
Calvin berdesis sebal saat bunyi dering telepon terdengar memekakan telinga. Naura yang baru saja memejamkan mata, lantas dibuat terkekeh seraya mendorong dada Calvin.
"Angkat dulu sana!" Ujar Naura, membuat Calvin berdecak seraya berakhir memeluk Naura.
"Kiss!"
"Itu bisa nanti. Awh, sakit!" Naura refleks mengaduh saat sikutnya mengenai tangan Calvin. Spontan Calvin melepaskan pelukannya seraya menatap Naura cemas.
"Maaf! Coba lihat,"
Lagi-lagi teleponnya berbunyi. Helaan napas berat kembali Calvin embuskan. "Angkat dulu, siapa tahu penting."
"Hm." Dengan malas, Calvin merogoh ponselnya yang ditaruh di atas nakas.
Kebetulan mereka berdua tengah duduk manis di tempat tidur. Ekhem, mau minta jatah kiss, biasa.
"Halo, Ki?"
"Halo, Vin! Ini ... sorry banget, gue gak lagi gangguin lo 'kan?"
"Lo ganggu banget. Gue lagi mau-"
"Mas Calvin!" Naura memperingati Calvin untuk tidak berujar gamblang akan apa yang tengah mereka lakukan saat ini.
Bukannya merasa bersalah, Calvin malah terkekeh. "Ada apa?"
"Ini soal reuni kita."
"Terus?"
"Katanya tanggalnya dimajuin jadi minggu ini, bukan minggu depan."
"Kok, bisa?" Raut wajah Calvin berubah panik.
Sial, mana belum sempat siap-siap, lagi.
"Itu dia, gue juga nggak tahu. Hari sabtu, ya, Vin! Sorry banget!"
"Gila! Dua hari lagi berarti?" Calvin melirik sedih pada Naura yang tengah menatapnya penuh tanya.
Padahal, Calvin belum siap meninggalkan Naura! Tiga hari dua malam di tempat reuni tanpa Naura, apakah bisa? Tidur yang biasanya selalu memeluk tubuh Naura, bahkan selalu bermanjaan terlebih dahulu, semuanya tidak akan bisa Calvin rasakan di sana.
"Iya, sorry Vin! Soal jam berangkatnya ntar gue kasih tahu lagi lewat chat. Oke?"
Calvin menghela napas pasrah. "Ya udah."
Setelah dirasa usai, Zaki, si penelepon yang juga adalah teman semasa SMA Calvin, mematikan sambungan telepon setelah sebelumnya berucap pamit.
Calvin lagi-lagi menghela napas berat. Ponselnya langsung diletakan kembali di tempat semula.
"Kenapa? Kesel gitu mukanya,"
"Soal acara reuni." Calvin kembali memeluk Naura dengan perasaan tidak rela.
"Kenapa sama acara reuni?"
"Katanya tanggalnya dimajuin jadi hari sabtu di minggu ini. Bukan minggu depan." Adu Calvin. Membuat Naura refleks melepaskan diri.
"Ya udah, siap-siap dari sekarang! Ayo, aku bantu pilihin baju-bajunya. Biar nanti-"
"Naura!" Panggil Calvin, memotong ucapan Naura.
"Kenapa lagi? Udah, ayo kita siap-siap!" Naura sudah hendak beranjak, namun Calvin mencegahnya.
"Daripada itu, mending kita lanjutin yang tadi."
"Yang ... mana?" Naura merasakan hawa di sekitar kamar mereka yang tiba-tiba terasa sesak. Ditambah dengan tatapan teduh dari Calvin, semakin membuat Naura gugup jika sewaktu-waktu Calvin akan ...
"Nau, ayoo! Nanti gak ada kesempatan lagi." Bisik Calvin, parau. Tangannya lagi-lagi memeluk Naura, seolah tak membiarkannya untuk pergi dari sisi Calvin.
"Mas Calvin bicara gitu kayak mau pergi selamanya aja. 'Kan cuman tiga hari?"
"Tiga hari itu lama, Nau! Rasanya bisa sampai tiga bulan." Ujar Calvin, diakhiri tertawa renyah. Perlahan, Calvin sedikit melonggarkan pelukannya. Menatap Naura dalam-dalam, seraya mendekatkan wajahnya.
"Ya?" Pinta Calvin.
Dengan menarik napas dalam-dalam, Naura pun mengangguk menyetujui. Tentunya tanpa menatap tepat ke arah bola mata Calvin. Bisa salting brutal jika begitu.
Perlahan, Calvin menarik dagu Naura dengan begitu lembut. Membuat wajahnya yang semula menunduk, dibuat mendongak sampai menatapnya. Sepersekian detik keduanya dibuat saling menatap beberapa saat. Tak berapa lama, Calvin semakin mendekatkan wajahnya. Matanya hampir terpejam, sehingga Naura pun berakhir ikut memejamkan matanya.
