
"Sayang?" Panggilan halus nan lembut itu sontak membangunkan Naura dari tidurnya. Kedua bola matanya yang semula terpejam lelap, dibuat terbelalak sampai terperanjat.
"Mas Calvin? Kamu pulang?" Naura tak dapat menyembunyikan luapan kebahagiaan di raut wajahnya. Tangisnya pecah seraya memeluk erat Calvin yang pada saat yang sama tengah tertawa pelan sambil memeluk istrinya.
"Hati kamu masih buat aku 'kan, Nau?" Bisikan itu seketika membuat Naura melepaskan pelukannya. Tatapan matanya berubah sendu saat menatap sepasang bola mata Calvin yang menatapnya dalam.
"Kenapa Mas Calvin nanya itu? Dari awal sampai akhir, hati aku cuman buat Mas Calvin! Sekarang kamu pulang, kamu nggak akan ninggalin aku lagi 'kan?" Naura menggenggam kedua tangan Calvin erat-erat. Lelehan air mata lagi-lagi membanjiri wajah cantiknya.
Tidak pernah Naura kira jika Calvin malah melepaskan tangannya. Senyuman tipis misterius yang terpatri di wajahnya membuat Naura tidak paham.
"Mas Calvin?"
"Aku sayang sama kamu! Jangan pindah ke yang lain, ya, Nau! Aku pasti pulang."
"Mas Calvin? Kamu mau ke mana? Hei!" Naura semakin bingung apalagi ketika Calvin mulai berjalan meninggalkannya. Saat Naura berniat mengejar, entah mengapa kedua kakinya terasa begitu berat seolah ada sesuatu yang menahannya.
"Mas Calvin! Jangan pergi lagi! Kamu mau ke mana? Mas Calvin!"
Mimpi indah yang berujung tangis itu seketika menghilang seiring dengan Naura yang terbangun dari tidur. Keringat dan peluh bahkan mengucur deras dari kening sampai ke leher.
Pusing. Kepalanya terasa berat saat Naura mencoba bangun dari tempat tidur. Waktu bahkan baru menunjukkan pukul satu dini hari.
Sial! Mimpi itu lagi!
Entah itu memang hanya sekadar mimpi atau memang sebuah firasat, Naura pun tidak tahu. Namun yang jelas, akhir-akhir ini mimpi yang sama terus berputar tiada henti. Di mana di mimpi itu, Calvin menemuinya dan mengatakan pada Naura untuk jangan berpaling darinya.
"Apa Mas Calvin memang masih hidup, ya? Tapi, dia di mana?" Naura memijit pelipisnya saat rasa pusing kembali menyerang. Tak berapa lama, rasa pusing itu berubah menjadi sebuah rasa mual sehingga membuat Naura berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Entah memang Hermawan masih terjaga, atau memang terbangun karena sesuatu, ayah satu anak itu berlari menuju kamar putrinya.
"Naura? Kamu di mana?" Suara berisik dari arah kamar mandi mengalihkan perhatian Hermawan. Segera beliau berlari dengan perasaan tidak nyaman.
"Naura?" Hermawan cukup dibuat syok melihat Naura yang terus memuntahkan isi perutnya. Walau hanya sebuah cairan bening yang keluar, tetapi hal itu sukses membuat tubuh Naura melemah.
"Udah baikan, hm?" Hermawan berniat membantu putrinya yang mulai berhenti muntah. Sayangnya, ketika Hermawan hendak membawa Naura kembali ke kamar, Naura kembali memuntahkan isi perutnya. Beruntungnya hal itu terjadi tidak separah tadi.
"Pah, tolong ambilkan air minum!"
"Iya, iya! Ayo, Papa bantuin ke kamar, ya!" Dengan lembut penuh kasih sayang, Hermawan menggendong tubuh putrinya sampai kembali ke kamar. Dengan perlahan Hermawan menurunkan tubuh mungil itu ke atas tempat tidur.
"Tunggu di sini, ya, Papa ambilkan air!" Peringat Hermawan yang spontan diangguki Naura.
Tak butuh waktu lama, Hermawan telah kembali membawa sebuah nampan berisi segelas air putih hangat dan beberapa camilan manis yang akhir-akhir ini sering dimakan oleh Naura. Katanya bisa untuk menetralisir rasa mual walau tidak berlangsung lama.
