
7 tahun yang lalu ...
"Mah!"
"Hm."
Raut wajah Naura berubah kecut saat sang mama hanya membalas sahutannya dengan dehaman malas.
"Iih, Mamaaa!" Tak kehabisan akal, Naura remaja mengguncang bahu mamanya yang tengah sibuk memasak lauk untuk makan malam.
"Kenapaaa? Mama lagi sibuk, Naura!"
"Mah, pengin ikut audisi!" Rengek Naura, mulai sedikit menjauhkan diri dari sang mama.
"Audisi?" Beo sang mama, yang langsung diangguki cepat oleh Naura. "Audisi apa? Masak?"
"Bukan!"
"Terus?"
"Audisi nyanyi!"
Terdengar gelak tawa dari mulut sang mama disela aktivitasnya memotong berbagai jenis sayuran untuk dimasak sebagai lauk kedua. "Yang bener aja kamu. Emangnya bisa nyanyi?"
"Kok, gitu? Naura 'kan di sekolah juga jago nyanyi! Nih, Mama denger,"
"Coba nyanyi. Kalau bagus, Mama bawa kamu audisi sekarang juga." Ucapan dari mamanya, membuat Naura remaja tertantang. Dengan penuh keyakinan, Naura menyanggupi suruhan mamanya.
Sebelum benar-benar bernyanyi, Naura mencoba merilekskan diri. Berdeham beberapa kali agar bersiap untuk bernyanyi.
"Langit begitu gelap
Hujan tak juga reda
Kuharus menyaksikan cintaku
Terenggut tak terselamatkan
Ingin kuulang hari
Ingin kuperbaiki
Kau sangat kubutuhkan
Beraninya kau pergi
Dan tak kembali ...
Di mana letak surga itu
Biar kugantikan
Tempatmu denganku
Adakah tangga surga itu
Biar kutemukan untuk bersamamu ..."
Suara tepukan tangan dari arah pintu dapur, seketika mengalihkan perhatian Naura, tak terkecuali sang mama yang merasa terlena ketika mendengar nyanyian merdu dari putrinya.
"Wuih, Anak Papa jago nyanyi rupanya! Mau ikutan audisi nyanyi, gak?" Hermawan menyahut gembira, sementara sang istri hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Tuh, Papa aja setuju suaranya Naura bagus! Pengin ikutan ya, Mah, pleaseee!" Naura memasang raut wajah menyedihkan, berharap mamanya yang satu ini mau menyanggupi permohonannya.
Terdengar helaan napas berat dari mulut sang mama. "Nanti Mama pikirin lagi, ya."
"Kok, gitu? Pah, Mama gak mau ngizinin aku ikut audisi nyanyiii!" Giliran Naura merengek pada Hermawan yang dibuat menggaruk belakang kepala yang sudah jelas tidak gatal.
"Euh, kamu bujuk lagi aja Mama kamu, ya! Jangan nanya sama Papa, Papa nggak ngerti!"
Setelah hari-hari itu, sedikit pun Naura masih belum mau berhenti untuk terus membujuk mamanya dalam kurun waktu seminggu ini.
Bahkan, mamanya sudah cukup bosan mendengar rengekan Naura dan suara nyanyiannya yang kian hari kian terdengar menggelegar memenuhi seisi rumah.
"Haduhh, kamu tuh berisik banget sih, Nau! Ya udah, iya, besok Mama anterin audisi. Udah, ya, jangan nyanyi lagi! Berisik! Kuping Mama rasanya udah penuh sama nyanyian melengking kamu."
"Yey! Makasih Mama, muach!" Hari itu, seperti sebuah keajaiban, mamanya menyanggupi permohonan Naura.
Seperti yang dijanjikan, keesokan harinya, Naura benar-benar berangkat diantar mamanya untuk ikut audisi bernyanyi yang diselenggarakan di Jakarta. Waktunya sekitar tiga jam dari rumah jika menggunakan mobil pribadi maupun angkutan umum. Itu pun dengan catatan di perjalanan tidak macet dalam seharian. Kalau macet, ya sampai lebih dari tiga jam.
Sesampainya di tempat audisi, Naura yang memang sudah mendaftar via online, langsung mengambil nomor urut undian. Senyuman lebarnya seolah tak pernah luntur dari sejak kemarin.
Apalagi ketika Naura dinyatakan lolos babak pertama. Senyumannya kian lebar. Pelukan erat nan hangat terus Naura berikan pada mamanya yang sudah mau mengantarnya ikut audisi.