"I'll miss you very much, Naura!"
...****...
Tak terasa, acara reuni SMA telah berada di depan mata. Calvin sudah cukup bersiap dengan sebuah koper berisi pakaian dan kebutuhan lainnya. Tidak terlalu banyak, karena Calvin adalah cowok. Dan cowok adalah tipikal makhluk yang tidak terlalu rumit.
Sebelum benar-benar berangkat diantar oleh Arvin, Calvin lagi-lagi memeluk Naura, entah untuk yang keberapa kalinya. Arvin yang melihat hal itu hanya menghela napas jengah. Sementara Fani selaku ibu kandung, beliau hanya tersenyum melihat tingkah Calvin yang enggan meninggalkan istrinya.
"Gak jadi pergi aja kali, ya!"
"Heh! Gue udah capek-capek bangun pagi demi panasin mobil dan bawain koper lo! Dan lo! Seenak jidat bilang nggak jadi pergi?" Arvin menyungut emosi seraya melipat kedua lengannya di dada.
Sungguh, Arvin rasanya ingin sekali mencabik-cabik adiknya yang begitu menyebalkan ini!
"Ck! Lo mah nggak ngerti! Gue udah punya tanggung jawab. Punya istri yang lagi hamil. Lha elo?"
"Ya kalau endingnya begini, lo ngapain pake ikut-ikutan acara reuni segala? Udah tahu punya istri, masih aja kelayapan lo!"
"Enak aja lo ngatain gue kelayapan! Gue itu-"
"Udah, udah! Kalian itu ribut mulu perasaan! Udah, ya, udah!" Fani menyela di tengah-tengah keributan antara Arvin dan Calvin. Helaan napas gusar pun Fani embuskan. "Calvin, kamu berangkat sekarang! Naura ada Mama sama Papa yang jagain."
Dengan berat hati, Calvin mengangguk seraya melepaskan tangan Naura. "Aku berangkat sekarang, ya. Maaf, udah gak bisa lama-lama."
"Hati-hati! Di sana jaga diri baik-baik! Kita bakalan kangen selama tiga hari ini." Naura melambaikan sebelah tangannya. Sementara satu tangannya yang lain berada di perutnya.
Calvin ikut menyentuh perut Naura sambil sesekali mengusapnya pelan. "Papa berangkat dulu!" Pamit Calvin, pada calon anaknya.
"Hati-hati, Papa!" Balas Naura, dengan nada suara yang menirukan suara anak kecil.
...****...
"Thanks ya, Bang, udah nganterin gue!" Calvin berucap tulus, saat keduanya telah sampai di tempat perkumpulan para alumni SMA.
Berhubung perginya beramai-ramai menggunakan bus pariwisata, jadilah Calvin tidak membawa kendaraan dan diantar oleh Arvin.
"Kalau gitu gue mau nyamperin yang lain,"
"Ya, silakan! Gue juga mau langsung balik. Kalau udah nyampe jangan lupa kasih tahu istri lo! Dia kayak nggak tenang gitu ditinggal sama lo." Arvin terkekeh seraya menepuk pelan punggung Calvin.
"Itu udah pasti! Em, lo juga hati-hati di jalannya."
Terdengar bunyi decakan pelan dari mulut Arvin. "Deket elah, seperempat jam doang,"
"Iya pokoknya tetep harus hati-hati."
"Iya, iya! Bawel lo!" Setelahnya, Arvin kembali memasuki mobilnya. Menghidupkan mesin, lalu akhirnya pergi dari pandangan Calvin tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
...****...
"Waah ... Calvin dateng, guys!"
"Anjaaay, penganten baru! Kiw kiw!"
Sesampainya di kerumunan teman-teman alumni, Calvin langsung disambut antusias oleh semuanya. Bisa dibilang, reuni kali ini hanya diperuntukan untuk teman satu kelas saja. Dikarenakan dahulu sewaktu masih menjadi teman sekelas mereka begitu dekat selayaknya keluarga kedua, jadilah untuk mengenang masa-masa itu, mereka memutuskan untuk mengadakan reuni.
Tidak bisa jauh-jauh memang, karena seluruh anggotanya masih disibukkan dengan tugas-tugas kuliah. Berhubung lusa adalah hari libur nasional, jadilah mereka memilih mempercepat tanggal acara reuni menjadi minggu ini.
Tanpa ragu sedikit pun, Calvin menyalami satu persatu teman-teman seperjuangannya. Dari yang laki-laki sampai yang perempuan, tidak ada yang Calvin lewatkan.
"Sorry, gue yang paling terakhir, ya?" Calvin meminta maaf dengan tulus pada semuanya.
