
"Vin!" Sahutan dari Irgha, berhasil mengalihkan perhatian Calvin untuk beberapa saat.
"Hm. Apaan?"
"Lo ... ada waktu gak?" Tanya Irgha. Seraya mendekatkan posisi duduknya ke samping Calvin.
"Kapan?" Calvin balik bertanya, tanpa sedikit pun mau mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.
Omong-omong, saat ini Calvin tengah disibukkan dengan tugas kelompok yang harus segera diselesaikan. Karena beberapa anggotanya sudah menyelesaikannya lebih dulu, jadilah saat ini Calvin mulai menyusun bagiannya.
"Em, entar sore."
Suara helaan napas Calvin terdengar begitu jelas di telinga Irgha. "Keknya gak bisa."
"Kenapa?" Saat Irgha bertanya, refleks Calvin menghentikan kegiatannya. Kepalanya mulai menoleh menatap Irgha, yang menatapnya seolah meminta sebuah penjelasan.
"Kenapa, ya? Gak tahu! Tiba-tiba aja gue kangen istri gue." Ucap Calvin. Saat itu juga, rona penasaran di wajah Irgha langsung lenyap dan berganti jengah.
"Terserah!"
Tanpa diduga-duga, Calvin malah tergelak saat melihat reaksi Irgha. "Bercanda kali, Gha! Emang ada apaan ntar sore? Traktir makan?"
"Buset, si paling demen makan. Noh, lo tuh udah jarang nongki bareng kita lagi, Vin! Kita semua rindu lo yang dulu!"
Jujur, tidak ada yang salah dalam semua rentetan kalimat yang diucapkan oleh Irgha. Memang benar Calvin sudah jarang atau mungkin tidak lagi tampak berkumpul bersama teman-temannya seperti dulu.
"Gimana, ya, Gha?! Gue udah punya tanggung jawab. Gue gak bisa ninggalin istri gue di rumah sendirian, sementara gue sendiri hura-hura sama temen. Lo 'kan tahu, istri gue itu gak kayak cewek pada umumnya. Dia sering kesepian, dan gue gak mau bikin dia tetep ngerasa kayak gitu lagi setelah nikah sama gue."
Seketika Irgha dibuat terdiam memaku dengan penjelasan Calvin yang sunggih di luar dugaan. Benar-benar tidak seperti Calvin yang dulu. Calvin yang sekarang begitu peduli, perhatian, penuh kasih sayang, dan pastinya dewasa.
Refleks Irgha bertepuk tangan beberapa kali. "Salut, Man! Gak nyangka ternyata lo kayak gini! Bangga gue sama lo!"
"Lebay, lo! Udah, diem. Gue mau lanjut nugas."
Saat itu juga, raut wajah Irgha langsung berubah datar setelah mendengar ucapan Calvin. "Yeeh, baru juga kagum. Gak jadi, deh, gak jadi!"
"Bodo!"
Terjadi keheningan beberapa saat di antara keduanya. Hingga kedatangan seseorang yang cukup di luar dugaan, membuyarkan fokus mereka.
"Hai! Lagi pada ngerjain tugas, ya?" Sapanya, seraya menebarkan aura positif lewat senyuman manisnya, Naima.
"Lo ada di kampus? Ngapain?" Calvin menyahut bingung, sembari melirik sekilas pada Naima. Sementara Irgha, cowok itu dibuat salang tingkah akibat senyuman Naima yang terlalu cantik.
"Em, gue mau lanjut S2?"
"Hah, serius?" Calvin dan Irgha berucap bersamaan dengan perhatian yang tertuju pada Naima.
Tersadar berucap bersamaan, Calvin dan Irgha saling pandang, lalu terkekeh. Setelahnya, keduanya saling mengadukan kepalan tangan.
"Em, gue serius!" Ucap Naima, mencoba membuat perhatian Calvin dan Irgha kembali padanya.
"Lanjut kuliah di sini?"
"Iya!"
"Kenapa gak di Eropa aja, Kak?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Irgha.
Sebelum benar-benar menjawab, Naima terlihat berpikir beberapa saat. "Eropa itu tempat paling indah untuk nenangin diri dari kehidupan yang memuakkan. Sementara sekarang, gue udah mulai move on dari semuanya. Gue gak akan lari lagi, jadi, gue akan kembali menjadi Naima yang dulu."
"Gitu, dong. Selamat kembali menjadi mahasiswa, ya, Nai!" Calvin berucap tulus, seraya menyodorkan tangannya ke hadapan Naima.
Sempat dibuat terdiam beberapa saat, Naima lantas menerima sodoran tangan Calvin dan menjabatnya ala jabatan biasa. "Thank you!"
