Quiet Wife

Quiet Wife
20. Naima VS Evelyn



"Sejauh suami-istri pada umumnya?"


"Aaarghh!!! Nggak, ini nggak mungkin! Masa Calvin sama si cewek itu udah ...?" Naima menjerit kesal, saat ingatannya kembali tertuju pada ucapan Calvin tempo hari.


Demi apa pun, Naima teramat frustasi saat ini. Semuanya gara-gara Evelyn!


Setidaknya kalau Calvin dan Evelyn putus secara secara baik-baik, bukan karena Evelyn yang memutuskan untuk berselingkuh, apalagi dengan Davin, mungkin Calvin tidak akan berakhir dijodohkan.


Dan apa yang dikatakan Calvin waktu itu? Calvin akan mempertahankan pernikahannya?


Tidak! Itu tidak boleh terjadi!


"Awas lo Evelyn! Gue datengin lo sekarang juga!" Dengan emosi yang telah memuncak, Naima mengutak-atik ponselnya. Menelepon nomor Evelyn dan berharap jika perempuan itu belum mengganti nomor teleponnya.


Dan, sepertinya Evelyn memang belum mengganti nomor teleponnya. Beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan suara pun diangkat.


"Halo-"


"Ini gue, Naima! Di mana lo? Share lokasi lo, sekarang!" Ucapan Naima yang terbawa emosi, lantas memotong ucapan Evelyn.


"Siapa tadi? Naima? Maksudnya-"


"Cinta pertamanya Calvin? Iya! Ini gue! Gue gak mau tahu, sekarang lo share alamat lo di mana, sebelum gue semakin membongkar kebusukan lo selama ini!" Naima terus-menerus menyela ucapan Evelyn. Terdengar decak sebal yang diakhiri dengan suara helaan napas gusar di seberang sana.


"Lo telepon gue setelah sekian tahun cuman buat nanyain ini? Terserah lo mau ngancem apa, yang jelas gue lagi ada di rumah sekarang. Puas?" Seolah ikut terbawa emosi, Evelyn mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Refleks Naima berdesis seraya mengumpat.


...****...


Sesampainya di depan rumah Evelyn, Naima tak henti-hentinya terus membunyikan bel berulang-ulang. Seolah dikuasai amarah, Naima bahkan tak memedulikan bagaimana nantinya respons pemilik rumah maupun pembantu rumah tangga yang mendengar bunyi bel tak biasa.


Tak berapa lama, pintu rumah mewah nan megah itu terbuka lebar. Seorang perempuan bersetelan tanktop hitam serta hot pants berwarna senada, berdiri di hadapan Naima dengan memasang raut wajah tak suka.


"Gak waras lo? Sekali aja lo bunyiin bel itu udah kedengeran sampe satu rumah. Emang sikopat lo!"


"Gue mau ngomong sama lo!" Ujar Naima, seolah tak memedulikan ucapan Evelyn.


"Ya udah, ngomong aja!" Balas Evelyn, tanpa sedikit pun berniat mengundang masuk Naima ke dalam rumah mewahnya.


"Yakin mau di sini?"


"Emangnya lo mau bahas apaan, Mantan Kakak Senior?" Jujur, Evelyn rasanya muak harus kembali berhadapan dengan Naima.


Beberapa tahun yang lalu ketika Evelyn mencoba mendekati Calvin, Naima terus-menerus mengganggu ketentraman hidupnya. Sungguh menyebalkan!


Namun, pada akhirnya yang menang tetaplah Evelyn. Walau sekarang Evelyn tak lagi memiliki hubungan dengan Calvin. Tetapi suatu hari, Evelyn akan membuat Calvin kembali ke sisinya seperti dulu.


Senyuman merendahkan lantas terbit di wajah Naima. "Kalau lo gak mau semua aib lo kedengeran orang, ada baiknya lo terima gue masuk ke rumah lo. Mungkin lo lupa satu hal tentang dua tahun yang lalu?"


Raut wajah Evelyn langsung berubah pias mendengar ucapan Naima di paling akhir. "Fine! Masuk ke kamar gue."


...****...


Plak!


Sebuah tamparan telak tiba-tiba mendarat di pipi sebelah kiri Evelyn. Refleks Evelyn memegangi pipinya yang terasa memanas seraya menatap tajam sang pelaku yang telah dengan sembarangan menampar wajah cantiknya.


"Lo udah gila? Kesurupan apaan lo? Gue terima lo masuk ke rumah gue, tapi lo malah tampar pipi gue? Fix, lo udah gak waras!" Evelyn tak habis pikir dengan jalan pikiran Naima. Wajah dibuat setenang dan seanggun mungkin, namun pada kenyataannya?


Inilah sikap asli Naima!