"Santai aja, Vin! Kita juga ngerti, kok. 'Kan lo udah punya istri,"
"Iya, mana udah mau jadi bapak lagi. Duhh, yang udah mau jadi Papa Muda!"
"Jiaaahh!" Lagi-lagi semuanya berseloroh teruntuk Calvin.
Di antara teman-teman satu kelas, yang sudah menikah dan mau menjadi ayah itu cuman Calvin. Oke, ada juga yang sudah mulai tunangan, tetapi belum sampai memikirkan tahap menikah. Dan Calvin adalah yang pertama di antara tiga puluh tiga orang teman sekelasnya.
"Semuanya diem, gue absen satu-satu!" Teriakan nyaring melalui pengeras suara itu seketika memecah perhatkan semuanya.
Zaki, yang sempat menelepon Calvin beberapa hari lalu, yang juga adalah mantan ketua kelas semasa SMA, ditemani satu orang perempuan yang dulunya seorang sekretaris kelas, mulai mengecek nama teman-temannya supaya tidak ada yang tertinggal.
"Oke, kita mulai dari yang udah berumah tangga dulu. Calvin Bintang Regartha?"
"Anj*r, gue 'kan urutan ke lima? Kok, jadi pertama?" Calvin menyungut tidak terima.
Apa-apaan dengan sistem absen ini? Ada-ada saja!
"Calvin Bintang Regartha? Kalau hadir, tolong menyahut!" Panggil Zaki lagi, membuat Calvin mau tidak mau mengangkat tangannya seraya menyahut, "Hadir, Pak!"
"Selanjutnya yang kemaren belum lama tunangan. Reki dan Adinda!"
"Jiaah ... tunangan juga si Tom & Jerry ini!"
"Awas, ntar kamarnya pisahinnn! Belum sah, belum sah!"
Reki dan Adinda yang digoda habis-habisan hanya bisa diam dan menahan tawa. Hal yang dahulu semasa SMA pernah terjadi, kini kembali lagi.
"Oke, lanjut! Semuanya diam!"
...****...
Bus belum bergerak, namun beberapa dari teman-teman yang lain telah memilih tempat duduk ternyaman. Begitupula dengan Calvin. Dia memilih tempat duduk urutan kedua dari depan. Tempat duduknya sendiri sengaja dekat jendela.
Masih ada sisa kursi kosong di sebelahnya. Tempat itu diperuntukkan untuk Zaki yang telah mewanti-wanti agar dirinya bisa satu tempat duduk dengan Calvin.
"Hai, Vin!" Ketika tengah melamunkan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil namanya. Sontak Calvin pun menoleh.
"Kursi samping lo ... kosong?" Pertanyaan itu terucap dari Aliya, mantan sekretaris kelasnya yang diisukan sempat memiliki hubungan khusus dengan Zaki.
Tapi, kenapa malah meminta izin duduk di samping Calvin?
"Udah di-booking sama Si Zaki." Bertepatan dengan itu, Zaki datang membawa pengeras suara.
Seperti biasa, raut wajahnya selalu tampak tenang disegala situasi apa pun. Bahkan ketika netranya sempat bersitatap dengan Aliya, Zaki tetap biasa saja. Justru Aliya-lah yang membuang muka dan memilih mencari tempat duduk lain.
"Supirnya udah beres ngopi, jadi bentar lagi kita berangkat." Ucap Zaki, disela menduduki kursi bus di samping Calvin.
"Yang lain udah pada masuk?" Tanya Calvin.
"Barusan udah gue bilangin sama yang belum masik buat jangan keluyuran ke mana-mana. Terus pas supirnya dateng, semuanya udah harus siap masuk bus." Jelas Zaki. Suasana di antara mereka kembali senyap.
Zaki dengan berbagai lamunannya, sementara Calvin dengan kesibukannya mengutak-atik ponsel. Seperti biasa, Calvin mulai mengabari Naura sebelum mulai berangkat.
^^^Sayang, aku lgi di bus《^^^
Entah karena Naura juga sedang menunggu kabar dari Calvin, tak berapa lama, pesan balasan pun muncul.
》Waa ... asyikkk! Udh mau berangkat?
^^^Iya. Hmm, kangennnn:'(《^^^
》Baru jga berangkat:D
^^^Gmna lgi, aku kangen:(《^^^
》Hm, tiba-tiba aku pengin makan duren
^^^Hah?《^^^
^^^Kmu ngidam?《^^^
^^^Aduhh, gmna dong? Aku pulang aja, deh:(《^^^
》Bercandaaa
》Udh, kmu d sna aja. Klo udh sampe, kabarin lgi
^^^Hmm, ya udh《^^^
^^^Aku tutup dulu, busnya udh mau berangkat. Supirnya udh dtg《^^^
》Hati-hatiiii♡
^^^To be continued...^^^