
"Jadi ... dulu kalian sahabatan?" Naura bertanya halus pada Davin setelah cukup lama keduanya terdiam dalam lamunan masing-masing.
Omong-omong, setelah adegan saling sapa tadi, Davin mengajak Naura untuk berbicara sejenak. Berhubung Davin membawa motor, Davin membawa Naura keluar dari area kompleks sampai ke sebuah cafe. Tentunya sebelum pergi, Naura meminta izin terlebih dahulu pada Fani.
Davin menarik napas dalam-dalam, kemudian mengangguk. "Sebenarnya, gue mau cerita lebih rinci sama lo, cuman ... gue gak tahu harus mulai dari mana."
"Cerita apa? Dan ... kenapa kamu mau nyeritain hal itu sama aku?" Jujur saja, Naura masih tetap tidak terbiasa berbicara seperti ini pada orang asing. Namun, jika tetap diam membisu saja rasanya akan semakin merepotkan. Dan lagi, Naura sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mulai membuka diri.
"Cerita soal gue sama Calvin. Gue nyeritain gini karena kalau gue cerita sama Calvin, gue nggak berani. Dia pasti gak mau dengerin gue setelah semua rumor buruk yang terjadi. Sedangkan sama lo ... lo 'kan istrinya. Gue harap dengan gue cerita ke lo, lo mau sampein hal ini sama Calvin." Davin menjeda perkataannya, pun dengan Naura yang masih memilih diam dan menunggu.
"Tapi, gue boleh nanya satu hal, nggak, sama lo?" Davin memokuskan netranya menatap Naura, sehingga membuat Naura bingung dan bertanya-tanya.
"Nanya apa?"
"Ekhem. I-itu. Apa Calvin pernah cerita soal mantannya yang pernah selingkuhin dia sama lo?" Naura tidak langsung menangkap pertanyaan Davin. Perempuan itu masih terdiam seraya berpikir mengingat-ingat.
"Em, kayaknya pernah!"
"Calvin cerita apa aja?" Raut wajah Davin berubah penasaran. Naura semakin bingung harus menjawab bagaimana.
"Em, gimana, ya? Pokoknya Mas Calvin bilang, tiga bulan sebelum nikah sama aku, dia pernah punya pacar tapi pacarnya selingkuh sama orang lain."
"Terus?"
"U-udah. Kenapa?" Entah ini adalah sebuah keberuntungan, atau memang murni kebetulan, Davin rasanya tidak ingin melanjutkan ceritanya pada Naura.
Pikir Davin, selamanya Naura lebih baik tidak tahu apa pun tentang masa lalu Calvin di mana Davin sendiri juga terlibat di dalamnya.
Ya walau itu tidak sepenuhnya benar. Tetapi siapa pun yang sudah melihat videonya pasti akan langsung beranggapan bahwa itu adalah Davin dan Evelyn.
"Oh, ya, katanya kamu mau cerita?" Sahutan lembut dari Naura seketika membangunkan Davin dari berbagai lamunannya.
Davin kembali berdeham pelan untuk menetralkan perasaan gugup yang tiba-tiba menyerangnya. "Mungkin ... lain kali aja gue cerita. Gue baru inget kalau gue masih ada kerjaan lain."
"Tunggu!" Ucapan Naura berikutnya sukses menahan Davin yang sudah hendak bangkit berdiri. Diam-diam Davin memerhatikan raut wajah Naura yang memperlihatkan rona kekecewaan.
"Kalau kamu gak mau cerita, ya udah. Tapi, aku mau tanya. Apa kamu salah satu orang kompleks-"
"Bukan. Gue kebetulan ada di sana karena niat awal gue emang mau nyamperin Calvin. Cuman pas gue udah nyampe, gue dapet notif postingan IG Calvin. Dan saat itu gue baru tahu kalau ternyata Calvin lagi gak ada di rumah." Naura menunduk lemah setelah mendengar jawaban Davin. Ingin dia kembali bertanya, namun sepertinya tidak ada yang perlu ditanyakan lagi. Jawaban Davin sudah cukup membuatnya paham.
"Btw, gue kira Calvin pergi liburannya bareng lo!"
"Bukan. Mas Calvin liburannya bareng teman SMA-nya."
"Acara reuni?" Tanya Davin, yang langsung diangguki cepat oleh Naura.
"Em, mau pulang aja? Gue anterin."
"Boleh. Kebetulan aku lupa gak bawa uang pas kamu ngajak ke sini. Em, nanti uang minumannya aku ganti pas udah sampai di rumah aja, ya,"
"Nggak usah! Anggap aja lo gak pernah ketemu sama gue hari ini."
...****...
