Quiet Wife

Quiet Wife
21. Gundah



Ponsel Naura yang masih menampilkan tampilan Google bergetar. Nama Mas Calvin, tertera besar di paling atas layar ponselnya. Dengan cepat Naura menggeser ikon berwarna hijau.


"I-iya, halo?"


"Kamu di mana? Kok, rumah dikunci?" Nada suara cemas terdengar dari seberang sana.


"Oh! I-itu, aku lagiiii jalan-jalan! Iya, jalan-jalan!" Jawab Naura. Entah mengapa rasanya dia ingin sekali menangis ketika mendengar suara Calvin lewat telepon. Sebisa mungkin Naura menahannya.


"Jalan-jalan? Sama siapa?"


"Sen-di-ri."


"Jalan kaki?"


"Iya."


Terdengar suara helaan napas pendek dari Calvin. "Share alamatnya, aku jemput."


"I-iya udah. Aku tutup, ya-"


"Kok, tutup?"


"Hah?"


"Kiss-nya mana?"


"Ih, apaan, sih? Gak ada! A-aku tutup, daah!"


Akhirnya Naura bisa kembali bernapas lega, setelah dia benar-benar menutup cepat panggilan teleponnya. Tanpa berniat membuat Calvin menunggu, Naura pun mengirimkan di mana lokasinya saat ini.


Setelah dirasa selesai, Naura mematikan ponselnya. Pikirannya lagi-lagi berlabuh pada satu hal tadi. Refleks salah satu tangan Naura terangkat mengelus perutnya yang kembali merasa tidak nyaman.


Beberapa menit menunggu sembari melamun, suara klakson motor tiba-tiba memecah perhatian Naura. Saat menoleh, sudah ada Calvin tengah tersenyum manis sembari melambaikan tangan di atas motornya.


Perlahan, Naura ikut tersenyum seraya bangkit dari atas ayunan, kemudian berjalan menghampiri Calvin yang terlihat turun dari atas motor dan melepas ikatan helmnya.


"Dari kapan jalan-jalannya?" Sahut Calvin. Salah satu tangannya dengan spontan menggenggam telapak tangan Naura yang terasa berkeringat dingin.


"Ta-tadi siang." Jawab Naura, seraya menunduk lesu.


"Tepatnya?"


"Em, jam satu?" Ujar Naura, mencoba mengingat-ingat kapan waktu spesifik dirinya berjalan-jalan ke luar rumah. Ketika melirik jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul tiga sore.


Ternyata sudah lumayan lama juga Naura berjalan-jalan.


"Udah makan siang?" Tanya Calvin, yang dibalas gelengan pelan oleh Naura.


"Kenapa belum?" Merasa ada yang aneh dari sikap pendiam Naura yang tidak biasanya, Calvin lantas mencondongkan sedikit tubuhnya ke hadapan Naura. Sontak hal itu membuat Naura mendongak menatapnya.


"Naura kenapa? Aku perhatiin, kamu diem terus dari tadi? Lagi mikirin apa, hm?" Dengan lembut, Calvin mengelus surai hitam Naura beberapa saat.


Namun, hal itu malah membuat Naura menangis sampai berderai air mata. Karena syok, Calvin kemudian menegakkan posisi berdirinya dengan sepasang netra yang terbelalak.


"Nau? Kok, nangis? Aku ada salah, hm?" Lagi-lagi bukan jawaban lisan yang keluar dari mulut Naura. Hanya sebuah gelengan pelan diiringi kedua tangan yang spontan menutup seluruh permukaan wajahnya.


Jika ditanya kenapa? Naura juga tidak tahu! Hatinya tiba-tiba berdenyut ngilu entah karena apa, dan air mata pun tiba-tiba menerobos keluar begitu saja.


Aku kenapa, sih?


"Ya udah, kita cari tempat duduk dulu, ya! Itu ayunan yang tadi kamu tempatin, 'kan? Ke sana, yuk!" Calvin berusaha membujuk Naura dengan segala cara, tentunya agar istrinya ini tidak semakin menangis.


Beruntung Naura mematuhi bujukkan Calvin. Dengan dipeluk dari samping, Calvin menggiring Naura menuju ayunan kosong yang keberadaannya tak begitu jauh dari posisi mereka.


"Duduk." Suruh Calvin. Dan respons dari Naura masih tetap diam, namun mematuhi ucapan Calvin.