...****...
Waktu sudah menunjukkan tengah hari dan Naura belum mengisi perutnya sedari pagi. Pikirannya kosong dan hatinya bimbang.
Apa yang harus Naura lakukan sekarang?
Sedari mengetahui kenyataan lain tentang dirinya, Naura sudah menghabiskan waktu dengan menangis seorang diri di dalam selimut. Untungnya, sekarang tangisan itu sudah mulai mereda. Namun otaknya masih setia berlabuh pada hal itu.
Aku, hamil? Bagaimana caranya aku memberitahukan ini?
Buntu. Otaknya seolah tak berfungsi untuk memikirkan bagaimana kedepannya. Dirinya hamil di usia yang sangat muda. Bahkan, Calvin saja masih belum lulus kuliah. Masih ada sekitar dua tahun lagi untuk Calvin lulus S1.
Drrt ... Drrt ... Drrt ...
Ponsel Naura tiba-tiba bergetar yang ditaruh di atas laci nakas. Dengan malas, Naura mulai bangkit dari posisi tidurnya. Meraih ponsel tersebut yang mendapat panggilan suara dari Calvin.
"Ha-halo?" Sapa Naura, mencoba tetap tenang walau jantungnya tiba-tiba berdegup tak karuan.
"Halo, Nau? Hari ini aku pulangnya agak sorean, gak pa-pa 'kan? Aku mau lanjut ngerjain tugas di kostannya Irgha."
"Oh! I-iya, gak pa-pa."
"Kamu udah makan?" Pertanyaan Calvin selanjutnya, sontak membuat Naura gelagapan.
"Tapi udah sempet sarapan?" Tanya Calvin lagi, membuat Naura kian gelagapan untuk menjawab.
"Em, a-aku lupa." Ujar Naura, seraya memejamkan mata kuat-kuat.
"Jadi jam segini kamu belum makan apa-apa? Dari pagi?"
"I-iya, aku ketiduran." Jelas Naura berbohong. Tidak mungkin Naura mengatakan yang sebenarnya pada Calvin sekarang.
"Kamu baru sembuh, Nau! Makan sekarang!" Perintah Calvin. Entah mengapa terdengar begitu menusuk sampai membuat Naura rasanya ingin kembali menangis.
"I-iya."
"Sekarang!" Tekan Calvin lagi. Mau tidak mau, Naura bangkit dari tempat tidur menuju dapur untuk segera mengisi perutnya.
"Makan, ya! Aku tutup dulu." Setelahnya, Calvin benar-benar langsung menutup panggilan telepon. Seolah tidak membiarkan Naura untuk membalas ucapannya.
Tetapi, apakah harus?
Sesampainya di dapur, refleks Naura menahan napas saat aroma kuat nan menusuk, memasuki rongga hidungnya.
"Bau apa ini?" Naura mencoba menahan diri dan mencari tahu asal dari aroma tidak sedap itu dengan masuk semakin dalam ke dapur.
Melihat ada sekantung keresek sampah yang begitu menumpuk di sudut dapur, dengan cepat Naura berjalan untuk mencium aromanya.
"Huwek! Perasaan keresek sampah gak sebau ini, kok. Tapi, huwek! Ha-harus dibuang!" Gerutu Naura, seraya menjepit hidungnya dengan tangan. Sementara tangan yang satunya Naura gunakan untuk menjinjing keresek sampah tersebut ke tempat sampah yang berada di halaman belakang rumah.
Sesampainya di belakang rumah, lagi-lagi Naura merasa mual padahal sudah memasukkan keresek sampah tersebut ke dalam sebuah tong. Saat mencoba mencium tangannya yang sempat digunakan untuk menjinjing keresek sampah tadi, Naura kembali mual. Buru-buru dia berlari masuk ke dalam rumah untuk mencuci bersih tangannya.
Ada yang tidak beres. Apakah karena Naura sedang hamil, jadinya indera penciumannya menjadi semakin tajam?
Dan lagi, perutnya kembali tidak nyaman. Entah karena Naura yang memang belum mengisi perutnya sedari pagi, atau memang faktor kehamilan, Naura juga tidak tahu.
Perlahan, Naura membuka penutup saji yang terpasang di meja makan. Masih ada lauk tersisa yang sepertinya dapat mengganjal perutnya sementara.
Namun, baru saja Naura hendak mengambil lauk, rasa mual yang diakibatkan oleh aroma aneh yang kembali tercium oleh hidungnya, membuat Naura seketika berlari ke arah wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya.
Ya ampun, aku kenapa? Sumpah, aku udah gak kuat!
