masih kecil, kamu nggak perlu tahu. Sini, mending Om cium-"


"Sekali lagi lo ciumin pipi anak gue, moncong lo habis sama gue!" Delikan tajam tak terduga dari Calvin, spontan membuat Arvin tersedak ludah.


"Calm down, Vin! Barusan yang terakhir, janji!" Demi ketentraman bersama, Arvin memilih mengalah untuk kali ini.


Gak pa-palah, nanti pas si Calvin lagi gak ada, gue bisa nyuri cium lagi sama ponakan kesayangan gue!


"Ekhem. Tadi katanya mau foto 'kan? Ayo, gas! Mumpung udah sekalian dibawain sama fotografernya." Untuk mempersingkat waktu, Arvin mulai membeberkan perihalnya. Seorang laki-laki asing yang ahli dibidang fotografi telah dari jauh-jauh hari Arvin persiapkan hanya untuk hari istimewa saat ini.


"Ayo, ayo, baris semuanya! Sean fotonya sama Om dulu, ya, nanti sama Mama Papa. Oke?"


Di luar ekspektasi, Sean menggeleng cepat atas ajakan Arvin. "Gak mau, Sean mau sama Papa!"


"Kok, gitu? Sama Om-" belum sempat Arvin menyelesaikan kalimatnya, Calvin telah lebih dulu mengambil alih Sean. Raut wajahnya tampak begitu puas apalagi ketika Sean dengan terang-terangan hanya ingin berfoto bersama dengan papanya, yaitu Calvin.


"Sorry, Sean anak gue! Permisi selamanya,"


"Ck! Di mana-mana orang kalau permisi, ya, sebentar, bukan selamanya!" Dengus Arvin, menatap nanar Sean yang malah melambaikan tangannya dengan begitu polos saat digendong Calvin.


Sialll! Arvin 'kan juga ingin foto dengan ponakan kecilnya! Bisa-bisanya ponakannya itu begitu lucu dan pintar berbicara.


"Pake jurus apaan dah, bisa sampe bikin anak selucu dan seganteng itu? Nggak bisa dibiarin!"


"Oke, baris udah oke! Dihitungan ke tiga kita shoot. Satu, dua ... ti-ga!"


Cekrek!


^^^To be continued...^^^