Tengah hari yang cukup terik di pesisir pantai, Calvin menghabiskan waktu dengan duduk sendirian di tempat yang teduh. Sementara teman-temannya yang lain sibuk berswafoto, snorkeling, dan bermain wahana air lainnya.
Sungguh, rasanya begitu membosankan saat ini. Banyak teman-temannya yang mengajak untuk melakukan ini dan itu, namun Calvin tidak memiliki semangat untuk melakukannya.
Entahlah. Perasaannya tidak nyaman sedari pagi. Pikirannya terus berlabuh pada Naura. Ingin Calvin menghubunginya, namun rasa ragu kembali bersinggah.
"Vin! Lo gak ikutan?" Sahutan Ilma yang baru saja selesai snorkeling bersama beberapa teman yang lain, lantas menyadarkan Calvin dari lamunannya.
Terdengar helaan napas gusar yang diiringi dengan gelengan kepala. "Enggak. Lagi gak mood."
"Main, gih! Apa kek," sela Tasha, yang juga baru selesai snorkeling.
"Noh, yang lain mau lanjut selancar layang. Ikutan, yok!" Timpal Zaki, yang entah sejak kapan berada di samping Calvin.
Calvin kembali menghela napas gusar. "Aman 'kan?"
Terdengar suara decak sebal dari Zaki dan Tasha. Sementara Ilma, gadis itu tertawa kecil menanggapi pertanyaan Calvin.
"Aman! Atau kalau mau yang aman banget, lo bisa baik banana boot." Ucap Tasha, namun hal itu malah sukses mengundang tawa semuanya.
"Banana boot terlalu yaah ... kecil banget. Selancar yang biasa, mau nggak? Dulu waktu SMA pas liburan ke pantai, kita sering main selancar di ombak-ombak yang gede, tuh. Lo gak lupa 'kan cara selancar?" Zaki berujar sedikit mengejek. Tentunya, hal itu berhasil mengusik Calvin.
"Taruhan, mau?" Calvin beranjak dari kursi. Menatap remeh Zaki yang tengah meminum es kelapa muda milik Calvin.
"Menang dapet apa nih?"
"Lo maunya apa?"
"Hm, nomor cewek cantik." Calvin seketika tergelak mendengar permintaan Zaki.
"Terus Aliya?" Tatapan Calvin berubah menuntut. Dan sialnya, hal itu membuat Zaki kelabakan harus membalas seoerti apa.
"Skakmat gak tuh, Ki?" Tasha menyahut spontan, yang dibalas tawaan renyah oleh Ilma.
"Anj*r!" Zaki menggerutu sepeninggalan Tasha dan Ilma yang memutuskan ke tempat lain. Sedangkan Calvin, dia masih menunggu jawaban Zaki.
"Jadi?"
Zaki berdecak sebal, lalu bangkit dari posisinya. "Serah lo dah! Buruan, jadi nggak?"
...****...
"Naura?" Fani memanggil menantunya seraya menyentuh salah satu bahunya. Entah karena memang Naura tengah melamunkan sesuatu, perempuan itu tampak terjengit kaget oleh tindakan Fani. Padahal, Fani memanggil Naura begitu lembut. Begitupun dengan sentuhan tangannya.
"Ma-maaf! Ada apa, Mah?" Naura mencoba menenangkan dirinya sendiri yang tengah berkutat di dapur.
Sepulangnya dari cafe diantar kembali oleh Davin, Naura tiba-tiba kepengin makan makanan gurih, pedas dan berminyak buatannya sendiri. Ekhem, seblak?
Iyap! Apalagi jika seblak tersebut dicampur dengan telur ayam. Hm, membayangkannya saja Naura sudah tergiur.
Tetapi, tiba-tiba pikirannya melayang pada sesuatu yang aneh. Membuatnya melabuhkan pikiran tersebut pada sesuatu yang entah apa itu.
Bahkan, Naura lupa apa yang dilamunkannya ketika Fani memanggilnya.
Dasar!
"Kamu bikin apa, Nau?" Melihat raut wajah Naura yang kembali normal, Fani mulai melayangkan pertanyaannya.
"Itu ... aku bikin seblak. Mama mau?"
"Seblak? Kamu bisa bikin seblak?" Tanya Fani lagi. Raut wajahnya tampak berbinar.
Naura mengangguk antusias, seraya melanjutkan aktivitasnya yang tengah mengulek satu siung bawah putih dan bawang merah, serta kencur yang telah dipotong secukupnya.
"Em, kita mau bikin seblak apa?"
"Hari ini aku lagi kepengin seblak pake telur. Kayaknya enak." Naura refleks menelan ludah ketika otaknya kembali membayangkan seperti apa seblak. Bahkan, satu tangannya terangkat mengelus perutnya yang sedikit buncit.