Beberapa detik berlalu, Naura mulai berhenti muntah. Tetapi, rasa pusing tiba-tiba menyerang Naura. Saat baru menyentuh kepala, pandangannya mulai memburam, diiringi tubuhnya yang kehilangan keseimbangan sampai berakhir tak sadarkan diri.
...****...
Entah ini sebuah keberuntungan, atau bukan, Calvin dibuat cemas setengah mati saat menemukan Naura yang terkapar pingsan di lantai dapur. Entah ada angin apa, tiba-tiba Calvin memutuskan pulang ke rumah ketika mengingat jika Naura belum sempat mengisi perutnya sedari pagi.
Saat ini, di atas ranjang di kamarnya, Calvin mencoba menyadarkan Naura dengan memberikan minyak aroma terapi untuk dihirup.
Sejujurnya, saat pertama kali menemukan Naura yang terkapar pingsan, Calvin ingin sekali membawa Naura ke klinik maupun rumah sakit. Tetapi karena kendaraan yang ada hanya motor ninjanya saja, Calvin mengurungkan niatnya. Memilih mencoba menyadarkan Naura terlebih dahulu dengan cara tradisional.
"Naura! Hei, bangun! Kamu jangan bikin aku cemas, Nau!" Masih belum juga sadar, Calvin menyentuh permukaan wajah Naura beberapa kali.
Beruntung, kali ini ada sedikit pergerakan dari kedua bola mata Naura yang tampak mengerjap beberapa kali hingga akhirnya terbuka. Helaan napas lega diiringi ucapan syukur tak henti-hentinya terus Calvin panjatkan dalam hati.
"Naura! Kamu gak pa-pa? Mana yang sakit, hm?" Dengan penuh perhatian, Calvin mengelus surai hitam Naura ke belakang.
Naura yang masih bingung dan lemah hanya bisa diam seraya menatap Calvin dalam-dalam. "Kenapa Mas Calvin pulang? Bukannya mau nugas?" Suara yang terlontar dari mulut Naura begitu samar hampir tak terdengar.
"Aku ambilin minum dulu, ya!" Ucap Calvin, tak sedikit pun berniat membalas pertanyaan Naura yang masih bisa dijawab nanti.
Tanpa berniat menunggu jawaban, Calvin bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Tak berapa lama, Calvin sudah kembali ke hadapan Naura. Membantu Naura untuk mengubah posisi tidurnya agar dapat dengan leluasa meminum air putih.
"Gimana? Udah enakan? Mau ke klinik aja?" Calvin masih tidak tenang melihat Naura yang seperti ini. Hatinya sakit dan Calvin kesal pada dirinya sendiri yang tidak becus menjaga Naura.
"Aku gak pa-pa, kok. Em, sebenarnya, aku mau bicara sesuatu, tapi gak tahu timing-nya pas atau enggak." Naura menundukkan wajahnya, mencoba mempersiapkan diri untuk berkata jujur pada Calvin.
"Ya udah, kamu mau bicara apa? Atau jangan-jangan ada yang masih sakit? Kepalanya masih pusing?"
"Bu-bukan. Itu, tapi Mas Calvin jangan marah." Ucap Naura, masih setengah-setengah. Terdengar helaan napas pasrah dari Calvin.
"Iya, janji. Mau bicara apa?"
"Sebenarnya, aku ... itu, emh-" Naura menghentikan ucapannya saat mendengar bunyi panggilan masuk dari ponsel Calvin.
Sontak perhatian keduanya langsung beralih pada bunyi tersebut. Dengan cepat Calvin meraih ponselnya yang ditaruh di saku celana. Saat mengetahui siapa peneleponnya, Calvin langsung mematikannya sepihak. Fokusnya kembali pada Naura yang tampak menunduk lesu.
"Mau bicara apa?" Tanya Calvin. Saat Naura hendak kembali membuka mulut, ponsel Calvin kembali berbunyi. Refleks Calvin berdecak sebal.
"Angkat aja dulu, gak pa-pa. Aku ... bisa bicara lain kali."
"Gak pa-pa, gak terlalu penting juga. Mau bilang apa tadi?" Naura mengernyit bingung saat ponsel Calvin kembali berbunyi dengan nomor penelepon yang sama.
"Tapi ... itu dari tadi bunyi. Mending diangkat dulu aja, aku gak pa-pa, kok. Bisa kapan-kapan." Ucap Naura. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman tipis.
Perlahan, Calvin kembali menghela napasnya yang diakhiri dengan mengangguk beberapa kali. "Sebentar, ya."
^^^To be continued...^^^