"Tadi selesai makan malam kamu udah minum obat?" Usai memberikan segelas air putih, Hermawan bertanya lembut pada Naura. Putrinya itu tidak menjawab secara lisan, melainkan hanya sebuah anggukkan yang berarti 'iya'.
"Terus kenapa kamu begini lagi? Ini udah mau seminggu sejak kamu terus terbangun di jam yang sama karena hal yang sama."
Naura terdiam. Haruskah dia menceritakan mimpinya?
"Pah!" Sahutan lemah dari Naura, membuat Hermawan menoleh. "Menurut Papa, apa ada kemungkinan kalau Mas Calvin-"
"Masih hidup maksud kamu?" Terdengar helaan napas berat dari Hermawan yang membuat Naura menunduk.
"Sudah berapa kali Papa bilang, Calvin sudah meninggal. Ini sudah lewat dari tiga bulan, tidak mungkin dia masih hidup."
"Tapi, Pah-"
"Sudah, sekarang kamu istirahat. Lupakan Calvin!" Tegas Hermawan, lalu melenggang meninggalkan kamar putrinya saat itu juga.
...****...
"Calvin! Makan dulu, yuk! Lo belum makan apa-apa dari kemaren. Nanti lo sakit lagi gimana? Makan dulu, oke? Gue suapin." Calvin lagi-lagi mengelak saat Naima memberikan suapan bubur polos. Kepalanya menoleh ke sembarang arah. Otaknya lagi-lagi memikirkan Naura dan Naura.
Sungguh, Calvin teramat merindukan istrinya. Apalagi ketika mengingat bulan ini usia kandungannya sudah memasuki empat bulan. Tetapi Calvin malah tidak berada di sisi Naura.
"Gue mau pulang." Ucapan itu kembali Calvin lontarkan. Refleks Naima membanting mangkuk bubur itu kembali ke atas nampan.
"Naura udah punya cowok baru, Cal! Dia nganggap kalau lo udah meninggal. Bentar, ya, gue kasih buktinya." Teringat akan sebuah paket yang belum lama tiba, Naima pun bangkit dari sofa. Kedua kaki jenjangnya dengan anggun menapaki lantai kamar hotel berlapiskan karpet berbulu, menuju sebuah rak tempat penyimpanan berbagai jenis buku dan file.
"Gue yakin setelah lo lihat ini, lo akan benci banget sama Naura! Nih, buka sendiri!" Selepas mengambil paket yang tak lain ialah sebuah amplop cokelat, Naima menyerahkannya pada Calvin yang masih tetap diam di tempat.
Awalnya, Calvin hanya menoleh malas pada amplop cokelat tersebut. Namun berbagai kode lirikan mata dari Naima, akhirnya Calvin pun menerimanya dengan perasaan yang mendadak tidak nyaman.
Benar saja. Kedua bola matanya serasa mau meloncat dari tempat ketika melihat beberapa foto kebersamaan Naura bersama seorang pemuda asing bertubuh tinggi.
Di dalam tumpukkan foto tersebut tampak jelas senyuman hangat di wajah Naura. Sayangnya, senyuman itu tampak berbeda, seolah masih terdapat kesedihan di dalamnya.
Walau Calvin merasa hatinya sakit melihat foto-foto kedekatan Naura bersama seorang pemuda asing itu, Calvin sangat yakin jika perasaan Naura tidak akan mungkin semudah itu melupakannya. Tetapi, demi bisa segera keluar dari tempat terkutuk ini, Calvin harus melakukan rencana.
"Jadi?" Calvin menyerahkan kembali foto-foto tersebut pada Naima. Tentunya setelah memasukannya kembali ke dalam amplop.
Terdengar kekehan sarkas dari Naima yang berakhir menjadi tawa yang cukup menggelegar. "Gak usah sok tegar. Gue tahu, hati lo pasti hancur lihat ini 'kan?" Naima menghentikan tawanya. Raut wajahnya berubah dingin dan asing.
"Nih, ya, Cal! Kalau bukan karena gue yang nyelamatin lo, lo bener-bener akan tinggal nama dan jasad lo akan terus terombang-ambing di lautan sampai hancur gak bersisa. Harusnya lo bersyukur masih hidup. Dan untuk membalas semua kebaikan gue sama lo, gue mau lo jadi suami gue. Gimana? Adil 'kan?" Naima mendekatkan wajahnya. Senyuman manis dengan artian lain terpatri mengerikan di wajahnya.
