
Suara dering ponsel yang diletakkan di atas laci nakas berbunyi. Menghentikan Naura yang pada saat bersamaan tengah membereskan tempat tidur. Ketika merogoh ponselnya, nama kontak Mama Fani tertera besar di sana. Tanpa pikir panjang, Naura pun mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, halo, Mah?"
"Naura! Kamu cepat datang ke alamat yang sekarang Mama kirim, ya! Ini penting!"
"Hm, memangnya ada apa?" Perasaan Naura mendadak tidak nyaman. Refleks dirinya mengeratkan genggaman pada ponselnya.
"Tadi ada panggilan telepon dari tim penyelamat yang mengatakan kalau ditemukan jasad seorang laki-laki dengan ciri yang sama seperti Calvin. Kemungkinan besar itu Calvin! Jadi kamu datang sekarang, ya! Mama sama Papa juga lagi di jalan."
Detik itu juga, ponsel yang berada dalam genggaman Naura jatuh ke lantai. Hatinya mencelos tidak percaya.
"Mas Calvin!" Naura membekap mulutnya, masih belum sepenuhnya menerima kabar buruk tersebut. Dadanya sesak dan air matanya terus mengalir tiada henti. Tanpa pikir panjang, Naura berlari ke luar kamar.
Sampai di ruang tengah, Naura langsung dihentikan oleh Hermawan yang selesai menutup pintu. "Kamu mau ke mana buru-buru begitu?" Tanya Hermawan. Sepasang bola matanya menelisik raut wajah putrinya yang menunduk sembari menangis.
"Apa yang terjadi?" Karena terlanjur panik, Hermawan memeluk tubuh putrinya.
"Mas Calvin, Pah! Ayo, anterin Naura sekarang!"
"Calvin? Anterin ke mana?"
"Rumah sakit!"
...****...
Tepat di depan ruang autopsi, Fani dan juga Divo, tengah menunggu konfirmasi dari dokter forensik yang akan membawa mereka untuk melihat jenazah yang ciri-cirinya mirip dengan Calvin.
Tak hanya menunggu dokter, pasang suami istri yang telah menikah sekitar dua puluh lima tahun itu juga tengah menanti menantunya.
Jujur saja. Mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jika jenazah itu memang Calvin ... bisakah Fani dan juga Divo menahan diri?
Terlalu larut dalam berbagai lamunan, suara derap langkah kaki mengalihkan atensi mereka. Fani dan Divo spontan bangkit dari kursi tunggu menghadap seorang perempuan muda berlari tergesa-gesa ditemani ayah kandungnya.
"Naura, ya ampun! Kamu gak boleh lari-lari, pelan-pelan jalannya!" Fani menangkap tubuh Naura sehingga membuatnya berhenti dengan deru napas yang tidak beraturan.
"Mas Calvin, di mana?" Naura bertanya hampir tidak mengeluarkan suara. Sedangkan Fani, dengan cepat wanita itu menggiring menantunya untuk mengistirahatkan diri di kursi tunggu.
"Kita duduk dulu, ya!" Bertepatan ketika mereka baru saja duduk, dokter spesialis forensik ditemani dua orang rekan yang lain tiba. Dengan beberapa perlengkapan khusus dan seragam khasnya, mereka menyapa terlebih dahulu para keluarga jenazah.
"Sebelumnya kami sudah mengautopsi jenazah sebelum akhirnya ada panggilan telepon dari luar yang menyebutkan kalau kemungkinan, jenazah yang ditemukan di perairan pantai saat ini adalah salah satu korban terseret badai bulan lalu. Jadi, kami pun menyetujui panggilan telepon itu dan mencoba merujuk keluarga korban ke rumah sakit kami. Namun, ada hal yang harus saya ucapkan yang sangat penting di sini. Kemungkinan, jenazah sudah tidak dapat dikenali lagi. Apa ... sekeluarga sanggup untuk melihatnya?" Ucapan panjang lebar dari sang dokter membuat semuanya tertunduk lesu.
Dalam batin semuanya bertanya hal serupa, apakah itu benar-benar Calvin?
"Sa-saya ... mau memastikan jika itu memang jenazah suami saya." Di dalam keterdiaman, Naura berucap lantang sehingga membuat seluruh anggota keluarga pun termasuk dokter dan rekannya memokuskan perhatian padanya.