Perlahan namun pasti, Calvin berjongkok di hadapan Naura. Tangisan dan air matanya mulai mereda. Namun raut wajahnya terlihat begitu basah dengan kedua mata yang sembab.


Sebenarnya, Naura ini kenapa?


"Nau, udah bisa cerita?" Kedua tangan Calvin yang semula menganggur, lantas menyentuh kedua tangan Naura begitu lembut.


Sebelum berniat mengungkapkan jawaban, Naura menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralkan sedikit perasaannya.


"A-aku ..." Naura menggantungkan kalimatnya. Pikirannya lagi-lagi berputar pada hal yang mungkin sebaiknya tidak dikatakan terlebih dahulu pada Calvin.


Pokoknya, aku harus cek sendiri dulu, baru nanti aku kasih tahu lagi. Iya, 'kan?


"Nau? Kok, malah ngelamun? Atau jangan-jangan ada yang nyakitin kamu pas lagi di sini, hm?"


"Bu-bukan. Aku cuman ... keinget sama Mama aja." Naura menghela napas lega saat mengucapkan alasan lain yang terdengar cukup logis.


Hampir aja!


"Mau ... aku temenin ke makam?"


"Buat?" Naura mengernyit, seraya menatap Calvin dengan tatapan kebingungan.


Terdengar suara helaan napas pelan dari Calvin yang kemudian diakhiri dengan memasang senyuman tipis di wajahnya.


"Katanya tadi keinget sama Mama?" Ujar Calvin, membuat Naura kelimpungan harus membalas apa. Karena pada dasarnya, Naura hanya mencari sebuah alasan lain agar isi hatinya tidak diketahui lebih dulu oleh Calvin.


"Enggak usah! Kalau aku ke makamnya Mama pas lagi kayak gini, aku takut gak bisa nahan rasa rindu. Lebih baik pergi ke makamnya kalau hati udah tenang." Jawab Naura, mencoba tidak terbata-bata ketika berbicara.


"Ya udah. Kalau mau ke makam, bilang sama aku, ya. Biar aku anterin. Em, pulang sekarang, yuk!"


...****...


Di tengah malam yang sunyi, Naura terbangun sendirian. Ketika melirik ke arah jam dinding, pukul satu dini hari tertera di sana. Refleks Naura bergidik ngeri seraya menarik selimutnya sampai batas dada.


Saat hendak memejamkan mata kembali, rasa kantuk itu telah menguap entah ke mana. Mencoba mengubah posisi tidur, tetap saja rasa kantuk itu tidak ada. Terlanjur frustasi, perlahan Naura membuka matanya.


Ketika merasakan sesuatu yang bergerak menyentuh area pinggangnya, refleks Naura terlonjak seraya menoleh.


Mas Calvin?


Jantung Naura dibuat berdegup tak karuan saat menyadari wajah Calvin yang tertidur pulas begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan, Naura bisa merasakan embusan napas Calvin yang mengenai sebagian belakang lehernya.


Mencoba untuk sedikit menjauhkan diri, Calvin malah semakin menarik tubuh Naura untuk mendekat. Tak ayal, di belakang Naura, Calvin seperti tengah mendusel-duselkan kepalanya sembari mengerang pelan.


"Mas Calvin, lepas! Aku mau pipis!" Bisik Naura, tepat di telinga Calvin. Lagi-lagi terdengar suara erangan pelan dari Calvin. Namun tak berapa lama, Calvin mulai melepaskan pelukannya, seraya mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Naura.


Helaan napas lega lantas Naura embuskan. Sesuai dengan ucapannya barusan, Naura hendak pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Tak lupa membawa serta ponselnya yang dimode silent ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit berlalu, Naura telah selesai buang air kecil. Namun, Naura belum berniat kembali ke kamar tidur. Tiba-tiba Naura teringat satu hal. Dengan cepat Naura membuka ponselnya untuk kembali mencari sesuatu di internet.


Beberapa saat mengutak-atik, Naura mulai mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya. Dahinya tiba-tiba mengernyit bingung.


"Coba tes menggunakan test pack atau konsultasi langsung ke dokter? Em, test pack apaan, ya?" Kembali bingung, Naura melanjutkan pencariannya untuk mencari beberapa gambar test pack.


Saat beberapa gambar muncul, refleks Naura mengangguk seraya ber-oh ria. "Yang kayak begini, ya? Em, kayaknya besok harus ke apotek. Duhh, bisa nggak, ya?" Gumam Naura. Raut wajahnya tampak berubah pias antara takut ini dan itu.


Tapi ...


