Quiet Wife

Quiet Wife
26. Naik Pitam



Naima mencengkram kuat ponselnya, saat sebuah postingan tak terduga lewat di beranda IG-nya. Hatinya panas, emosinya sudah naik ke ubun-ubun.


Semudah itukah Calvin melupakannya, padahal dahulu Calvin begitu enggan meninggalkan Naima sedetik pun?!


Sial!


"Jadi, kalian udah sampai tahap itu rupanya? Hamil? Kabar bahagia buat lo, tapi buat gue? Ini terlalu menyakitkan, Vin! Lo jahat!" Perlahan, Naima menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Air matanya luruh seiring dengan berbagai ingatan masa lalu yang terus berdatangan tiada henti.


Ketika Naima kembali menatap postingan Calvin, waktu dipostingan itu tertera sekitar enam jam yang lalu. Menyebalkan. Naima tidak tahu lebih awal. Dan ini sangat memuakkan.


Terlanjur memberikan like, Naima mengklik kolom komentar. Mengetik berbagai kalimat ucapan selamat yang pada dasarnya hanya sekadar formalitas saja.


Jujur saja, hatinya hancur berkeping-keping melihat Calvin yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


"Harusnya yang di posisi itu sekarang adalah gue, bukan si Cewek Fake Naura! Dan harusnya yang memberikan kebahagiaan terbesar buat Calvin itu juga gue! Gue yang harusnya sekarang menjadi istrinya Calvin dan mengandung darah daging Calvin! Ini nggak adil! Gue yang lebih dulu kenal Calvin, tapi kenapa malah jadi gini? Salah gue di mana?" Naima mulai kehilangan kontrol atas dirinya. Dirinya mengamuk sejadi-jadinya, sampai membuat seorang asisten rumah tangga mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.


"Non Naima? Non, gak pa-pa? Bibi dengar dari luar, sepertinya Non lagi ada masalah. Non gak pa-pa 'kan?"


"Pergi! Naima lagi pengin sendiri!" Pekik Naima, membuat sang asisten rumah tangga hanya bisa pasrah, seraya beranjak pergi.


"Sampai kapan pun dan apa pun yang terjadi, lo harus kembali ke sisi gue, Vin! Karena apa? Karena gue gak rela lepasin lo! Lo yang ngejar-ngejar gue dulu. Iya, oke! Gue juga salah malah nyia-nyiain lo dan lebih memilih Arvin. Tapi gue mohon, tolong jangan hukum gue dengan cara kayak gini! Gue lemah denger lo bahagia dengan perempuan lain, bahkan sekarang udah sampai ke tahap menjadi calon orang tua." Naima menarik napasnya dalam-dalam, sebelum dirinya kembali meluapkan emosinya.


"Pokoknya, gue gak mau tahu, lo harus secepatnya tinggalin cewek itu! Lo udah janji sama gue, Vin, lo gak boleh ingkar."


...****...


Sekali lagi, ponsel Calvin yang ditaruh di atas dashboard mobil berdering. Entah karena notifikasi maupun panggilan suara, semuanya seolah berbondong-bondong menghubungi Calvin.


Tanpa pikir panjang, Calvin menyambungkan teleponnya ke sebuah earphone yang terpasang di salah satu telinganya.


"Halo, Mah?"


"Calvin! Yang kamu post di IG itu beneran? Naura bener-bener hamil 'kan, Vin?" Sahutan menuntut dari Fani, membuat Calvin lagi-lagi menyunggingkan senyumannya.


"Iya, Mah! Masa aku bohong, sih, gak ada kerjaan banget,"


"Terus, Naura-nya mana?" Pertanyaan itu refleks membuat Calvin menoleh ke sebelah. Di mana ada Naura yang tengah tertidur lelap.


"Ada, nih, lagi tidur. Kita masih di mobil, Mah, lagi di jalan mau pulang."


"Ya udah. Pulangnya hati-hati, ya! Mama juga mau pulang sekarang, udah gak sabar pengin ketemu Naura! Segitu dulu, ya, Vin. Mama tutup teleponnya, daah!" Panggilan telepon langsung terputus oleh Fani yang mematikannya lebih dahulu.


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Calvin melepaskan earphone-nya dan menaruhnya kembali ke atas dashboard.


Lagi-lagi matanya melirik pada Naura. Entah mengapa sudut hati Calvin yang sempat ragu, mendadak berbunga-bunga setelah mengetahui kabar baik yang Naura beritahukan belum lama ini.


Rasa ragu akan kekhawatiran yang sempat terpikirkan, nyatanya menghilang seiring dengan kebahagiaan yang meluap begitu besar. Kehadiran calon bayi di antara hubungan mereka yang diawali dengan sebuah kecelakaan, ternyata dapat berjalan seperti pasangan suami istri pada umumnya.