Terdengar helaan napas pendek dari sang dokter pun diakhiri dengan anggukkan paham. "Baiklah. Silakan, pakai dulu ini untuk sterilisasi."
...****...
Ketika baru memasuki ruang autopsi, degupan jantung Naura serasa kian bertalu-talu. Kedua tangannya refleks terkepal kuat untuk menguatkan diri jika memang jenazah tersebut benar suaminya.
Langkahnya terasa begitu berat. Mati-matian Naura menahan gejolak tak kasat mata yang menghantam jiwanya.
"Jadi, saya akan kembali menerangkan. Ditemukan luka yang cukup besar di area kepala bagian belakang yang kemungkinan membuat korban meninggal dunia. Dan juga kami menemukan luka-luka lebam di beberapa area tangan, kaki dan badan. Kemungkinan itu terjadi karena tubuh korban yang terombang-ambing menghantam karang dan bebatuan. Mungkin hanya itu. Apa ada yang ingin ditanyakan?" Sang dokter mulai memberikan jeda setelah cukup jelas beliau menerangkan.
Anggota keluarga tidak ada yang mengatakan apa-apa. Semuanya berada dalam kekalutan. Semuanya masih berharap jika jenazah yang tengah dibalut kain putih di hadapan mereka saat ini bukanlah Calvin.
"Bisa dibuka sekarang, Dok?" Tanya Naura. Kedua bola matanya dibuat berair sampai rasanya menghalangi pandangan mata.
Dokter dan beberapa rekannya saling pandang. Memberi kode untuk segera membuka kain putih tersebut untuk diperlihatkannya wajah jenazahnya.
Bergegas mereka membuka kain tersebut dengan penuh kehati-hatian. Ketika kain mulai terbuka menampakkan wajah dan juga dada, semuanya histeris. Fani menangis memeluk tubuh suaminya terlalu tidak kuasa melihat wajah jenazah itu yang sudah hancur hingga sulit dikenali.
Berbeda dengan Naura. Nyalinya tinggi. Kakinya melangkah menuju jenazah tersebut. Sepasang bola matanya seolah tidak merasa takut maupun jijik menatap setiap inci wajah jenazah yang terlalu mengenaskan.
Salah satu tangannya terulur untuk menyingkap kain yang menghalangi tangannya. Dari situlah Naura yakin akan satu hal.
"Ini bukan Mas Calvin!" Ucapan Naura seketika membuat semuanya menoleh.
"Maksud kamu?" Fani menghentikan tangisnya. Diam-diam hatinya merasa lega dengan ucapan Naura.
"Aku yakin, ini bukan Mas Calvin! Kalau ini Mas Calvin, dia harusnya pakai cincin pernikahan kami di sini. Tapi di sini nggak ada, bahkan bekasnya juga. Aku juga tahu seperti apa tangannya Mas Calvin. Bahkan tinggi tubuhnya juga. Mas Calvin beberepa sentimeter lebih tinggi dari jenazah ini. Aku yakin, ini bukan Mas Calvin!" Terang Naura. Mulut dan tubuhnya bergetar, namun tak ayal dirinya juga merasa lega karena jenazah itu sudah ia pastikan bukanlah Calvin.
Naura mengangguk beberapa kali. "Saya yakin! Kalau tidak, bagaimana jika uji tes DNA?"
Sang dokter tampak berpikir. Tak lama kemudian dia pun mengangguk. "Baiklah. Kami akan segera mempersiapkannya."
...****...
Naura POV
Hari demi hari yang panjang setelah adanya kabar tentang Mas Calvin, aku terus berdiam diri dan merenung.
Hatiku lega, sangat. Tetapi, dengan adanya kejadian hari itu, aku menjadi semakin yakin jika kamu memang tidak akan pernah bisa ditemukan sampai kapan pun.
Hari itu aku memang diberikan kesempatan, namun ternyata hanya sebuah candaan kecil dari Tuhan. Jenazah itu bukanlah Mas Calvin. Tes DNA bahkan sudah membuktikan segalanya.
Dan di sini, aku hanya bisa termenung meratapi masa depan dan masa lalu diwaktu yang bersamaan. Helaan napas berat terus aku embuskan akhir-akhir ini. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Kejadian memilukan itu kini benar-benar telah tenggelam di masa lalu.
Sudah lebih dari tiga bulan, dan sepertinya aku mulai terbiasa hidup tanpa Mas Calvin. Jika ditanya apakah aku mulai hidup bahagia?