"Ini semua tuh gara-gara lo! Lo sendiri yang bilang mau sama Calvin dan ngusir gue jauh-jauh. Terus sekarang kenapa lo malah selingkuh sama Davin? Sebenernya mau lo tuh apa, sih? Kalau ujung-ujungnya lo pilih si Davin, mungkin sekarang Calvin udah jadi cowok gue! Bukan malah jadi suami orang!" Rentetan ucapan Naima, benar-benar membuat telinga Evelyn panas.


"Jadi, lo udah tahu soal gue sama-"


"Iya! Lo tidur sama Davin! Davin itu sahabatan dari kecil sama Calvin dan gue! Lo gak ngotak sih, Lyn! Lo tuh-"


"Gue dijebak, Nai! Sumpah, gue tuh gak mau, tapi gue diancem!" Pekik Evelyn, memotong ucapan Naima.


Helaan napas berat lantas Naima embuskan. "Diancem sama siapa? Siapa yang ngancem lo?"


"Ya, si Davin! Dia tahu semuanya soal gue yang berpura-pura bersikap lembut di hadapan Calvin! Dan dia juga tahu kalau gue tuh sebenernya,"


"Sebenernya? Apa? Kok, gak dilanjut?"


Evelyn mengulum bibirnya saat mulutnya hampir saja keceplosan akan satu hal yang tidak diketahui oleh Naima.


Untungggg belum sempet kebongkar! Awas aja lo mulut sialan kalau berani ngomong sembarangan!


"Ekhem. I-itu ... lo tahulah. Kita taruhan 'kan buat dapetin Calvin? Kalau sampai Calvin tahu bahwa dia dijadiin bahan taruhan, dia bisa-bisa putusin gue!"


"Tapi ujung-ujungnya lo diputusin juga, 'kan?"


"Itu bener-bener kecelakaan! Ada yang-" Evelyn menghentikan ucapannya, saat Naima menampakkan sebuah video berdurasi lima menit ke hadapannya.


Seketika kedua bola matanya membulat saat mengetahui video apa yang tengah diputar oleh Naima.


"Ah, Davin! Di situ, ah!"


"Di sini?"


"Iya, ahh!"


"Setop! Lo dapet dari mana? Se-setahu gue, video ini cuman dikirim ke Calvin."


"Dengerin gue! I-iya! Gue ngelakuin itu sama Davin! Si Davin sendiri yang video, tapi gue juga baru tahu pas dia bilang, dia kirimin video waktu kita lagi itu ke Calvin. Jelas gue kagetlah! Mau dia tuh apa coba?"


"Terus?" Balasan dari Naima, membuat Evelyn gelagapan. Susah payah perempuan itu menelan air ludahnya.


"Se-sejak itu, video itu nyebar ke satu angkatan. Tapi gue udah mencoba sebisa gue buat hancurin file video itu. Tapi pertanyaannya, kenapa sekarang ada di lo? Lo dapet dari mana?" Evelyn merasakan jantungnya berdegup kencang dengan peluh yang keluar dari beberapa area tubuhnya.


Lagi-lagi senyuman merendahkan itu kembali terpatri di wajah Naima, membuat Evelyn spontan berdigik ngeri. "Kenapa? Takut? Tenang aja, gak akan gue apa-apain, kalau lo mau patuh sama semua ucapan gue."


...****...


Naura mengembuskan napas panjang di sela langkah kakinya menyusuri trotoar. Seperti hari kemarin, Naura kembali menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan ke sekeliling untuk mencari udara segar.


Kemarin hanya sampai taman kompleks. Dan hari ini, Naura memutuskan untuk keluar dari area kompleks. Rasanya, Naura ingin belajar untuk tidak bergantung pada orang lain, khususnya Calvin.


Melihat Calvin yang akhir-akhir ini seolah membuka hati dan perasaannya teruntuk Naura, Naura jadi ingin membuka hatinya untuk melepaskan trauma yang membuatnya kesulitan berkomunikasi dengan orang asing.


Jadi, sebagai bahan dasar, Naura memutuskan untuk berjalan-jalan seperti sekarang ini.


Walau jantungnya terasa berdebar sedari Naura menginjakkan kakinya di luar, namun Naura tidak akan menyerah. Naura harus bisa mengatasi rasa ketakutan itu.


Tak lupa membawa ponsel dan uang yang ditaruh di dalam tas selempang berwarna putih yang sedari tadi terus Naura genggam erat-erat talinya di depan dada.


Baru berjalan-jalan sebentar, kedua betisnya sudah pegal. Rasa haus pun seolah ikut menyerang diwaktu yang bersamaan.


Entah karena hari yang memang cukup terik, Naura pun tidak tahu. Pada akhirnya, Naura memutuskan beristirahat sejenak di sebuah kios pinggir jalan yang lumayan sepi pembeli.