Hari-hari rasanya terus berjalan lancar. Dari mulai lolos babak pertama, kedua, babak penyisihan, sampai tiba di lima besar, semuanya terasa seperti mimpi indah bagi Naura. Tak henti-hentinya dia terus menelepon mama maupun papanya untuk meminta doa agar dapat lolos ke babak berikutnya.
Ketika Naura tengah berlatih bernyanyi bersama kontestan yang lain yang juga masuk dalam kategori lima besar, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Nama Mama tertera besar di layar teratas ponselnya.
"Siapa, Nau?" Salah seorang kontestan perempuan seumuran Naura bertanya halus padanya.
"Mama!" Naura sudah mulai bangkit hendak mengangkat panggilan tersebut.
"Bukannya barusan udah nelepon?" Tanya salah seorang kontestan lain yang kira-kira usianya setahun lebih tua dari Naura yang juga perempuan.
"Halo, Mah? Tumben Mama telepon lagi. Mama kangen, ya, sama Naura?!"
"Halo, Nau! Bisa keluar sebentar? Kalau bisa kamu berdiri terus di depan gedung latihan, ya!"
Refleks Naura mengerutkan kening. "Emangnya, ada apa?"
"Udah, cepetan! Mama tunggu, ya!"
"Hah? Tunggu, maksudnya-" Panggilan telepon langsung terputus oleh mamanya. Karena terlanjur penasaran, Naura bergegas keluar dari gedung latihan. Tentunya setelah dia berpamitan sekilas pada kontestan yang lain.
Setibanya di depan gedung latihan, Naura tak henti-hentinya terus meraup udara sebanyak-banyaknya, setelah cukup lama Naura berlari dari lantai tiga sampai halaman depan gedung yang berpapasan langsung dengan jalan raya.
"NAURA!" Merasa terpanggil, Naura yang masih bingung dengan apa yang tengah dia lakukan, dibuat mendongak menatap lurus ke depan.
Sungguh, Naura tak dapat berbohong akan perasaan senang yang menghinggapi dadanya kala itu. Mamanya yang tidak pernah sekalipun terpikirkan oleh Naura akan menemuinya hari ini, membawa sebuah buket bunga berukuran lumayan besar dengan berlari penuh kegirangan saat menyebrangi jalan raya.
Sayang, ketika Naura baru saja melambaikan tangannya hendak balas menyapa sang mama, waktu seakan berhenti berputar saat sebuah kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi menerobos lampu merah, sampai menabrak tubuh sang mama hingga terpental jauh.
...****...
Naura membelalakkan mata, saat sebuah mimpi buruk yang selama ini hanya tersimpan sebatas memori, mulai memasuki alam bawah sadarnya.
Dadanya bergerak naik turun, dan napasnya begitu memburu. Keringat dan peluh bahkan terasa mengucur deras membasahi hampir ke seluruh tubuhnya. Tangannya bergetar hebat seiring dengan sesekali Naura menyisir kasar rambutnya yang menghalangi wajah.
Astaga! Kenapa bisa bermimpi seperti itu?
Saat menoleh ke arah jam dinding di kamar, pukul dua pagi tertera besar di sana. Mencoba mengenyahkan perasaan tak nyaman, Naura menoleh pada Calvin yang tampak terlelap tenang di sampingnya.
Helaan napaa berat mulai Naura embuskan. Rasanya lelah, sungguh! Setelah seharian ini menangis dan mengadukan segalanya pada Calvin, Naura mulai tertidur entah dari pukul berapa.
Namun yang pasti, Naura tertidur di pelukan Calvin yang terus membisikkan kalimat demi kalimat menenangkan.
Aku harus gimana sekarang? Aku udah nggak ngantuk, tapi aku takut kalau terjaga sendirian! Tapi aku juga gak berani bangunin Mas Calvin!
Naura kembali terisak ketika mengingat pukul berapa saat ini dan suasana gelap yang memenuhi setiap sudut ruang kamarnya. Hanya ada pencahayaan remang-remang dari lampu tidur di masing-masing laci nakas.
Merasa ada pergerakan tak biasa dari tempat tidur, Calvin mulai membuka mata. Dan tatapan pertamanya terkunci pada Naura yang tengah duduk beringsut di atas tempat tidur sambil terisak.