Tentu saja jawabannya, tidak.
Hanya saja, aku mencoba untuk tetap hidup dan berjuang demi diriku dan juga calon anak kami. Sekarang usianya sudah memasuki empat bulan. Minggu kemarin aku ditemani Mama Fani baru saja melakukan pemeriksaan mingguan serta kembali melakukan USG. Dan ternyata, jenis kelaminnya laki-laki.
Sempat terbesit dalam benakku. Apakah nantinya anakku akan mirip dengan papanya?
Semoga saja. Supaya ketika aku merindukannya kelak, aku bisa sepuasnya menatap wajah putraku.
Diam-diam aku mengulum senyuman tipis saat pikiranku melamunkan senyuman kecil di wajah calon anakku nanti. Tanganku terus terulur mengusap perutku dengan penuh kasih sayang. Berbagai harapan dan doa terbaik senantiasa aku panjatkan. Berharap putraku nanti tidak akan murung dan bersedih dikala dirinya tidak memiliki seorang papa.
Tiba-tiba aku teringat ucapan dari papa beberapa bulan yang lalu tentang pengganti dari Mas Calvin.
Wajahku menunduk mengingat itu. Jika memang pengganti itu diperlukan, apakah pengganti itu bisa menerima anakku?
Aku takut sesuatu yang buruk menimpanya jika suatu saat aku menikah lagi. Aku takut anakku tidak dicintai.
Namun, sesosok pria lain akhir-akhir ini selalu memperlihatkan kasih sayang dan cintanya padaku. Dia sangat baik dan perhatian, bahkan dengan terang-terangan memanggil dirinya sendiri dengan panggilan 'papa' ketika menyapa calon anakku.
Ivan. Bisakah aku memulai sesuatu yang baru dengannya? Papa bilang, ini demi calon anakku dan juga mungkin untuk kebaikanku.
Tetapi, aku masih mencintai Mas Calvin. Tapi papa bilang tidak apa-apa. Mas Calvin tidak harus dilupakan, karena Mas Calvin adalah bagian dari kebahagiaanku sebelumnya. Aku hanya tinggal membuka satu hati lagi untuk pria lain, dan semuanya jelas.
Begitu 'kan?
Sayangnya, hati ini masih begitu ragu. Haruskah kubuka saja, atau tetap kututup seperti biasanya? Aku terlalu berkecil hati untuk menerima semua kasih sayang Ivan. Aku hanyalah seorang perempuan yang telah menikah dan saat ini tengah mengandung. Sedangkan dia ... dia masih seorang pemuda. Dia pantas mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku.
...****...
Seorang perempuan dengan setelan dress kasual, perlahan kembali menduduki sebuah kursi di kamar hotelnya. Tatapan matanya tampak begitu sedih saat menatap sesosok laki-laki yang telah begitu lama terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
Berbalut pakaian rumah sakit dan berbagai selang infus dan selang lainnya untuk tetap bertahan hidup, laki-laki itu seolah tidak ada yang berubah dari wajah maupun tubuhnya.
Semua luka goresan maupun lebam di wajah dan sudut tubuhnya yang lain telah lama pulih. Satu hal yang belum juga pulih sampai sekarang. Laki-laki itu masih setia memejamkan mata.
"Kapan terakhir kali dokter memeriksa?" Perempuan itu bertanya spontan pada seorang asistennya yang berdiri di belakang tubuhnya.
"Satu jam yang lalu, Nona."
"Kapan Calvin bangun? Dia akan sadar 'kan?" Perempuan yang tak lain ialah Naima itu pun bertanya gelisah. Ini sudah terlalu lama, pikirnya.
"Dokter bilang, pasien baru bisa bangun dari koma membutuhkan waktu yang berbeda."
"Terus, tadi dokter bilang apa lagi?" Tanyanya, tidak sabaran. Sang asisten yang juga berusia sebaya dengannya hanya bisa menunduk.
"Mungkin ... secepatnya."
"Ck! Gue mau Calvin cepet sadar." Tekannya, mulai jengkel. Dengan langkah gontai, Naima berjalan meninggalkan pria yang tak lain ialah Calvin itu sendirian.
Tanpa keduanya ketahui, jemarinya mulai bergerak menunjukkan sebuah pertanda.
^^^To be continued...^^^