Tidak ada lagi kecanggungan di antara hubungan Calvin dan Naura. Calvin yang selalu terang-terangan memperlihatkan rasa cinta dan kasih sayangnya, begitupula dengan Naura yang dengan senang hati menerima semua cinta dan kasih sayang yang Calvin berikan.


Inikah kenikmatan pernikahan yang dirasakan orang-orang? Rasanya, Calvin ingin menghentikan waktu agar dapat terus bersama Naura tanpa ada yang mengganggu.


"Apa pun yang terjadi nanti, aku akan terus menjaga kalian."


...****...


Sesampainya di rumah setelah usai mengecek kondisi Naura ke klinik dan berjalan-jalan untuk mengisi waktu luang, kini Naura dan Calvin langsung disambut hangat oleh Fani. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ibu mertuanya ini langsung memeluk Naura begitu erat sampai menitikkan air mata.


"Mama senang sekali mendengarnya. Ternyata akan ada masanya, Mama akan jadi nenek!" Gumaman dari Fani, seketika membuat Naura menoleh ke arah Calvin.


Seolah paham maksud dari rona kebingungan Naura, Calvin tersenyum sembari berkata, "Aku posting sesuatu di IG, dan Mama lihat. Dia sempet telepon tadi buat konfirmasi. Dan katanya, Mama seneng dengar beritanya."


"Emangnya ... Mas Calvin posting foto apa?"


"Itu gak penting! Sekarang, kita masuk! Cerita sama Mama, tadi dokternya bilang apa aja? Kandungannya sehat-sehat aja 'kan? Gak ada yang salah 'kan? Terus tadi-"


"Mah! Naura baru sampai, nanti aja nanya-nanya mah gampang. Ya!? Kasihan, nanti kakinya malah pegel, lagi." Calvin menyela panjang lebar, seraya menarik Naura ke sampingnya.


"Eh? Maaf, Mama tuh spontan! Ya udah, masuk dulu, yuk!" Ajak Fani, kepada Calvin dan juga Naura.


"Bang Arvin di rumah?" Calvin bertanya spontan saat tangannya merogoh saku jaket, di mana ada sebuah kunci mobil milik Arvin yang dipinjamkan padanya.


"Lagi ke luar. Katanya mau ada acara reuni kampus."


"Terus, ke sananya naik apa?"


"Naik motor kamu." Balas Fani. Sudut hatinya mendadak gugup, takut jika sewaktu-waktu Calvin marah karena motornya digunakan oleh Arvin tanpa sepengetahuannya.


"Ya udah."


Hanya itu.


Fani sempat dibuat terdiam beberapa saat. "Calvin, gak marah? Tumben?"


...****...


Seperti yang terjadi, Arvin dilangkahi adiknya yang telah menikah lebih dulu disaat dirinya sendiri masih belum lulus kuliah. Dan sialnya, Arvin tidak bisa menghadiri pernikahan Calvin waktu itu dikarenakan Arvin sendiri terlalu sibuk berkuliah.


Tetapi, Arvin sudah meminta maaf pada Calvin karena tidak bisa turut hadir di hari istimewanya. Dan Calvin pun mengiyakan dengan nada dingin.


Bisa dibilang, semenjak kejadian beberapa tahun lalu, sikap Calvin berubah seratus delapan puluh derajat. Dan semuanya gara-gara kehadiran seorang perempuan yang gilanya mencintai Arvin dan Calvin di waktu yang bersamaan.


Ya, siapa lagi jika bukan Naima?


Ceritanya begitu panjang. Dan di sini, di tempat reuni kampus seangkatan, Arvin kembali dipertemukan dengan Naima. Wajahnya begitu tenang tanpa dosa, padahal karena dirinyalah hubungan Arvin dan Calvin merenggang.


Seperti dulu, perempuan itu selalu menebar senyuman dan tingkah imutnya di hadapan para lelaki. Mengobrol sok asik, dan bertingkah seolah bisa melakukan segalanya.


Sangat memuakkan.


"Heh, Vin! Diem-diem aja perasaan dari tadi. Ada mantan, ya?" Bisikkan itu terlontar dari mulut Reval, salah satu temannya di alumni dulu.


"Apaan sih, lo? Biasa aja,"


"Gimana kalau kita langsung pesen makan aja? Setuju semuanya!?" Suara lantang dari arah meja lain, seketika membuat satu angkatan alumni yang hadir saat ini, dibuat menoleh hingga memokuskan perhatiannya pada satu titik.


Sasha, yang juga angkatan alumni, si cewek hiperaktif yang selalu mencari perhatian sana-sini. Seingat Arvin, Sasha dulu pernah menyukainya. Tetapi karena Sasha juga adalah tipe orang yang tidak akan mengambil milik teman, jadilah Sasha menyembunyikan perasaannya.