"Naura? Kamu nangis, hm?" Sahutan dengan nada serak itu berhasil mengalihkan atensi Naura.
Mengetahui Calvin-lah yang baru saja menyahutinya, sontak Naura melompat ke pelukan Calvin. Isakkannya mulai terdengar cukup jelas, sehingga dengan cepat Calvin langsung merengkuh tubuh mungil itu.
"Naura kenapa?" Walau rasa kantuk belum selesai Calvin kuasai, namun perasaan khawatir pada Naura tetap yang paling dominan.
"A-aku mimpi buruk! Aku mimpiin detik-detik di mana Mama meninggal."
Calvin dibuat terdiam untuk beberapa saat. Tak berapa lama, Calvin membawa Naura untuk kembali tertidur di sampingnya. Tak lupa untuk terus memeluk tubuh Naura lekat-lekat.
"Lupain soal mimpi buruk itu. Sekarang, kamu tidur, ya!"
"Tapi-"
"Naura!" Panggil Calvin, lembut. Membuat Naura tidak bisa berkata 'tidak' setelahnya.
"Ibu hamil gak boleh begadang. Besok pagi-pagi sekali kita cerita lagi, ya?" Ucapan halus dari Calvin selanjutnya tak lagi dibalas lisan oleh Naura. Perempuan itu menghela napas panjang seraya mengangguk.
Perlahan, kedua bola matanya mulai kembali ia pejamkan. Perasaan takut itu seolah melebur entah ke mana, seiring dengan ucapan halus serta pelukan hangat dari Calvin.
Dan, ya. Naura yang tadinya tak lagi memiliki rasa kantuk, kini benar-benar telah terlelap kembali ke alam mimpi.
Sebelum ikut memejamkan mata, diam-diam Calvin melirik Naura. Seulas senyuman tipis hampir tak terlihat Calvin pasang di wajah kantuknya. Tanpa sedikit pun merasa ragu, Calvin mengecup lama kening Naura, sebelum akhirnya memutuskan ikut terlelap.
...****...
"Lho, Naura mana, Vin?" Sahutan lembut dari Fani, seketika mengenyahkan lamunan Calvin yang tengah menyiapkan sarapan kilat untuk diri sendiri.
Sempat menoleh sekilas, Calvin kembali memusatkan perhatiannya pada beberapa helai roti tawar yang tengah dia lumuri selai cokelat. "Masih tidur. Titip Naura, ya, Mah! Hari ini Calvin ada kelas pagi, tapi gak bakal lama, kok. Cuman dua mata kuliah aja."
"Ya udah. Hati-hati, ya, Vin! Tenang aja, Naura biar Mama yang jagain. Mama gak akan ke restoran juga soalnya."
Dengan tampang buru-buru, Calvin menyantap beberapa helai roti tersebut beserta segelas susu. Setelah dirasa selesai, Calvin berlari menuju rak sepatu. Memakainya dengan secepat kilat, sampai akhirnya telah selesai dan benar-benar akan berangkat.
"Calvin berangkat dulu! Titip salam buat Naura sama Bang Arvin."
"Iya! Jangan ngebut, inget!" Peringat Fani, setelah Calvin menyempatkan diri menciumi punggung tangannya, lalu berlari keluar rumah dengan menenteng tas dan juga helm. Sementara kunci motor telah lebih dulu berada di saku celananya.
"Hoam! Suara apaan tuh, ribut amat?" Bertepatan dengan Calvin yang telah benar-benar berangkat pergi, Arvin keluar dari dalam kamar dengan kondisi masih mengantuk berat. Pemuda itu bangun semata-mata karena perutnya yang tiba-tiba berontak minta diisi.
"Adek kamu berangkat ngampus. Tumben udah bangun? Biasanya juga siang tuh bangunnya."
"Laper. Mama masak apa?" Terdengar decihan pelan dari mulut Fani yang membuat Arvin langsung memokuskan perhatiannya.
"Mama juga baru bangun, belum sempet masak. Calvin aja sarapan cuman sama roti sama susu."
"Yah, padahal udah laper banget, sampe rasanya udah mau mati! Akh, laper, Mah!" Arvin merengek bawel seraya memegangi perutnya begitu dramatis.
Bukan perasaan cemas yang diterima Arvin dari sikapnya yang seperti ini. Melainkan gelengan malas dari Fani. "Punya anak sulung laki, malah lebih dewasa adeknya. Gak ngerti lagi Mama tuh!"
^^^To be continued...^^^