Duh, perut aku kenapa, ya? Kok, rasanya gak nyaman lagi? Masa iya belum sembuh?


"Neng? Mau ke mana?" Sahutan dari seorang ibu-ibu pemiliki kios, tiba-tiba mengejutkan Naura dari berbagai lamunannya.


Ketika menoleh dan hendak berucap, mati-matian Naura menarik napasnya dalam-dalam mencoba untuk memberanikan diri seperti yang dibulatkan oleh tekadnya.


Namun, pada akhirnya, Naura hanya bisa menggeleng pelan sembari tersenyum kikuk.


"Neng-nya lagi isi, ya? Ibu perhatiin, pas dateng Neng langsung elus-elus perutnya. Jangan terlalu kecapekan, Neng!" Si ibu pemilik kios lantas ikut mendudukkan diri di samping Naura yang dibuat termangu beberapa saat.


Isi? Maksudnya, apa?


"Neng? Kok, gak jawab? Neng nggak pa-pa?" Raut wajah si ibu berubah cemas, saat tidak mendapat balasan apa-apa dari Naura. Sontak Naura langsung menunduk tak enak hati, sembari mengulum bibirnya.


Seolah mengerti, kini giliran si ibu yang menatap Naura dengan tak enak hati. "Aduh! Neng-nya gak bisa itu, ya!" Si ibu mencoba mempraktekkan apa yang hendak dikatakannya lewat gestur tangan yang menunjuk pada mulutnya.


Karena bingung, Naura pun hanya menunduk sembari tersenyum simpul.


"Omong-omong, suaminya gak nemenin? Kok, sendirian? Neng-nya 'kan lagi hamil, masa dibiarin?"


Lagi-lagi Naura mendongakkan wajahnya untuk menatap raut si ibu. Refleks Naura menggelengkan kepala, yang dibalas syok oleh si ibu.


"Neng gak punya suami?" Sontak Naura menepuk jidatnya, kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mengetikkan sesuatu.


Saya tidak hamil, Bu! Suami saya masih kuliah, belum pulang.


"Ooh, kirain lagi isi. Maaf, ya, Ibu suka ceplas-ceplos! Soalnya pas lihat Neng, Ibu jadi keinget waktu dulu pas masih awal-awal hamil. Mirip banget. Bener-bener gak bisa bedain, soalnya waktu itu baru pertama kali. Coba, deh, dicek dulu, siapa tahu Neng juga lagi isi."


Sungguh, Naura bingung harus membalas bagaimana?! Perkataan yang cukup panjang lebar dari si ibu itu sudah cukup membuat Naura terguncang.


Kalau beneran hamil, gimana?


"Sebentar, ya, Neng! Ibu mau ke dalam dulu!" Sahutan lain dari si ibu, lagi-lagi menyadarkan Naura. Masih belum bisa mengatakan sepatah kata, Naura kembali mengangguk sembari tersenyum simpul.


...****...


Sepanjang perjalanan meninggalkan kios si ibu tadi, Naura terus menerus kepikiran soal ucapannya.


Kalau aku benar-benar hamil, terus reaksi Mas Calvin nanti bakal kayak gimana? Dia 'kan masih kuliah. Mimpinya masih jauh. Kalau aku sih, gak pa-pa. Tapi ...


Naura terus menghela napas gusar di sepanjang dirinya melangkah. Melihat ada sebuah taman air mancur, Naura memutuskan singgah beberapa saat di salah satu ayunan kosong di sana.


Ketika telah menduduki ayunan, Naura kembali meraih ponselnya. Namun kali ini, Naura akan mencari tahu sesuatu di internet yang mungkin saja akan menjawab keraguan yang terus menghantuinya.


Tanpa berpikir panjang, Naura mulai mengetikan sesuatu tentang, ciri-ciri hamil. Dan, beberapa di antaranya muncul, namun yang membuat Naura merasa benar dia rasakan hanya di halaman web yang satu ini.


Mengenal Tanda Kehamilan atau Ciri-Ciri Hamil


•Perut kembung. Hampir serupa dengan tanda-tanda di awal siklus menstruasi, tanda kehamilan di minggu pertama juga menyebabkan kamu mengalami perut kembung.


•Mual dan muntah.


•Kelelahan.


•Kram perut beserta bercak darah.


•Perubahan pada payudara.


"Kalau dipikir-pikir, kayaknya aku ngerasain semuanya. Jangan-jangan yang waktu itu aku kira mens ternyata ... Enggak! Coba kita lihat ke bawah lagi."


Beberapa menit terus mencari bahkan membaca sampai ujung pun, hasilnya tetap sama. Dan itu membuat Naura semakin dibuat tertekan jika sebenarnya dirinya memang benar-benar tengah hamil.


Enggak! Ini gak boleh terjadi!


^^^To be continued...^^^