Lalu, bagaimana Arvin bisa tahu, karena sesuatu pernah terjadi di antara keduanya.


Bisa dibilang, Arvin bukanlah pemuda polos. Pemain wanita? Tidak juga. Paling hanya sesekali mencicipi.


Tanpa sadar netra Arvin terus mengarah pada Sasha. Sampai ketika perempuan itu tidak sengaja melirik ke arahnya, barulah Arvin memutuskan kontak.


Sasha merasakan hatinya yang mendadak goyah tanpa sebab. Dadanya sesak, dan kedua bola matanya serasa berair tiba-tiba. Mencoba tampak biasa saja, perempuan itu berdeham, masih dengan posisinya yang berdiri tegak.


"Ya udah, langsung pesenin aja. Gue ... pamit dulu ke belakang." Ujar Sasha, melenggang dengan terburu-buru.


...****...


Sasha refleks mengusap dada, saat seseorang yang tengah berusaha dia hindari, berdiri di depan pintu toilet yang baru saja dia gunakan. Perlahan namun pasti, pandangan mereka kembali bertemu. Susah payah Sasha menelan ludahnya saat Arvin berjalan memojokannya ke dalam toilet.


Dengan cepat Arvin mengunci pintu toilet tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Lo ... mau apa?" Sasha menahan debaran di dada, saat dengan santainya Arvin menyandarkan punggung di balik pintu toilet.


"Gue kira, lo gak akan hadir." Arvin mengabaikan pertanyaan Sasha, dan mengalihkannya ke pembicaraan lain. Terdengar embusan napas berat dari mulut Sasha yang membuat perhatian Arvin kembali padanya.


"Gue juga ngiranya lo gak akan dateng, soalnya 'kan lo di Belanda,"


"Gue pulang karena adek gue. Waktu nikahannya kemaren, gue gak sempet hadir karena sibuk."


"Oh." Hanya itu. Suasana di antara keduanya mendadak canggung, apalagi obrolan keduanya memang berada di tempat yang tidak seharusnya.


Arvin menghela napas gusar seraya membuka pintu toilet. "Sorry! Lo boleh keluar."


"O-oke." Tanpa berpikir panjang, Sasha langsung berlari meninggalkan Arvin di toilet.


Sial! Selepas dari sana, otaknya mulai kembali memikirkan saat-saat panas bersama Arvin ketika keduanya masih menjadi mahasiswa di ibukota.


Dengan nekat, Sasha melakukan hal itu dengan Arvin, padahal dirinya sudah berjanji untuk tidak mengambil milik teman.


Tetapi, Sasha memang tidak mengambil apa-apa. Sasha hanya merasakan kenikmatan sesaat yang Arvin berikan saat itu.


Iya, hanya itu! Setelahnya, hubungan keduanya berubah canggung sampai detik ini.


"Mau sampai kapan lo di sana?" Sahutan menyebalkan yang cukup familier, seketika membuat Arvin menolehkan kepala ke sumber suara. Tanpa pikir panjang, Arvin berjalan keluar dari toilet seraya menatap nyalang perempuan yang tak lain ialah Naima.


"Kenapa? Suka-suka guelah, emang lo siapa, ya?"


Naima terkekeh sarkas seraya merotasikan bola matanya. "Jangan-jangan, gue udah ganggu waktu kalian?"


"Tenang aja, kita gak ngapa-ngapain. Dan kalaupun berbuat yang nggak-nggak, mending juga gue nyari j*l*ng." Naima seketika dibuat naik pitam oleh ucapan Arvin yang begitu kasar dan frontal. Sangat jauh berbeda dengan adiknya yang perhatian, gantle, dan penyayang.


"Gue mau jujur sama lo, Vin. Gue nyesel pernah cinta sama lo! Ternyata lo tuh brengsek. Bisa-bisanya lo tidur sama Sasha disaat gue masih jadi cewek lo!"


"Lo pikir gue kayak gini karena siapa? Lo ngaku cewek gue, tapi lo sendiri suka 'kan sama adek gue?! Coba lo mikir. Lo tuh status pacarannya aja sama gue, tapi lo malah ngasih harapan sama adek gue! Lo sengaja 'kan? Seneng, ya, ngelihat adek kakak berantem sampai hubungan renggang gara-gara lo?" Demi apa pun, niat awal Arvin ketika nanti bertemu dengan Naima adalah menghindar dan pura-pura tidak memiliki dendam.


Tetapi karena Naima sendiri yang mencari perkara, maka Arvin tidak akan segan lagi. Rasa sakit dan kecewa lantas Arvin luapkan setelah sekian tahun lamanya dia pendam.


Ketika putus dulu? Tidak ada kejelasan, tapi yang pasti, Arvin terlanjur kecewa.


"Gue benci sama lo!" Tekan Arvin, sengaja berucap tepat di wajah Naima.


^^^To be continued...^^^