"Enggak! Harus bisa! Untuk membuktikan kalau sebenarnya aku gak kenapa-kenapa."


...****...


"Lho, Naura? Ini masih pagi, kamu mau ke mana?" Sahutan lembut dari arah pintu dapur, seketika menghentikan Naura yang tengah berlari kecil menuju pintu keluar.


Perlahan, Naura membalikkan tubuhnya menghadap Fani yang sudah terlihat rapi. "Eh, Mama? A-aku mau ke depan sebentar, Mama udah mau berangkat?"


"Iya, nih. Mama mau berangkat kerja. Oh, iya, Calvin udah berangkat?" Tanya Fani, seolah melupakan niat awalnya bertanya pada Naura. Dan hal itu membuat Naura menghela napas lega.


Syukur, deh.


"Udah, Mah. Pagi-pagi banget udah berangkat, katanya ada kelas pagi,"


"Ooh, gitu. Ya udah, ya, Nau. Mama juga mau berangkat dulu. Mama titip rumah, ya? Lagi buru-buru soalnya,"


"Iya, Mah! Hati-hati di jalan!" Ucap Naura, seraya melambaikan tangannya pada Fani yang langsung melenggang dari hadapannya. Bahkan, belum lama dirinya berjalan beberapa langkah, ponselnya sudah berbunyi. Sepertinya, ibu mertuanya ini memang sedang sibuk.


Oke. Saatnya Naura beraksi. Pergi ke sebuah apotek seperti niatnya tadi malam.


Beruntung, letak apotek tak begitu jauh. Di samping kanan gerbang masuk kompleks terdapat sebuah apotek yang bisa dibilang lengkap isinya.


Cukup dengan berjalan beberapa puluh meter, Naura sudah sampai di apotek. Sebelum benar-benar masuk, Naura menyempatkan diri untuk menarik napasnya dalam-dalam.


Dirasa cukup tenang, Naura mulai menyeret kedua kakinya untuk melangkah memasuki apotek. Baru saja masuk, dirinya sudah disambut hangat oleh seorang apoteker yang tersenyum ramah ke arahnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" Sahut sang apoteker, saat melihat rona keraguan di wajah Naura.


Saat mencoba untuk berbicara normal, lagi-lagi Naura merasakan jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya serasa memanas hampir bergetar.


Terlanjur pasrah, Naura pun mengeluarkan ponselnya seraya memperlihatkan sebuah foto barang yang akan dia beli.


"Test pack, ya, Kak? Satu aja?" Seolah paham mengapa calon pembelinya tidak berucap apa-apa, sang apoteker dengan sigap mencarikan barang yang diperlihatkan.


Tak berapa lama, dia mulai menyerahkan sebuah test pack yang telah dibungkus dengan plastik putih transparan.


"Ada lagi, Kak?" Dengan cepat Naura menggeleng.


"Jadi Rp 25.000, ya, Kak!" Ujarnya. Dengan cepat Naura merogoh dompet. Beruntung ada uang pas, jadilah Naura tidak perlu menunggu untuk menerima uang kembalian.


"Ini struknya, Kak! Semoga hasilnya positif, ya." Dan, ya. Ucapan dari sang apoteker barusan, sudah cukup membuat Naura membeku.


...****...


Sekiranya, sudah hampir satu jam Naura mendekam di dalam kamar mandi. Hatinya gusar dan jantungnya terus menerus berdegup tak karuan.


"Gimana, ya?" Walau telah berkali-kali membaca instruksi pemakaian, Naura tetap belum siap untuk mencobanya. Takut jika hasilnya benar-benar positif.


Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya?


Sejujurnya, Naura sangat takut!


Lagi. Naura menarik napasnya dalam-dalam entah untuk yang keberapa puluh kali.


"Oke, tenang. Pasti negatif. Iya, pasti negatif! Harus dicoba dulu, baru nanti tahu hasilnya." Gerutu Naura.


Seperti katanya, Naura akan mulai melakukan tes pada dirinya sendiri menggunakan test pack.


Beberapa menit berlalu, Naura masih setia menunggu dan menunggu. Masih belum ada tanda-tanda perubahan pada test pack tersebut. Dalam hatinya yang terdalam, Naura terus memanjatkan doa, berharap semua perkiraannya selama ini adalah salah.


Namun, di detik selanjutnya, Naura merasakan tubuhnya melemas saat sebuah kenyataan terpampang nyata tepat di hadapannya.


"Dua ... garis?"


^^^To be continued...^^^