Terdengar kekehan pelan dari Fani. "Ya udah, Mama bantuin, ya!" Ketika Fani mulai menyiapkan alat dan bahan, tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Jangan pedes-pedes tapi!" Peringat Fani, yang dibalas cengiran kontan oleh Naura.
Beberapa detik berlalu, keduanya tampak begitu fokus dalam kegiatan. Naura yang lanjut mengulek bumbu, sedangkan Fani mempersiapkan wajan, minyak, air dan bumbu-bumbu penyedap lainnya.
Tak lupa pemeran utama dalam pembuatan seblak yaitu, kerupuk yang belum digoreng, alias kerupuk mentah. Ada yang bentuknya seperti bunga berwarna-warni dan bahkan ada yang seperti keripik kentang kemasan. Bentuk seperti pipa berlubang persegi juga ada. Pokoknya, bermacam-macam, deh.
Part paling satisfying adalah, mengoseng bumbu halus di dalam minyak panas. Namun, ketika Naura mulai menambahkan beberapa mili air, cipratan minyaknya tidak sengaja mengenai tangan Naura. Beruntungnya hanya cipratan kecil biasa, dan Naura masih bisa menahannya.
"Hati-hati, Nau!" Peringat Fani yang melihat Naura tengah menggosok permukaan tangannya yang terciprat minyak.
"I-iya, Mah!"
"Mau Mama aja yang masakin?" Tawar Fani. Spontan dijawab gelengan kepala oleh Naura.
"Gak usah! Em, lagi pengin makan masakan sendiri,"
Fani menghela napas sembari mengangguk."Ya udah." Ujarnya pasrah. "Nih, masukkin kerupuknya."
"Makasih, Mah!" Naura menerima pemberian Fani dengan senang hati. Dia lalu memasukkan kerupuk tersebut secukupnya, lalu mengorak-ariknya beberapa kali. Lanjut, Naura memasukkan berbagai jenis bumbu penyedap untuk menambah rasa.
Untuk rasa pedasnya sendiri akan ditambahkan disaat terakhir ketika sudah mau siap. Untuk berjaga-jaga dari sekarang, Naura mulai mengulek beberapa cabai rawit berwarna merah dan hijau selagi menunggu seblaknya benar-benar matang.
Dan, ya. Kegiatannya itu terus disaksikan oleh Fani secara seksama. Diam-diam dirinya mengulum senyuman tipis melihat betapa giatnya Naura ketika sudah menginjakkan kaki di dapur.
"Tadi ... kamu pergi sama siapa?" Teringat akan hal lain, Fani tiba-tiba bertanya pada Naura.
"Em, temennya Mas Calvin? Tapi, katanya udah gak temenan lagi." Ujar Naura, dengan fokus pada masakannya. Tangannya dengan lincah memasukkan cabai rawit yang telah dihaluskan itu ke dalam wajan, lalu kembali diorak-arik.
Fani mengerutkan alis mendengar jawaban Naura. "Maksudnya?"
Perlahan, Naura mengembuskan napasnya. Mengecilkan api kompor, sebelum pada akhirnya menoleh sepenuhnya pada Fani.
"Mama tahu Davin 'kan? Tadi aku nggak sengaja ketemu sama dia di deket taman kompleks. Niatnya mau ketemu Mas Calvin, tapi gak jadi karena dia baru tahu, kalau Mas Calvin itu lagi nggak ada di rumah."
"Dia mau ngapain ketemu Calvin?" Raut wajah Fani berubah kesal. Sungguh, Naura semakin penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Davin tadi. Sayangnya saat di tengah-tengah, laki-laki itu malah tidak melanjutkannya. Malah menyuruh Naura untuk tidak mengungkit pertemuan mereka hari ini.
"Em, kurang tahu. Dia yang katanya mau cerita juga malah nggak jadi, nggak tahu kenapa."
"Gitu, ya." Raut wajah Fani semakin kusut sampai mengalihkan perhatiannya dari Naura.
Ingin Naura kembali bertanya, namun aroma menyengat dari seblak masakannya, seketika menyadarkan Naura. Dengan cepat Naura mengorak-arik seblak tersebut yang airnya tampak mulai surut.
Sebelum airnya benar-benar habis, Naura memecahkan satu butir telur ayam ke dalam wajan, lalu kembali mengorak-ariknya dengan perlahan.
"Davin itu ... dulu sahabatan sama Calvin dan Naima dari kecil. Tapi, beberapa bulan yang lalu, ada rumor dari sebuah video yang menyudutkan kalau Davin berselingkuh dengan pacarnya Calvin, disaat Calvin sama perempuan itu masih status pacaran."
^^^To be continued...^^^