Bukannya merasa terintimidasi, Calvin justru tertawa pelan menanggapi. "Jadi, semua kebaikan lo ke gue cuman palsu supaya gue berhutang budi sehingga berakhir jatuh ke pelukan lo, gitu?"
Naima tampak berpikir sejenak. Tak berapa lama, perempuan itu pun mengangguk. "Kalau lo lupa, gue udah punya istri dan gak berminat nambah satu lagi. Gue juga udah mau jadi ayah. Sampai alam mimpi pun, gue gak sudi nikah sama cewek iblis kayak lo!"
...****...
Siang ini, Naura lagi-lagi melamun di atas ayunan kayu yang berada di pesisir pantai dekat rumahnya. Tatapan matanya lurus menuju laut biru. Batin dan otaknya lagi-lagi berharap jika Calvin akan kembali dalam keadaan baik-baik saja, berlari dari arah bibir pantai menghampirinya dengan senyuman manis. Lalu memeluknya dan berkata, "Aku kembali."
Naura menunduk sedih ketika semua lamunannya tetaplah hanya sebuah lamunan. Tangannya yang menggenggam tali ayunan pun beralih pada perutnya yang membuncit. Mengusapnya bahkan memeluknya, seolah menyalurkan rasa sakit, rindu dan juga kehilangan kepada calon anaknya.
"Mama kangen sama Papa! Sampai saat ini pun, Mama gak bisa lupain Papa Kamu! Dia terlalu berarti buat Mama!" Air mata kerinduan diharuskan luruh membasahi pipi.
Dikala Naura masih sibuk akan tangisannya, seseorang menyerahkan sekotak tisu tepat di depan wajahnya.
Terkejut? Jelas!
Dengan cepat Naura menyeka air matanya lalu menoleh ke samping untuk melihat, siapa sosok orang yang tengah memberikannya tisu.
"Ivan?" Naura bergumam hampir tak terdengar.
Sedangkan Ivan, pemuda itu tidak berniat mengucapkan kata-kata, apalagi menoleh menatap wajah Naura yang penuh dengan air mata. Ivan hanya duduk di ayunan lain di samping Naura dengan salah satu tangannya terangkat menyerahkan sekotak tisu.
"Ambil!" Suruhan Ivan disertai kepalanya yang menoleh, membuat Naura refleks tersadar. Dengan cepat tangannya mengambil alis sekotak tisu tersebut ke tangannya.
Tak dianggurkan saja, Naura menggunakan tisu tersebut untuk menyeka air mata di berbagai sudut wajah serta ingus yang memenuhi rongga hidung. Dirasa selesai, Naura kembali menoleh pada Ivan yang tampak melamun memandangi laut.
"Kamu gak kuliah, Van?" Naura mulai membuka obrolan.
Terdengar suara helaan napas berat dari Ivan yang diiringi dengan kepalanya yang kembali menoleh pada Naura. "Kamu keinget Calvin lagi?"
Sungguh, pertanyaan itu membuat Naura tertegun! Karena jujur saja, tidak semudah itu melupakan seseorang yang dicintai, apalagi statusnya di sini telah dinyatakan meninggal tanpa adanya kejelasan yang pasti.
Diam-diam Naura menelan ludahnya susah payah kemudian menunduk lesu. "Aku ... nggak mungkin lupain Mas Calvin. Kalau boleh jujur, Mas Calvin itu cinta pertama aku setelah Papa. Setelah Mama meninggal beberapa tahun lalu, aku selalu menutup diri sama sekitar. Dan ... aku baru bisa terbuka lagi kayak sekarang berkat Mas Calvin! Nggak mungkin aku nggak ingat sama dia? Apalagi sekarang aku sedang mengandung darah daging Mas Calvin."
Sungguh, kenapa rasanya begitu menyakitkan saat Naura terus mengungkit soal Calvin?
Apakah sejak awal, Ivan memang tidak miliki tempat di hati Naura?
Lalu, yang selama ini ia lakukan itu apa?
"Naura!" Panggil Ivan. Tenggorokannya terasa serak tiba-tiba.
"I-iya?"
"Apa kamu gak bisa lupain aja suami kamu, lalu lihat aku?"
^^^To be continued...^^^